NovelToon NovelToon
Makam Keramat Panjang

Makam Keramat Panjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.

Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.

Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 — AIR MAWAR DAN TANCAPAN KANTIL

Malam Selasa Kliwon tiba membawa kegelapan pekat yang membendung seluruh wilayah desa.

Rintik hujan gerimis turun tipis, membasahi pelepah daun pisang di samping rumah panggung.

Aku berdiri di ruang tengah, merapikan botol kaca berisi air mawar segar dan tujuh kuntum bunga kantil putih.

“Mas... kamu benar-benar harus pergi ke makam tua itu malam ini?” tanya Ningsih berbisik gemetar.

Istriku melangkah mendekati meja kayu, memandangi botol air mawar dan tujuh bunga kantil dengan mata sembap.

“Aku harus pergi sekarang, Ningsih, jam dua belas malam adalah batas waktu ritual,” jawabku pelan.

“Apakah kamu tidak takut melangkah sendirian di dalam hutan bambu yang pekat itu, Mas?” tanyanya cemas.

“Aku jauh lebih takut kalau sampai keselamatan anak dan istriku terancam lagi, Ningsih,” tegasku.

“Aku takut sekali kalau kamu tidak bisa pulang kembali ke rumah ini, Mas,” rintih Ningsih menangis.

“Aku pasti pulang kembali dengan selamat, Ningsih, percayalah pada suamimu ini,” janji serakku menenangkan.

“Jangan biarkan rasa cemas merusak kesehatanmu malam ini,” bujukku pelan.

Aku mengelus lembut pipi tirus Ningsih, berusaha menyembunyikan rasa takut membakar dada.

“Tolong jaga Dedek baik-baik di dalam kamar selama aku pergi ke bukit,” pesanku mengarahkan.

“Iya, Mas, aku akan mengunci pintu kamar dan berdoa terus sampai kamu kembali,” sahut Ningsih terisak.

“Jangan pernah membuka pintu dapur buat siapa pun sebelum kamu mendengar ketukan tiga kali dariku,” pesanku lagi.

“Baik, Mas, aku mengerti pesanmu, aku pasti akan menunggu ketukan tiga kali darimu,” janji Ningsih.

Aku mengangguk pelan, lalu memasukkan botol air mawar dan tujuh kuntum bunga kantil ke dalam tas goni.

Sebuah sapu lidi baru kupegang erat di tangan kanan, sementara tas goni kutyelempangkan di pundak.

Aku melangkah keluar lewat pintu dapur belakang, menembus kegelapan malam Selasa Kliwon.

Drap! Drap! Drap!

Langkah kakiku yang bertelanjang menapak cepat di atas permukaan jalanan tanah setapak yang basah.

Ujung celanaku mulai basah terkena cipratan lumpur dan lelehan air hujan yang dingin.

Aroma bau pandan basah dan wangi kamboja busuk tercium menyengat menyertai setiap helaan napasku.

“Aku harus bertahan demi keselamatan Ningsih dan Dedek,” bisikku pelan menguatkan hati yang gentar.

“Perjalanan malam ini harus tuntas tanpa cela,” desisku bertekad.

“Tolong lindungilah hambamu ini dari marabahaya mahluk gaib malam ini ya Allah,” mohonku gemetar.

Jalanan tanah setapak menuju puncak bukit terasa kian menanjak licin dan sangat gelap.

Setiap kali tanganku menyenggol tas goni di pinggang, hawa dingin menusuk persendian jariku.

Noda hitam batu nisan di bawah kuku ibu jari tangan kananku berdenyut-denyut kencang.

Srik!

Suara gersak dedaunan kering di balik rumpun bambu membuat langkah kakiku mendadak terhenti kaku.

Bayangan hitam tinggi besar berdiri membungkuk di balik rimbunan pohon pisang liar.

Dua titik mata merah menyala menatapku lurus-lurus dari balik kegelapan semak-semak.

“Siapa yang berdiri di balik pohon pisang itu?” tanyaku berbisik dengan nada bergetar hebat.

“Apakah kamu utusan gaib dari Makam Keramat Panjang yang mengawasiku?” tanyaku memberanikan diri.

