Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 — NAMA YANG DIHAPUS DARI SEJARAH
Pagi itu, Arga Pratama duduk sendirian di sudut ruang tunggu peserta National Automotive Engineering Challenge. Di hadapannya terdapat laptop milik Nadia, beberapa salinan arsip ARX-9, serta foto dokumen yang diberikan Surya Wiratama. Di luar ruangan, suara mesin dari area pengujian terdengar bersahutan dengan pengumuman panitia.
Namun, pikiran Arga tidak lagi tertuju pada kompetisi.
Satu kalimat dari pesan anonim terus berputar di kepalanya.
Sekarang tanyakan kepadanya mengapa ia menghapus satu nama dari daftar akses sebelum laporan resmi diserahkan.
Nama yang dihapus.
Jika pesan itu benar, berarti seseorang telah berusaha menghilangkan jejak sebelum laporan resmi mengenai insiden ARX-9 dibuat. Tetapi Arga tidak tahu apakah pengirim pesan itu mengatakan yang sebenarnya, sengaja mengarahkannya kepada seseorang, atau bahkan sedang mempermainkannya.
Ia sudah belajar dari pengalaman lima tahun lalu. Bukti yang terlihat meyakinkan belum tentu menunjukkan keseluruhan kebenaran.
“Masih memikirkan panggilan Gunawan?”
Suara Nadia membuat Arga mengangkat kepala.
Perempuan itu baru saja kembali dari meja panitia sambil membawa dua cangkir kopi. Ia meletakkan salah satunya di dekat laptop Arga.
“Bukan hanya panggilannya,” jawab Arga. “Ada terlalu banyak orang yang muncul dalam catatan proyek, tetapi peran mereka tidak pernah dijelaskan secara terbuka.”
Nadia menarik kursi.
“Gunawan Wiratama, Adrian Voss, Marcus Hale, Kevin, bahkan beberapa nama dari bagian keamanan. Semuanya punya potongan informasi yang berbeda.”
“Dan tidak satu pun dari mereka memberi kita gambaran lengkap.”
Nadia mengangguk pelan.
“Kalau begitu, kita harus menemukan dokumen persetujuan perubahan konfigurasi yang asli. Bukan salinan yang sudah melewati beberapa tangan.”
Arga menatap layar laptop.
“Masalahnya, kita bahkan belum tahu apakah dokumen itu masih ada.”
“Masih mungkin ada di arsip perusahaan. Dokumen perubahan konfigurasi biasanya memiliki nomor referensi, riwayat revisi, dan catatan persetujuan. Kalau laporan resmi dibuat berdasarkan dokumen itu, seharusnya ada jejak administratifnya.”
“Seharusnya,” kata Arga. “Tetapi kalau seseorang memang ingin menghilangkan satu nama, jejak itu mungkin sudah diubah.”
“Karena itu kita mencari versi yang berasal dari sumber berbeda.”
Arga menatap Nadia, lalu mengangguk.
Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan mereka dimulai, ia merasa mereka mulai memiliki arah yang jelas.
Bukan langsung mencari siapa yang bersalah, melainkan memastikan apa yang benar-benar terjadi.
Sekitar pukul delapan pagi, Fajar datang dengan membawa sebuah map tipis.
Wajahnya terlihat lebih tegang daripada biasanya. Ia beberapa kali menoleh ke arah pintu sebelum duduk di hadapan Arga dan Nadia.
“Aku mendapat balasan dari seseorang yang dulu bekerja di bagian administrasi proyek,” katanya.
“Siapa?” tanya Arga.
“Namanya Ratih. Dia menangani pengarsipan perubahan jadwal dan dokumen teknis ARX-9. Setelah proyek dihentikan, dia pindah ke perusahaan lain.”
“Apakah dia masih menyimpan dokumennya?”
“Dia tidak berani memastikan. Tapi dia ingat bahwa dokumen perubahan konfigurasi yang terakhir memiliki nomor referensi khusus. Katanya, semua perubahan besar harus memiliki dua persetujuan: persetujuan teknis dan persetujuan pengawasan.”
