Setelah 8 tahun, Dara bertemu lagi dengan Luth, mantan pacarnya saat SMA yang dulu koma karenanya. Bukan hanya fisik sang mantan yang berubah jadi tampan, tapi ternyata, Luth juga tak mengenalinya.
"Kamu benar-benar tidak mengenaliku?" Dara menatap tak percaya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Luth terlihat bingung.
Dara semakin merasa bersalah, karena kemungkinan Luth hilang ingatan karena benturan keras yang sampai membuat dia koma 8 tahun lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Luth
[ Ra, besok kamu datang ke kantor. Orang yang ngelecehin kamu, sudah saya pecat, termasuk yang ngata-ngatain kamu. Saya tidak mentoleransi pelecehan di kantor saya, juga tindakan bullying ]
Pesan tersebut dikirim malam hari.
Dara membaca pesan tersebut, tersenyum tipis. Ia mematikan layar ponsel, meletakkan benda tersebut ke atas nakas lalu lanjut nonton drakor di laptop. Ia sedang menikmati hidup sebagai jobless.
Di kamarnya, Luth mondar-mandir, menunggu balasan dari Dara, tapi sampai jam 9 malam, pesan yang ia kirim dari jam 7 itu, belum juga dibalas. Ia kembali mengirim pesan.
Luth
[ Dara, kamu gak bisa tiba-tiba berhenti seperti ini. Kita masih ada beberapa kerjaan, termasuk ke luar kota. ]
Dara membaca pesan tersebut, tapi lagi-lagi, tak berniat membalasnya. Keinginannya sudah bulat untuk resign, dan apapun yang Luth katakan, ia tak akan goyah.
Pukul 10 malam, ponsel Dara berdering, ada panggilan masuk dari Luth, tapi ia abaikan. Ia tak mau lagi berurusan dengannya.
"Dara... please angkat!" Luth galau setelah panggilan pertama tak dijawab. Ia kembali mencoba, tapi masih sama.
Hampir sepanjang malam Luth tak bisa tidur, meski sudah bolak-balik ganti posisi, tetap saja kantuk tak mau datang.
Jika biasanya Luth bersemangat datang ke kantor, tidak dengan beberapa hari terakhir ini. Setiap kali melihat meja Dara, meski dari kejauhan, ia langsung teringat gadis itu.
"Pagi, Pak."
Bukan Dara, tapi Safina yang menyapa, wanita yang sejak kemarin menjadi sekretarisnya. Bukan orang baru, tapi staf lama yang ganti jabatan jadi sekretaris.
"Pagi." Luth menyahut formal, tanpa senyuman, dan tanpa basa-basi lainnya. Ia membuka pintu ruangannya, lalu masuk.
Ia memulai pekerjaan, tapi bukan berarti, ia bisa melupakan Dara. Setiap kali pintu ruangannya di ketuk, ia langsung teringat Dara, teringat bagaimana wanita itu tersenyum saat masuk, hingga bagaimana Dara berjalan ke arahnya. Bahkan yang lebih parah, saat menatap pintu kamar mandi, ia juga teringat Dara.
Saat Safina datang untuk memberi tahu jadwal hari ini, ia malah membayangkan Dara. Ia ingat betul bagaimana cara Dara bicara, bagaimana senyuman gadis itu, termasuk aroma parfum yang selalu ia cium saat Dara berdiri di sampingnya. Semua itu, membuat ia hampir gila.
"Sialan!" Luth mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Bagaimana bisa ia merasakan serindu ini pada Dara. Rasa ini tak beda dengan saat ia masih SMA dulu.
Selama 8 tahun, ia memupuk kebencian pada Dara. Hatinya diselimuti dendam. Ia ingin sekali melihat wanita itu hancur. Tapi saat berhadapan dengan Dara, ia menjadi lemah. Semua rencana balas dendamnya berantakan. Ia sering tak tega untuk melakukan sesuatu yang kejam pada Dara.
Dara adakah cinta pertamanya. Orang yang meskipun berusaha ia benci, tetap punya tempat tersendiri di hatinya.
Benarkah jika laki-laki hanya jatuh cinta sekali, dan setelahnya hanya melanjutkan hidup?
Enggak! Luth menggeleng cepat. Ia sudah move on. Ia bisa jatuh cinta lagi pada wanita lain, hanya belum ketemu saja yang cocok. Iya, belum ketemu, bukan gak bisa.
"Morning Honey!"
Luth langsung mengangkat wajah mendengar suara seorang wanita.
Valerie, wanita itu masuk begitu saja tanpa mengetuk.
"Gak bisa ketuk pintu dulu?" Luth berdecak.
"Jangan jutek gitu dong, my pacar." Valerie mendekat, berdiri di samping Luth, mencondongkan wajah untuk mengecup pipinya.
"Ish, jauh-jauh dari gue!" Luth mendorong wanita itu sebelum pipinya ketempelan bibir.
"Apaan sih lo, galak amat!" Valerie melotot, kedua lengannya dilipat di depan dada. "Mana tas yang gue minta? Awas aja kalau sampai lo gak beliin!"
"Di kabinet paling bawah." Luth menujuk dagu ke arah almari yang ada di pojok ruangannya.
Dengan senyum merekah, Valerie langsung berjalan kesana, mengambil tas pesannya. Sesaat setelah membuat, wajahnya langsung cemberut.
"Kok hitam? Aku kan minta yang pink?"
"Bawel. Kalau gak mau ya udah, aku kasih ke orang lain aja."
Valerie mendengus. Ia memperhatikan tas tersebut. Yang warna hitam ini sebenarnya memang bagus, tapi masalahnya, ia sudah punya banyak tas warna hitam. Ia butuh warna lainnya agar saat mix and match dengan pakaian, lebih gampang. Dan biar gak dikira pakai tas itu-itu aja.
Luth melirik Valerie yang membolak-balik tas tersebut dengan bibir masih cemberut.
"Mau gak?" Luth berdecak.
"Iya, iya. Ah, galak banget lo."
Valerie menarik kursi di depan Luth, duduk disana.
"Sekretaris lo ganti?"
tapi ya gitu memastikan apa Dara cinta sama Luth saat ini ketika penampilan nya berbeda di banding ketika SMA ternya Anya gayung bersambut,,,maka. dari itu
Luth mengejar Mu. dan ya sedikit bikin ulah 🤣peran pembantu nya Valeri Bia,,makanya Luth percaya kalau ada Diego karena Luth sudah melihat sebelumnya,,,kayanya satpam dan pegawai hotel yang. membantu. Diego keluar sedangkan Luth sibuk meredakan ketakutan Dara,,,,ya sudah Luth ngaku saja
kalau Luth sudah ingat. sudah. keceplosan
🤭🤭 up lupa Luth bilang Diego 🤣🤣🤣🤣