“Jawab pertanyaan saya sekarang kalau kamu memang penunggu hutan ini!” seruku berusaha tegar.

Tidak ada jawaban suara kata manusia yang membalas bisikan ketakutanku di tengah hutan sepi.

Namun desah napas dingin berbau bangkai busuk terasa menyapu lembut tengkuk leher kiriku.

Suara tawa serak seorang wanita tua mendadak bergema sangat dekat di samping daun telinga.

“Surya... bawa air mawar segar itu ke atas nisan tempat rumahku...” bisik suara gaib itu.

“Tancapkan tujuh kuntum bunga kantil putih itu di atas gundukan tanahku...” tambah suara mendesis.

“Anakmu di rumah sudah menunggu kepulanganmu membawa keselamatan...” lanjut suara dingin itu.

Seluruh bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri tegak bagaikan ditusuk ribuan jarum es.

Aku mengingat pesan tegas dari Ujang untuk tidak pernah menoleh ke belakang selama perjalanan.

“Ingat pesan Ujang, jangan pernah menoleh ke belakang sedikit pun!” bisikku mengingatkan diri.

“Fokuskan pikiran cuma buat sampai ke puncak bukit makam keramat!” tegasku menguatkan tekad.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, lalu melangkah berlari cepat menaiki tanjakan jalan setapak.

Drap! Drap! Drap!

Langkah kakiku menapak keras di atas bebatuan licin dan perakaran pohon jati tua.

Di ujung tanjakan bukit, dua tiang batu hitam berlumut berdiri menatap anggun dan angker.

Makam Keramat Panjang terhampar membisu di bawah naungan pohon kamboja raksasa yang rindang.

Gundukan tanah makam sepanjang lima meter itu membentang kaku di atas tanah pelataran.

Cklek!

Suara dentang jam dinding dari balai desa di kejauhan terdengar berbunyi dua belas kali berturut-turut.

Tepat pukul dua belas malam, puncaknya malam Selasa Kliwon yang paling sakral dan gaib.

Aku melangkah mendekati batu nisan tua di ujung gundukan tanah makam dengan tubuh gemetar.

Lututku bergetar hebat saat aku berlutut di atas tanah merah yang basah berembun dingin.

“Permisi, Mbah... saya Surya dari desa sebelah datang membawa ritual air mawar,” bisikku gemetar.

“Saya datang buat menepati janji kewajiban Selasa Kliwon sesuai aturan,” tambahku serak.

“Saya mohon dengan sangat, lindungilah anak dan istri saya di rumah,” pintaku memohon ampun.

Grombol!

Tanah merah di atas gundukan makam sepanjang lima meter itu mendadak berguncang hebat.

Retakan-retakan tanah terbuka lebar, mengeluarkan asap hitam tebal yang berbau bangkai menyengat.

Dua lengan hitam raksasa berdaging busuk menerobos keluar dari dalam gundukan tanah makam.

Jemari berkerut dengan kuku-kuku hitam panjang mencengkeram erat pinggiran batu nisan tua.

Sosok mahluk raksasa tinggi besar membungkuk berdiri perlahan di atas gundukan tanah makam.

Wajahnya yang hancur membusuk tidak memiliki hidung, dan dua titik matanya menyala merah terang.

“Surya... kamu datang membawa air mawar dan bunga kantil segar...” gemuruh suara gaib mengguncang.

“Apakah kamu benar-benar membawa botol air mawar dan tujuh bunga kantil putih malam ini?” tanyanya.

Aku terpaku kaku berlutut di atas tanah basah, dadaku bergemuruh dihantam rasa takut luar biasa.

“Saya datang membawa botol air mawar segar dan tujuh kuntum bunga kantil putih, Mbah,” sahutku.

“Siramkan air mawar itu ke atas batu nisanku dari ujung kepala sampai ujung kaki!” perintah mahluk itu.

“Tancapkan tujuh kuntum bunga kantil putih itu di atas gundukan tanahku sekarang juga!” serunya.

“Jangan ada satu tetes pun air mawar yang tumpah sia-sia di tanah pelataran ini!” tambah mahluk itu.