Nadia segera membuka laptop.
“Apakah dia ingat nomor referensinya?”
Fajar membuka map, lalu menunjukkan secarik kertas.
Di sana tertulis sebuah kode:
ARX9-CC-117B.
Arga memperhatikan kode itu cukup lama.
“CC kemungkinan berarti Configuration Change,” ujar Nadia. “Nomor 117B bisa merujuk pada revisi atau jenis perubahan. Kita belum bisa memastikan tanpa melihat format pengarsipan aslinya.”
“Ratih juga mengatakan ada versi awal dan versi final,” lanjut Fajar. “Menurutnya, kedua versi itu sempat memiliki daftar persetujuan yang berbeda.”
Arga langsung menoleh.
“Berbeda bagaimana?”
“Dia tidak ingat nama yang berubah. Dia hanya ingat ada seseorang yang meminta agar versi final dikirim ulang karena daftar persetujuannya dianggap tidak sesuai.”
“Siapa yang meminta?”
Fajar menggeleng.
“Dia tidak tahu. Permintaan itu masuk melalui sistem administrasi.”
Arga menyandarkan tubuhnya.
Satu informasi baru telah mereka dapatkan, tetapi justru membuka lebih banyak pertanyaan.
“Bisakah Ratih memberikan salinan dokumen?”
“Dia ingin melihat bukti bahwa kita memang sedang mencari kebenaran, bukan sekadar ingin menjatuhkan seseorang. Aku sudah menjelaskan bahwa kita belum menuduh siapa pun.”
“Itu keputusan yang benar,” kata Arga. “Kita tidak boleh menyeret nama seseorang hanya karena namanya muncul dalam arsip.”
Nadia menambahkan, “Katakan kepadanya bahwa kami akan meminta dokumen melalui jalur yang sah. Jika dia memiliki salinan pribadi, kita perlu mengetahui asalnya dan memastikan tidak ada bagian yang diubah.”
Fajar menyimpan kembali kertas tersebut.
“Aku akan menghubunginya lagi.”
Sebelum Fajar berdiri, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Ia membaca pesan itu, lalu wajahnya berubah pucat.
“Ada apa?” tanya Arga.
Fajar tidak langsung menjawab. Ia menyerahkan ponselnya.
Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat.
Beberapa dokumen sebaiknya tetap menjadi arsip yang tidak pernah dibuka.
Arga membaca pesan itu dua kali.
“Nomor ini pernah menghubungimu sebelumnya?”
“Bukan nomor yang sama,” jawab Fajar. “Tapi pesannya hampir selalu seperti ini.”
“Kita simpan tangkapan layar, waktu penerimaan, dan nomor pengirimnya. Jangan membalas.”
Fajar mengangguk.
Arga mengembalikan ponsel tersebut.
“Dan mulai sekarang, jangan bertemu siapa pun sendirian untuk membicarakan dokumen ini. Kalau ada permintaan penyerahan arsip, pastikan identitas dan kewenangannya bisa diverifikasi.”
Fajar menatapnya dengan raut khawatir.
“Kau yakin masih ingin melanjutkan ini?”
Arga diam sejenak.
Lima tahun lalu, ia pernah kehilangan hampir seluruh masa depannya karena sebuah laporan yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk menjelaskan diri. Ia kehilangan pekerjaan, reputasi, dan kepercayaan banyak orang.
Namun, ia tidak ingin membalas semua itu dengan melakukan hal yang sama kepada orang lain.
“Aku ingin tahu kebenarannya,” jawab Arga. “Bukan menciptakan korban baru.”
Menjelang siang, kompetisi kembali dilanjutkan.
Panitia mengumumkan bahwa babak berikutnya akan menguji kemampuan peserta dalam menganalisis sistem kendaraan modern, termasuk koordinasi antara perangkat keras, perangkat lunak, dan sistem keselamatan.
