Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.
Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!
"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.
Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.
Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!
Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sinar matahari pagi membias hangat menembus kaca-kaca tinggi koridor utama Gedung Dekanat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Udara pagi yang biasanya tenang kini riuh rendah oleh riak antusiasme para mahasiswa.
Di setiap sudut, poster-poster digital berwarna emas dan biru dongker terpampang megah pada layar-layar TV plasma koridor, menampilkan pengumuman resmi acara tahunan yang paling ditunggu-tunggu.
'Annual FISIP Gala Night & Charity Ball.'
Acara pesta dansa dan malam amal eksklusif itu selalu menjadi ajang bergengsi. Seluruh civitas akademika, jajaran dosen, hingga deretan alumni berpengaruh dan para sponsor besar dipastikan hadir dalam balutan busana black-tie yang mewah.
Di tengah hiruk-pikuk mahasiswa yang asyik mendiskusikan gaun dan pasangannya, Hilmira Hazelya berjalan perlahan menyusuri koridor lantai dua. Pagi ini, ia tampak sangat anggun memikat dalam balutan gamis longgar berwarna navy blue berpadu khimar hitam menjuntai.
Cadar sifon hitamnya terpasang rapi, menyisakan sepasang mata bulatnya yang jernih dan tenang. Ia memeluk dua buku tebal referensi kuliah di dadanya, berniat menuju ruang perpustakaan.
"Hilmira!"
Sebuah suara pria yang ramah dan bernada hangat memanggil namanya dari arah belakang.
Hilmira menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya perlahan.
Rian melangkah mendekat. Ketua BEM fakultas yang tampan dan populer itu mengenakan kemeja putih berbalut sweter rajut abu-abu kasual, memancarkan aura golden-boy yang selalu ramah dan hangat. Rian mengulas senyum manis, menyelaraskan langkah kakinya agar berdiri sejajar di depan Hilmira.
"Pagi, Hilmira," sapa Rian halus, sepasang matanya memancarkan rasa kagum yang tak pernah berhasil ia sembunyikan setiap kali menatap gadis bercadar itu. "Buku-buku itu kelihatan berat. Mau aku bantu bawakan ke perpustakaan?"
"Pagi, Kak Rian. Terima kasih banyak, tapi tidak perlu," jawab Hilmira lembut di balik cadarnya, memberikan jarak dua langkah secara sopan. "Aku bisa membawanya sendiri."
Rian terkekeh pelan, mengangguk maklum. Namun, raut wajahnya mendadak berubah menjadi agak canggung, campuran antara gugup dan keberanian yang dipaksakan. Rian memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana, lalu menarik napas panjang.
"Ehm, Hilmira... sebenarnya ada hal penting yang mau aku tanyakan padamu," ujar Rian. Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah amplop undangan fisik eksklusif berstempel pita emas, undangan VIP untuk acara Gala Night.
Rian menyodorkan amplop itu di depan Hilmira dengan tatapan penuh harapan.
"Soal acara Gala Night minggu depan... sebagai ketua panitia, aku punya hak istimewa untuk membawa satu pendamping khusus," ujar Rian dengan nada suara yang jujur dan tulus. "Aku tahu kamu bukan tipe orang yang suka pusat perhatian. Tapi... aku sangat berharap kamu bersedia menjadi pendamping resmiku malam itu. Aku berjanji akan menjagamu dan memastikan kamu merasa aman selama acara."
Hilmira tertegun di tempatnya. Sepasang mata bulatnya membelalak kecil dari balik cadar. "K-Kak Rian... meminta aku jadi pendamping?"
Di saat yang bersamaan, hanya berjarak lima meter di sudut koridor utama, di depan kafe akademis kaca tertutup yang menghubungkan ruang dosen, sebuah pemandangan mengerikan tengah berlangsung secara senyap.
Arkan Oliver baru saja melangkah keluar dari area kafe.
Pria tegap itu mengenakan setelan kemeja kerja bernuansa abu-abu gelap yang melekat sempurna pada tubuh atletisnya, dengan lengan kemeja yang tergulung rapi hingga siku, menonjolkan otot lengan bawahnya yang kokoh.
Jas mewahnya tersampir santai di atas lengan kirinya. Rambut hitam tebalnya ditata sedikit bergelombang ke belakang, memancarkan pesona cold CEO yang teramat matang dan tak tersentuh.
Di tangan kanannya, Arkan sedang memegang sebuah gelas cangkir keramik tebal berisi kopi hitam espresso panas yang baru saja dibelinya.
Langkah kaki Arkan yang tegap mendadak berhenti total.
Sepasang mata elangnya yang tajam dan pekat mengunci lurus ke arah pemandangan di tengah koridor. Rian yang sedang tersenyum manis sembari menyodorkan undangan emas kepada Hilmira, istrinya.
Arkan mendengar setiap baris kalimat yang diucapkan Rian. Pendengarannya yang tajam menangkap kata 'pendamping resmi' yang keluar dari mulut pria itu.
DEG.
Dalam hitungan milidetik, udara di sekitar Arkan mendadak menyusut drastis. Seluruh kehangatan pagi sirna, digantikan oleh aura membunuh yang teramat pekat, dingin, dan mengerikan. Pria itu berdiri kaku bagai patung es, namun di dalam dadanya, seekor monster keposesifan dan cemburu gila meledak tanpa ampun.
Ego seorang Arkan Oliver tercabik-cabik hingga berkeping-keping. Bayangan istrinya yang mengenakan gaun indah, berjalan berdampingan di atas karpet merah, dan berdansa di bawah sorotan lampu dengan pria lain membuat darah di seluruh tubuh Arkan mendidih hebat.