Dengan jemari gemetar hebat, aku mengeluarkan botol kaca berisi air mawar dari tas goni.

Aku membuka tutup botol kaca, lalu menyiramkan air mawar segar ke atas batu nisan tua.

Cairan air mawar harum menyiram permukaan batu nisan, menyebarkan aroma wangi gaib yang pekat.

Aroma wangi mawar bercampur dengan asap hitam makam, menciptakan pusing hebat di kepalaku.

Setelah itu, aku mengeluarkan tujuh kuntum bunga kantil putih dari dalam tas goni.

Aku menancapkan satu per satu bunga kantil putih itu ke atas gundukan tanah merah makam.

Tujuh kuntum bunga kantil putih berdiri berjejer rapi di atas tanah gundukan sepanjang lima meter.

Begitu kuntum bunga kantil ketujuh tertancap, mahluk raksasa itu mengaum keras mengerikan.

Auman gaib itu bergemuruh hebat mengguncang seluruh pepohonan hutan dan tanah pelataran bukit.

“Air mawar segar dan tujuh bunga kantil ini sangat harum meresap ke tanahku!” seru mahluk itu.

“Wangi bunga kantil putih ini menyegarkan jiwaku yang dahaga di malam Selasa Kliwon!” tambahnya.

Mahluk raksasa itu membungkukkan wajah hancurnya tepat di atas tancapan bunga kantil putih.

Mulut besarnya yang bertaring tajam mengisap wangi harum bunga kantil dan air mawar.

Pendar cahaya merah menyala dari matanya makin berkilau terang di dalam kegelapan malam.

“Kewajiban ritual Selasa Kliwon sudah kuterima utuh, Surya!” gemuruh suara gaib bergema.

“Tanda nisan di kuku jempolmu sudah kusegel sebagai bukti kesetiaanmu malam ini!” tegas mahluk itu.

“Kamu telah membuktikan janji tanpa melarikan diri seperti Pak Kasan!” lanjutnya memberitahu.

“Apakah Pak Kasan dihukum karena mencoba melarikan diri dari kewajiban ritual, Mbah?” tanyaku bergetar.

“Kasan adalah penakut tua yang mencoba mengingkari janji pesugihan modal gaibku!” kekeh mahluk itu.

“Raganya sekarang membusuk menjadi bangkai sebagai hukuman atas pengkhianatannya!” tegas suara gaib.

Jantungku berdegup kencang mendengarkan nasib tragis Pak Kasan yang ditegaskan penunggu makam.

“Terima kasih banyak, Mbah! Terima kasih atas perlindungan buat keluarga saya!” jeritku gemetar.

“Saya bersujud memohon agar anak dan istri saya selalu dalam keadaan selamat,” tambahku terisak.

“Ingat baik-baik, ikatan perjanjian modal gaib ini tetap berlaku seumur hidupmu!” ancam mahluk itu.

“Setiap Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon kamu wajib datang tanpa boleh alpa!” tegasnya.

“Bawalah selalu sajen yang diminta setiap kali kamu datang melangkah ke sini!” lanjutnya.

“Kalau kamu alpa... tanda nisan di kuku jarimu akan merambat menelan jantungmu!” gertaknya keras.

“Saya janji tidak akan pernah alpa, Mbah! Saya akan selalu datang mematuhi perintah!” sahutku.

“Saya akan rajin menyiram air mawar dan menancapkan bunga kantil setiap Selasa Kliwon!” janjiku.

“Pulanglah sekarang sebelum kegelapan malam menelan raga dan jiwamu!” perintah mahluk raksasa itu.

“Pergilah sekarang menemui istri dan anakmu yang sedang menunggu di rumah!” serunya bergemuruh.

Aku menyambar tas goni dan sapu lidi, lalu berbalik berlari sekuat tenaga menuruni bukit.

Aku berlari menuruni bukit tanpa berani menoleh ke belakang sedikit pun jua di jalan.

Drap! Drap! Drap!

Langkah kakiku menapak deras menembus kegelapan jalanan tanah setapak yang licin berembun.

