Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teriakan yang tidak akan terdengar!
"Sebenarnya, kemana ya Pak Rasman itu pergi?" tanya Tris di perjalanan pulang, memecah kesunyian dengan pandangan yang menerawang menembus kegelapan malam.
"Iya. Sudah satu desa dikelilingi. Bahkan, kami masuk ke hutan dan sempat tersesat gara-gara mencari orang itu, yang mukanya saja tidak kita tahu seperti apa," gumam Bimo kesal.
Kalimat spontan Bimo itu seketika membuat Tris, Bimo, serta Yuda dan Jeremy melirik ke arah Bagas.
Mendengar penuturan Bimo, anggota kru yang lain langsung bereaksi.
"Apa, sesat?" kata Jeremy si penata suara dengan mata membelalak, menghentikan langkahnya sejenak karena terkejut.
"Iya, tadi sempat sesat di hutan," sahut Sri, kelihatan agak pucat karena mimpi yang dialaminya tadi.
Bukannya takut, Yuda si kameramen justru menanggapi cerita itu dengan antusiasme yang meledak-ledak. Matanya langsung berbinar membayangkan visualisasi adegan.
"Gila? Coba aku yang pergi, bisa kita masukkan dalam film kita!" kata Yuda dengan nada menggebu-gebu, tangannya bahkan bergerak-gerak membentuk bingkai kamera imajiner di udara.
"Bayangkan, atmosfer hutan malam-malam, kabut tipis, terus kita tersesat pas nyari orang hilang. Itu footage horornya bakal mahal banget buat stok dokumenter!"
Bagas hanya menghela napas berat melihat kelakuan kameramennya yang terlalu berdedikasi itu.
Di saat situasi desa sedang genting dan mencekam seperti ini, isi kepala kru filmnya ternyata masih saja dipenuhi oleh urusan sinematografi.
"Terus kalian tadi mencari di mana?" tanya Jeremy menatap ke arah Tris dan Bimo, memecah rasa penasaran yang sedari tadi menggantung di antara mereka.
"Arah ujung desa sana. Tapi, kalian tahu apa yang kami temukan?" kata Tris, memancing perhatian seluruh kru dengan nada suara yang sengaja dibuat misterius.
"Apa?" tanya Yuda cepat, naluri sinematografinya langsung bereaksi mendengar ada sesuatu yang baru.
"Vila," sahut Bimo pendek.
"Vila?" ulang Sri dengan dahi berkerut, heran karena tidak menyangka ada bangunan semacam itu di tengah desa terpencil ini.
"Iya, Vila, besar bertingkat dua. Cocok sekali untuk visual rumah horor," ucap Tris dengan mata berbinar.
Mendengar kata visual rumah horor, Yuda dan Jeremy langsung saling berpandangan. Rasa lelah yang mendera mereka seolah menguap begitu saja, digantikan oleh gairah khas orang-orang kreatif yang baru saja menemukan tambang emas untuk proyek film mereka.
"Serius? Di ujung desa ada bangunan kayak begitu?" Jeremy memastikan, jika saja ada Sanu, pasti tangannya sudah gatal ingin menata set jika tempat itu benar-benar sepotensial yang digambarkan Tris.
"Iya, arsitekturnya kuno dan terbengkalai. Pas banget sama konsep yang kita cari selama ini," tambah Bimo, melupakan sejenak cerita-cerita menyeramkan tentang pesugihan dan kutukan yang baru saja ditiupkan oleh Fadil di jalan tadi.
"Cocok itu berarti untuk film kita!" kata Yuda penuh semangat, tangannya seolah sudah memegang kamera dan membidik sudut-sudut estetis dari bangunan itu.
"Kalau begitu nanti kita izin saja sama Pak RT untuk mengambil set di sana," kata Sri. Baginya, tempat sepotensial itu tidak boleh disia-siakan begitu saja.
Sebagai sutradara yang, ia tahu betul betapa sulitnya mencari bangunan terbengkalai dengan atmosfer horor yang alami tanpa perlu banyak dekorasi tambahan.
"Sayangnya, sepertinya kita tidak akan diberikan izin," kata Tris, langsung menyiram antusiasme Sri dengan air dingin.
"Iya, tidak akan," ucap Bimo mengiyakan dengan nada sangsi.
"Lho, kenapa?" tanya Sri, dahinya berkerut kecewa sekaligus heran. Bukankah kedatangan mereka ke desa ini sudah disambut baik oleh perangkat desa?
"Karena tempat itu dilarang keras oleh warga desa untuk didekati." sahut Tris.
"Iya, tapi kenapa?" tanya Bagas yang sedari tadi diam, kini ikut bersuara karena rasa penasarannya sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Konon, itu tempat pesugihan, dan siapa pun yang mendekati tempat itu akan dijadikan tumbal," kata Tris, mulai menceritakan detail cerita mistis tersebut persis seperti apa yang Fadil ceritakan padanya dan Bimo di jalan tadi.
Tris menjelaskan tentang pemilik vila yang menganut ilmu hitam, sumpah kutukan masa lalu, hingga ketakutan mendalam yang membuat para tetua desa menutup rapat-rapat akses ke area tersebut hingga sekarang.
"Gila, memang masih ada yang percaya hal seperti itu ya di zaman ini." Kata Jeremy sambil menggeleng-gelengkan kepala, menganggap remeh takhayul yang baru saja didengarnya.
"Masih, buktinya warga sini masih percaya," kata Bimo, teringat jelas bagaimana pucatnya wajah Fadil dan temannya saat membahas batas pagar bangunan tersebut.
Sementara percakapan santai para kru film itu terus berlanjut di bawah temaram langit malam, kenyataan yang jauh lebih mengerikan sedang terjadi di tempat yang mereka bicarakan.
Di dalam Vila. Rasman, orang tua yang dicari oleh satu desa hingga memicu kepanikan warga, kini terbaring lemas di atas lantai yang dingin dan berdebu.
Pakaiannya seakan menyatu dengan tubuhnya yang sudah dipenuhi oleh lumuran darah segar.
Di dalam keheningan bangunan bertingkat dua yang terisolasi itu, napas Rasman terdengar berat dan putus-putus. Ia sedang berada dalam kondisi sekarat, bertaruh nyawa di ambang maut.
Sreeek... Sreeek...
Suara logam bergesekan dengan lantai terdengar menggema di ruangan yang gelap gulita itu. Seseorang sedang berjalan pelan di samping tubuh Rasman dengan kaki pincang, menyeret sebuah palu besar bertangkai panjang, dia berhenti tepat disamping tubuh Rasman.
Tanpa aba-aba dan tanpa belas kasihan sedikit pun, sosok misterius itu langsung menghantamkan palu berat tersebut ke arah kaki Rasman.
BRAAKK!
Bunyi tulang yang remuk seketika beradu dengan jeritan histeris. Rasman berteriak dengan sangat kencang, sebuah jeritan kesakitan yang teramat sangat, memecah kesunyian malam di dalam vila terkutuk yang tak akan pernah terdengar oleh siapa pun di luar sana.
*****
Kalau ada salah penyebutan nama tokoh didalamnya, maaf ya. Kadang kalau udah nulis ada yang suka berganti-ganti soalnya.