Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
"Kenapa kau tidak datang ke penthouse?"
Klik.
Terkirim.
Pesan singkat itu meluncur dari layar kaca ponsel pintar di genggaman Jameson.
Pria itu menyandarkan punggungnya di sofa kulit ruang tengah, mengusap wajahnya kasar dengan telapak tangan yang lebar.
Suara dentik jam dinding bernuansa klasik memantul di sudut ruangan yang sepi.
Itu adalah pesan kesekian kalinya yang dikirimkan Jameson sejak pukul lima sore tadi. Tidak ada balasan.
Bahkan tanda centang di sudut aplikasi perpesanan itu tidak berubah warna—menandakan sang penerima sama sekali tidak berniat membuka atau membalas pesan dari dosennya.
"Oh, shit... Bagaimana mungkin dia mengabaikanku begitu saja?" umpat Jameson rendah, nadanya sarat akan rasa frustrasi murni yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ting!
Sebuah bunyi nyaring memecahkan keheningan, memantik refleks cepat Jameson untuk meraih ponselnya kembali.
Namun, pendar nama yang tertera di layar bukanlah nama Hazel, melainkan sahabatnya, Louis.
[Louis]: Christie menerorku sejak tadi sore hanya untuk memberitahukan alamat penthouse mu.
Jameson mendesah berat, menghembuskan napas panjang yang dipenuhi rasa muak yang teramat sangat.
Beraninya wanita pengkhianat itu masih mengganggu ketenangannya setelah apa yang ia perbuat di Paris bersama Jerry?
[Jameson]: Katakan padanya aku sibuk bersama kekasihku.
[Louis]: Kau seorang jomblo, brother. Jangan bermimpi di malam Jum'at begini.
[Jameson]: Sialan kau. Kau lupa? Dia kekasihku semalam.
Pesan balasan tak tahu malu itu terkirim begitu saja.
Jameson melempar ponselnya ke atas sofa, lalu menyandarkan kepalanya, mengamati langit-langit penthouse yang tinggi.
Pikirannya melayang jauh pada sosok wanita yang Semalam meninggalkan tanda kemerahan di lehernya.
Sementara itu, di sebuah apartemen minimalis yang hangat di sudut lain kota Los Angeles, suasana terasa jauh dari kata tenang.
Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt!
"Ponselmu kembali bergetar, Hazel! Ada pesan lagi dari Mr. J!"
Teriak Seraphina dari arah dapur sembari membawa secangkir teh hangat.
"Apakah itu pangeran Inggrismu yang telah menjadi Milik orang lain?"
Pintu kamar mandi mendadak terbuka pelan.
Hazel keluar dari sana dengan langkah yang memelan, tubuh rampingnya sedikit membungkuk sembari kedua tangannya meremas area perut bawahnya yang terasa teremas hebat.
Wajah porselennya menyiratkan rasa sakit yang sangat menusuk.
"Oh, tidak... Perutku sakit sekali, Sera..." lirih Hazel, menyandarkan bahunya pada bingkai pintu.
Seraphina yang melihat kondisi sahabatnya seketika panik.
Ia meletakkan cangkir di atas meja dan terburu-buru menghampiri Hazel.
"Kau sudah minum obat? Kau makan apa tadi siang? Makan pedas lagi?" cecar Seraphina bertubi-tubi, memegang kedua bahu Hazel.
"Kau mau ke dokter saja? Wajahmu pucat sekali, Hazel. Aku khawatir kau dehidrasi atau mengalami infeksi lambung!"
Hazel menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan sahabatnya.
"Tidak... Aku tidak apa-apa. Ini hanya nyeri biasa."
Gadis itu menarik napas panjang, memaksakan tubuhnya untuk berdiri tegap.
"Aku harus ke studio malam ini. Dan... aku juga akan menginap lagi di sana. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."
Dusta halus meluncur mulus dari bibir Hazel.
Ia tidak mungkin memberitahu Seraphina bahwa ia harus kembali menyerahkan diri malam ini.
Seraphina menghela napas panjang, menatap Hazel dengan pandangan penuh keraguan.
"Apa kau yakin? Tubuhmu terlihat sangat lemas."
Hazel mengangguk mantap.
"Taksi pesananku sudah sampai di bawah, Sera. Aku harus pergi sekarang."
"Baiklah... Tapi jangan lupa kabari aku jika terjadi sesuatu, mengerti?" peringat Seraphina tegas.
Hazel tersenyum manis, mengangguk singkat lalu melangkah keluar dari apartemennya.
Demi Tuhan, perutnya terasa diremas begitu hebat hingga menyebarkan rasa nyeri ke seluruh persendian tubuhnya.
Namun, rasa sakit fisik itu tak menyurutkan niatnya.
Hazel harus pergi ke penthouse Jameson malam ini.
Semakin cepat perjanjian sialan itu dipenuhi, semakin cepat pula ia bisa melepaskan diri dan menjauh sejauh-jauhnya dari dosen keluarga Ashford itu.
Tiga malam... dan semuanya akan berakhir secara mutlak.
•••
Dua puluh menit kemudian, Hazel telah berdiri di dalam area lift khusus penghuni penthouse Gedung Apartemen Royale.