Setiap tim harus menyelesaikan studi kasus berdasarkan data yang diberikan. Mereka tidak diperbolehkan mengganti komponen tanpa alasan teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Arga ditempatkan satu tim dengan Rendy Mahardika dan Dimas Prakoso.
Rendy tampak tidak senang ketika mengetahui pembagian tersebut.
“Kenapa harus satu tim dengan dia lagi?” gumamnya.
Dimas mengangkat bahu.
“Karena panitia yang menentukan. Kalau keberatan, ajukan protes.”
“Aku tidak sedang bicara denganmu.”
“Bagus. Berarti aku tidak perlu menjawab.”
Arga mengabaikan pertengkaran kecil itu dan membaca lembar instruksi.
Kasus yang diberikan melibatkan sebuah kendaraan uji dengan sistem penggerak hibrida. Dalam simulasi, kendaraan mengalami penurunan respons saat berpindah dari mode listrik ke mode mesin pembakaran. Data awal juga menunjukkan adanya keterlambatan komunikasi antarmodul.
Rendy langsung menunjuk grafik.
“Masalahnya jelas ada pada modul pengendali utama. Kita minta penggantian modul, lalu jalankan pengujian ulang.”
Arga mengamati grafik tersebut.
“Belum tentu.”
“Lalu apa? Kau mau membongkar seluruh mobil?”
“Tidak. Kita mulai dari data yang tersedia.”
Arga meminta Dimas memeriksa urutan waktu kejadian, sementara ia meneliti nilai sensor dan catatan komunikasi antarmodul.
Beberapa menit kemudian, ia menemukan sesuatu yang janggal.
“Lihat bagian ini.”
Dimas mendekat.
“Apa yang kau temukan?”
“Penurunan respons selalu muncul setelah permintaan perpindahan mode. Tetapi keterlambatan komunikasi tidak terjadi pada setiap siklus.”
Rendy menyilangkan tangan.
“Lalu?”
“Kalau modul utama rusak secara konsisten, kita perlu melihat pola gangguan yang lebih berulang. Di sini, masalahnya muncul dalam kondisi tertentu.”
Arga menandai tiga bagian pada grafik.
“Periksa apakah ada perbedaan waktu antara permintaan perpindahan mode dan konfirmasi dari modul pengendali aktuator.”
Dimas memasukkan data ke perangkat analisis.
Hasilnya menunjukkan bahwa pada siklus bermasalah, konfirmasi aktuator datang terlambat. Namun, data yang tersedia belum cukup untuk menentukan apakah penyebabnya berasal dari perangkat keras, jalur komunikasi, atau urutan perintah perangkat lunak.
Rendy mengerutkan kening.
“Jadi, kita tidak bisa menyimpulkan kerusakan modul utama?”
“Belum,” jawab Arga. “Kita bisa menyatakan bahwa keterlambatan respons berkaitan dengan urutan perpindahan mode. Penyebab pastinya membutuhkan pemeriksaan lanjutan.”
Rendy terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung membantah.
Mereka menyusun laporan dengan membedakan gejala, temuan, hipotesis, dan pemeriksaan yang masih diperlukan. Ketika waktu habis, tim mereka menyerahkan hasil analisis kepada juri.
Marcus Hale menerima laporan itu dengan ekspresi sulit dibaca.
Ia membaca halaman pertama, kemudian berhenti pada bagian rekomendasi pemeriksaan.
“Siapa yang menyusun kesimpulan ini?” tanyanya.
“Arga yang memimpin analisis,” jawab Dimas. “Kami memeriksa data bersama.”
Marcus mengangkat pandangannya kepada Arga.
“Kau tidak merekomendasikan penggantian modul?”
“Belum ada dasar yang cukup untuk itu. Kami merekomendasikan pemeriksaan jalur komunikasi, pencatatan waktu, dan validasi urutan perintah terlebih dahulu.”
Marcus menutup laporan.
