NovelToon NovelToon
Puteri Rahasia Sang Ratu

Puteri Rahasia Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Suesant SW

Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.

Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.

Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. Janji Yang Mengambang

Di Paviliun Fengyi, Wang Laoyin duduk di dekat meja kecil yang terbuat dari kayu jati merah. Di hadapannya terdapat secangkir teh yang telah dingin dan semangkuk bubur yang belum disentuh. Cahaya matahari masuk melalui kisi-kisi jendela, membentuk garis-garis keemasan di atas lantai.

Ia mengenakan jubah sederhana berwarna biru pucat. Rambutnya disanggul rendah, tanpa perhiasan selain tusuk konde giok yang selalu ia kenakan.

Sejak pengurungannya dimulai, ia tidak lagi meminta pakaian mewah atau makanan khusus. Ia hanya meminta kertas, kuas, dan tinta untuk menuliskan kronologi kejadian malam kematian Shen Rui.

Permintaan itu telah ditolak.

Menurut perintah istana, seluruh alat tulis pribadinya harus diperiksa dan penggunaannya dibatasi.

Penolakan tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa seseorang tidak ingin ia menyusun pembelaan yang teratur.

"Kreeek...."

Pintu terbuka.

Qing'er masuk membawa nampan makanan. Wajah pelayan itu tampak pucat, sementara kedua matanya terus melirik ke arah pintu, seolah-olah takut seseorang sedang mendengarkan dari luar.

“Yang Mulia,” bisiknya setelah meletakkan nampan, “hamba mendengar kabar dari salah seorang pelayan yang bertugas di aula pemeriksaan.”

Wang Laoyin segera mengangkat wajah.

“Kabar apa?” Alis Wang Laoyin terangkat sedikit.

“Tabib kerajaan mengatakan Shen Rui meninggal sebelum tengah malam. Tetapi seorang penjaga gerbang bersaksi bahwa ia melihat Shen Rui memasuki Paviliun Fengyi menjelang fajar.” Jawab Qing'er dengan suara kecil.

Wang Laoyin tidak langsung menjawab, Ia memandang Qing'er, kemudian menurunkan mata ke arah cangkir teh di atas meja.

“Jadi, menurut tabib, Shen Rui telah meninggal sebelum tengah malam. Namun, menurut penjaga gerbang, ia masih berjalan memasuki paviliunku menjelang fajar?” Pertanyaan itu untuk mengulang pernyataan dari Wang Laoyin.

“Benar, Yang Mulia.” Sahut gadis pelayan pribadinya itu.

Wang Laoyin menyentuh permukaan meja dengan ujung jarinya.

“Apakah mereka sudah memeriksa catatan penjagaan?” Tanyanya kemudian, penuh selidik.

“Hamba tidak mengetahui, Yang Mulia.”

“Apakah penjaga itu melihat wajah Shen Rui dengan jelas?”

“Katanya, tidak terlalu jelas. Ia hanya mengenali postur dan pakaiannya.” Jawab Qing'er dengan yakin.

Wang Laoyin memejamkan mata sejenak. Sesuatu yang dingin dan tajam bergerak di dalam pikirannya.

Jika kesaksian tersebut benar, maka setidaknya satu dari dua orang itu telah melakukan kesalahan besar. Akan tetapi, jika keduanya berbohong, berarti seseorang sedang sengaja menciptakan pertentangan untuk mengacaukan penyelidikan.

Dan jika pertentangan itu sengaja dibuat, maka tujuan pelakunya bukan sekadar menuduhnya.

Pelaku ingin memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang benar-benar terjadi pada malam tersebut.

" Qing'er,” katanya pelan, “dengarkan aku baik-baik. Apakah kau masih ingat keadaan Paviliun Fengyi ketika para pengawal datang pada malam itu?” Tanyanya dengan lembut

Qing'er mengangguk.

“Hamba ingat, Yang Mulia.” Jawabnya Cepat.

“Apakah mereka terlihat terkejut?” Wang Laoyin menatap dalam-dalam mata pelayannya tu

Pelayan itu tampak ragu.

“Hamba... hamba tidak yakin.” Jawaban itu terdengar ragu.

“Pikirkan baik-baik. Apakah mereka bertanya di mana Shen Rui berada? Apakah mereka tampak mencari seseorang? Atau mereka langsung menuju kamar hamba seolah-olah sudah mengetahui apa yang akan mereka temukan?”

Qing'er terdiam. Wajahnya semakin pucat. Wang Laoyin menoleh perlahan.

“Aku sudah cukup lama memikirkannya, Ini adalah rencana yang telah disiapkan sebelum aku terbangun malam itu.”

Kalimat tersebut membuat Qing'er membeku.

Wang Laoyin berdiri dan berjalan menuju jendela. Ia memandang halaman dalam yang dijaga ketat, kemudian menatap langit yang terbentang di atas tembok merah istana.

“Jika Shen Rui benar-benar meninggal sebelum tengah malam, siapa yang membawa tubuhnya ke kamarku? Jika ia masih hidup menjelang fajar, mengapa tidak ada seorang pun yang melihatnya masuk selain penjaga itu? Dan jika kedua kesaksian tersebut sengaja dibuat bertentangan, siapa yang memperoleh keuntungan dari kebingungan ini?” Ia berhenti sejenak.