Aroma wangi bunga kantil busuk dan bau bangkai perlahan-lahan memudar hilang ditiup angin.

Sesampainya di halaman rumah panggung, aku segera mendorong pintu dapur belakang dan menguncinya.

Tok! Tok! Tok!

Aku mengetuk pintu dapur tiga kali sesuai dengan kode janji yang kubuat bersama Ningsih.

Ningsih bergegas membuka selot kayu pintu dapur dari dalam dengan wajah lega luar biasa.

“Alhamdulillah ya Allah... kamu sudah pulang kembali dengan selamat, Mas!” jerit Ningsih memelukku.

“Aku sudah menuntaskan seluruh ritual air mawar dan bunga kantil di atas bukit, Ningsih,” jawabku.

Aku meletakkan sapu lidi dan botol kaca kosong di atas meja kayu dapur.

Dengan langkah kaki yang gemetar lemas, aku berjalan masuk ke dalam kamar tidur.

Ningsih duduk di samping ranjang bambu sambil memeluk tubuh Dedek yang terlelap tenang.

“Bagaimana kondisi tempat makam keramat itu saat kamu menjalankan ritual tadi, Mas?” tanya Ningsih.

“Suasana di makam itu sangat mencekam dan menakutkan, Ningsih,” jawabku berbisik jujur.

“Apakah mahluk gaib penunggu makam itu benar-benar muncul di depan matamu, Mas?” tanya Ningsih.

“Mahluk itu muncul dan menerima seluruh sajen air mawar serta tujuh bunga kantil, Ningsih,” tuturnya.

“Penunggu makam sudah berjanji menjaga keselamatan keluarga kita selama aturan dipatuhi,” tambahku.

“Beliau bilang rumah kita aman dari gangguan gaib selama aku tidak melanggar janji,” tuturku menghibur.

Ningsih menarik napas panjang penuh keharuan, mengusap air mata yang menggenang di pipi.

“Alhamdulillah ya Allah... terima kasih banyak sudah melindungi suami saya malam ini,” rintih Ningsih.

“Tapi tolong perlihatkan jempol tangan kananmu sekarang, Mas,” minta Ningsih berbisik cemas.

Aku perlahan menyodorkan ibu jari tangan kananku di bawah pendar redup lampu minyak.

Di bawah kuku ibu jari tangan kananku, noda hitam batu nisan itu tidak menghilang.

Bahkan noda batu nisan gaib itu kini memancarkan pendar cahaya kebiruan redup yang permanen.

Gris-garis hitam menyerupai akar pohon tua terpatri abadi melingkari seluruh kuku ibu jariku.

“Tanda nisan di kukumu ini benar-benar tidak bisa hilang ya, Mas?” tanya Ningsih bergetar.

“Tanda hitam ini adalah segel perjanjian seumur hidup yang harus kutanggung, Ningsih,” jawabku.

“Selama aku mematuhi jadwal ritual, tanda ini tidak akan membahayakan nyawa kita,” jelasku.

“Apakah tanda hitam ini terasa sakit menyengat saat kamu memegang barang, Mas?” tanya Ningsih lagi.

“Rasa nyerinya seperti tusukan es batu yang membeku, tapi aku bisa menahannya, Ningsih,” jawabku.

Ningsih memeluk erat tubuhku, menangis terisak di atas dadaku dengan kepasrahan yang dalam.

“Aku akan selalu menemanimu menghadapi ujian berat ini, Mas,” bisik Ningsih penuh haru.

“Kita tanggung beban ini bersama-sama demi masa depan dan keselamatan Dedek,” sambungnya.

Aku membalas pelukan Ningsih dengan derai air mata keharuan dan tekad yang makin bulat.

Dedek menggeliat pelan di atas ranjang bambu, tersenum manis di dalam tidurnya yang tenang.

Wajah anak kami terlihat sangat bersih, hangat, dan bebas dari bekas memar hitam gaib.

Perjanjian berdarah di Makam Keramat Panjang kini telah resmi menjadi garis takdir hidupku.

Noda batu nisan di bawah kuku ibu jariku akan menjadi saksi abadi pengorbananku demi keluarga.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!