NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Abadi

Kebangkitan Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Dwi

Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Altar Ilusi dan Jebakan Formasi Seribu Akar

​Langkah kaki Arkana Wijaya hampir tidak menyentuh lantai pualam saat ia melesat menembus koridor interior Istana Peristirahatan Hijau Giok. Dinding-dinding di sekelilingnya kini beralih rupa dari batuan alam menjadi pahatan giok hijau tua yang berkilau mistis, memantulkan bayangan redup dirinya yang bergerak secepat angin.

​BZZZZT... "Arka! Mereka sudah melewati kebun inti!" Suara Dani kembali berdering di anting mekanis mikro milik Arkana, bergetar oleh kepanikan yang tertahan. "Pasukan komando Aditia Pramono menembakkan jaring frekuensi resonansi siber untuk melumpuhkan sisa-sisa murid Klan Gagak Hitam yang selamat dari kelabang tadi. Mereka bergerak sangat taktis, Ka. Jarak mereka cuma sekitar tiga ratus meter di belakang lo!"

​"Bagus. Biarkan mereka terus mendekat," jawab Arkana tenang melalui transmisi batin, tanpa mengurangi kecepatannya sedikit pun.

​Di depan Arkana, koridor giok itu mendadak berakhir dan membuka ke sebuah ruangan bundar yang luar biasa megah. Ruangan ini adalah Altar Pusat Istana, dikelilingi oleh delapan pilar batu hitam raksasa yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit ilusi. Di tengah altar, sebuah pola lingkaran geometris kuno yang sangat rumit terukir di lantai, memancarkan pendaran cahaya hijau safir yang berdenyut lambat seperti detak jantung makhluk raksasa.

​Mengandalkan peta batin dari Cincin Kaisar Abadi, Arkana langsung mengenali struktur ini. Ini adalah pusat kendali dari Formasi Seribu Akar Pengikat Jiwa, sebuah formasi pertahanan kuno tingkat tinggi yang dirancang oleh pemilik makam untuk membinasakan penyusup yang bertindak tidak sopan.

​Arkana melompat ke arah salah satu pilar hitam tersembunyi di sudut ruangan, kembali merapatkan tubuhnya dan mengunci Teknik Kamuflase Napas Kaisar hingga ke batas maksimal. Ia berdiri diam di dalam bayangan, menyatu sepenuhnya dengan kegelapan pilar batu.

​Kedatangan Sang Jenderal

​Hanya dalam hitungan puluh detik, suara derap langkah sepatu bot berat yang ritmis bergaung keras dari arah koridor masuk. Kelompok pertama yang menginjakkan kaki di Altar Pusat adalah pasukan elite Biro Keamanan Khusus.

​Ada sekitar dua puluh prajurit berzirah Exo-Skeleton taktis bersenjata lengkap. Di tengah-tengah mereka, melangkah sesosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan jubah militer hitam bersulam bintang emas di pundaknya. Setengah dari wajah sebelah kirinya telah digantikan oleh implan siber berupa lensa optik taktis berwarna biru neon yang terus berputar fokus.

​Dia adalah Mayor Jenderal Aditia Pramono, pemegang otoritas militer tertinggi di Jabodetabek di era baru ini.

​"Amankan perimeter! Pasang pemancar gangguan energi (Energy Disrupter) di setiap sudut!" perintah Aditia Pramono, suaranya berat dan bergaung dengan otoritas yang mutlak.

​"Siap, Jenderal!" Dua prajurit langsung bergerak cepat, menancapkan beberapa pasak logam siber ke lantai giok kuno. Pasak-pasak itu mulai mendengung, memancarkan gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi yang dirancang khusus oleh laboratorium militer untuk mengacaukan partikel E-01 di udara.

​Namun, sebelum sistem siber mereka sempat stabil, kabut tebal di sisi berlawanan dari koridor mendadak bergejolak hebat. Sesosok pria tua berjubah hitam robek dengan rambut abu-abu yang acak-acakan melesat keluar, memegang sebilah pedang besar yang diselimuti oleh aura Qi hitam pekat.

​Dia adalah Tetua Ketiga Klan Gagak Hitam, seorang praktisi tangguh yang telah mencapai ranah Spirit Gathering Tingkat Tiga. Wajahnya dipenuhi oleh murka yang tak terkendali setelah melihat murid-murid klannya dibantai oleh senapan plasma militer di luar.

