NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18

Raymond menutup pintu ruang perawatan dengan pelan.

Klik.

Begitu berada di koridor, wajahnya kembali serius.

Dia membuka map berisi berkas rujukan, lalu berjalan menuju loket administrasi.

Di sisi lain...

Di dalam ruang perawatan.

Ibu Sulastri menatap Angela yang sejak tadi hanya berdiri memandangi pintu.

Senyum kecil tersungging di bibirnya.

"Nduk."

Angela langsung menoleh.

"Iya, Bu?"

"Duduk sini."

Angela menarik kursi, lalu duduk di samping ranjang.

"Ada apa?"

Ibu Sulastri menggenggam tangan putrinya.

"Kamu suka sama Raymond, ya?"

Angela langsung tersedak ludahnya sendiri.

"Bu!"

"Waduh, Ibu kok nanya gitu?"

Ibu Sulastri terkekeh pelan.

"Jawab dulu." Angela menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Nggak tahu."

"Nggak tahu?"

"Iya."

"Soalnya..."

Dia mengembuskan napas pelan.

"...semuanya terjadi terlalu cepat."

"Dulu aku nganggep dia cuma senior kampus."

"Terus jadi mentor."

"Habis itu..." Angela tersenyum kecil mengingat semua kejadian yang mereka lewati.

"...tiba-tiba dia selalu ada setiap aku lagi kesusahan."

Ibu Sulastri mengangguk pelan.

"Lalu?" Angela menunduk.

"Kalau dia nggak ada..."

"...rasanya aneh."

"Kalau dia telat balas chat..."

"...aku kepikiran."

"Kalau dia lagi capek..."

"...aku ikut khawatir." Angela berhenti sejenak.

Pipinya perlahan memerah.

"Dan waktu dia bilang..."

"...aku orang yang dia sayang." Jantung Angela kembali berdebar mengingat pengakuan Raymond di koridor tadi.

"Aku seneng."

"Sekaligus takut."

Ibu Sulastri mengusap lembut kepala putrinya.

"Takut kenapa?"

"Aku takut..."

"...aku nggak sebanding sama dia." Angela tersenyum pahit.

"Dia berasal dari keluarga kaya."

"Pintar."

"Ganteng."

"Semua orang kagum sama dia."

"Sedangkan aku..."

"Aku cuma anak kampung."

"Ayah juga udah nggak ada."

"Ibu kerja keras sendirian buat nyekolahin aku." Angela menggigit bibir.

"Aku takut..."

"...orang-orang bakal bilang aku cuma numpang sama keluarga Raymond."

Mata Ibu Sulastri langsung melembut.

Beliau mengangkat dagu Angela agar putrinya menatap dirinya.

"Dengerin Ibu baik-baik." Angela mengangguk pelan.

"Nilai seseorang..."

"...nggak ditentukan dari isi rekeningnya."

"Tapi dari isi hatinya." Angela terdiam.

"Kalau Raymond memilih kamu..."

"...berarti dia melihat sesuatu yang bahkan mungkin belum kamu sadari."

Air mata Angela kembali menggenang.

"Tapi..." Ibu Sulastri menggeleng pelan. "Nggak ada tapi."

"Jangan pernah merasa rendah di hadapan siapa pun."

"Ibu membesarkan kamu bukan untuk jadi orang yang minder."

"Tapi untuk jadi perempuan yang punya harga diri." Angela langsung memeluk ibunya erat-erat.

"Ibu..."

"Terima kasih."

Ibu Sulastri membalas pelukan itu dengan lembut.

"Nanti..."

"...kalau Raymond benar-benar datang melamar." Angela spontan melepaskan pelukannya.

"Bu!"

"Waduh!"

"Kok jauh banget mikirnya?" Ibu Sulastri tertawa kecil.

"Ibu cuma bilang kalau." Angela menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Malu, Bu."

"Masa baru kenal..."

"...udah ngomongin lamaran." Ibu Sulastri tersenyum jahil.

"Kalau bukan dia..."

"...Ibu rasa nggak bakal ada laki-laki lain yang sanggup sabar ngadepin kamu." Angela langsung cemberut.

