Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Istana Pasir yang Mulai Goyang
Sore itu, kantor Ardi mendadak gempar. AC sentral yang biasanya dingin rasanya sama sekali tidak membantu meredakan hawa panas yang membakar kepanikan orang-orang di divisi keuangan.
Ardi baru saja melangkah masuk ke lobi kantor dengan sisa rasa nyaman dari makan siangnya bersama Tyas yang masih menempel di kepala. Namun, senyum tipis di wajahnya langsung hilang begitu melihat Heru, manajer keuangannya, berdiri di dekat meja resepsionis dengan muka pucat pasi, seperti baru saja melihat hantu.
"Pak Ardi! Akhirnya Bapak kembali!" seru Heru, langsung berlari menghampiri Ardi sambil membawa tumpukan map yang berantakan.
"Ada apa, Heru? Kenapa mukamu kusut begitu?" tanya Ardi, dahinya berkerut mencoba tetap terlihat berwibawa di depan stafnya.
"Proyek Jakarta kita, Pak..." suara Heru gemetar setengah mati. "Barusan saja, pihak konsorsium utama dari Mega Group mengirimkan surat pembatalan kerja sama secara sepihak! Mereka juga langsung menarik semua jaminan dana taktis yang sudah masuk di rekening penampungan kita!"
Bagai dihantam batu besar tepat di dada, Ardi langsung mematung. Kakinya mendadak lemas, memaksa dia bertumpu pada meja resepsionis di dekatnya.
"Apa?! Pembatalan sepihak? Kok bisa?!" bentak Ardi, suaranya naik beberapa oktav karena panik yang luar biasa. "Kita kan sudah tanda tangan kesepakatan! Mereka tidak bisa main tarik dana begitu saja!"
"Mereka pakai klausul darurat, Pak. Alasan mereka adalah masalah reputasi dan stabilitas keuangan kita yang dinilai tidak aman," jelas Heru dengan keringat dingin yang mulai mengalir di pelipisnya. "Mereka bilang, masalah utang piutang keluarga Bapak yang semalam hampir bikin ribut di kompleks perumahan itu bisa merusak citra proyek. Ditambah lagi, bank yang tadi pagi menolak kita, siang ini langsung membekukan limit kredit berjalan kita."
Ardi merasa dunia di sekelilingnya mendadak berputar. Kepalanya pusing bukan main. Bagaimana mungkin raksasa sebesar Mega Group bisa tahu masalah utang ibunya yang baru terjadi semalam? Dan kenapa mereka bisa bergerak secepat ini, memutus semua keran napas bisnisnya hanya dalam hitungan jam setelah dia selesai makan siang?
Di belakang Ardi, Tyas yang baru saja masuk setelah memarkir mobilnya ikut terdiam mendengar kabar itu. Wajah cantiknya langsung menegang. Sebagai sekretaris yang sedang mendekati bosnya, dia tahu betul kalau perusahaan Ardi hancur, harapannya untuk punya masa depan indah bersama pengusaha sukses ini juga ikut lenyap.
"Mas... Mas Ardi, ini pasti ada yang salah, kan?" bisik Tyas, mencoba memegang lengan Ardi dengan cemas untuk menenangkan.
Namun, kali ini Ardi langsung menepis tangan Tyas dengan kasar. Rasa panik yang teramat sangat membuat egonya terguncang hebat. "Jangan ganggu aku dulu, Tyas!"
Ardi meraba saku celananya dengan tergesa-gesa, mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor direktur penghubung Mega Group yang selama ini menjadi jembatan proyeknya. Namun, panggilannya langsung dialihkan. Dia mencoba lagi sampai jarinya gemetar, tetap tidak bisa.
"Sial! Ada apa sebenarnya ini?!" teriak Ardi frustrasi, mengacak rambutnya hingga berantakan di tengah koridor kantor.
Sementara itu, di rumah megah Ardi, suasana justru terasa sunyi senyap.
Sarah baru saja sampai rumah. Dia melangkah masuk melewati pintu depan dengan gerakan santai, meskipun matanya masih agak sembap di balik kacamata hitam besarnya. Begitu melepas kacamata, dia langsung disambut oleh pemandangan Ibu Widya dan Rika yang sedang duduk santai di ruang tengah sambil menonton televisi, dikelilingi oleh tumpukan tas belanja baru hasil berburu promo online.
Begitu melihat Sarah masuk, Rika langsung mendengkus kencang.
"Wah, nyonya rumah baru pulang," sindir Rika, sengaja mengeraskan suara televisinya. "Enak ya, jam segini baru pulang. Suami sibuk kerja keras di luar sampai mau gila, istrinya malah keluyuran tidak jelas. Oh ya, Sarah, nanti malam masak sup iga ya. Pastikan bumbunya meresap. Jangan malas seperti tadi pagi."
Ibu Widya tidak menoleh, namun beliau menimpali dengan nada yang sama angkuhnya, "Benar itu. Jangan mentang-mentang semalam ada orang yang bantu kita, kamu jadi merasa di atas angin. Bagaimanapun, di rumah ini kamu itu cuma menantu yang menumpang hidup pada anakku."
Sarah berdiri di pembatas ruangan, menatap kedua wanita itu dengan pandangan yang sangat datar, kosong, dan dingin. Tidak ada kemarahan lagi di wajahnya, tidak ada juga niat untuk mendebat atau membalas sindiran mereka seperti biasanya. Rasa hancur di restoran tadi siang telah membunuh sisa-sisa kesabarannya untuk keluarga ini.
"Ma, Mbak Rika," panggil Sarah pelan. Suaranya terdengar sangat tenang, namun entah mengapa terasa begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Rika mendadak meremang.
"Apa?" sahut Rika ketus, akhirnya menoleh.
"Nikmati saja sisa waktu kalian bersantai di rumah ini," ucap Sarah dengan senyum tipis yang teramat dingin di bibirnya. "Karena mulai besok... tempat ini tidak akan lagi menjadi tempat berlindung untuk orang-orang yang tidak tahu diri."
"Kamu bicara apa sih?! Kurang ajar ya kamu menyumpahi kami!" teriak Ibu Widya, langsung berdiri dari sofanya dengan wajah merah padam.
Namun, Sarah sama sekali tidak memedulikan teriakan itu. Dia berbalik, melangkah mantap menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk mulai mengemasi barang-barang pribadinya. Di dalam hatinya, kisah lima tahun pernikahannya dengan Ardi sudah selesai ditulis, dan malam ini adalah malam terakhir dia menginjakkan kaki di rumah ini.