Sebuah kisah tentang seorang pria dari masa lalu yang bangkit di masa ini.
Di masa ini, ia bertemu dengan perempuan yang mirip dengan seseorang yang ia cintai di masa lalunya. Seseorang yang tidak berani ia gapai karena kondisi fisiknya yang seperti monster saat itu.
Akankah ia berhasil menyingkirkan kenangan buruk masa lalunya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Sudi Tunduk
Di tengah suasana yang semakin mencekam, seorang perempuan dari Sekte Lembah Hantu Kegelapan berjalan mendekati Gu Shu. Ia masih cukup muda. Rambutnya diikat ke belakang dan mengenakan jubah hitam yang sama seperti anggota sekte lainnya. Di tangannya terdapat sebuah catatan.
Perempuan itu berhenti di hadapan Gu Shu, lalu menyerahkan catatan tersebut dengan kedua tangannya.
“Tetua Agung... ini.”
Gu Shu mengambil catatan itu.
Sebenarnya, perempuan tersebut telah mendapatkan tugas khusus sejak sebelum acara dimulai. Ia diperintahkan untuk mencatat semua orang yang datang ke kediaman Keluarga Wong malam ini.
Gu Shu membuka catatan tersebut. Tatapannya menyapu tulisan di dalamnya.
“Hehehe...”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Sepertinya malam ini ada cukup banyak orang penting.”
Ia mulai membacakan nama-nama yang tercatat.
“Patriark Keluarga Tun.”
“Patriark Keluarga Bao.”
“Tetua dari Sekte Pedang Awan Putih.”
“Pemilik Paviliun Seratus Harta...”
Gu Shu terus menyebutkan nama orang-orang yang hadir.
Setiap nama yang disebut membuat pemiliknya semakin tegang. Beberapa tamu bahkan mulai menundukkan kepala. Mereka tidak menyangka bahwa sejak awal kedatangan mereka telah diperhatikan oleh Sekte Lembah Hantu Kegelapan.
Gu Shu kemudian berhenti pada satu nama. Tatapannya tertuju kepada Lan Suya.
“Lan Suya.....”
Suasana di sekitar meja mereka langsung sedikit berubah.
Gu Shu tersenyum.
“Pemimpin Harta Langit di Kekaisaran Zhou.”
Lan Suya tidak menunjukkan rasa takut. Ia hanya menatap Gu Shu dengan tenang.
Gu Shu kemudian melipat kembali catatan tersebut.
“Menarik.”
Ia tertawa kecil.
“Tidak kusangka malam ini ada begitu banyak orang kaya berkumpul di satu tempat.”
Tatapannya kembali menyapu seluruh aula.
“Karena itu, aku akan memberikan kalian satu kesempatan.”
Gu Shu mengangkat satu jari.
“Serahkan semua harta yang kalian bawa.”
Beberapa tamu langsung terkejut.
“Semua harta?”
“Bagaimana mungkin?”
Gu Shu tidak memedulikan suara-suara tersebut.
“Serahkan semua harta kalian jika ingin keluar dari ruangan ini dengan selamat.”
Tatapannya berubah dingin.
“Namun sebelum itu...”
Ia menunjuk ke arah panggung.
“Kalian semua harus menyaksikan kematian Patriark Wong Hung dan istrinya.”
Wajah para tamu langsung berubah.
Gu Shu tersenyum lebar.
“Anggap saja ini sebagai peringatan dari Sekte Lembah Hantu Kegelapan.”
“Siapa pun yang menolak bekerja sama dengan sekte kami harus mengetahui akibatnya.”
Beberapa tamu mulai terlihat ketakutan. Mereka memang membawa pengawal dan sebagian dari mereka juga merupakan pendekar. Namun mereka tahu bahwa kekuatan mereka tidak cukup untuk menghadapi Gu Shu.
Terlebih lagi, jumlah anggota Sekte Lembah Hantu Kegelapan yang berada di dalam kediaman ini terlalu banyak. Mereka bahkan tidak tahu berapa banyak orang yang masih berada di luar.
Gu Shu tertawa melihat reaksi mereka.
“Hahaha...”
“Bagaimana?”
“Sekarang kalian mengerti?”
Tidak ada yang menjawab.
Namun Wong Hung justru tetap berdiri tegak di atas panggung. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketakutan. Ia menatap Gu Shu dengan tatapan tegas.
“Kesetiaanku kepada Kekaisaran Zhou tidak bisa ditukar dengan apa pun.”
Suara Wong Hung terdengar jelas ke seluruh aula.
“Aku tidak akan pernah menyerahkan keluargaku kepada sekte kalian.”
Ia mengepalkan tangannya.
“Apalagi bekerja sama dengan sekte aliran hitam.”
Gu Shu terdiam sesaat. Kemudian ia tertawa keras.
“Hahaha!”
“Bodoh.”
Tatapan Gu Shu dipenuhi penghinaan.
“Kau benar-benar tidak memahami keadaanmu sendiri.”
Ia melangkah maju.