"Ibu ngeledekin lagi."

"Iya."

"Soalnya anak Ibu lucu kalau malu." Mereka kembali tertawa bersama. Di balik pintu yang sedikit terbuka...

Raymond baru saja kembali setelah menyelesaikan administrasi. Awalnya ia hendak masuk.

Namun tanpa sengaja... Ia mendengar bagian terakhir percakapan mereka.

"...kalau Raymond benar-benar datang melamar." Angela spontan melepaskan pelukannya.

"BU!" Matanya membelalak lebar.

"Pikiran Ibu jauh banget!" Ibu Sulastri malah tertawa kecil.

"Kenapa?"

"Lah, kenapa gimana?" Angela menunjuk dirinya sendiri.

"Angela baru delapan belas tahun, Bu!"

"Baru lulus SMA, baru masuk kuliah."

"Masa udah disuruh nikah?"Ibu Sulastri menahan tawa sambil mengangkat kedua tangan.

"Ibu kan cuma bilang kalau."

"Tetep aja."Angela mengembuskan napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku masih pengen kuliah."

"Masih pengen bikin Ibu bangga."

"Masih banyak cita-cita yang belum tercapai."

Dia meraih tangan ibunya lalu menggenggamnya erat.

"Angela pengen lulus dulu."

"Kerja."

"Bisa beliin Ibu rumah yang bagus."

"Bisa ajak Ibu jalan-jalan."

"Baru deh mikirin nikah." Ibu Sulastri menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.

"Kalau nanti Raymond nunggu?" Angela langsung salah tingkah.

"Ih, Ibu..."

"Ngapain sih ngebahas dia terus?" Pipinya perlahan memerah.

"Emang kalau dia nunggu?" Angela menggigit bibir bawahnya.

"Nggak tahu."

"Tapi..." Dia tersenyum kecil.

"Kalau memang jodoh..."

"...nggak bakal ke mana, kan?" Ibu Sulastri mengangguk pelan.

"Betul."

"Makanya Ibu cuma berdoa."

"Kalau memang dia laki-laki terbaik buat anak Ibu..."

"...semoga Allah menjaga hati kalian berdua sampai waktunya tiba."

Angela mengangguk pelan.

"Iya, Bu."

"Tapi untuk sekarang..."

Dia tersenyum jahil sambil menunjuk ibunya.

"...prioritas Angela itu nyembuhin Ibu dulu."

"Soal Raymond..."

Angela mengangkat bahu sambil terkekeh.

"...suruh aja dia antre."

Ibu Sulastri tak kuasa menahan tawa.

"Dasar anak ini."

Di balik pintu yang sedikit terbuka, Raymond yang tanpa sengaja mendengar kalimat terakhir itu ikut tersenyum tipis.

"Antre, ya..."

gumamnya pelan sambil menggeleng kecil.

"Nggak masalah."

"Aku bisa nunggu."

Senyumnya semakin lebar.

"Bahkan selama yang dibutuhkan."

****

Pagi mulai menyingsing.

Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah tirai, menerangi ruang perawatan yang semula redup.

Ibu Sulastri akhirnya tertidur setelah dokter memberikan obat penenang.

Napasnya terdengar jauh lebih teratur.

Angela berdiri di samping ranjang. Dengan gerakan hati-hati, ia menarik selimut hingga menutupi bahu ibunya.

"Istirahat yang tenang ya, Bu," bisiknya lirih sambil mengusap punggung tangan sang ibu.

Raymond yang sejak tadi berdiri di dekat jendela memandang pemandangan itu tanpa mengganggu.

Tatapannya berhenti cukup lama pada wajah Angela.

Gadis itu tampak kelelahan.

Matanya sembab.

Bibirnya pucat.

Namun, ia tetap berusaha tersenyum setiap kali melihat ibunya.

Raymond menghela napas pelan.

"Angela."

"Hm?" Angela menoleh sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga.

"Kapan terakhir kamu tidur?"

Angela mengerutkan dahi, pura-pura berpikir.

