NovelToon NovelToon
Jodohku Gadis BAR-BAR

Jodohku Gadis BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Fey

Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Malam itu, suasana kamar terasa sunyi, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan yang beradu dengan degup jantung yang kian berpacu.

Hanan Arkan menatap Kanza Arumi dengan tatapan serius penuh tekad, sebuah sorot mata yang tak bisa lagi ditawar dengan candaan.

“Kanza... Mas tahu ini bukan hal mudah buat kamu, tapi kita sudah resmi menikah di mata Allah dan hukum. Mas ingin kita mulai menjalani hak dan kewajiban sebagai suami istri malam ini juga,” ucapnya dengan nada rendah namun tegas, menciptakan aura otoriter yang membuat Kanza mendadak kehilangan kata-kata.

Kanza mengerutkan dahi, menatap lantai marmer di bawah kakinya sambil mencoba mencari celah untuk menghindar.

“Ah, Mas... Kanza tuh jujur belum siap mental. Ini rasanya seperti mau unboxing paket misterius yang Kanza sendiri tidak tahu isinya apa, takutnya nanti barangnya malah rusak atau tidak sesuai deskripsi. Lagian, siapa bilang Kanza sudah mau? Kanza kan masih lebih mending nonton drama China sambil makan seblak daripada melakukan hal seserius ini,” ujarnya dengan nada nyeleneh dan logika absurd yang tetap ia pertahankan sebagai tameng pertahanan.

Hanan menghela napas panjang, mencoba memanggil sisa-sisa kesabaran yang ia miliki sebagai seorang pendidik sekaligus suami.

“Kanza, Mas tidak mau mendengar alasan basi atau kiasan aneh lagi. Ini adalah tanggung jawab dan ibadah kita berdua. Mas serius, Mas tidak sedang ingin bermain-main sekarang.”

Kanza menggelengkan kepala, sambil mengeluarkan tawa kecil sarkastik yang dipaksakan.

“Waduh, Mas! Jangan langsung mode 'singa ngamuk' begitu dong. Kanza cuma mau memperpanjang masa garansi dan percobaan dulu, biar kita tidak salah langkah. Begini logikanya, Mas; kalau tidak ada baterai, HP itu mati, bagaimana mau berfungsi maksimal? Sama dong dengan keadaan Kanza saat ini.”

Hanan mengerutkan alis, suaranya kian tegas hingga membuat bulu kuduk Kanza berdiri.

“Kanza, Mas tidak sedang ingin bercanda. Ini soal masa depan kita berdua, dan Mas perlu kejelasan serta kesediaanmu malam ini.”

Kanza akhirnya berdiri, mulai mengitari kamar sambil ngomel setengah bercanda untuk menutupi rasa gugupnya yang sudah mencapai level maksimal.

“Mas ini kenapa serius sekali, ya? Kanza mah belum siap mental untuk jadi 'produk baru' Mas yang harus langsung dipakai fungsinya. Kanza maunya perlahan-lahan, jangan buru-buru seperti mengejar promo diskon kilat yang kualitasnya belum tentu terjamin.”

Hanan ikut bangkit dan melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Kanza terpojok di dekat ujung tempat tidur.

Ia menatap dalam-dalam ke manik mata istrinya.

“Kanza, Mas minta tolong jangan hindari ini lagi. Mas sangat sayang padamu, tapi Mas juga laki-laki biasa yang tidak bisa terus-terusan bersabar tanpa kepastian. Kita harus memulainya sekarang.”

Melihat keseriusan yang tidak terbantahkan di wajah suaminya, Kanza akhirnya menghela napas panjang.

Ia menatap Hanan dengan campuran rasa takut, ragu, namun ada secercah pasrah di sana.

“Hemmm... takut... tapi, Mas janji ya, jangan kasar-kasar,” bisiknya sangat pelan, nyaris tak terdengar.

Hanan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang seketika melepaskan seluruh ketegangan di ruangan itu. Ia mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut.

“Mas janji tidak akan kasar. Kita jalani ini bersama-sama, pelan-pelan saja.”

Hanan membimbing Kanza dengan penuh kelembutan menuju peraduan mereka.

Suasana kamar yang tadinya tegang kini berubah menjadi sangat intim, meski Kanza masih tidak bisa berhenti mengoceh sebagai bentuk pertahanan dirinya yang terakhir.

“Mas, ini benar-benar tidak bisa di-reschedule minggu depan saja? Anggap saja ini simulasi dulu,” gumam Kanza saat Hanan mulai mengecup keningnya dengan perasaan yang mendalam.

“Tidak ada jadwal ulang, Sayang,” bisik Hanan serak di telinganya.

Ketika Hanan mulai memberikan sentuhan-sentuhan yang lebih berani, mata Kanza membelalak lebar.

Setiap inci kulitnya yang bersentuhan dengan kulit hangat Hanan terasa seperti dialiri arus listrik yang membuat bulu kuduknya berdiri.

“Aduh, Mas! Tunggu, tunggu!” seru Kanza tiba-tiba, menahan dada bidang Hanan.

