"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Susuk dan Santet
Perempuan tua itu masuk melalui Gerbang Selatan dengan bakul jamu di punggungnya, dan tidak seorang pun dari para penjaga membuka tutup bakulnya.
Di buku gerbang, juru tulis mencatatnya sebagai penjual jamu dari lereng Kawi, kiriman keluarga Gusti Permaisuri. Kiriman keluarga Permaisuri tidak pernah diperiksa. Sudah begitu sejak empat belas tahun lalu.
Ia berjalan membungkuk dengan kain lurik cokelat yang pudar, kakinya telanjang dan pecah-pecah di tumit. Gigi-giginya merah kecokelatan oleh sirih yang dikunyah bertahun-tahun. Setiap kali ia lewat, bau kemenyan dan minyak kelapa tengik menguar dari rambutnya yang putih dan tipis.
Dayang-dayang yang berpapasan dengannya di selasar belakang menyingkir tanpa tahu kenapa.
***
Bilik dupa di belakang Paviliun Permaisuri tidak berjendela. Hanya ada satu pintu rendah, satu pelita minyak jarak, dan rak-rak kayu berisi kotak-kotak kemenyan, gaharu, dan dupa sesaji.
Nyai Ganggeng duduk bersila di lantai tanah. Di depannya, di atas selembar daun pisang yang lebar, ia menuang isi sebuah kantong kain dari bakulnya.
Tanah. Cokelat gelap, lembap, menggumpal. Di antara butiran-butirannya terselip serpihan akar halus dan pecahan kecil sesuatu yang berwarna kekuningan.
Nyi Ageng Rukmi berdiri di dekat pintu, punggungnya menempel ke dinding. Bekas luka di alisnya berkerut.
"Dari mana tanah itu?"
"Dari halaman belakang Srigading." Nyai Ganggeng tidak mengangkat wajah. Suaranya serak, seperti daun kering yang diremas. "Di bawah pohon asam, dekat sumur. Tempat mereka mengubur perempuan yang terakhir tinggal di sana."
Rukmi tidak bertanya lagi.
Perempuan tua itu menuangkan air dari kendi kecil ke atas tanah. Air itu keruh dan berbau busuk, seperti rendaman bunga yang terlalu lama dibiarkan di tempayan. Ia mulai meremas. Tangannya yang kurus dan berurat bergerak tanpa henti, melipat, menekan, memutar, sampai tanah itu berubah menjadi adonan liat yang licin dan mengilap di bawah cahaya pelita.
Lalu ia membentuknya.
Kepala sebesar kemiri. Badan sebesar ibu jari. Dua lengan, dua kaki. Kasar, tanpa wajah, tanpa jari. Tetapi ketika boneka itu sudah berdiri di atas daun pisang, Rukmi memalingkan pandangannya.
***
Pintu rendah itu terbuka. Seorang dayang muda masuk dengan kepala tertunduk.
Ia mengenakan kemben biru polos, seragam dayang Srigading yang baru. Raja sendiri yang mengirim enam dayang ke paviliun buangan itu setelah dekrit di Balai Depan. Enam dayang, dipilih dari rumah-rumah abdi yang tidak terkait dengan Keputren.
Kecuali satu, yang ibunya berutang nyawa kepada keluarga Rakryan Wiradipa.
Dayang itu bernama Sekar. Ia berlutut di depan Nyai Ganggeng dan membuka genggaman tangannya. Di telapak tangannya, tergulung beberapa helai rambut panjang yang hitam dan lurus, berkilau oleh minyak.
"Dari sisir Gusti Selir," bisiknya. "Hamba mengambilnya pagi tadi, saat beliau mandi."
Nyai Ganggeng mengambil rambut itu. Mengendusnya. Ada wangi minyak kemiri dan kenanga yang samar.
"Rambut perempuan yang masih hidup selalu berbau," gumamnya. "Rambut orang mati tidak berbau apa-apa."
Ia menekan helai-helai rambut itu ke dalam dada boneka tanah liat, dalam-dalam, sampai hanya ujung-ujungnya yang mencuat seperti benang. Lalu ia menutupnya dengan sejumput tanah, meratakannya dengan ibu jari yang basah oleh ludah merah sirih.
Dari lipatan kainnya, ia mengeluarkan bumbung bambu kecil yang disumbat sabut kelapa. Ia mencabut sumbatnya. Bau tajam yang pahit dan apak langsung memenuhi bilik sempit itu.
Rukmi menutup hidungnya dengan ujung kain.
Nyai Ganggeng mengeluarkan tiga batang jarum dari dalam bumbung. Jarum tembaga, panjangnya sejari tengah. Permukaannya sudah berlumut kehijauan oleh karat tembaga, dan masih basah oleh cairan cokelat kental di dalam bumbung.
"Satu untuk kepala." Ia menusukkan jarum pertama tepat di ubun-ubun boneka. Tanah liat itu menelannya tanpa suara. "Supaya ia melihat bayangan di dinding. Supaya ia tertawa sendiri di malam hari."
