Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31: Ancaman Sintia
Sintia perlahan menyibakkan selimut dan turun dari tempat tidur tanpa menimbulkan suara. Ia mengenakan piyama sutra hitamnya, merapikan rambutnya yang terurai, lalu melangkah keluar dari kamar Lea.
Suasana koridor lantai dua sangat hening dan gelap. Lampu-lampu dinding dinyalakan dalam mode redup. Sintia melangkah pelan menelusuri koridor, melewati kamar Kenzo, hingga berhenti tepat di depan pintu kamar utama yaitu kamar tidur Yoga dan Ayu.
Sintia berdiri terpaku di depan pintu kayu tebal tersebut. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, matanya memancarkan kedengkian yang amat pekat.
"Wanita murah..." bisik Sintia lirih dalam kegelapan lorong, suaranya sarat akan racun kebencian. "Kamu pikir kamu bisa dengan mudah menikmati posisi yang seharusnya jadi milikku? Kamu gak tahu siapa aku..."
Sintia mengatup bibirnya rapat-rapat. Di dalam benaknya, sebuah ikrar licik terukir. Kedatangannya ke rumah ini bukan hanya sekadar untuk menjenguk Moana atau menghibur Lea.
Sintia berniat menggunakan segala cara untuk memanfaatkan kebencian Kenzo dan Lea, mempengaruhi pikiran Kakek Subroto dan Nenek Farida, hingga merusak ketenangan rumah tangga Yoga demi menyingkirkan Ayu dari rumah megah itu untuk selamanya.
Keesokan harinya, sinar matahari pagi membiaskan cahaya hangat menembus jendela dapur. Udara pagi masih terasa sejuk saat Ayu sudah sibuk berdiri di depan kompor.
Meski badannya sangat lelah dan mentalnya tertekan oleh perlakuan keluarga almarhumah Ratna kemarin, Ayu tetap menjalankan kewajibannya sebagai tuan rumah yang santun.
Sejak Subuh, Ayu dibantu Bibi Minah sudah menyiapkan menu sarapan mewah dan lengkap untuk menyambut keluarga besar tersebut. Ada lontong sayur komplit, rendang daging yang empuk, telur balado, serta aneka kue basah tradisional.
"Bu Ayu, ini teko teh hangat dan kopi hitamnya sudah siap," ujar Bibi Minah seraya meletakkan dua teko porselen di atas nampan.
"Terima kasih banyak ya, Bi," balas Ayu selembut mungkin, seraya mengulas senyum manis walau lingkar hitam di bawah matanya masih terlihat jelas. "Bibi tolong bantu nata piring di meja makan ya, saya mau ambilkan buah potong di kulkas."
Saat Ayu sedang merapikan piring buah, suara langkah kaki berhias sandal rumah terdengar melangkah masuk ke area dapur.
Ayu menoleh dan melihat Sintia berdiri di sana dengan pakaian santai yang modis, sambil melipat kedua tangannya di dada. Wajah cantiknya memancarkan tatapan dingin, menilai, dan meremehkan ke arah Ayu.
Ayu pun menghentikan aktivitasnya, lalu menunduk sopan dengan senyuman yang sangat ramah. "Selamat pagi, Mbak Sintia. Mau minum teh hangat atau kopi?"
Sintia melangkah mendekati konter dapur, matanya menyapu sekeliling dapur yang bersih dan wangi. Tawa kecil yang sinis dan merendahkan pun lolos dari bibirnya.
"Gak usah sok perhatian," sahut Sintia dingin, suaranya ditahan agar tidak terdengar oleh Yoga di lantai atas. "Aku ke sini cuma mau liat... sejauh mana wanita sekelas kamu bisa berakting di rumah ini."
Ayu tertegun sejenak, namun ia tetap mempertahankan ketenangannya. Ia menatap Sintia dengan pandangan mata yang teduh.
"Mbak Sintia, kalau ada pelayanan saya atau masakan saya yang kurang berkenan dari kemarin, saya memohon maaf sebesar-besarnya," tutur Ayu selembut mungkin. "Saya murni hanya ingin menyambut keluarga Mbak Sintia dengan baik."
Sintia melangkah semakin dekat, seraya mencondongkan badannya hingga wajahnya hanya berjarak beberapa puluh sentimeter dari wajah Ayu. Matanya memancarkan kebencian yang mendalam.
"Kamu tuh gak usah sok polos di depanku, Ayu," bisik Sintia dengan nada menusuk yang tajam. "Saya tahu persis wanita macam apa kamu. Kamu cuma memanfaatkan kepolosan Moana dan memanfaatkan masa-masa lemahnya Mas Yoga setelah ditinggal Mbak Ratna kan? Kamu incar harta dan fasilitas rumah ini!"
Ayu menahan napasnya, dadanya terasa sesak oleh tuduhan kejam tersebut. Namun, Ayu menatap Sintia dengan keteguhan hati yang jernih.
"Mbak Sintia... demi Allah, saya menikah dengan Mas Yoga bukan karena harta atau fasilitas," jawab Ayu dengan suara yang sangat tenang namun berwibawa. "Saya mencintai Mas Yoga, dan saya berniat tulus merawat anak-anaknya. Kalau Mbak Sintia tidak menyukai saya, saya bisa mengerti... Tapi tolong jangan tuduh niat saya."
Sintia tertawa meremehkan, matanya berkilat-kilat oleh rasa cemburu yang membakar. "Mencintai Mas Yoga? Kamu tuh gak ada apa-apanya dibanding Mbak Ratna! Bahkan kamu tuh gak pantas berdiri di dapur ini!"
Sintia memiringkan kepalanya, lalu menyunggingkan senyum licik yang penuh ancaman.
"Kamu harus ingat satu hal, Ayu..." bisik Sintia pelan di dekat telinga Ayu. "Rumah ini dibangun di atas kenangan Mbak Ratna. Anak-anak di rumah ini adalah darah daging Mbak Ratna. Dan sampai kapan pun, keluarga kami gak bakal pernah membiarkan orang asing kayak kamu tenang di sini. Saya sendiri yang bakal pastikan kamu keluar dari rumah ini!"
Setelah melontarkan ancaman kelam itu, Sintia berbalik dan melangkah keluar dari dapur dengan kepala terangkat tinggi.
Ayu berdiri terpaku di dekat konter dapur. Tangan kirinya meremas tepi konter porselen yang dingin, dadanya bergelombang hebat menahan air mata yang mendesak di pelupuk mata.
Ancaman Sintia terasa begitu nyata dan berbahaya, bukan sekadar kebencian remaja seperti yang ditunjukkan Kenzo dan Lea, melainkan sebuah ancaman dari seorang wanita dewasa yang menyimpan dendam dan obsesi tersembunyi.
Ayu memejamkan matanya rapat-rapat, sembari menarik napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya. Ia menyapu ujung matanya yang basah, dan menegakkan dadanya kembali.
Di dalam hatinya, Ayu berdoa memohon perlindungan dari Sang Maha Kuasa. Ia tahu, ujian dalam pernikahan ini bukan lagi sekadar meruntuhkan tembok kebencian anak-anak tirinya, melainkan menghadapi gelombang prasangka dan ambisi kelam dari masa lalu yang kini mulai terbuka lebar.
Bersambung...