“Pendekatan yang hati-hati.”
Arga tidak menanggapi pujian yang terdengar hambar itu.
“Pendekatan yang dapat diuji,” katanya.
Sesuatu berubah di wajah Marcus.
Hanya sesaat, tetapi Arga melihatnya.
Seolah-olah jawaban sederhana itu mengingatkannya pada seseorang yang pernah ia kenal lima tahun lalu.
Setelah sesi penilaian, Arga menerima pesan dari nomor Kevin Santoso.
Temui aku di area parkir sisi timur setelah pukul tujuh malam. Aku menemukan sesuatu tentang dokumen CC-117B. Jangan beri tahu siapa pun sebelum kita bicara.
Arga menatap layar cukup lama.
Ia belum sempat membalas ketika pesan kedua masuk.
Dan satu hal lagi: jangan percaya pada salinan yang diberikan kepadamu atas nama perusahaan.
Arga segera menunjukkan pesan itu kepada Nadia.
“Kau yakin ini benar-benar dari Kevin?” tanya Nadia.
“Nomornya sama dengan nomor yang biasa dia gunakan. Tetapi kita tetap perlu memverifikasi langsung.”
“Bisa saja ponselnya dipakai orang lain.”
“Benar.”
Nadia menatapnya dengan serius.
“Jangan datang sendirian.”
“Aku tidak akan melakukannya.”
Mereka sepakat mengatur pertemuan di tempat umum, memberi tahu Fajar tentang lokasi pertemuan, dan tidak membawa dokumen asli yang berisiko hilang. Arga juga memutuskan untuk tidak membuka atau menyerahkan arsip apa pun hanya berdasarkan pesan tersebut.
Sore harinya, Rendy menghampirinya di lorong menuju ruang istirahat.
“Aku melihatmu berbicara dengan Nadia dan Fajar,” katanya.
“Ada masalah?”
“Aku tidak tahu apa yang sedang kalian cari. Tapi aku tahu nama Adrian Voss muncul beberapa kali dalam urusan lama perusahaan ayahku.”
Arga menatapnya dengan hati-hati.
“Apa yang kau ketahui?”
“Tidak banyak. Ayahku pernah menghadiri pertemuan bisnis yang melibatkan perusahaan pemasok komponen dan seorang konsultan bernama Gunawan Wiratama. Setelah itu, ada pembicaraan mengenai proyek yang dihentikan karena masalah pengujian.”
“Apakah ayahmu terlibat dalam ARX-9?”
“Aku tidak tahu. Aku sudah bertanya, tetapi dia tidak memberikan jawaban lengkap.”
“Kalau begitu, jangan menyimpulkan apa pun dulu.”
Rendy menghela napas kesal.
“Kau selalu mengatakan hal yang sama.”
“Karena kita sedang berusaha menemukan fakta, bukan mencari orang yang bisa disalahkan.”
Rendy menatap Arga beberapa saat, lalu berkata lebih pelan, “Aku juga tidak suka jika seseorang memanipulasi hasil pertandingan atau mengubah data untuk menjatuhkan orang lain.”
Arga terkejut mendengar kalimat itu keluar dari mulut Rendy.
“Kenapa kau mengatakan itu kepadaku?”
“Jangan salah paham. Aku masih ingin mengalahkanmu di kompetisi ini.”
Rendy membenarkan posisi jaketnya.
“Tapi aku ingin menang karena kemampuanku sendiri.”
Untuk pertama kalinya, Arga melihat bahwa kesombongan Rendy mungkin tidak sepenuhnya menggambarkan siapa dirinya.
“Kalau begitu, buktikan di arena,” jawab Arga.
Rendy mengangguk singkat, lalu pergi.
Pukul tujuh lewat sepuluh menit, Arga dan Nadia tiba di area parkir sisi timur. Fajar menunggu di sebuah kafe kecil yang menghadap ke pintu masuk, sesuai kesepakatan mereka.
Kevin belum terlihat.