“Kau bukan tandinganku, Wong Hung.”
Wong Hung tidak mundur.
“Aku tahu.”
Jawabannya membuat beberapa orang terkejut.
Namun tatapannya tetap teguh.
“Namun aku lebih baik mati daripada harus tunduk kepada kalian.”
Aula kembali sunyi. Tidak ada seorang pun yang menyangka Wong Hung akan mengatakan hal tersebut di hadapan Gu Shu.
Beberapa tamu menatap Wong Hung dengan tatapan berbeda. Kata-katanya perlahan merasuk ke dalam hati mereka.
Mereka mungkin takut dan tidak mampu melawan. Namun setidaknya, masih ada seseorang yang berani berdiri dan menolak tunduk kepada Sekte Lembah Hantu Kegelapan.
Sayangnya, keberanian saja tidak cukup. Jumlah musuh terlalu banyak. Kekuatan mereka juga jauh lebih besar.
Beberapa tamu memang seorang pendekar. Namun mereka tahu bahwa jika pertarungan benar-benar pecah, mereka belum tentu mampu bertahan.
Wong Hung menarik napas panjang dan tangannya bergerak. Sebuah pedang muncul dari cincin ruangnya. Cahaya tajam langsung memancar dari bilah pedang tersebut.
Di sampingnya, Tsue Lin juga mengeluarkan sebuah pedang dari cincin ruang miliknya. Ternyata, wanita tua itu juga seorang pendekar.
Beberapa tamu kembali terkejut. Wong Hung menoleh kepada istrinya dan tatapan mereka bertemu.
Untuk sesaat, tidak ada suara apa pun di antara keduanya. Mereka telah hidup bersama selama puluhan tahun. Mereka melewati masa muda bersama dan menghadapi berbagai kesulitan bersama. Kini, mereka juga akan menghadapi kematian bersama.
Wong Hung tersenyum tipis.
“Lin'er.”
Tsue Lin membalas senyumnya.
“Ya.”
Wong Hung mengangkat kepalanya.
“Apakah kau takut?”
Tsue Lin menggelengkan kepalanya.
“Tidak selama kau masih berada di sisiku.”
Tatapan Wong Hung menjadi lembut.
“Kalau begitu, aku tidak menyesal.”
Tsue Lin menggenggam pedangnya lebih erat.
“Aku juga.”
Wong Hung menatap istrinya dalam-dalam.
“Lima puluh tahun lebih menikah denganmu terasa begitu singkat.”
“Kalau diberi kesempatan untuk mengulanginya, aku tetap akan memilihmu.”
Wong Hung tertawa kecil.
“Kalau begitu...”
Ia mengangkat pedangnya.
“Kita akan tetap bersama kapanpun.”
Tsue Lin mengangguk.
“Tentu saja. Dalam hidup maupun mati.”
Keduanya saling tersenyum.
Tatapan mereka dipenuhi ketenangan yang aneh. Seolah-olah mereka tidak sedang menghadapi kematian. Seolah-olah bagi mereka, selama masih berdiri bersama, tidak ada yang perlu ditakuti.
Di bawah panggung, Sha Nuo memperhatikan keduanya. Untuk pertama kalinya sejak memasuki kediaman Keluarga Wong, ekspresinya berubah sedikit.
Ia benar-benar terpukau. Dalam benaknya, ia tidak menyangka ada manusia yang bisa mencintai seseorang sedalam itu. Setengah abad bersama, bahkan ketika kematian sudah berada di depan mata, keduanya masih memilih untuk berdiri berdampingan.
Sha Nuo terdiam. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan muncul di dalam hatinya.
Pada saat itu, beberapa orang dari Keluarga Wong mulai bergerak. Mereka adalah anggota keluarga yang sebelumnya berada di antara para tamu.
Satu per satu mereka melangkah menuju panggung.
“Patriark!”
“Kami akan bertarung bersamamu!”
“Keluarga Wong tidak akan tunduk!”
Beberapa pendekar Keluarga Wong mengeluarkan senjata masing-masing. Melihat hal tersebut, Gu Shu tersenyum dingin.
“Oh?”
“Sepertinya masih ada orang yang ingin mati bersama.”
Beberapa anggota Sekte Lembah Hantu Kegelapan segera maju. Senjata mereka juga mulai terhunus. Aura para pendekar mulai memenuhi aula.
Gu Shu mengangkat tangannya. Para anggota sekte bersiap.
Wong Hung dan Tsue Lin juga mengambil posisi bertarung. Pertarungan sepertinya akan segera pecah.
Namun tepat pada saat itu...
“Tunggu!”
Teriakan seorang perempuan tiba-tiba terdengar dari tengah aula.
Semua orang langsung menghentikan gerakan mereka. Tatapan seluruh ruangan beralih kepada sumber suara tersebut.
kami memang harus menunggu Thor, stidaknya tau siapakah org yg menyebut kata tersebut ??
👱siap yaer
.. yang pasti pulang tinggal nama sekte pedang hantu punah🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