Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - KADO DARI KUBURAN KELVIN TAN
Tiga hari setelah pendarahan di penthouse 50 Miliar itu, aku masih bedrest total di atas nakas.
Arga tidak ke kantor. Grafik saham Mahendra vs Tan Group yang kemarin merah turun 7% hampir crash, hari ini hijau naik 9% karena gosip Robert Tan cabut gugatan 2,5 Triliun itu menyebar di grup Stockbit. Perang saham 2 Triliun di Bab 16 itu resmi dimenangkan Arga tanpa harus perang lagi.
Tapi aku tidak tenang. Detak jantung keempat yang berbisik "Mama jangan takut" itu belum kembali. USG di HP Arga masih menampilkan titik kecil berkedip itu sendirian. Satu janin. Satu detak jantung. Lalu suara siapa semalam?
Jam 14.00 siang, kurir datang ke penthouse 50 Miliar. Bukan kurir J&T biasa. Kurir pakai jas hitam, sama seperti jas hitam Robert Tan yang pakai kacamata hitam malam-malam itu.
"Paket untuk Ibu Sinta Mahendra dari Bapak Robert Tan."
Ayahku yang di bawah di sofa, yang dulu menjualku 500 juta, langsung berdiri. "Jangan terima! Itu pasti teror lagi seperti Kelvin Tan di mall Bab 10!"
Arga yang melunasi hutang ayahku 3,2 Miliar tanpa aku minta itu menahan ayahku. "Biar saya buka dulu."
Kotaknya kecil, hitam, mewah. Di dalamnya bukan bom, bukan KTP nangis darah BELUM DIKUBUR - MENUNGGU TUBUH BARU seperti di novel KKN Desa Mati, tapi di dalamnya ada gelang bayi. Gelang emas putih kecil, dengan ukiran nama.
"ARGA JR. - DARI OPA ROBERT"
Dan ada surat tulis tangan.
"Sinta, Arga. Ini gelang yang saya belikan untuk Kelvin Tan 26 tahun lalu waktu dia lahir. Tapi dia tidak pernah saya kasih karena saya sibuk perang sama ayahmu, ayahnya Sinta, 20 tahun lalu. Sekarang saya kasih untuk cucu kalian. Sebagai permintaan maaf. Karena detak jantung keempat yang Sinta dengar itu mungkin bukan dari perut Sinta. Tapi dari anak saya Kelvin Tan yang mau bilang dia menyesal sudah hampir bunuh Sinta di mall Bab 10. - Robert Tan"
Aku merinding. Bulu kudukku berdiri. Penthouse 50 Miliar yang AC-nya 16 derajat itu tiba-tiba panas.
Arga langsung membuang gelang itu? Tidak. Arga memegang gelang itu erat. Pengusaha yang perang saham 2,5 Triliun tanpa takut itu, tangannya gemetar memegang gelang bayi sekecil itu.
Di saat yang sama, HP Arga bunyi. Telepon dari sekretarisnya.
"Pak Arga, gawat! Saham Tan Group tiba-tiba diborong orang tidak dikenal! Naik 20%! Ada yang mau takeover Tan Group! Dan namanya... Sinta Mahendra!"
Aku? Aku yang masih bedrest total di atas nakas, yang hampir kehilangan 2 garis itu, yang ditampar di Bab 3, yang dijual 500 juta, yang dilawan di mall Bab 10, tiba-tiba jadi pemegang saham terbesar Tan Group?
Arga menatapku. Ayahku yang dulu menjualku 500 juta itu menatapku.
Aku menggeleng. "Bukan aku, Arga. Aku di sini. Aku tidak beli saham."
Lalu siapa?
Di bawah, di lobi penthouse 50 Miliar, satpam telepon lagi. "Pak Arga, ada tamu. Dia bilang namanya... Kelvin Tan."
Darahku berhenti.
Kelvin Tan mati kemarin di mall. Semua orang lihat. Polisi lihat. Robert Tan lihat. Kenapa sekarang ada yang ngaku Kelvin Tan di lobi?
Arga turun dengan pengawal. Ayahku menahan tanganku di atas nakas. "Jangan, Sin. Kamu masih pendarahan. Biar Arga yang urus."
Dari CCTV penthouse 50 Miliar yang 50 Miliar itu, aku lihat lobi.
Bukan Kelvin Tan. Tapi seorang wanita. Wanita cantik, pakai baju putih, perutnya besar. Hamil. 8 bulan.
Dia menatap CCTV itu, seolah tau aku melihatnya dari atas nakas.
Dan dia berbisik, tapi suaranya terdengar sampai ke atas nakas, sampai ke kamar kami yang jadi tempat pertarungan berdarah itu.
"Sinta... aku pacarnya Kelvin Tan. Aku hamil 8 bulan. Anak Kelvin Tan. Detak jantung keempat yang kamu dengar di perutmu semalam... itu anakku. Yang nangis karena papanya mati di mall karena kamu."
Gelang emas putih kecil ARGA JR. - DARI OPA ROBERT yang ada di tangan Arga itu jatuh.
Perang saham 2,5 Triliun selesai. Gugatan 2,5 Triliun dicabut. Tapi perang baru dimulai.
Perang memperebutkan nama ARGA JR.
Dan perang itu, harganya bukan 500 juta lagi seperti aku dulu dijual. Bukan 3,2 Miliar hutang ayahku yang dilunasi Arga. Bukan 50 Miliar harga penthouse ini.
Harganya adalah nyawa.
"Arga..." bisikku dari atas nakas, perutku sakit lagi. Bukan karena pendarahan. Tapi karena detak jantung keempat itu kembali. Tapi kali ini bukan berbisik "Mama jangan takut, Papa pasti menang."
Kali ini berbisik, "Mama... jangan kasih nama Arga Jr. ke anakku... kasih nama Kelvin Jr..."
Aku pingsan.
Di atas nakas, di penthouse 50 Miliar, di tengah perang saham yang sudah menang, aku pingsan lagi untuk kedua kalinya setelah Bab 10 di mall.
Bersambung....