"Kalau nggak salah..."

"...kemarin."

Raymond melipat kedua tangan di dada.

"Jawaban yang kurang meyakinkan."

Angela terkekeh kecil.

"Hehe... ya emang kemarin."

"Kemarin itu jam berapa?"

Angela langsung kehilangan senyum.

"Eee..."

"Nah, kan." Raymond menggeleng pelan.

"Kamu cuma tidur bentar di mobil."

Angela menggaruk pipinya yang nggak gatal.

"Ketahuan."

"Bukan ketahuan." Raymond melangkah mendekat. "Kamu memang kelihatan capek."

Angela mengangkat kedua bahunya santai.

"Aku masih kuat, kok." Baru saja selesai bicara... Pandangan Angela mendadak berkunang-kunang. Tubuhnya oleng.

"Eh..." Untung saja Raymond sigap menangkap lengannya.

"Hati-hati." Tangannya menahan bahu Angela agar nggak jatuh.

Angela memejamkan mata beberapa detik.

"Kayaknya..."

"...aku cuma pusing dikit."

Raymond mengangkat sebelah alis.

"Dikit?"

"Iya."

"Tadi hampir jatuh."

Angela nyengir canggung.

"Hehe... refleks aja."

Raymond menghela napas, lalu tanpa meminta izin lebih dulu menempelkan punggung tangannya ke dahi Angela.

Angela langsung membeku.

"Ray..."

"Hm."

"Kamu ngapain?"

"Ngecek suhu." Angela refleks mundur setengah langkah.

"Aku nggak demam." Raymond tetap menatapnya datar.

"Demam."

"Nggak."

"Demam."

"Nggak."

Raymond menyipitkan mata.

"Angela."

"Iya?"

"Jangan keras kepala." Angela langsung mengembuskan napas panjang.

"Oke..."

"...aku mungkin agak hangat dikit." Raymond terkekeh pelan.

"Nah."

"Baru jujur." Angela mendelik gemas.

"Seneng ya kalau aku kalah?"

"Sedikit."

"Ih!" Angela mencubit pelan lengan Raymond.

"Ngeledek mulu."

Raymond hanya tertawa kecil.

Suasana yang semula tegang berubah lebih ringan.

Tiba-tiba...

Kruuuk...

Suara perut Angela menggema di ruangan.

Angela langsung mematung.

Perlahan ia menoleh ke arah Raymond.

Raymond menahan senyum.

"Itu suara apa?"

Angela buru-buru memegang perutnya.

"Itu..."

"...bukan apa-apa."

"Oh."

Raymond mengangguk seolah percaya.

"Berarti ada tikus."

Angela langsung melotot.

"Raymond!"

"Apa?"

"Itu perut aku!"

Raymond akhirnya tertawa pelan.

"Nah, ngaku juga."

Angela menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Malu banget..."

Raymond menggeleng sambil mengambil dompet dan kunci mobil dari meja.

"Mau makan apa?"

Angela mengintip dari sela jarinya.

"Nggak usah."

"Lapar."

"Nggak."

Belum sempat kalimatnya selesai...

Kruuuk...

Perutnya kembali berbunyi.

Raymond menunjuk pelan ke arah perut Angela.

"Itu protes lagi."

Angela mendecak pasrah.

"Iya deh..."

"...lapar."

Raymond tersenyum tipis.

"Nah."

"Mau makan apa?"

Angela berpikir beberapa detik.

"Bubur ayam."

"Pakai kerupuk."

"Terus teh hangat."

Raymond mengangguk.

"Siap."

Angela buru-buru menambahkan sambil mengangkat telunjuknya.

"Tapi..."

"Hm?"

"Jangan mahal-mahal."

Raymond menatap Angela beberapa saat, lalu mengembuskan napas kecil.

"Kamu ini..."

"Kenapa?"

"Lagi mikirin harga."

"Ya iyalah."

Angela mengangkat bahu.

"Aku lagi banyak pengeluaran."

Raymond tersenyum tipis.

"Tenang."

"Hari ini..."

"...biar aku yang traktir."

