NovelToon NovelToon
Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.

Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.

Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.

Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.

Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.

Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.

Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.

Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Permintaan Maaf Si Beruang

Ian langsung menepis tangan Natasha dengan pelan, lalu berdiri hingga kursinya bergeser dan menimbulkan suara berdecit.

"Aku gak sakit! Dan aku gak butuh dikompres!" serunya.

Ia sempat melirik Keira sebelum berbalik dan meninggalkan meja makan.

Langkah kakinya terdengar keras saat menaiki tangga. Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu kamar dibanting dari lantai dua.

BLAM!

Keira menggeleng sambil membersihkan sisa sup di piyama Mika.

"Aneh banget tuh cowok. Muka ganteng, tapi kelakuan kayak beruang kena ambeien."

Nathaniel hanya terkekeh kecil. Ia tahu putra sulungnya yang biasanya paling gengsian itu sedang berada dalam fase paling kacau dalam hidupnya.

 

Pukul sebelas lewat lima belas menit malam, rumah Mahardika sudah sunyi. Lampu koridor diredupkan, Bik Yani dan para ART sudah tidur di kamar belakang, sementara Nathaniel lebih dulu masuk kamar sejak pukul sepuluh.

Namun, Keira belum bisa tidur. Ia duduk di tepi kasur sambil mengucek mata. Tenggorokannya terasa kering, membuatnya memutuskan keluar untuk mengambil air dingin.

Dengan membawa gelas, Keira berjalan menuju dapur lantai dasar.

Suasana dapur terlihat remang-remang. Ia langsung menghampiri dispenser dan menekan tombol air dingin.

Namun, sebelum gelasnya terisi penuh, terdengar suara pintu kaca bergeser.

Srek.

Keira refleks menoleh.

Sosok tinggi berdiri di ambang pintu.

Ian Xavier.

Pria itu hanya mengenakan celana pendek hitam dan kaos oblong putih. Rambutnya sedikit berantakan, seolah sejak tadi ia juga kesulitan tidur.

Keira memperhatikannya dari atas sampai bawah dengan dahi berkerut. Ia masih kesal mengingat kejadian saat makan malam.

"Ngapain Mas ke sini?" tanyanya datar. "Mau senam wajah lagi jam sebelas malam?"

Ian terdiam. Ia menelan ludah sebelum melangkah masuk dan mematikan tombol dispenser. Kemudian, ia berdiri di samping Keira.

"Keira," panggilnya pelan.

Keira mengerjap heran. Nada suara pria itu terdengar berbeda dari biasanya.

"Apa?"

Ian mengusap tengkuknya sambil menatap ubin hitam di bawah kaki. Jemarinya bahkan sibuk meremas ujung kaos.

"Soal... soal tadi sore di teras. Sama soal di meja makan tadi."

Keira mengangkat sebelah alis. "Kenapa?"

"Ekhem." Ian berdeham kaku. "Natasha bukan siapa-siapa gue. Dia cuma anak temannya Papi. Gue gak pernah punya hubungan apa-apa sama dia."

Keira sempat terdiam. Ada sesuatu yang berdesir di dadanya mendengar penjelasan itu.

"Lho? Mas Ian ngapain kelabakan ngejelasin ke saya?" godanya dengan senyum tipis. "Mau Mas Ian pacaran sama Mbak Gorden kek, mau peluk-pelukan sampai subuh kek, itu kan urusan Mas Ian. Saya di sini cuma cewek pengincar uang yang kebetulan digaji dua belas juta."

DEG!

Sindiran itu langsung menusuk dada Ian. Rasa bersalahnya kembali muncul, mengingat semua tuduhan yang pernah ia lontarkan kepada Keira.

Ian melangkah mendekat. Tubuhnya yang tinggi membuat bayangannya menutupi sebagian cahaya dapur. Ia menundukkan kepala agar bisa menatap mata Keira.

"Jangan ngomong gitu lagi," ucapnya pelan. "Gue... gue minta maaf. Soal kata-kata gue yang dulu. Gue tahu gue salah."

Keira langsung membeku.

Matanya membelalak. Sulit dipercaya, seorang Ian Xavier Mahardika yang gengsinya setinggi Monas baru saja meminta maaf secara langsung kepadanya.

"Mas... Mas Ian beneran minta maaf?" tanyanya gagap.

Ian mengembuskan napas panjang sambil merapikan rambutnya yang berantakan. Wajahnya semakin merah.

"Iya! Puas kamu?! Gue minta maaf! Jangan dibahas-bahas lagi!"

Keira justru tertawa kecil mendengar nada suaranya.

"Astaga... minta maaf aja pakai bentak-bentak," ledeknya sambil menggeleng. "Terus soal senam wajah di meja makan tadi gimana? Itu maksudnya apa, coba?"

Ian langsung memalingkan wajah ke arah jendela.

"Itu..." Ia menggigit bibir bawahnya. "Gue cuma mau coba senyum sama kamu."