Arga mengirim pesan singkat untuk memastikan lokasi.
Tidak ada balasan.
Lima menit kemudian, seorang pria bertopi gelap muncul dari antara deretan kendaraan. Ia berjalan mendekat, tetapi berhenti beberapa meter dari mereka.
“Arga.”
Arga mengenali suaranya.
“Kevin?”
Pria itu mengangkat kepala.
Wajah Kevin tampak lebih tua daripada yang Arga ingat. Ada lingkaran gelap di bawah matanya, dan ia terus melihat ke arah jalan seolah-olah takut seseorang mengikuti langkahnya.
“Aku tidak punya banyak waktu,” kata Kevin.
Nadia berdiri di samping Arga.
“Kau mengirim pesan tentang CC-117B?”
Kevin mengangguk.
“Aku pernah melihat dokumen itu sebelum laporan ARX-9 diserahkan. Versi awalnya berbeda dari versi final.”
“Apa yang berbeda?” tanya Arga.
Kevin mengeluarkan ponsel, tetapi tidak langsung menunjukkan layarnya.
“Di versi awal, ada tiga pihak yang tercatat dalam jalur persetujuan. Di versi final, hanya dua yang terlihat.”
“Siapa pihak ketiga itu?” tanya Arga.
Kevin memandang Arga dengan wajah tegang.
“Itulah masalahnya. Aku tidak ingat nama lengkapnya. Aku hanya ingat jabatan dan inisialnya.”
“Jabatan apa?”
“Pengawas integritas sistem.”
Nadia segera bertukar pandang dengan Arga.
“Apakah nama itu tercatat dalam struktur resmi proyek?” tanyanya.
“Tidak dalam daftar yang pernah kulihat. Orang itu bekerja melalui jalur pengawasan eksternal.”
“Gunawan Wiratama?” tanya Arga.
Kevin menggeleng.
“Aku tidak bisa memastikan.”
“Kalau begitu, kita membutuhkan dokumen yang bisa membuktikannya.”
Kevin akhirnya membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto buram. Foto itu menampilkan sebagian tabel persetujuan dokumen. Sebagian besar kolom terpotong, tetapi satu baris masih terbaca:
INTEGRITY OVERSIGHT — ACCESS LEVEL: EXTERNAL.
Di sisi kanan, terdapat tanda tangan digital yang tidak lengkap.
Arga memperbesar foto itu.
“Dari mana kau mendapatkan gambar ini?”
“Aku memotretnya sebelum laporan final dikirim. Saat itu aku tidak mengerti kenapa daftar persetujuannya berubah. Aku menyimpannya karena merasa ada yang tidak beres.”
“Kenapa baru sekarang kau memberitahukannya?”
Kevin menunduk.
“Karena lima tahun lalu aku takut kehilangan pekerjaan dan masa depanku. Aku tahu kesaksianku membuatmu terlihat bersalah. Aku meyakinkan diriku bahwa aku hanya mengikuti dokumen yang diberikan kepadaku.”
Ia menarik napas panjang.
“Tapi aku tahu aku seharusnya mempertanyakan dokumen itu.”
Arga menahan emosinya.
Ia ingin marah. Sebagian dirinya masih ingin menuntut jawaban atas semua tahun yang hilang akibat pengkhianatan itu.
Namun, ia tahu pengakuan Kevin belum cukup untuk menjelaskan keseluruhan kejadian.
“Aku belum bisa memaafkanmu hanya karena kau menunjukkan foto ini,” kata Arga. “Tapi aku akan memeriksanya.”
Kevin mengangguk.
“Aku mengerti.”
“Apakah kau masih memiliki foto yang lebih jelas atau berkas aslinya?”
“Tidak. Foto ini satu-satunya yang tersisa.”
“Jangan hapus apa pun dari perangkatmu. Jangan kirim berkas itu kepada orang yang tidak bisa kau verifikasi. Kalau kita ingin menggunakannya, kita harus memastikan kapan foto itu dibuat dan apakah ada versi lain yang dapat menguatkannya.”
