💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Gelak tawa sepasang bocah kembar di atas karpet berbulu itu menggantung di udara. Lampu kristal di langit-langit mendadak mati, digantikan oleh sirine melengking dan pendar merah pekat yang berputar menyapu dinding.
Udara hangat di ruang keluarga itu seketika terasa membeku.
Tatapan Raka dan Luna bertemu di udara, menyiratkan kengerian yang sama. Bertahun-tahun menjadi tangan kanan klan Adhitama, Raka sudah hafal betul arti alarm ini: perimeter pertahanan mereka telah jebol. Pembantaian sudah di depan mata.
"Bawa anak-anak. Sekarang," desis Raka. Suaranya rendah, nyaris teredam lengkingan sirine.
Tanpa membuang sedetik pun, ia menarik lengan Luna, menggiring istri dan kedua buah hatinya setengah berlari menyusuri lorong panjang menuju kamar utama. Pintu berdebam ditutup dan dikunci. Raka langsung berlutut di depan brankas yang tersembunyi di balik lukisan. Jari-jarinya sedikit gemetar saat memasukkan kode, namun dengan cepat ia menarik dua pucuk Glock-19.
Klik. Suara peluru masuk ke ruang bakar terdengar mengiris kesunyian kamar.
"Masuk ke ruang bawah tanah. Kunci dari dalam," perintah Raka, menjejalkan salah satu pistol ke tangan Luna yang dingin.
Luna mencengkeram pergelangan tangan suaminya, menggeleng panik. Napasnya memburu.
"Aku nggak akan biarkan kamu di luar sana sendirian!"
"Luna, sadar!" Raka mencengkeram kedua bahu istrinya, menatap tajam ke manik mata yang kini berkaca-kaca itu.
"Mereka butuh kamu."
Kalimat itu meruntuhkan pertahanan Luna. Air matanya lolos. Raka menarik napas panjang, menempelkan keningnya pada kening Luna selama dua detik—sebuah perpisahan tanpa kata yang meremas dada.
Pria itu lalu berjongkok. Tangan besarnya yang biasa mencabut nyawa kini dengan gemetar mengusap puncak kepala si kembar bergantian.
"Tunggu Daddy di dalam, oke? Kalian anak-anak jagoan," bisiknya parau, memaksakan senyum meski rahangnya mengeras menahan emosi.
Tembakan pertama meletus dari lantai bawah. Disusul rentetan senapan otomatis yang memekakkan telinga.
Luna bergegas menekan panel tersembunyi di balik rak buku. Dinding itu bergeser. Ia menatap kedua anaknya yang gemetar memeluk lutut di dalam kegelapan ruang sempit itu, lalu menyelipkan sebuah ponsel satelit ke saku piyama putra sulungnya.
"Dengar Mommy," bisik Luna, suaranya bergetar hebat namun ia berusaha menatap lekat mata anak-anaknya.
"Jangan bersuara. Jangan keluar. Mengerti? Jika Mommy dan Daddy... gak kembali dalam waktu dua jam, telepon nomor yang ada di dalam ponsel ini ya!"
Bocah-bocah itu hanya mengangguk patah-patah. Luna mengecup dahi mereka dengan tergesa, lalu menarik tuas. Rak buku itu menutup rapat, menyembunyikan harta paling berharganya.
Di luar kamar, dentuman peluru semakin brutal. Luna mematung. Dadanya naik-turun mendengar raungan kesakitan dari anak buah Raka di lantai bawah. Genggamannya pada pistol di tangannya mengerat hingga urat-urat menonjol.
Instingnya sebagai seorang ibu menyuruhnya bersembunyi, namun separuh jiwanya sedang bertaruh nyawa di bawah sana.
Dengan napas tertahan, Luna membuka pintu kamar dan berlari menembus bau anyir darah dan mesiu yang mulai menguar ke lantai dua.
Di lantai bawah, kekacauan menguasai segalanya.
Raka berlindung di balik pilar pualam yang kini hancur berkeping-keping. Ia berhasil menumbangkan tiga pria berseragam taktis, tapi pelurunya menipis.
Saat ia hendak mengganti magazin, seorang penyusup berbaju hitam menyelinap dari arah dapur, bergerak bagai bayangan.