"Hah? Senyum?"

Keira memiringkan kepala, lalu tawanya kembali pecah.

"Mas, kalau mau tersenyum itu bibirnya ditarik pelan-pelan ke atas, matanya dilembutin! Bukan dipelintir kayak orang kena serangan jantung! Seram banget, tahu gak! Mika aja sampai ketakutan!"

"Gue gak terbiasa tersenyum sama cewek, Keira!" seru Ian spontan. "Mulut gue kaku! Udahlah, gak usah ketawa!"

Keira sampai memegangi perutnya. Melihat seorang direktur utama bertubuh kekar kelabakan hanya karena gagal tersenyum benar-benar menjadi hiburan terbaiknya selama di Jakarta.

Namun, saat Keira masih tertawa, Ian justru diam memperhatikannya.

Mata Keira yang menyipit, pipinya yang memerah, dan tawanya yang lepas membuat dada Ian terasa hangat. Tanpa sadar, pandangannya tertahan pada wajah perempuan itu.

Perlahan, tawa Keira mereda ketika menyadari tatapan Ian berubah semakin intens.

Keira menelan ludah. Jarak mereka kini hanya belasan sentimeter. Ia bahkan bisa merasakan embusan napas Ian yang beraroma mint.

"Mas... Ian?" bisiknya.

Ian tidak menjawab. Tatapannya sempat turun ke bibir Keira sebelum kembali menatap matanya.

Tangan kanannya terangkat perlahan. Jemarinya menyentuh anak rambut yang menutupi pipi Keira, lalu merapikannya ke belakang telinga dengan lembut.

Keira merasakan sentuhan itu sampai membuat tubuhnya merinding.

"Jangan galak-galak lagi sama gue," bisik Ian. Matanya masih terpaku pada wajah Keira. "Gue gak suka lihat kamu cemberut gara-gara Natasha."

Keira terbelalak.

"M-maksud Mas Ian—"

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara sepatu hak tinggi terdengar dari lorong.

Klik! Klak! Klik! Klak!

"Iaaan? Kamu di dapur, ya?" panggil Natasha dari koridor.

Seketika, suasana di antara mereka buyar.

Ian buru-buru menarik tangannya dan berdiri kaku. Sementara itu, Keira menyambar gelasnya lalu mundur dua langkah dengan wajah memanas.

Pintu kaca dapur bergeser kasar.

Natasha muncul dengan piyama pink terang dan wajah cemberut.

"Tuh, kan! Kamu beneran di sini!" serunya curiga. Matanya bergantian menatap Ian dan Keira yang pura-pura sibuk minum. "Kamu ngapain malam-malam di dapur berdua sama pengasuh ini, Ian?!"

Ian berdeham keras. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana pendek, berusaha menyembunyikan kepanikannya.

"Aku cuma minta dibuatkan susu hangat buat Mika," jawabnya asal. Suaranya kembali dingin. "Kamu ngapain kelayapan jam segini? Sana masuk kamar."

Natasha menghentakkan kaki.

"Aku gak bisa tidur! AC kamar tamunya dingin banget!"

"Ya tinggal dimatiin lah," balas Ian cuek.

Tanpa menunggu jawaban, Ian berbalik dan melangkah keluar dapur. Sebelum melewati Keira, ia sempat melirik perempuan itu dari sudut matanya. Lirikan singkat yang entah kenapa terasa penuh makna.

"Ian! Tungguin aku!"

Natasha buru-buru menyusulnya dengan langkah kecil.

Setelah keduanya menghilang dari lorong, dapur kembali sunyi.

Keira berdiri sendirian di dekat dispenser. Ia meletakkan gelas kosong di atas meja, lalu perlahan menyentuh pipi dan telinganya yang masih terasa hangat akibat sentuhan Ian tadi.

Jantungnya belum juga kembali berdetak normal.

Keira menyandarkan kepala di meja konter sambil memejamkan mata. Senyum tipis muncul di bibirnya.

"Dasar Beruang gila," gumamnya. "Gua bisa serangan jantung kalau kayak gini."

1
Ael
Ian Ian😄
Ael
udah salting gengsi an lagi
Ael
Ian gampang salting yaa🤣
Ael
😄😄😄
Skyline Scribe
semangat Keira 💪
Fazira
baru aja ketemu Ian, kok kata-katanya kaya gitu 😄
Ael
👍👍
Inaa LA Aeylul Nazha
bagus tapi tidak ada kelanjutanya
Skyline Scribe: Makasih Kak bintang limanya 🤗🤗
novel ini update setiap hari 1 bab yaa, tunggu besok buat kelanjutannya 😄
total 1 replies
Inaa LA Aeylul Nazha
mana untuk kelanjutannya
Ael
semangat kak 💪💪
Ael
uang lima puluh ribu jaman sekarang keliatan dikit yaa
Fazira
Karya baru lagi 😍😍😍
semangat Kak 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!