Kevin memasukkan ponselnya kembali ke saku.
“Ada satu hal lagi.”
Arga menatapnya.
“Siapa pun yang menghapus nama itu tidak melakukannya setelah laporan resmi selesai. Perubahan terjadi sebelum laporan dikunci.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Karena aku melihat status dokumennya. Versi final dibuat setelah sebuah permintaan revisi masuk. Permintaan itu menggunakan otorisasi tingkat tinggi.”
“Dari siapa?”
Kevin menggeleng.
“Aku tidak pernah melihat identitas operatornya.”
Tiba-tiba ponsel Kevin bergetar.
Ia membaca layar, lalu wajahnya kehilangan warna.
“Aku harus pergi.”
“Kevin, tunggu. Siapa yang mengirim pesan itu?”
Kevin mundur satu langkah.
“Jangan cari nama dari foto itu sendirian. Ada seseorang yang tahu bahwa aku menyimpan salinannya.”
Ia berbalik dan berjalan cepat menuju jalan keluar.
Arga tidak mengejarnya. Ia tidak ingin membuat keributan atau kehilangan kesempatan memeriksa bukti yang baru saja mereka dapatkan.
Namun, sebelum Kevin menghilang di balik deretan kendaraan, pria itu menoleh sekali lagi.
“Arga!”
Arga mengangkat kepala.
“Kalau nama itu muncul lagi, jangan langsung percaya pada tanda tangannya!”
Kemudian Kevin pergi.
Malam itu, Arga kembali ke kamar penginapan dengan pikiran penuh pertanyaan.
Nadia sudah membuat catatan mengenai foto Kevin. Mereka sepakat tidak menyebutnya sebagai bukti final, melainkan petunjuk yang harus diverifikasi melalui arsip lain.
Fajar sedang berusaha menghubungi Ratih, sementara Arga menyusun urutan waktu dari seluruh dokumen yang mereka miliki.
Pukul 21.42: perubahan jadwal pengujian tercatat dalam arsip.
Pukul 22.08: konfigurasi pengendali diakses.
Pukul 22.26: status kamera koridor berubah.
Pukul 22.31: akun khusus memasuki ruang kendali.
Dan sebelum laporan final dikunci, sebuah nama dihapus dari daftar persetujuan.
Namun, semua waktu itu berasal dari sistem yang belum tentu memiliki jam tersinkronisasi. Urutan kejadian dapat membantu penyelidikan, tetapi belum cukup untuk memastikan siapa melakukan apa.
Arga menatap foto Kevin sekali lagi.
Integrity Oversight — External.
Jabatan itu bisa mengarah kepada Gunawan. Bisa juga kepada orang lain yang bekerja melalui jalur pengawasan eksternal.
Ia baru hendak menutup laptop ketika sebuah surel masuk ke alamat khusus yang mereka gunakan untuk mengumpulkan arsip.
Tidak ada subjek.
Tidak ada nama pengirim yang dapat diverifikasi.
Hanya satu lampiran PDF dengan nama berkas:
CC-117B_ORIGINAL_REVISION_HISTORY.pdf
Jantung Arga berdegup lebih cepat.
Ia tidak langsung membuka lampiran tersebut. Ia memeriksa informasi dasar surel, menyimpan salinan pesan untuk dokumentasi, lalu mengirimkan pemberitahuan kepada Nadia.
Beberapa menit kemudian, Nadia menghubunginya melalui panggilan video.
“Jangan jalankan apa pun dari lampiran itu,” katanya. “Kita bisa memeriksa berkasnya dengan cara yang aman, tetapi kita tetap tidak tahu siapa pengirimnya.”
“Aku tahu.”
“Apakah kau sudah membuka dokumennya?”
“Belum.”
“Bagus. Kita periksa sumbernya dulu.”