“Ada apa lagi?” Hanan bertanya, napasnya mulai memberat namun tetap berusaha sabar.

“Ini... ini kenapa rasanya aneh? Maksud Kanza, perut Kanza seperti ada sirkus tawonnya! Terus kenapa jantung Kanza bunyinya keras sekali? Mas nggak dengar? Ini kalau tetangga dengar dikira ada proyek pembangunan jalan tol!” omel Kanza dengan logika absurdnya.

Hanan terkekeh rendah, suara baritonnya terasa bergetar di dada Kanza.

“Itu namanya reaksi kimia, Kanza Arumi. Wajar kalau kamu merasa gugup.”

Namun, protes Kanza mencapai puncaknya saat Hanan mulai melakukan penyatuan yang sesungguhnya. Kanza mencengkeram bahu Hanan dengan sangat kuat, matanya terpejam rapat.

“MAS! ADUH! Ini... ini sensasi apa, sih? Kok rasanya seperti mau meledak tapi juga kayak mau pingsan?” keluh Kanza dengan suara parau yang tertahan.

“Mas tadi janji pelan-pelan! Ini rasanya seperti ada gempa tektonik di dalam tubuh Kanza!”

Hanan menghentikan gerakannya sejenak, mengecup puncak hidung istrinya yang mulai berkeringat dingin.

“Sssttt... tenang. Napas, Sayang. Jangan dilawan, ikuti saja.”

“Gimana mau tenang, Mas! Ini aneh banget! Kanza merasa... merasa seperti mau terbang tapi kaki Kanza masih di sini!” Kanza terus memprotes, meski nada suaranya mulai berubah, tidak lagi penuh amarah melainkan d3s4h4n kecil yang tak sengaja lolos.

“Mas curang... Mas pakai ilmu apa sih? Kok Kanza jadi lemas begini? Padahal Kanza kan atlet jambak-jambakan di kantin!”

Hanan tidak menjawab lagi dengan kata-kata. Ia memilih membungkam bibir istrinya yang cerewet itu dengan ciuman yang dalam, mengubah protes-protes absurd Kanza menjadi l3nguh4n kecil yang memenuhi kesunyian malam.

Malam itu, di tengah keluhan dan ocehan Kanza yang tidak ada habisnya, Hanan membuktikan bahwa otoritasnya sebagai suami jauh lebih kuat daripada pertahanan "bar-bar" istrinya.

Kanza akhirnya hanya bisa pasrah, tenggelam dalam lautan sensasi baru yang membuatnya menyadari bahwa suaminya bukan sekadar dosen vampire Arab yang dingin, melainkan seorang "monster" yang sanggup meluluhlantakkan egonya hanya dengan satu malam yang panjang.

Malam itu, di tengah perpaduan antara ketegangan, kekonyolan dialog, dan rasa canggung yang luar biasa, langkah pertama mereka sebagai pasangan suami istri yang seutuhnya pun dimulai.

Di balik segala ketakutan dan sikap absurd Kanza, ada benih cinta yang mulai tumbuh semakin dalam, menyelimuti malam yang panjang itu dengan cara yang paling manis.

Menjelang pagi, sinar matahari mulai menyelinap menembus celah tirai kamar, menyapu lantai kayu dengan cahaya keemasan.

Kanza Arumi terbangun dengan perasaan yang benar-benar campur aduk.

Tubuhnya terasa luar biasa berat, seolah semalam ia baru saja habis ditindih gajah atau ikut lomba lari maraton antar galaksi; seluruh sendi dan ototnya terasa remuk tak karuan.

Ia mencoba menggerakkan kaki, tapi betapa kagetnya ia ketika merasakan rasa nyeri yang menjalar hebat di area sensitifnya, area yang benar-benar tak pernah ia bayangkan akan sesakit ini sebelumnya.

“Anjir, ini tubuh atau mayat sih? Sakit semua! Ini Pakde katanya tidak bakal kasar-kasar, pembohong besar!” gerutu Kanza dengan suara parau yang nyaris habis, sambil menahan ringisan perih.

Ia menoleh ke arah Hanan Arkan yang masih tertidur tenang di sampingnya.

Wajah suaminya tampak begitu damai, tanpa beban, seolah dunia baik-baik saja. Kanza langsung mengumpat dalam hati.

“Enak banget mukanya tidur kayak gitu, tidak terima gue! Enak saja semalam ngerayu-ngerayu segala mana sampai gue mau lagi, dihhh anjir!”

Dengan susah payah, Kanza berusaha untuk duduk, tapi badannya yang kaku membuatnya kembali meringis.

“Aduh, Kanza bisa-bisanya baru sekali ‘unboxing’, langsung begini. Tidak mau lagi deh, Mas! Ini pengkhianatan namanya, Mas bukan suami lagi, tapi monster!”

Hanan yang mulai terusik oleh omelan kecil itu akhirnya terbangun. Ia tersenyum tipis melihat ekspresi dramatis istrinya yang sudah berantakan.

“Kanza, Mas tahu ini berat buatmu pertama kalinya. Mas minta maaf ya?”

Kanza menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat meski lehernya terasa kaku.

