Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Konferensi Berdarah
Pintu besi tebal di belakang mereka membanting tertutup secara otomatis dengan dentuman keras yang memantulkan gema di seluruh ruangan bawah tanah.
BANG!
Selot mekanis berderet mengunci rapat dari luar. Lampu fluorosens di plafon berkedip-kedip cepat, memancarkan cahaya putih menyengat yang membuat bayangan di dalam laboratorium bergoyang liar.
"Sial! Kita terjebak!" Faris berlari ke arah pintu, menghantamkan linggisnya ke panel kencang. Namun pintu baja berlapis itu tak bergeming sedikit pun, hanya meninggalkan goresan tipis pada cat kusamnya.
Di sudut ruangan, belasan speaker interkom tua dan monitor penerima siaran radio mendadak menderu serentak. Suara dari interkom tidak lagi terdengar dari satu sumber, melainkan terdistorsi oleh tumpukan sinyal suara dari puluhan stasiun radio lokal yang mendadak saling tumpang tindih.
"Selamat malam para pendengar setia Medan FM... Malam ini kita punya panggilan istimewa..."
"Frekuensi 0000 telah resmi mengudara di seluruh saluran..."
Suara-suara penyiar radio lokal berbaur dengan desis statis berfrekuensi rendah. Maya melangkah mundur menuju meja kerja utama, menyambar bundel berkas tebal yang memuat foto tiga pendiri PT Delta Media Broadcast.
"Pria ketiga itu... Hartono Senjaya," bisik Maya, tangannya bergetar menahan gejolak marah. "Pemilik Senjaya Telecom. Dia yang membiayai seluruh infrastruktur jaringan seluler di Sumatra Utara sejak awal tahun 2000-an!"
"Jadi Profesor Bahri sengaja menyembunyikan nama Hartono dari kita?" tanya Faris, dadanya sesak oleh pengkhianatan.
"Bahri tidak cuma menyembunyikannya, dia ketakutan," balas Maya cepat sembari membolak-balik lembaran cetak biru sirkuit. "Lihat ini! Hendra merakit frekuensi ghaibnya, Bahri memberikan teori fisikanya, tapi Hartono yang menanamkan kode 0000 ke dalam firmware bawaan chip pemancar sinyal seluler di seluruh menara BTS bawaan perusahaannya!"
Tek... tek... tek...
Suara ketukan kuku berirama memecah udara dingin di laboratorium. Dari belasan monitor tabung tua yang berbaris di rak, gambar jaringan seluler Kota Medan muncul, berubah warna menjadi merah pekat.
Di pusat peta digital tersebut, sebuah indikator siaran live berkedip-kedip cepat: SIARAN KONFERENSI NASIONAL - STASIUN RADIO MEDAN UTAMA.
"Dia tidak lagi memakai pemancar rakitan atau kereta barang, Faris..." suara Maya tercekat di tenggorokan. "Hartono memakai siaran siaran radio live dan stasiun pemancar pusat Senjaya Telecom untuk melancarkan siaran panggilan konferensi massal di jam dua pagi nanti!"
"Siaran konferensi?" Faris mendekati monitor.
"Setiap ponsel yang terhubung ke jaringan seluler mereka malam ini akan dipaksa menerima panggilan konferensi otomatis dari nomor 0000," jelas Maya, matanya membelalak horor. "Jika panggilan itu terhubung serentak ke ratusan ribu ponsel di Medan... gelombang elektromagnetiknya akan menghancurkan organ pendengaran dan saraf otak korban secara massal!"
BZZZZT!
Lantai laboratorium bawah tanah bergetar hebat. Dari piringan-piringan tembaga tua yang tertanam di bawah ubin semen, cairan hitam pekat mulai menyembur keluar, menguapkan bau busuk belerang yang mencekik napas.
Di tengah ruangan, kabut asap hitam mengepul tebal, membiaskan pendar merah dari layar monitor. Bayangan entitas berleher patah kembali terwujud—kali ini bukan cuma satu, melainkan beberapa bayangan distorsi ghaib yang merayap keluar dari sudut-sudut rak server.
Suara desah napas berat bergema dari pengeras suara interkom:
"Satu saluran untuk jutaan jiwa... Tidak ada yang bisa mematikan sambungannya."
"Faris, bantu aku bongkar saluran kabel utama di bawah meja!" jerit Maya seraya melempar tabung asam klorida terakhir yang ia simpan di ranselnya. "Kita harus putuskan saluran data kabel tanah sebelum siaran otomatisnya mengunci jaringan kota!"