Sofía hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang hidup di New York—kuliah sambil bekerja sebagai resepsionis, tanpa keluarga, tanpa sandaran. Sampai satu malam di sebuah pesta mewah, ia berpapasan dengan Alejandro: CEO miliarder yang tampan, dingin, dan menyimpan satu rahasia mematikan—ia pemimpin mafia Rusia yang ditakuti seluruh dunia hitam.
Pria yang tak percaya cinta itu tiba-tiba menginginkan Sofía menjadi miliknya seorang. Namun di balik gairah dan kemewahan yang memabukkan, tersembunyi pengkhianatan, kecemburuan, dan sebuah tragedi yang akan menghancurkan segalanya.
Ketika takdir melemparkannya jatuh, Sofía menemukan kebenaran yang mengguncang: ia bukan sekadar gadis miskin, melainkan putri yang hilang dari sebuah dinasti mafia berkuasa. Dan di sanalah ia bertemu Fernando Valentini—sang "Bestia", raja dunia hitam yang kejam sekaligus pemilik imperium bisnis yang tak tersentuh. Seorang pria yang bersumpah takkan pernah lagi mencintai... sampai ia bertemu perempuan yang mampu meruntuhkan setiap tembok di hatinya.
Di antara dua raja dunia hitam yang sama-sama berbahaya, di antara cinta, dendam, dan darah, Sofía harus memilih. Tapi dalam dunia tempat kekuasaan adalah segalanya dan nyawa bisa lenyap dalam sekejap, apakah cinta sejati sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lopez ibarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
POV Sofía
Dia menurunkanku dengan hati-hati ke lantai sebuah ruang tamu yang luas. Rumah ini indah dari luar, tapi lebih indah lagi di dalam. Aku benar-benar tenggelam dalam pikiranku ketika Alejandro menyapaku.
"Kau suka?" tanya Alejandro.
"Indah," jawabku.
"Syukurlah kau suka. Ayo ke kamarku supaya kau bisa ganti baju," ajak Alejandro.
"Tidak, tentu saja tidak," tolakku.
"Tapi kenapa? Kau basah kuyup, kau bisa sakit," ujar Alejandro.
"Panggilkan saja taksi untukku dan aku pulang ke rumah, tak usah khawatir," kataku.
"Tidak akan. Jadi, ayo, atau kupanggul kau lagi," ancam Alejandro.
"Aku tak mau wanitamu salah paham," kataku.
"Jangan khawatir, ayo," ujar Alejandro.
"Baiklah," jawabku.
Kami menaiki tangga, berjalan melewati beberapa lorong yang sejujurnya membuatku tersesat, lalu masuk ke sebuah kamar yang sangat cantik. Yah, segalanya di sini sangat indah, seperti dari majalah.
"Kamar mandinya di sini," kata Alejandro.
"Terima kasih," ujarku, lalu masuk dan mengunci pintu.
POV Alejandro
Sofía masuk ke kamar mandi dan kudengar dia menguncinya. Kusuruh salah satu pengawal membeli pakaian, sepatu, dan barang-barang yang akan dibutuhkannya. Aku pergi ke ruang kerjaku dan menemukan map berisi informasi yang kuminta pada tangan kananku. Aku mulai membacanya.
Nama: Sofía Montoya
Usia: 25 tahun
Baru saja putus dengan pacarnya.
Berasal dari kalangan tak mampu.
Masih kuliah dan hampir lulus universitas. Bekerja paruh waktu sebagai resepsionis di perusahaan ANTONOV. Hidup pas-pasan.
Orang tua: ayahnya telah meninggal dan keberadaan ibunya tidak diketahui.
Anak tunggal…
Aku terus membaca laporan itu sedikit lebih lama ketika ada yang mengetuk pintu. Pengawalku sudah datang membawa barang-barang yang kuminta. Kuambil kantong-kantong itu dan kubawa ke kamarku.
Aneh, dia belum juga keluar dari kamar mandi.
"Sofía?… Sofía, kau tak apa-apa?" tanyaku.
