Satu foto. Terkirim ke orang yang salah. Dengan sengaja.
Kirana Adiwijaya punya satu rahasia yang ia jaga rapat-rapat: ia berpacaran dengan Bram Kusuma, dan tak seorang pun di keluarganya boleh tahu. Tapi malam itu, sebuah pesan panas yang ia niatkan untuk sang kekasih justru mendarat di layar ponsel pria yang paling tak boleh ia sentuh—Krisna Kusuma. Kakak Bram. Tunangan kakaknya sendiri.
Krisna tak membalas. Ia hanya menyimpannya. Dan sejak saat itu, garis antara "terlarang" dan "menginginkan" mulai kabur.
Krisna dingin, penuh perhitungan, terbiasa memiliki apa pun yang ia mau. Kirana pandai berpura-pura polos, padahal setiap langkahnya sudah ia rencanakan. Di antara pesta keluarga, ruang kerja bertirai kaca, dan perjalanan mewah yang jauh dari mata orang, keduanya memainkan permainan berbahaya yang tak boleh ketahuan siapa pun—terutama oleh dua orang yang paling mereka khianati.
Tapi rahasia punya harga. Dan ketika kebenaran mulai retak satu per satu—tentang masa lalu Kirana yang ia kubur dalam-dalam, tentang alasan sesungguhnya semua ini bermula—pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan tertangkap.
Melainkan: seberapa jauh keduanya rela jatuh, saat menyadari bahwa yang paling terlarang justru adalah yang paling mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ophelia Blaire, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter-006
Bab 6: Bukan Lembaga Amal
"Aku bukan lembaga amal, Kirana."
Krisna berdiri dan meraih map di sebelah tabletnya.
"Menghapus sesuatu yang memang tak seharusnya kamu terima itu bukan amal."
"Kamu yang mengirimnya."
"Tanpa sengaja."
"Kecelakaanmu yang termasyhur itu."
Kirana menaruh telapak tangannya di atas map. "Aku ingin memastikan itu sudah lenyap."
"Kamu ingin menggeledah ponselku. Kak Rosa saja tak pernah minta melakukan itu."
"Kak Rosa tak pernah tanpa sengaja mengirimkan foto pribadi kepadamu."
"Tidak." Krisna menunggu sampai Kirana mengangkat tangannya, lalu mengambil map itu.
Di balik pintu tertutup, sebuah telepon kantor berdering. Bu Reni pasti masih di mejanya. Kirana bisa saja keluar, berterima kasih atas wawancara yang sudah diaturnya, lalu pergi.
Sebaliknya, ia mencoba menyebut nama Bram.
"Bram tak akan suka soal ini."
Krisna berhenti memutar-mutar map di tangannya.
"Apa tepatnya yang tak akan disukai adikku?"
Kirana tahu ia sedang bertindak bodoh. Ia tetap menjawab.
"Kamu menyimpan sesuatu yang ditujukan untuknya."
"Apa Bram tahu kamu mengirimnya?"
"Dia tahu apa yang kukirim kepadanya."
"Itu bukan pertanyaanku."
Kirana menelan ludah.
"Kalau kubilang kamu menolak menghapusnya—"
"Kamu harus lebih dulu bilang kepadanya bahwa kamu mengirimnya kepadaku. Lalu menjelaskan kenapa kamu menghabiskan empat hari mencoba menemuiku sendirian." Krisna meletakkan map. "Mau aku hadir saat percakapan itu?"
Wajah Kirana terbakar.
"Kamu pikir kamu kebal hukum karena kamu kakaknya."
"Tidak." Ia kembali duduk, tanpa terburu-buru. "Aku pikir kamu menggertak karena dia rahasiamu."
Kirana sudah menduga pria itu mungkin mencurigainya. Mendengarnya diucapkan terasa berbeda.
"Sudah berapa lama?"
"Cukup lama."
"Bram yang bilang?"
"Bram membeberkan ke semua orang lebih banyak dari yang ia niatkan."