Rahang tegas Arkan mengeras ekstrem hingga urat-urat di sepanjang leher kokohnya menegang dan menonjol jelas. Matanya kilat membakar, memancarkan kegelapan yang sanggup meruntuhkan siapa pun yang berani menatapnya.
Genggaman tangan kanan Arkan pada cangkir keramik berisi kopi panas itu perlahan mencengkeram kencang. Sangat kencang.
KRAK!
PRANG!
Suara remukan keramik tebal yang pecah berderak bergema tajam di sudut koridor.
Cangkir keramik tebal bernilai mahal itu hancur berkeping-keping di dalam cengkeraman tangan telanjang Arkan. Cairan kopi hitam panas yang pekat memuncrat dan meleleh di antara sela-sela jarinya, membasahi lantai marmer bersih di bawahnya.
Serpihan tajam keramik menancap pada telapak tangannya, namun Arkan bahkan tidak mengedipkan matanya sedikit pun. Rasa sakit fisik itu tak ada artinya dibanding rasa terbakar yang membakar dadanya saat ini.
Beberapa mahasiswa dan staf dosen di sekitar kafe menjerit kaget, menoleh panik ke arah Arkan.
"P-Pak Arkan! Tangan Anda!" seorang staf wanita berteriak cemas melihat darah segar berwarna merah pekat mulai menetes bercampur dengan lelehan kopi hitam dari sela jemari kekar Arkan.
Namun, Arkan sama sekali tidak memedulikan mereka. Ia mengabaikan darah dan kopi yang menetes di tangannya.
Dengan langkah kaki yang berat, penuh otoritas mutlak, dan diiringi ketegangan dramatis yang membekukan atmosfer seluruh koridor, Arkan berjalan lurus menembus kerumunan menuju tempat Hilmira dan Rian berdiri. Setiap ketukan langkah sepatunya di atas marmer bagai dentang bel kematian.
Rian dan Hilmira yang mendengar kegaduhan itu refleks membalikkan badan.
Saat mata Hilmira menatap sosok Arkan yang berjalan mendekat dengan wajah tampan yang sedingin es, mata berkarisma yang menyala penuh amarah, serta tangan kanan yang bersimbah darah bercampur kopi, jantung Hilmira serasa berhenti berdetak saat itu juga.
"Kak Arkan...?!" bisik batin Hilmira, panik luar biasa.
Rian tersentak kaget, otomatis menarik tangannya kembali. "P-Pak Arkan? Tangan Anda terluka parah..."
"Pergi," potong Arkan.
Suara bariton Arkan terdengar sangat rendah, parau, dan sedingin kutub, mengandung daya tekan intimidasi yang teramat pekat hingga membuat Rian refleks terdiam kaku dengan napas tertahan di tenggorokan.
Arkan berdiri tepat di antara Rian dan Hilmira, memblokir total akses pandangan Rian terhadap istrinya. Tinggi badannya yang menjarak jauh serta bahu lebarnya yang kokoh memberi perlindungan mutlak yang dominan.
Arkan tidak melirik Rian sedikit pun. Sepasang mata elangnya sepenuhnya mengunci Hilmira yang sedang berdiri gemetar di depannya.
"Kak Arkan... tanganmu..." suara Hilmira bergetar hebat di balik cadar. Tanpa sadar, tangannya terulur ingin menggapai tangan Arkan yang berdarah, matanya berkaca-kaca oleh rasa cemas yang tak tertahankan.
Melihat riak kecemasan murni di mata bulat Hilmira untuknya, kemurkaan gila di dada Arkan sedikit mereda, berganti menjadi keposesifan yang teramat dalam.
Tanpa memedulikan fakta bahwa mereka berada di koridor kampus, tanpa peduli pada tatapan puluhan pasang mata yang menonton dengan napas tertahan, Arkan mengulurkan tangannya yang tidak terluka, tangan kirinya yang kekar, lalu mencengkeram lembut namun sangat kuat pergelangan tangan Hilmira.
"Ikut aku sekarang," perintah Arkan dengan nada bariton yang tak membantah.
"T-Tapi Kak, ada Kak Rian dan..."
"Aku bilang, ikut aku, Hilmira Hazelya!" potong Arkan, suaranya naik satu oktav dengan penekanan tegas khas CEO dominan yang menolak penolakan dalam bentuk apa pun.
Arkan memutar tubuhnya, lalu menarik pelan pergelangan tangan Hilmira, membawanya melangkah pergi menyusuri koridor. Hilmira setengah berlari kecil mengikuti langkah kaki panjang Arkan, membiarkan dirinya ditarik sepenuhnya oleh sang suami.
Rian berdiri terpaku di tempatnya, memegang amplop undangan emas yang kini terasa tak berguna.
Matanya membelalak tak percaya menatap punggung tegap Arkan yang membawa pergi Hilmira dengan cara yang sangat posesif, sebuah gestur kepemilikan mutlak dari seorang pria yang jelas-jelas tidak akan pernah membiarkan wanita itu disentuh oleh siapa pun di dunia ini.
Tetesan darah bercampur kopi hitam di atas lantai marmer menjadi saksi bisu dari retaknya alibi 'kontrak satu semester', membakar pertengkaran dan gejolak cinta posesif yang kian hari kian tak terkendali menjelang malam pesta dansa yang megah.
...----------------...
To Be Continue ....
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼♀️😅
padahal bagus Liam
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