Angela langsung menggeleng cepat.

"Nggak bisa."

"Bisa."

"Nggak enak."

Raymond menatap Angela dengan wajah tenang.

"Angela."

"Hm?"

"Kamu pernah bilang..."

"...kalau teman itu saling bantu."

Angela mengangguk pelan.

"Iya."

"Berarti sekarang giliran aku."

Angela terdiam.

Nggak ada jawaban yang bisa ia berikan.

Raymond berbalik menuju pintu.

Namun baru dua langkah...

Ia berhenti.

"Lho?"

Angela mengernyit.

"Kok balik?"

Raymond mengambil selimut tipis yang terlipat di sofa.

Tanpa banyak bicara, ia menyampirkannya ke bahu Angela.

"Nah."

Angela berkedip bingung.

"Ini buat apa?"

"AC-nya dingin."

"Kamu lagi demam."

Angela menatap selimut itu, lalu menatap Raymond.

Tatapannya perlahan melembut.

"Kamu..."

"...perhatian banget."

Raymond hanya tersenyum tipis.

"Biasa aja."

"Nggak."

Angela menggeleng pelan sambil tersenyum.

"Menurut aku..."

"...nggak biasa."

Raymond mengusap pelan pucuk kepala Angela.

"Istirahat."

"Aku nggak lama."

"Iya..."

Angela mengangguk pelan.

Matanya terus mengikuti langkah Raymond sampai pintu tertutup.

Klik.

Angela memegang ujung selimut itu erat-erat.

Masih terasa hangat.

Tanpa sadar ia tersenyum sendiri.

"Dasar Pangeran Kampus..."

"...bisa-bisanya bikin aku salting terus."

Di atas ranjang, Ibu Sulastri yang ternyata belum benar-benar tertidur membuka sebelah matanya.

Beliau menahan tawa.

"Anak ini..."

"Kelihatannya bentar lagi bakal benar-benar jatuh cinta."

Raymond baru saja keluar dari ruang perawatan ketika pintu lift terbuka.

Ting...

Seorang pria berjas putih bersama dua dokter senior berjalan cepat ke arahnya.

"Selamat pagi, Pak Raymond."

Raymond mengangguk singkat.

"Pagi, Dok."

Dokter itu tersenyum ramah.

"Perkenalkan, saya Dr. Bima Santoso, Direktur Rumah Sakit Kabupaten."

Raymond menjabat tangannya dengan sopan.

"Terima kasih sudah datang sepagi ini."

Dr. Bima tersenyum.

"Saya yang seharusnya berterima kasih."

"Bu Diana sudah menghubungi saya semalam."

"Beliau meminta kami memberikan penanganan terbaik untuk Ibu Sulastri."

Raymond mengangguk pelan.

"Saya titip beliau, Dok."

"Tentu."

Saat itu juga...

Angela membuka pintu ruang perawatan.

Dia terkejut melihat beberapa dokter berkumpul di depan kamarnya.

"Eh..."

"Ada apa ya?"

Dr. Bima menoleh sambil tersenyum.

"Selamat pagi."

Angela langsung membungkukkan badan.

"Pagi, Dok."

Raymond menghampiri Angela.

"Gimana?"

"Ibu masih tidur."

"Syukurlah."

Angela melirik ke arah dokter-dokter itu.

"Ray..."

"Hm?"

"Mereka..."

"Dokter yang bakal ngerujuk Ibu."

Angela mengangguk pelan.

"Oh..."

Dr. Bima membuka map di tangannya.

"Mbak Angela."

"Iya, Dok?"

"Kondisi Ibu Sulastri sudah lebih stabil."

"Namun kami tetap menyarankan beliau dirawat di rumah sakit pusat."

Angela terlihat ragu.

"Dok..."

"Kalau boleh tahu..."

"...biayanya kira-kira berapa?"

Belum sempat dokter menjawab...

Raymond menyela pelan.

"Angela."

"Hm?"

"Kamu nggak usah mikirin itu."

Angela langsung menoleh.

"Lho."

"Harus dipikirin."

"Itu bukan uang sedikit."