Lampu lift berdenting halus menyalakan angka lantai yang terus merambat naik.
Di dalam kotak besi mewah beralas Marmer Carrara itu, Hazel menyandarkan kepalanya yang terasa pening ke dinding kaca lift yang dingin.
Jemarinya meremas kain jaketnya di bagian perut, menahan denyutan nyeri yang tak kunjung reda.
Sisa dua malam lagi... dan aku aman, batin Hazel menyemangati dirinya sendiri di tengah pejam mata.
Namun, Hazel tidak sendirian di dalam ruang sempit berpendingin udara itu.
Di sudut kanan lift, berdiri seorang wanita berparas cantik dengan balutan gaun malam dari desainer ternama.
Nampak jelas wajah wanita itu dipenuhi keputusasaan dan kekacauan emosi yang mendalam—rambut indahnya sedikit berantakan dan riasan matanya sedikit luntur akibat air mata.
Perempuan patah hati... Benar-benar menyedihkan, desis Hazel dalam hatinya, mengenali raut wajah frustrasi yang teramat sangat dari wanita di sebelahnya.
Namun, Hazel merasakan sebuah pandangan yang sangat menusuk.
Wanita cantik berpenampilan kacau itu rupanya sedang menatap Hazel dari atas ke bawah dengan pancaran mata yang dipenuhi rasa jijik murni.
Hazel menghela napas pelan, memiringkan kepalanya sedikit untuk menatap balik wanita tersebut tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Kenapa? Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Hazel dengan nada suara yang begitu tenang, datar, dan dingin.
Wanita itu—yang tak lain adalah Christie—menyunggingkan senyum sinis yang amat sangat merendahkan.
Ia memperbaiki posisi tas tangan mewahnya, menatap Hazel dengan sorot mata hina.
"Aku tidak perlu alasan untuk merasa jijik dengan wanita berpenampilan sepertimu di dalam lift penthouse elit," tunjuk Christie angkuh, menggerakkan jemarinya dari atas ujung rambut hingga ke sepatu kets yang dikenakan Hazel.
"Di sini bukan tempatnya untuk wanita sepertimu mengemis atau meminta belas kasihan."
Hazel menatap pakaiannya sendiri tanpa merasa malu sedikit pun.
Ya, Hazel mengakui penampilannya malam ini sangat jauh dari kata elegan.
Ia hanya mengenakan jaket oversized miliknya yang kebesaran, celana tidur kain panjang berwarna abu-abu, dan rambut panjangnya hanya dicepol asal-asalan dengan sebuah cakar rambut sederhana.
Ia tidak merasa perlu menghias dirinya sedikit pun.
Lagipula, tujuannya datang ke sini hanyalah untuk menemui sang dosen demi menyelesaikan kesepakatan rahasia, bukan untuk berkencan dengan seorang kekasih.
Hazel malah merasa sangat bersyukur jika Jameson Baxter Ashford sampai merasa ilfiel melihat penampilannya malam ini dan membatalkan niatnya.
Hazel mengangkat pandangannya, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan keangkuhan yang tersembunyi rapat.
"Wanita sombong sepertimu..." ujar Hazel dengan suara halus namun terasa mematikan, "...di istana Inggris biasanya berakhir dikuliti. Karena terlalu banyak bicara dan tidak tahu diri."
Deg.
Christie mematung seketika di tempatnya berdiri.
Matanya membelalak lebar, mulutnya menganga tak percaya mendengar ucapan yang begitu berani dan berdarah dingin meluncur dari mulut wanita berpenampilan kumal di hadapannya.
"Dikuliti?!" cetus Christie dengan nada membumbung tinggi, suaranya melengking karena amarah.
"Hah?! Beraninya kau berbicara seperti itu padaku! Aku bisa mencabik-cabik wajahmu sampai tak berbekas! Kau hanya wanita miskin yang—"
"Penthouse di lantai paling atas ini..." potong Hazel tenang, menatap lurus ke mata Christie tanpa berkedip sedikit pun, "...adalah milik kekasihku."
Hazel mengucapkan kalimat 'kekasihku' dengan sangat santai dan tak tahu malu, semata-mata untuk menghentikan ocehan tidak berguna wanita di sampingnya.
Deg.
Christie terpaku kaku.
Sepasang matanya membeku dalam kejutan yang luar biasa mengerikan.
Kekasih?
Penthouse mewah di lantai teratas apartemen ini adalah milik Jameson Baxter Ashford—pria yang selama dua tahun ini dipujinya sebagai milik pribadinya!
Bagaimana mungkin wanita berpenampilan lusuh dengan celana tidur dan jaket kebesaran di hadapannya ini mengaku sebagai kekasih Jameson?!
Sebuah kesadaran yang sangat mematikan mendadak menghantam dada Christie hingga napasnya terasa tertahan di tenggorokan.
Apakah... apakah wanita ini adalah sosok wanita misterius yang ada di dalam rekaman panas malam kemarin?!
Jameson Baxter Ashford
Hazel
Christie
...----------------...
Happy reading 🦋
up up up 🤣