Moncong silencer terarah presisi ke punggung Raka.
Phut!
Luna yang baru saja menapaki anak tangga terakhir mematung. Waktu seolah melambat saat ia melihat tubuh tegap suaminya tersentak hebat ke depan. Darah memercik ke lantai marmer.
"Mas!" Jeritan Luna merobek udara. Logika dan ketakutannya menguap tak bersisa.
Mengabaikan desingan peluru yang mendesing liar melewati telinganya, wanita itu menerjang maju. Ia menjatuhkan diri ke lantai, meluncur dan mendekap tubuh Raka yang ambruk bersimbah darah.
Kelopak mata Raka bergetar, terbuka perlahan menahan sakit yang tak terperi.
"Lu... na... kenapa..." Darah pekat merembes dari sudut bibirnya. "Anak-anak..."
"Mereka aman. Kamu bertahanlah, kumohon..." isak Luna kalap. Tangan rapuhnya gemetar menekan luka tembak di dada Raka, berusaha menghentikan pendarahan yang mustahil dibendung.
Suara langkah kaki sepatu bot yang berat terdengar mendekat. Keputusasaan memicu adrenalin Luna.
Air matanya mengering, digantikan oleh murka yang membutakan. Ia memutar tubuhnya, mengangkat pistol dengan kedua tangan yang bergetar hebat, lalu menarik pelatuk membabi buta ke arah bayangan para penyerang.
DOR!
DOR!
DOR!
Satu pria tumbang sambil mengumpat, namun tindakan nekat itu justru mengundang hujan peluru balasan.
Dua peluru tajam merobek perut dan dada Luna secara bersamaan. Hentakannya begitu kuat hingga tubuhnya terpental ke belakang, menghantam lantai dengan suara berdebum yang mengerikan. Pistol terlepas dari cengkeramannya.
"Luna..." Raka merintih parau. Tangan besarnya bersimbah darah, berusaha menggapai istrinya.
Napas Luna putus-putus. Rasa sakit yang membakar perlahan berubah menjadi kebas.
Di ambang kesadarannya yang meredup, ia menoleh, menatap mata suaminya untuk yang terakhir kali. Jemarinya yang berlumuran darah bergerak inci demi inci, hingga akhirnya berhasil menautkan jari kelingkingnya dengan milik Raka.
Hanya itu yang bisa ia lakukan sebelum pandangannya menggelap sepenuhnya.
Keheningan yang mencekam akhirnya menyelimuti sisa-sisa kemegahan mansion tersebut. Hanya terdengar suara pecahan kaca yang terinjak sepatu bot. Sekelompok pria bersenjata menepi saat sesosok pria jangkung melangkah angkuh membelah barisan.
Pria itu mengenakan mantel hitam panjang, separuh wajahnya tertutup topeng besi gelap. Mata tunggalnya menatap tajam ke arah jasad Raka dan Luna. Ia tidak tertawa. Ia hanya mendecih pelan, nada suaranya dingin dan tanpa empati.
"Satu perisai klan Adhitama runtuh," gumamnya, menginjakkan ujung sepatunya tanpa perasaan di atas lengan Raka yang sudah kaku. "Pastikan tidak ada benih yang tersisa."
Sebagai sentuhan terakhir, pria bertopeng itu mengarahkan senjatanya ke kepala Raka dan menarik pelatuk, memastikan tangan kanan musuhnya itu benar-benar tak akan pernah bangkit lagi.
Setelah itu mereka bergegas pergi, ditelan kegelapan malam tanpa menyadari sepasang mata mengawasi dari atas.
Di lantai dua, di balik bayang-bayang pilar balkon yang gelap, dua sosok mungil berdiri mematung. Tangan mungil si sulung membekap mulut adiknya erat-erat agar isakan mereka tak terdengar, sementara air mata mengalir deras membasahi pipi.
Namun, di balik genangan air mata bocah berusia lima tahun itu, tersimpan sorot mata yang tak lagi sama. Kepolosan mereka telah mati malam itu, tergantikan oleh kebencian pekat yang baru saja mengakar di jiwa mereka.
Bersambung...