Arga memindahkan berkas ke tempat penyimpanan terpisah dan menunggu Nadia bergabung dalam pemeriksaan. Mereka tidak akan menganggap isinya autentik hanya karena nama berkasnya mencantumkan kata original.
Setelah pemeriksaan awal, mereka menemukan bahwa dokumen tersebut berisi halaman riwayat revisi dan sebuah tabel persetujuan. Tidak ada bukti yang langsung menunjukkan bahwa berkas itu berasal dari sistem perusahaan, tetapi susunan kolomnya menyerupai format yang dijelaskan Fajar.
Pada halaman kedua, tercantum tiga entri persetujuan.
Entri pertama berisi nama petugas teknis.
Entri kedua berisi nama pengawas internal.
Entri ketiga hanya menampilkan jabatan:
EXTERNAL INTEGRITY AUTHORITY.
Di bawahnya terdapat catatan perubahan:
Entry removed from final distribution copy by authorized revision request.
Arga membaca kalimat itu perlahan.
“Jadi, memang ada entri yang dihapus,” kata Nadia.
“Jika dokumen ini asli.”
“Benar. Kita masih perlu membandingkannya dengan arsip independen.”
Arga membuka halaman berikutnya.
Di sana terdapat nomor referensi permintaan revisi, waktu pencatatan, dan kode persetujuan yang sebagian tertutup.
Namun, bagian yang paling menarik justru berada di kolom keterangan.
Revision request submitted under delegated authority.
“Delegated authority,” gumam Arga.
“Artinya, permintaan itu mungkin diajukan melalui kewenangan yang didelegasikan kepada pihak lain,” ujar Nadia. “Tetapi kita belum tahu siapa pemegang kewenangan awal maupun siapa yang mengajukan permintaan.”
Arga menatap nomor referensi revisi.
Kode itu tampak familiar.
Ia membuka kembali foto dokumen Surya, kemudian membandingkan angka-angkanya.
Nomor tersebut cocok dengan kode yang tercantum pada catatan pengiriman komponen ARX-9.
Arga terdiam.
Dokumen perubahan konfigurasi dan catatan pengiriman komponen yang mencurigakan ternyata terhubung melalui satu referensi administratif.
Itu belum membuktikan bahwa keduanya bagian dari tindakan yang sama. Bisa jadi nomor tersebut hanya mengacu pada rangkaian pekerjaan yang sama. Tetapi kecocokan itu terlalu penting untuk diabaikan.
“Arga,” panggil Nadia.
“Aku melihatnya.”
“Kita perlu mendapatkan salinan dari sumber yang berbeda. Kalau cocok, posisi kita akan jauh lebih kuat.”
Arga mengangguk.
Ia menutup dokumen itu, lalu mencatat nomor referensinya untuk diverifikasi melalui jalur resmi.
Saat itulah ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Sekarang kau sudah melihat riwayat revisinya.
Arga tidak membalas.
Pesan kedua muncul beberapa detik kemudian.
Jangan buang waktu mencari orang yang menghapus nama itu. Cari orang yang memberikan kewenangan untuk menghapusnya.
Arga membaca pesan tersebut dalam diam.
Nadia ikut melihat layar ponselnya.
“Pengirimnya tahu isi dokumen.”
“Atau dia hanya menebak apa yang akan kita temukan.”
“Menurutmu, siapa dia?”
Arga menggeleng.
“Aku tidak tahu. Dan aku tidak akan menebak hanya berdasarkan dua pesan.”
Ponselnya kembali bergetar.
Kali ini bukan pesan teks, melainkan sebuah panggilan masuk dari nomor yang sama.
Arga menatap layar beberapa saat sebelum mengangkatnya.
“Halo?”
Tidak ada jawaban selama tiga detik.
Lalu terdengar suara pria yang tenang, berat, dan terasa asing.
“Arga Pratama.”
“Siapa ini?”
“Kau sudah cukup lama mencari orang yang menghapus namanya dari dokumen ARX-9.”
Arga berdiri dari kursinya.