“Nggak, nggak mau lagi! Harta paling berharga gue sudah direbut bapak-bapak!”

Hanan tertawa kecil, suara baritonnya terdengar seksi di pagi hari.

“Mas terima sindiran itu, tapi Mas tetap ingin kita saling jaga dan sayang lebih dari sebelumnya.”

Kanza menarik selimut kembali sampai ke dagunya sambil bergumam ketus.

“Enak saja!”

Momen pagi itu menjadi bukti bahwa meskipun penuh tantangan dan drama komedi, cinta mereka tetap hangat dan penuh gelak tawa yang mengisi hari-hari mereka.

Kanza akhirnya memutuskan izin tidak masuk kuliah hari ini, begitupun dengan Hanan.

Sang dosen itu memilih menemani istrinya yang sedang dalam mode "lebay-lebayan" tingkat nasional.

Sepanjang pagi, Kanza terus-menerus menyindir Hanan akibat kejadian semalam.

Suasana kamar masih dipenuhi aroma minyak kayu putih dan balsem yang dioleskan Hanan tadi malam untuk meredakan pegal-pegal istrinya.

Di atas tempat tidur, Kanza tergeletak tak berdaya seperti korban bencana alam yang baru saja dievakuasi.

"Mas, Kanza tidak masuk kuliah hari ini. Kanza mau tidur seharian. Mau rebahan. Mau mati gaya. Mau mogok kuliah sampai semester depan kalau perlu!" rengeknya dengan wajah mengerut, seakan penderitaannya sudah mencapai taraf tragedi nasional yang butuh perhatian presiden.

Hanan yang duduk di tepi ranjang hanya tersenyum tenang, lalu langsung mengetik pesan izin ke rektorat dan dosen pengampu mata kuliah Kanza.

Ia juga mengirimkan pesan izin untuk dirinya sendiri.

“Mas juga tidak masuk hari ini. Mas mau menjagamu di sini.”

Mendengar itu, Kanza malah makin sewot dan mendelik.

“Ya jelas Mas harus jaga! Mas tahu tidak, badan Kanza rasanya seperti habis dilempar dari lantai tujuh, diseret truk tronton, digilas buldoser, baru dilempar ke kandang banteng! Sakit banget, Mas!”

Hanan terkekeh pelan, mencoba tetap sabar menanggapi istrinya yang sejak tadi mengoceh tanpa jeda iklan.

“Tapi Kanza sendiri yang bilang semalam sudah siap, kan?” godanya dengan kerlingan mata nakal.

Kanza langsung menoleh tajam, seolah ingin menerkam.

“SIAP APAAN?! Siap mental, Mas! Bukan siap dihancurkan secara fisik dan emosional begini! Mas semalam bilang ‘pelan-pelan’ eh taunya seperti adegan film laga. Kanza tidak nyangka, Mas. Kanza merasa... dikhianati oleh janji manis Pakde!”

Hanan tak kuasa menahan tawa, meskipun ia tahu kalimat-kalimat istrinya itu adalah bentuk manja yang luar biasa.

“Maaf ya, Kanza. Mas tidak tahan, habisnya kamu terlalu manis semalam,” ujarnya dengan nada yang sangat lembut sambil mengelus pipi istrinya.

Kanza membalikkan badan, menghadap dinding, lalu bergumam cukup nyaring.

“Manis apanya. Ini Kanza tidak bisa duduk dengan benar, Mas. Mau ke kamar mandi saja harus mikir dua puluh menit sambil menyusun strategi. Kalau kehormatan Kanza diambil di malam pertama, minimal hadiahnya mobil sport gitu lho, bukan cuma kata-kata manis. Mana Mas semalam tenaganya seperti... gergaji mesin.”

Hanan terbatuk menahan tawa yang nyaris meledak.

“Mobil sport ya?” sahutnya sambil pura-pura mencatat di ponsel, seolah sedang serius mempertimbangkan hadiah tersebut.

Kanza menoleh dengan tatapan kesal yang menggemaskan.

“Iya harus! Kanza lagi krisis harga diri nih. Ini namanya trauma!”

“Trauma tapi masih bisa menyindir dua puluh empat jam nonstop, itu tandanya kamu masih sangat sehat walafiat,” jawab Hanan tenang.

“SEHAT MATAMU!” bentak Kanza, lalu ia langsung meringis kesakitan sambil memegangi pinggangnya.

“Tuh kan, baru ngomel saja sudah nyut-nyutan. Mas jahat!”

Hanan segera mendekat, memijat lembut pundak istrinya untuk meredakan ketegangan.

“Mas jahat, tapi Kanza sebenarnya bahagia dan ketagihan, kan?”

Kanza memalingkan wajah, masih berusaha mempertahankan gengsinya yang setinggi langit.

Tapi di balik selimut itu, ujung bibirnya sudah mengembang menahan senyum yang tak bisa lagi ia sembunyikan.

Ternyata, dibalik omelan bar-barnya, ada rasa cinta yang semakin mekar untuk sang "Pakde" dosennya.

1
partini
tau agama tapi hati penuh iblis no good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!