"Dia memercayaimu."
Mata Krisna berubah dingin.
"Aku dan adikku tak membahas soal kepercayaan."
Kirana menangkap perubahan dalam suaranya. Bram cukup sering mengeluhkan kakaknya. Barangkali Kirana keliru mengira perasaan itu hanya berjalan satu arah.
Krisna menekan tombol interkom di mejanya. "Bilang ke dewan aku akan terlambat, Bu Reni."
Lalu ia membuka laci dan mengeluarkan ponselnya. Diletakkannya benda itu di meja, di antara mereka berdua.
Kirana mengulurkan tangan meraihnya. Tangan Krisna menutupi ponsel itu sebelum jemari Kirana menyentuh kaca.
"Sudah kubilang aku bukan lembaga amal."
Kirana menatap tangan pria itu di atas ponsel. Krisna tak akan menyingkirkannya sampai Kirana menjawab.
"Sebut hargamu."
Kirana baru menyadari bagaimana kalimat itu terdengar setelah ia mengucapkannya.
Mata Krisna terangkat menatap Kirana. Ia memandangi Kirana lama-lama. Kirana mulai menyesal telah bertanya.
Pandangan pria itu bergerak dari wajahnya ke lehernya, lalu turun, menyusuri blus sutra yang ia pilih agar terlihat cakap dan tak berbahaya, menyusuri garis tempat roknya bertemu pahanya.
Lutut Kirana merapat. Mata Krisna kembali ke matanya. Ia melihat gerakan itu juga.
"Dan setelahnya?" tanyanya.
"Setelahnya kita lupakan ini pernah terjadi."
"Kuragukan kamu bisa melakukannya."
Krisna bersandar ke kursinya.
"Apa yang kamu lakukan sebelum memotret foto itu?"
Udara terkuras dari paru-parunya.
"Apa?"
"Kamu dengar aku."
"Itu bukan urusanmu."
"Dan ponselku bukan urusanmu."
"Kamu menjijikkan."
"Kalau begitu pergi."
Ia menurunkan pandangannya ke dokumen di sebelahnya dan mengambil pena. Ia mulai membaca. Rupanya Kirana boleh berdiri di sana selama apa pun ia mau.
"Kamu menikmati ini."
"Belum."
Kirana menatapnya. Krisna meletakkan dokumen itu dan balas menatap.
"Kamu tadi minta harga," katanya. "Mau dengar?"
Kirana memikirkan foto itu sampai ke tangan ayahnya. Pertanyaan-pertanyaan ibunya. Tante Yohana yang berbaik hati soal itu di depan para tamu, sehingga Kirana tak bisa membantah tanpa membuat dirinya terlihat lebih buruk.
Dan Bram akan tahu bahwa hal intim pertama yang pernah coba Kirana berikan kepadanya justru jatuh ke tangan kakaknya.
"Ucapkan dengan jelas," bisiknya.
Krisna menggeser ponsel itu ke tengah meja.
"Tiga menit dengannya. Galeri foto. Folder terhapus. Pesan. Pencarian. Setelah itu, urusan ini ditutup."
Tiga menit akan cukup untuk memeriksanya. Kirana menunggu bagian sisanya.
Pandangan Krisna turun ke tepi rok Kirana.
"Sebagai imbalannya, kamu akan melakukan apa yang kamu lakukan sebelum memotret foto itu."
Mulut Kirana mengering.
"Di sini?"
"Di sini."
"Sambil kamu tonton."
"Ya."
Kirana melihat ke ponsel, lalu ke pintu. Krisna menjawab setenang seolah mereka masih membahas wawancara.
"Kamu gila."
"Mungkin." Krisna memutar pena sekali di antara jarinya. "Kalau jawabannya tidak, Nona Adiwijaya, wawancara ini berakhir."
Tasnya ada di sebelah kursi. Ia hanya perlu mengambilnya dan pergi.
Ia tetap di tempatnya.