Lin Muchen, seorang pengawal tangguh yang tak pernah kalah, dipaksa menerima tugas melindungi Gu Shiyu — seorang CEO muda yang cantik namun tegas. Di tengah tugas itu, ia terkejut menyadari bahwa wanita yang dijaganya adalah cinta pertamanya di masa kecil. Saat rahasia kelam keluarganya perlahan terbongkar dan dendam lama yang terpendam terungkap, Lin Muchen yang dulu tak terkalahkan kini jatuh hancur. Dari keterpurukan itu, ia bangkit bukan lagi untuk melindungi, melainkan untuk menuntut keadilan dan membalas dendam yang lama dinanti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Tangan yang Menopang
Hari-hari setelah menolak tawaran Pak Harun terasa seperti mendayung melawan arus. Dana yang tersisa cukup untuk memulai proyek kecil, namun jauh dari rencana besar yang sempat mereka bayangkan. Beberapa orang mulai ragu, berbisik-bisik bahwa keputusan itu terlalu berisiko, terlalu murni untuk dunia yang keras ini.
Suatu pagi, saat rapat berlangsung, salah satu pengurus mengangkat suaranya. “Maaf saya jujur, tapi bagaimana cara kita melanjutkan? Bahan bangunan naik harganya, kontraktor menunda pengerjaan, dan tidak ada pendanaan tambahan. Kita bisa berhenti di tengah jalan.”
Suasana hening. Gu Shiyu duduk tegak, menatap wajah-wajah yang cemas. Ia sendiri pun hatinya sempat berdebar, namun ia tidak akan membiarkan kepalaan itu terlihat. “Kita tidak berhenti,” ucapnya tenang namun tegas. “Tapi kita juga tidak memaksakan diri melampaui kemampuan kita. Kita perkecil skala, kita kerjakan sendiri, kita minta bantuan satu sama lain.”
“Bekerja sendiri?” tanya orang itu tak percaya. “Kita bukan tukang bangunan.”
“Kita belajar,” jawab Lin Muchen yang berdiri di samping pintu. “Dan kita tidak sendirian.”
Benar saja. Kabar tentang kesulitan mereka menyebar ke desa-desa yang dulu mereka rencanakan bantu. Pagi berikutnya, kejutan datang — sekelompok warga desa berjalan masuk ke halaman kantor, membawa alat keperluan bangunan, wajah mereka tersenyum dan siap bekerja.
“Kami dengar rencananya tertunda,” kata seorang bapak tua yang memimpin rombongan. “Kami tidak punya uang banyak, tapi kami punya tenaga. Biarlah kami ikut membangun — ini milik kami juga.”
Mata Gu Shiyu berkaca-kaca. “Tapi ini berat… kami tidak sanggup membayar kalian semua.”
“Siapa bilang soal bayaran?” jawab pemuda di belakangnya sambil tertawa. “Kami bekerja agar anak-anak kami punya sekolah. Agar kami punya tempat berdagang yang layak. Itu sudah cukup sebagai bayarannya.”
Sejak hari itu, suasana berubah total. Lokasi pembangunan pasar rakyat bukan lagi sekadar tempat kerja, melainkan tempat berkumpulnya banyak tangan — tua dan muda, pria dan wanita, semua bekerja bahu-membahu. Lin Muchen ikut mengangkut batu dan pasir, tangannya yang dulu terbiasa memegang senjata kini memegang cangkul dan palu. Gu Shiyu mengatur jadwal, menyiapkan makanan, dan membantu di mana saja dibutuhkan, pakaiannya kadang berdebu, keringat menetes di dahi, namun wajahnya selalu berseri.
Pak Surya datang pula, membawa beberapa orang kenalannya yang ahli dalam bangunan. “Saya sudah pensiun lama,” katanya sambil tersenyum malu, “tapi tangan ini masih bisa memegang palu. Biarlah saya ikut memperbaiki apa yang dulu saya biarkan rusak.”
Pekerjaan yang diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan berjalan lebih cepat dari yang disangka. Setiap sore, sebelum pulang, mereka duduk melingkar di tanah yang baru saja dibangun, berbagi makanan sederhana, bercerita dan tertawa. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah — semua sama, semua berjuang bersama.
Namun ujian belum selesai. Tiga minggu kemudian, hujan deras turun terus-menerus selama beberapa hari. Tanah di sekitar lokasi menjadi lunak, sebagian tembok yang baru dibangun roboh terkena longsoran tanah. Saat hujan reda, mereka semua berdiri di sana, menatap tumpukan batu dan tanah yang berantakan. Wajah-wajah yang cerah kini layu dan sedih.