Rukmi menatap jarum itu. Bekas luka di alisnya bergerak.
"Satu untuk perut." Jarum kedua masuk tepat di tengah badan. "Supaya rahimnya kering seperti tanah kemarau. Supaya tidak ada benih Raja yang tumbuh di sana."
"Satu untuk dada." Jarum ketiga. Pelan, sampai pangkalnya menyentuh tanah liat. "Supaya napasnya pendek. Supaya setiap malam ia terbangun seperti ditindih batu."
Ia meniup boneka itu tiga kali. Lalu berbisik dengan bahasa yang tidak dimengerti Rukmi, bahasa tua yang terdengar seperti gemerisik dedaunan di hutan pinus. Ia menutup boneka itu dengan secarik kain mori, lalu mengikatnya dengan benang lawe merah.
Ia menyodorkannya kepada Sekar.
"Di bawah ranjangnya. Bukan di lantai. Ikat di rangka kayunya, tepat di bawah tempat ia meletakkan kepala." Mata perempuan tua itu sipit dan berair. "Dan jangan biarkan ia menyentuhmu sampai bulan purnama berikutnya. Tanah ini mengenal siapa yang memindahkannya."
Sekar menerima bungkusan itu dengan dua tangan yang gemetar.
***
Paviliun Srigading berbau lebih baik malam itu.
Anglo perunggu bercakar macan menyala di sudut bilik, di dekat kaki ranjang. Arang jati di dalamnya membara jingga, dan panasnya menyebar ke seluruh ruangan, mengusir lembap yang biasanya merayap dari lantai. Dyah Ayu menaburkan sejumput gaharu ke atas bara. Asap tipis naik, harum dan hangat.
Pecahan guci sudah disapu. Lantai jati sudah dipel tiga kali. Tetapi di sela-sela papan, wangi cendana masih tertinggal, samar, terutama saat kakinya menginjak tempat minyak itu dulu menggenang.
Ia duduk di tepi ranjang, membaca lontar yang dibawa Ki Bongkok dari Perpustakaan. Catatan perdagangan Pelabuhan Tuban, tiga tahun terakhir.
Batu Tirta Rudira masih tergantung di lehernya. Ia sudah mencoba melepasnya dua kali sore tadi. Dua kali pula ia mengaitkannya kembali.
Dayang-dayang sudah pulang ke bilik mereka di belakang paviliun. Sekar yang terakhir pergi. Gadis itu membereskan ranjang dengan sangat rapi malam ini, merapikan kelambu dua kali, menepuk-nepuk bantal tiga kali. Lalu ia pergi tanpa menunggu diizinkan, tanpa menoleh, dengan langkah yang terlalu cepat.
Dyah Ayu tidak memikirkannya saat itu.
Ia memikirkannya sekarang.
***
Bau itu datang setelah pentungan kedua.
Mula-mula, ia mengira dari luar. Dari alang-alang yang basah oleh embun, atau dari parit di belakang gudang pusaka. Bau tanah lembap yang baru digali.
Tetapi bau itu tidak menghilang ketika ia menutup jendela. Bau itu justru semakin kuat ketika anglo di sudut bilik membara lebih panas. Tanah basah. Lalu, di bawahnya, ada sesuatu yang amis. Bukan amis ikan. Amis seperti daging yang terlalu lama di bawah matahari, tertutup tanah, mulai berubah.
Dan di bawah semuanya, samar sekali, terselip bau yang ia kenal.
Pahit. Apak. Daun layu yang dibakar basah.
Kepalanya terasa berat. Bukan sakit, hanya berat, seperti seseorang meletakkan bantal basah di atas dahinya. Huruf-huruf di lontar perdagangan Tuban mulai berbayang di tepinya.
Dyah Ayu meletakkan lontar itu di atas kasur. Ia tidak bangkit dengan tergesa-gesa. Ia menarik napas panjang melalui hidung, perlahan, lalu menghembuskannya melalui mulut.
Lalu ia mulai mencari.
***
Ia memulai dari lantai. Berlutut, menempelkan hidung ke papan-papan jati satu per satu, di sekitar anglo, di sekitar meja, di sudut-sudut bilik. Bau cendana. Bau gaharu. Bau tanah, tetapi samar.
Ia memeriksa kendi bunga di sudut ruangan. Melati segar. Tidak ada apa-apa.
Ia mengangkat kasur dari ranjang, membalikkannya, meraba setiap jahitan dengan ujung jari. Kapuk di dalamnya kering dan lembut.
Bau itu semakin kuat ketika ia berdiri di sisi ranjang. Di sisi kepala. Di tempat ia biasa berbaring, di tempat yang hanya berjarak dua langkah dari anglo yang membara.
Ia berbaring telentang di lantai, lalu menggeser tubuhnya ke bawah rangka ranjang.
Gelap di sana. Bau tanah dan amis menyergap hidungnya dengan tiba-tiba, begitu tebal sampai ia hampir tersedak. Ia meraba balok-balok kayu jati di atas wajahnya dengan ujung jari. Serat kayu yang kasar. Sarang laba-laba. Debu.