“Orang yang sama yang ingin aku dinyatakan bersalah.” Simpulnya dengan yakin.

Qing'er menundukkan kepala.

“Apakah Yang Mulia memiliki seseorang yang dicurigai?”

Wang Laoyin terdiam cukup lama.

Bayangan wajah Qian Bei muncul di dalam pikirannya. Ia mengingat tatapan lelaki itu di Aula Qinzheng, ketenangan yang terlalu sempurna, serta caranya mengubah setiap pertanyaan menjadi alasan untuk memperpanjang kecurigaan terhadap dirinya.

Namun, kecurigaan bukanlah bukti.

Ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti orang-orang yang telah mengadilinya.

“Belum,” jawabnya akhirnya. “Aku tidak akan menuduh siapa pun tanpa bukti. Aku tidak ingin menjadi seperti mereka.”

Ia berbalik menghadap Qing'er dengan wajah seorang ibu, dia terlihat begitu waspada.

“Mulai sekarang, jangan mudah percaya kepada siapa pun yang datang membawa kabar. Perhatikan siapa yang bertanya tentang malam itu, siapa yang menghindari pertanyaan, dan siapa yang terlalu bersemangat meyakinkan orang lain bahwa aku bersalah.”

“Baik, Yang Mulia.”

“Dan satu hal lagi.” Kalimat itu menahan pelayan muda yang hendak berbalik pergi itu.

Qing'er mengangkat wajah.

“Jika suatu hari seseorang memintamu memberikan kesaksian mengenai malam itu, katakan hanya apa yang benar-benar kau lihat. Jangan menambahkan sesuatu karena takut. Jangan mengurangi sesuatu karena diancam.”

Mata Qing'er mulai berkaca-kaca.

“Bagaimana jika mereka mengancam keluarga hamba, Yang Mulia?” Dia sungguh tahu yang terjadi pada temannya Mei'er, yang di panggil untuk bersaksi di hadapan raja beberapa hari yang lalu. Temannya itu tertekan meki dia tak pernah menceritakannya. Ada sesuatu yang dia sembunyikan. Dan Qing'er tahu dalam keyakinannya sebagai bawahan yang tak berdaya, ada seseorang yang memperdaya kelemahan mereka.

Pertanyaan itu membuat Wang Laoyin terdiam.

Ia mengetahui bahwa kekuasaan istana dapat menjangkau keluarga siapa pun. Seorang pelayan tidak memiliki perlindungan yang sama dengan seorang bangsawan. Satu perintah dari pejabat yang berpengaruh dapat menghilangkan pekerjaan, rumah, bahkan keselamatan orang-orang yang tidak pernah terlibat dalam perkara.

Wang Laoyin melangkah mendekati Qing'er

“Jika mereka mengancammu, beri tahu aku terlebih dahulu. Selama aku masih memiliki cara untuk melindungimu, aku tidak akan membiarkan kamu atau keluargamu menjadi korban.”

Qing'er berlutut, air mata mengalir di pipinya.

“Terima kasih, Yang Mulia.”

Wang Laoyin mengangkatnya perlahan.

Namun, di dalam hatinya, ia mengetahui bahwa janji itu jauh lebih sulit ditepati daripada yang terdengar. Ia sendiri sedang dikurung, setiap geraknya diawasi, dan bahkan Raja Han Quan tidak lagi mempercayainya.

Bagaimana ia dapat melindungi orang lain ketika dirinya sendiri sedang berjuang agar tidak dihancurkan?

Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban.

Tetapi Wang Laoyin tidak membiarkan ketidakberdayaan menguasai dirinya.

Ia telah kehilangan kepercayaan Raja.

Ia telah kehilangan kebebasannya.

Namun, ia belum kehilangan akal sehat, ingatan, dan kemauan untuk mencari kebenaran.

Dan selama ketiganya masih ada, ia belum benar-benar kalah.

( Bersambung ya...🥰)

1
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Eka Burjo
oke lanjut
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Suesant SW: siap lanjutttt
total 1 replies
Eka Burjo
lanjut
Eka Burjo
akhirnya selesai juga maratonku🤭
Suesant SW: mkasih bnyak dah marathon😄😄😄
total 1 replies
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Rara
apa aku kedua thor
Aisyah Suyuti
good
ˡᵃⁿᵃ✰͜͡𝐯𐝃
semangat terus dengan karya² barunya Thor 💪💪💪💪💪
Sri Rahmawati
ibu yg bijak 😍😍
Sri Rahmawati
pertama ☝️☝️☝️
Deandra
lanjut thorrr
Eka Burjo
huhuhu aku ikutan 😭
Sri Rahmawati
/Angry/
Rara
😔😔😔😔😔
🌼EmeLBy🌼
lanjut
🌼EmeLBy🌼: Masih OL thor hihihihii
sama
total 2 replies
Sri Rahmawati
peluk dariku Yang Mulia 🤗🤗🤗
Sri Rahmawati
ku menangis 😭😭😭
Sri Rahmawati
aku maraton bacanya baru tau hari ini dan udh hbs satu pak tisu 😭😭😭
Sri Rahmawati
hadir Thor 🥰🥰
Suesant SW: makasih Kak Sri🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!