Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shadows and Sweet Whisperings
Pagi yang dingin dibalut kabut tipis membentang di atas kompleks Istana Dalam Kekaisaran Great Yan. Gemericik air dari kolam pualam di halaman Paviliun Teratai terdengar beradu lembut dengan gesekan daun-daun bambu yang tertiup angin. Di dalam kamar kediamannya, Ye Xinyue telah bangun sejak fajar menyingsing, mengenakan gaun sutra berwarna biru muda bersulam motif kelopak plum yang anggun namun bersahaja.
Di atas meja kayu cendana, terhampar beberapa cawan porselen kecil berisi cairan bening serta serbuk tanaman yang ia kumpulkan secara diam-diam. Dengan ketelitian seorang ahli yang mengandalkan analisis ilmiah, Xinyue mencelupkan sebatang jarum perak ke dalam salah satu cawan, mengamati perubahan warna yang terjadi pada permukaan logam tersebut.
Sebagaimana yang sudah tertera dalam alur novel yang aku ingat, batin Xinyue seraya mencatat hasilnya di atas kertas tipis, Faksi Selatan tidak hanya memanfaatkan racun biji jarak untuk menjatuhkan lawan politik secara langsung. Mereka menggunakan racun perlahan berbahan dasar racun kalajengking hitam yang dicampur ke dalam bahan wewangian istana.
Langkah kaki halus Mingzhu yang bergegas masuk memecah kesunyian ruangan. "Nona, Kasim Kepala dari Istana Depan baru saja mengirimkan kotak perhiasan dan sutra berkualitas tinggi atas perintah Yang Mulia Kaisar."
Xinyue menghentikan gerakan tangannya, mendongak menatap Mingzhu yang membawa sebuah kotak kayu ukir berpelitur merah. "Apakah ada pesan khusus dari Yang Mulia?"
"Kasim Kepala hanya menyampaikan bahwa Yang Mulia berharap Nona menikmati wewangian baru dan perhiasan ini untuk menyambut jamuan teh sore di Taman Bunga Kerajaan," sahut Mingzhu seraya meletakkan kotak itu di meja samping.
Xinyue berdiri dari duduknya, mendekati kotak tersebut dengan pandangan penuh kewaspadaan. Namun, saat jemarinya menyentuh permukaan kayu ukir itu, ia menemukan sebuah lipatan kertas tipis terselip di bawah cermin kecil di dalam kotak. Kertas itu berisi coretan tinta hitam yang sangat rapi:
“Taman Bunga Kerajaan, sudut Paviliun Bayang Bulan. Jangan membawa pengawal.”
Senyum tipis mengembang di bibir Xinyue. Ia sangat mengenali karakter tulisan tangan yang tegas dan berbobot itu. Zhao Fengting sedang menjalankan bagian dari rencana aliansi rahasia mereka.
Menjelang sore hari, pendar sinar matahari berwarna keemasan menembus celah-celah pepohonan di Taman Bunga Kerajaan. Bau harum Bunga Peony dan Krisan menyeruak menyegarkan udara. Xinyue melangkah perlahan menyusuri selasar berkerikil putih, sengaja membiarkan Mingzhu menunggu di luar batas area Paviliun Bayang Bulan yang sepi dari jangkauan para dayang senior.
Paviliun Bayang Bulan adalah sebuah bangunan kayu tua beratap genteng hijau yang dikelilingi oleh rimbunan pohon bambu hitam. Tempat ini jarang dikunjungi oleh para selir karena letaknya yang terpencil di sudut utara taman.
Saat Xinyue melangkah memasuki bagian dalam paviliun yang teduh, sesosok tubuh tegap berbalut jubah sutra berwarna biru tua langsung menyambut kehadirannya. Zhao Fengting berdiri di sana, menunggunya seraya menyandarkan tubuhnya anggun pada pilar kayu.
"Kau tepat waktu, Selir Ye," ujar Zhao Fengting dengan suara rendah yang amat hangat.