Dia tak menjawab apa-apa. Kuketuk lebih keras, tapi tetap nihil. Kuputuskan untuk masuk, kudobrak pintu hingga terbuka, dan betapa terkejutnya aku. Dia tergeletak di lantai. Kuangkat dia ke dalam pelukanku dan kurasakan tubuhnya sangat panas. Kuselimuti dia dan kupanggil dokter, lalu kupakaikan jubah mandi pada Sofía. Beberapa menit kemudian dokter tiba dan mulai memeriksanya. Aku tak melepaskan pandanganku darinya. Aku benci pria lain menyentuhnya, tapi saat ini aku harus menahan diri demi kebaikannya.
"Dia akan baik-baik saja, hanya flu biasa. Ini resepnya, dan dia harus beristirahat selama seminggu," kata dokter.
"Baik," jawabku.
Dokter pun pergi. Aku tinggal sebentar, lalu menelepon Bibi Laura dan menyuruhnya menjaga Sofía, sebab aku harus pergi memeriksa beberapa kiriman senjata. Kusuruh dia mengabariku begitu Jessica tiba.
Aku pergi dengan mobil ke salah satu dari sekian banyak gudangku, memeriksa kirimanku. Ricardo ada di sana.
"Sudah beres semua, Ricardo?" tanyaku.
"Ya, sudah, Bos. Tiga hari lagi orang-orang Jepang itu datang, mereka ingin bekerja sama denganmu," lapor Ricardo.
"Kau tahu para bangsat itu ingin melakukan perdagangan manusia dan menjual anak-anak. Aku tak mengurusi hal semacam itu, Ricardo," kataku.
"Sudah kukatakan hal yang sama, tapi mereka minta bicara langsung denganmu," ujar Ricardo.
"Kalau begitu bilang pada mereka, mereka cuma akan buang-buang waktu," kataku.
"Baik," jawab Ricardo.
"Ya sudah, aku pergi," ujarku.
Saat aku tiba di rumah, sudah pukul empat pagi. Aku masuk ke kamar dan melihatnya tertidur. Dia tampak begitu cantik. Akan kulakukan apa saja agar kau tetap bersamaku, Sofi-ku. Aku mandi, hanya mengenakan celana pendek, lalu berbaring untuk tidur.
POV Sofía
Aku masuk ke kamar mandi, melepas pakaianku. Saat sedang mandi, semuanya mulai menghitam dan aku tak ingat apa-apa lagi.
Aku terbangun. Tapi di mana aku? Aku ingin bergerak, tapi ada sesuatu yang menahanku. Kupalingkan kepalaku dan tidak mungkin, itu lengan Alejandro yang melingkari pinggangku, menahanku bergerak. Aku ingin melepaskan diri lagi ketika kudengar seseorang mengetuk pintu, dan dia terbangun.
"Bagaimana perasaanmu, cantik?" tanya Alejandro.
"Sudah lebih baik, terima kasih," jawabku.
"Syukurlah. Tapi lebih baik kau jangan bangun dulu, itu perintah dokter," kata Alejandro.
"Tapi aku sungguh sudah merasa lebih baik, dan lagi aku harus ke universitas dan tempat kerja," ujarku.
"Jangan khawatirkan itu sekarang," kata Alejandro.
"Tapi aku harus. Aku tak boleh bolos, ini minggu terakhir sebelum aku lulus," kataku.
"Aku tahu, tapi aku sudah bicara dan semuanya sudah diatur. Kau murid yang sangat baik, dan lagi kau sudah mengikuti ujian-ujiannya. Kau tinggal menunggu hasilnya dari rumah," jawab Alejandro.
"Tapi aku masih harus membayar," kataku.
"Jangan khawatirkan itu, sudah kubilang semuanya sudah beres," ujar Alejandro.
"Lalu pekerjaanku?" tanyaku.
"Kau dapat izin sampai pemberitahuan lebih lanjut," jawabnya.
"Baiklah, aku harus pulang ke rumah," kataku.
"Dokter bilang kau harus beristirahat selama sebulan, sampai tak ada lagi sisa-sisa dari demam yang menyerangmu," kata Alejandro.