“Semuanya hancur…” bisik seseorang di antara kerumunan. “Apakah harus dimulai dari awal lagi?”
Keheningan menyelimuti mereka. Gu Shiyu melangkah maju, menatap puing-puing itu, lalu menoleh ke arah mereka semua. “Tembok ini roboh,” suaranya terdengar jelas di tengah keheningan. “Tapi semangat kita tidak. Kita bangun kembali — lebih kuat, lebih kokoh, lebih baik dari sebelumnya.”
“Tapi tenaga kita…” kata seorang wanita pelan. “Sudah lelah sekali.”
Lin Muchen melangkah ke samping Gu Shiyu. “Aku tahu lelahnya. Aku juga merasakannya. Tapi ingat — kita tidak sendirian. Setiap tangan yang ada di sini adalah kekuatan. Satu orang mungkin lelah, tapi jika kita bergantian, kita tidak akan berhenti.”
Ia mengambil keranjang kosong di dekatnya, lalu mengangkatnya ke bahu. “Aku mulai duluan.”
Ia berjalan perlahan menuju tumpukan puing. Sejenak terdiam, lalu seseorang melangkah maju — Rian, lalu Bu Lina, lalu warga desa, satu per satu. Tidak ada yang berbicara, mereka hanya bekerja. Sore itu, sebelum matahari terbenam, puing-puing sudah dibersihkan. Tanah diperkuat, pondasi diperlebar, rencana disesuaikan agar lebih tahan terhadap cuaca buruk.
Malam itu, di perapian sederhana yang dinyalakan di halaman, mereka berkumpul. Wajah-wajah kotor terkena debu dan lumpur, namun mata mereka berbinar.
“Dulu aku pikir kekuatan itu satu orang yang hebat,” ucap seorang pemuda sambil menatap api. “Ternyata kekuatan itu banyak orang biasa yang saling menolong.”
Gu Shiyu tersenyum, hatinya hangat. “Benar. Tidak ada satu orang pun yang hebat sendirian. Kita hebat karena kita bersama.”
Hari-hari berikutnya penuh kerja keras, namun juga penuh sukacita. Tembok tumbuh lebih tinggi, lebih kokoh, diikat bukan hanya dengan semen, melainkan dengan persaudaraan yang tulus. Setiap batu yang dipasang menyimpan doa dan harapan, setiap sudut yang dibentuk menyimpan kasih sayang.
Suatu pagi, saat pintu gerbang pasar rakyat akhirnya terpasang, mereka semua berdiri melihatnya — bangunan sederhana namun kokoh, terang dan bersih, dikelilingi taman kecil yang mereka tanami bersama. Di papan nama yang dipasang di atas pintu utama, tertulis kalimat yang mereka pilih bersama:
“Bukan dibangun dengan emas, melainkan dengan keringat dan kepercayaan.”
Gu Shiyu berdiri di samping Lin Muchen, meremas tangannya erat. “Lihat…” bisiknya mata berkaca-kaca. “Kita berhasil. Tanpa uang besar, tanpa bantuan orang kaya. Kita berhasil.”
Lin Muchen menatap wajahnya yang bersinar. “Kita berhasil karena kita tidak sendiri. Itulah yang tidak bisa dibeli dengan uang apa pun.”
Di kejauhan, seseorang yang berdiri di balik pohon melihat pemandangan itu — Pak Harun. Ia datang ingin melihat kegagalan mereka, namun yang ia temukan bukan kehancuran, melainkan kemegahan yang jauh lebih nyata dari apa pun yang bisa ia bangun. Ia menghela napas panjang, lalu berbalik pergi, menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak bisa dikalahkan oleh harta atau kekuasaan apa pun.
Sore itu, saat semua orang pulang dengan hati gembira, Lin Muchen dan Gu Shiyu berjalan ke tempat mereka menanam pohon. Tunasnya tumbuh tinggi, daunnya hijau dan segar, akarnya kuat menancap di tanah yang kokoh.
“Lihat pohon ini…” ucap Gu Shiyu sambil menyentuh daunnya. “Dulu aku khawatir ia tidak akan tumbuh. Ternyata semakin diuji, semakin kuat ia tumbuh.”
Lin Muchen merangkulnya dari samping. “Seperti kita.”
Matahari terbenam perlahan, menyelimuti mereka berdua dan pohon itu dengan cahaya keemasan yang hangat. Mereka tahu perjalanan belum usai, masih ada hal lain yang harus dibangun, masih ada tempat yang harus dikunjungi. Namun mereka tidak takut. Karena mereka akhirnya memahami rahasia terbesar dari segala sesuatu yang berharga — tidak dibangun sendirian, tidak dipertahankan sendirian, dan tidak dinikmati sendirian.