Lalu sesuatu yang lain. Lembut dan dingin. Kain.
Ia menariknya. Benang lawe yang mengikatnya ke balok kayu tegang, lalu putus.
Bungkusan kecil itu jatuh ke dadanya.
***
Ia membawanya ke dekat anglo.
Kain mori putih, sudah ternoda kecokelatan oleh tanah lembap yang merembes dari dalam. Benang lawe merah. Bungkusan itu berat untuk ukurannya, dan basah.
Dyah Ayu membuka ikatannya dengan tenang.
Boneka tanah liat itu terbaring di telapak tangannya. Kasar, tanpa wajah, tanpa jari. Seukuran ibu jarinya. Tanahnya cokelat gelap dan masih lembap, dengan serpihan akar halus yang mencuat di beberapa tempat. Bau busuk organik itu naik langsung ke wajahnya.
Tiga jarum tembaga menancap di tubuhnya. Satu di kepala. Satu di perut. Satu di dada.
Karat kehijauan di permukaan jarum-jarum itu berkilau di bawah cahaya bara. Ketika ia mendekatkan wajahnya, bau pahit itu menyengat lebih tajam. Basah. Kental. Panas dari anglo menguapkannya perlahan, sedikit demi sedikit, setiap malam, tepat di bawah bantal tempat ia meletakkan kepala.
Di dada boneka itu, beberapa helai rambut mencuat dari tanah liat. Hitam, lurus, berkilau oleh minyak. Ia mencabut satu helai dan mengendusnya. Minyak kemiri dan kenanga. Minyak yang ia gunakan setiap pagi.
Sekar.
Sekar yang merapikan bantal tiga kali. Sekar yang pergi tanpa menoleh.
Dyah Ayu menatap boneka itu lama sekali.
Ia memikirkan apa yang dirasakan seorang perempuan yang tidur di atas boneka ini selama satu bulan. Kepala yang berat setiap pagi. Bayangan-bayangan di dinding. Napas yang pendek di tengah malam. Ia akan mengira dirinya disantet. Dayang-dayang akan berbisik bahwa selir dari Watugaluh dikutuk arwah selir yang tenggelam. Ia akan ketakutan, tidak bisa tidur, mulai berbicara dengan bayangan.
Dan tidak ada satu tabib pun yang akan mencari kecubung di bawah ranjangnya. Karena semua orang tahu santet tidak bisa diobati oleh tabib.
Persis seperti seorang Ratu, dua puluh tahun lalu, di menara barat.
***
Sudut bibirnya bergerak.
Bukan ketakutan. Bukan kemarahan. Sesuatu yang lain, yang ia rasakan untuk pertama kalinya sejak pedati tawanan melewati Gerbang Wijaya.
Kegembiraan yang dingin, seperti air sumur di pagi hari.
Karena Permaisuri baru saja membuat kesalahan pertamanya.
Racun bisa dibuang ke parit. Panah bisa dicabut dari tiang. Tetapi boneka tanah liat ini adalah sebuah cerita. Dan di keraton ini, di mana setiap dayang menaburkan garam di ambang pintu dan setiap selir menyimpan jimat di bawah bantalnya, cerita lebih mematikan daripada belati.
Seorang permaisuri yang menyimpan dukun santet dari lereng Kawi. Dukun yang sama yang dulu melayani ibunya. Pada tahun yang sama, seorang Ratu jatuh dari menara barat.
Dyah Ayu mencabut helai-helai rambutnya sendiri dari dada boneka itu, satu per satu, dengan ujung kuku. Ia melemparkannya ke dalam bara anglo. Rambut itu mendesis, mengerut, lalu menghilang dengan bau hangus yang tajam.
Lubang-lubang kecil tertinggal di dada boneka tanah liat. Kosong. Menunggu diisi.
Ia membungkus boneka itu kembali dengan kain mori, tanpa mencabut ketiga jarum tembaganya. Ia mengikatnya dengan benang lawe merah yang sama, membuat simpul yang sama persis dengan simpul buatan Nyai Ganggeng. Ia sudah memperhatikannya dengan teliti saat membukanya.
Lalu ia meletakkan bungkusan itu di atas telapak tangannya, mengangkatnya ke dekat cahaya bara, dan berbicara pelan ke arah lantai. Ke arah celah di bawah dinding belakang, tempat akar pohon asam menembus fondasi paviliun.
"Ki Bongkok. Kau masih di bawah sana?"
Ada jeda. Lalu suara serak yang lirih menjawab dari balik papan.
"Hamba selalu di bawah sini, Gusti."
"Besok pagi, sampaikan pesanku pada Ratih." Dyah Ayu tersenyum tipis ke arah boneka di tangannya. "Gusti Permaisuri menyisir rambutnya setiap pagi dengan sisir gading bertatah mutiara. Aku ingin semua helai yang tertinggal di sisir itu. Semuanya."
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..