“Kalau kau tahu sesuatu, sebutkan identitasmu.”
Pria itu tertawa kecil, tanpa terdengar geli.
“Identitasku tidak akan mengubah apa yang terjadi lima tahun lalu.”
“Kalau begitu, mengapa kau menghubungiku?”
“Karena kau masih percaya bahwa nama yang hilang dari laporan adalah orang yang paling penting.”
Arga menggenggam ponselnya lebih erat.
“Apa maksudmu?”
Suara di seberang mendadak menjadi lebih serius.
“Nama yang dihapus itu bukan nama pelaku, Arga. Itu nama orang yang mencoba menghentikan pengujian malam itu.”
Dada Arga terasa sesak oleh keterkejutan.
“Siapa namanya?”
Hening.
Kemudian pria itu menjawab dengan pelan.
“Periksa salinan pertama laporan keselamatan. Bukan laporan yang diserahkan kepada dewan direksi.”
“Di mana aku bisa menemukannya?”
“Kau sudah mengenal orang yang menyimpannya.”
Sebelum Arga sempat bertanya lebih lanjut, panggilan itu terputus.
Ia menatap layar ponselnya, lalu perlahan menoleh kepada Nadia.
Keduanya sama-sama terdiam.
Salinan pertama laporan keselamatan.
Orang yang menyimpannya.
Tiba-tiba Arga teringat pada satu percakapan lama yang selama ini ia anggap tidak penting. Lima tahun lalu, sebelum seluruh hidupnya berubah, seseorang pernah mengatakan bahwa laporan keselamatan asli harus disimpan terpisah dari dokumen presentasi proyek.
Seseorang yang memiliki akses ke ruang kendali.
Seseorang yang kemudian memperingatkan Arga agar tidak mempercayai laporan resmi.
Marcus Hale.
Arga menatap Nadia.
“Aku harus berbicara dengannya.”
Nadia mengangguk, tetapi ekspresinya menunjukkan bahwa ia memiliki kekhawatiran yang sama.
“Kalau dia memang menyimpan laporan itu, kita harus meminta penjelasan langsung.”
Arga meraih jaketnya.
Namun, sebelum mereka sempat meninggalkan kamar, sebuah surel baru masuk ke perangkat Nadia.
Pengirimnya menggunakan alamat resmi panitia kompetisi.
Subjeknya singkat:
PEMBERITAHUAN DARURAT — PENANGGUHAN PESERTA NOMOR 17.
Nadia membukanya.
Isi surel tersebut menyatakan bahwa keikutsertaan Arga dalam kompetisi ditangguhkan sementara karena dugaan akses tidak sah terhadap data teknis proyek lama yang terhubung dengan sistem kompetisi.
Arga membaca kalimat itu tanpa berkedip.
Seseorang bukan hanya mengetahui penyelidikan mereka.
Seseorang juga telah bergerak untuk menghentikannya.
Dan kali ini, serangan itu datang melalui jalur resmi.
Di bagian bawah surel terdapat nama pejabat yang mengajukan permintaan penangguhan.
Marcus Hale.
Arga perlahan menutup laptop.
Jika Marcus menyimpan laporan keselamatan asli, ia mungkin menjadi kunci untuk membuktikan siapa yang berusaha menghentikan pengujian ARX-9.
Tetapi jika Marcus sendiri yang meminta Arga dikeluarkan dari kompetisi, satu pertanyaan baru muncul di benaknya.
Apakah Marcus sedang berusaha menutupi kesalahannya?
Ataukah ia sedang melindungi Arga dari sesuatu yang jauh lebih besar?
Arga menatap jendela kamar yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri.
Lima tahun lalu, ia kehilangan segalanya karena sebuah laporan.
Kini, sebuah laporan baru mungkin menjadi satu-satunya jalan untuk mendapatkan kembali kebenaran.
Dan orang yang memegangnya justru baru saja menutup pintu di hadapannya.
Bersambung.