Raymond tersenyum tipis.

"Lihat aku."

Angela menurut.

"Fokus kamu sekarang cuma satu."

"Apa?"

"Nemenin Ibu."

"Soal yang lain..."

"...aku yang urus."

Angela mengembuskan napas panjang.

"Tapi aku nggak enak."

Raymond mengangkat sebelah alis.

"Kenapa?"

"Kamu udah banyak bantu."

"Aku jadi punya utang banyak."

Raymond terkekeh pelan.

"Siapa bilang?"

"Lah?"

"Kapan aku nagih?"

Angela langsung terdiam.

"Iya juga..."

Raymond tersenyum tipis.

"Makanya."

"Berhenti ngitung."

"Mulai sekarang..."

"...kamu belajar nerima bantuan."

Angela mengerucutkan bibir.

"Susah."

"Kenapa?"

"Aku nggak biasa."

Raymond mengangguk pelan.

"Kalau gitu..."

"...biasain."

Angela mendecak pelan.

"Ih."

"Kamu kalau ngomong sederhana banget."

"Soalnya memang sesederhana itu."

Angela menggeleng sambil terkekeh.

"Heran."

"Apa?"

"Setiap aku panik..."

"...kamu selalu bisa bikin aku tenang."

Raymond menatap Angela beberapa saat.

"Karena..."

Dia berhenti sejenak.

"...aku nggak mau lihat kamu nangis lagi."

Angela langsung menunduk.

Pipinya kembali memerah.

Dr. Bima yang melihat interaksi keduanya hanya berdeham pelan.

"Ehem..."

Angela spontan tersadar.

"Eh!"

"Maaf, Dok."

Wajahnya semakin merah.

Dr. Bima tertawa kecil.

"Nggak apa-apa."

"Saya jadi ingat waktu masih muda."

Angela makin salah tingkah.

"Dok..."

"Jangan ikut-ikutan."

Semua dokter yang berdiri di belakang Dr. Bima ikut tersenyum.

Suasana koridor yang sejak tadi tegang berubah lebih hangat.

Namun, beberapa saat kemudian...

Seorang perawat berlari tergesa-gesa dari ujung lorong.

"Dokter!"

Dr. Bima langsung menoleh.

"Ada apa?"

Perawat itu terlihat sedikit panik.

"Pasien atas nama Ibu Sulastri mengeluh sesak napas lagi."

Angela langsung pucat.

"Apa?!"

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, dia langsung berlari menuju ruang perawatan.

"Bu!"

Raymond ikut berlari di belakangnya.

"Angela, pelan!"

Pintu ruang perawatan didorong hingga terbuka.

Ibu Sulastri tampak memegangi dadanya.

Napasnya memburu.

Monitor jantung mulai berbunyi lebih cepat.

Tit... tit... tit...

Angela langsung menghampiri ranjang.

"Ibu!"

Air matanya kembali jatuh.

"Ibu, Angela di sini."

Dokter dan para perawat segera mengambil alih.

"Semua mundur dulu!"

"Pasang oksigen!"

"Siapkan obat!"

Raymond segera meraih bahu Angela yang masih memaksa mendekat.

"Angela."

"Lepas, Ray!"

"Aku mau ke Ibu!"

Raymond menggenggam kedua bahunya dengan hati-hati.

"Dengerin aku."

Angela menangis sambil menggeleng.

"Aku takut..."

Raymond menatapnya dalam-dalam.

"Ibu kamu lagi ditolong."

"Kalau kamu menghalangi dokter..."

"...justru penanganannya jadi lebih lama."

Angela terdiam.

Tangisnya masih pecah.

Namun perlahan dia mundur satu langkah.

Raymond tetap berdiri di sampingnya.

Tanpa melepaskan genggaman di bahunya.

Memberi kekuatan lewat kehadirannya.

Sementara di dalam ruangan...

Para dokter kembali berjuang menstabilkan kondisi Ibu Sulastri.

Dan Angela hanya mampu berdoa dalam hati.

Semoga kali ini...

Ibunya kembali melewati masa kritis.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!