Xinyue hendak membungkuk untuk memberikan penghormatan resmi, namun sebelum lututnya menyentuh lantai, tangan Zhao Fengting yang kekar dan hangat sudah terlebih dahulu menggenggam siku Xinyue, menegakkan kembali tubuh wanita itu dengan sangat lembut.
"Di tempat yang tersembunyi ini, tidak perlu ada formalitas yang kaku di antara kita," bisik Zhao Fengting. Sorot mata pekat sang Kaisar menatap lurus ke dalam iris mata jernih milik Xinyue, memancarkan rasa ketertarikan dan kerinduan yang tak tertutup.
Xinyue merasa desiran hangat merayap di sepanjang dadanya. Jantungnya berdebar sedikit lebih kencang saat menyadari betapa dekatnya jarak berdiri mereka saat ini.
"Yang Mulia," tutur Xinyue, mencoba menjaga suara dan pikirannya agar tetap fokus pada tujuan utama mereka. "Hamba telah memeriksa beberapa sampel wewangian yang beredar di Istana Dalam. Dugaan kita benar. Faksi Selatan menyelundupkan racun pengendap saraf melalui dupa kayu cendana yang dipasok oleh pedagang dari Prefektur Lin."
Zhao Fengting mendengarkan penjelasan itu dengan saksama, namun perhatiannya perlahan teralih pada rona merah tipis yang menghiasi pipi Xinyue di bawah sinar matahari sore. Keberanian, ketenangan, dan kecerdasan wanita ini terus-menerus membuatnya terpesona.
"Kau benar-benar luar biasa, Xinyue," gumam Zhao Fengting pelan. Pria itu melangkah satu tapak lebih dekat, menyisakan jarak yang sangat tipis di antara mereka. Jemari tangannya yang tegap terangkat perlahan, merapikan helai rambut halus yang terurai di dekat telinga Xinyue.
Sentuhan lembut jemari Zhao Fengting membuat napas Xinyue tertahan sejenak. Kehangatan yang terpancar dari kulit pria itu membakar pertahanan dingin logikanya.
"Yang Mulia... kita sedang membicarakan konspirasi Faksi Selatan," bisik Xinyue pelan, matanya berkilat antara ketajaman analisis dan kepasrahan atas perasaan manis yang kian menjalar.
Zhao Fengting menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menawan, senyuman tulus yang hanya ia perlihatkan di hadapan Xinyue. "Aku mendengarkan setiap katamu, Xinyue. Namun, di saat yang sama, aku tidak bisa mengabaikan betapa cantiknya dirimu saat sedang berpikir keras untuk membantuku."
Zhao Fengting meraih jemari halus Xinyue, menggenggamnya erat dalam sapuan kehangatan yang mengunci janji mutlak. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya hingga napas hangat mereka saling beradu pelan.
"Di dalam istana yang penuh dengan kebohongan dan topeng ini, hanya bersamamu aku merasa bisa menjadi diriku yang sebenarnya," tutur Zhao Fengting tulus, suaranya sarat akan rasa cinta dan obsesi yang mendalam. "Aku akan mengerahkan seluruh prajurit bayangan untuk mengamankan bukti di gudang wewangian malam ini, sesuai dengan analisis ilmiah yang kau berikan."
Xinyue menatap mata sang Penguasa Kekaisaran yang begitu jujur dan protektif. Di dalam dunia novel yang serba asing ini, kehadiran Zhao Fengting telah berubah dari sekadar karakter utama menjadi sosok pelindung dan tambatan hati yang nyata baginya.
"Hamba akan selalu berada di samping Yang Mulia untuk memastikan setiap bukti terkumpul dengan sempurna," sahut Xinyue seraya membalas genggaman tangan Zhao Fengting dengan senyuman manis yang begitu memikat.
Di bawah naungan rimbun bambu hitam dan terpaan angin sore yang lembut, persaudaraan rahasia mereka untuk membongkar kejahatan Faksi Selatan kian kokoh, dibalut oleh benih-benih romansa yang makin mekar tak tergoyahkan.