​"Anak-anak fana berzirah besi! Hari ini, tempat ini akan menjadi kuburan massal bagi militer kalian!" raung sang Tetua, mengayunkan pedangnya ke udara. Tebasan energinya memadat menjadi puluhan gagak hitam mistis bermata merah yang melesat linear menuju posisi Aditia Pramono.

​"Serangan energi biologis terdeteksi. Aktifkan Perisai Magnetik!" perintah Aditia tanpa berkedip.

​BZZZZZT!

​Tiga prajurit terdepan mengangkat perisai energi heksagonal mereka, membentuk dinding cahaya biru yang menahan hantaman gagak-gagak energi tersebut. Ledakan hebat pecah di tengah altar, memicu gelombang kejut yang menggetarkan seluruh ruangan bundar tersebut.

​Mengaktifkan Jebakan Purba

​Arkana yang mengamati dari balik pilar batu hitam mendapati bahwa bentrokan energi yang kasar antara Qi kotor milik klan kuno dan teknologi disrupter militer telah mulai mengikis segel pelindung dasar altar. Pola geometris hijau safir di lantai mulai berkedip tidak stabil, memancarkan sinyal peringatan bahaya di ranah spiritual.

​"Mereka bener-bener gak tahu cara menghargai warisan kultivator purba," batin Arkana, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin. "Teknologi militer mereka hanya bisa menekan partikel energi luar, tapi mereka gak akan pernah bisa menyentuh aliran Qi Primordial sejati."

​Arkana perlahan mengulurkan tangan kanannya dari balik jubah, mengarahkan jari tengahnya yang mengenakan Cincin Kaisar Abadi tepat ke arah pusat lingkaran geometris di lantai. Mengikuti instruksi dari kitab sucinya, ia melepaskan seutas tipis energi Qi Primordial perak keemasan yang murni, menembakkannya secara rahasia di bawah permukaan tanah menuju inti formasi.

​Begitu energi Arkana menyentuh simbol pusat, formasi purba tersebut merespon dengan seketika. Sifat murni dari energi Kaisar Abadi bertindak seperti kunci utama yang membuka paksa gerbang kemarahan bangunan kuno ini.

​KRAAAAAAK!

​Pendaran cahaya hijau safir di lantai mendadak berubah warna menjadi hijau zamrud yang sangat pekat dan menyilaukan. Lantai giok bundar di bawah kaki pasukan militer dan Tetua Klan tiba-tiba melunak, berubah menjadi semacam pusaran lumpur spiritual.

​Dari dalam pusaran tersebut, ribuan akar pohon raksasa berwarna hitam legam dengan duri-duri tajam seukuran belati melesat keluar seperti jajaran tentara tombak yang bangkit dari kubur.

​"Apa ini?! Mundur! Mundur!" teriak kapten pasukan komando militer saat mendeteksi kegagalan total pada sistem perisai magnetik mereka.

​Akar-akar purba itu bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, mengabaikan gelombang disrupter teknologi. Dalam sekejap, lima zirah Exo-Skeleton berat militer terlilit erat. Duri-duri akar tersebut mengebor menembus lapisan baja titanium zirah dengan kemudahan mutlak, mengisap seluruh energi daya baterai kuantum zirah beserta energi kehidupan para prajurit di dalamnya hingga mereka menjerit histeris sebelum akhirnya sunyi.

​"Sialan! Formasi pembantaian!" Tetua Ketiga Klan Gagak Hitam ikut panik. Ia mengayunkan pedangnya dengan liar memotong belasan akar yang mencoba melilit kakinya, namun setiap kali ia memotong satu akar, tiga akar baru muncul menggantikannya dari bawah tanah.

​Di tengah kekacauan masif yang mengerikan tersebut, Mayor Jenderal Aditia Pramono berdiri kokoh. Lensa siber di mata kirinya berputar cepat, mencoba mengunci koordinat pelarian. Aura tubuhnya mendadak melonjak tajam—menandakan bahwa ia sendiri adalah seorang praktisi siber-kultivasi tersembunyi yang telah melewati modifikasi genetika energi.

​Namun, perhatian Arkana tidak lagi tertuju pada mereka.

​Saat seluruh perhatian pasukan militer dan tetua klan tersedot penuh oleh amukan Formasi Seribu Akar, sebuah pintu rahasia di balik pilar batu utama tempat Arkana bersembunyi perlahan terbuka akibat aktivasi formasi. Pintu itu mengarah lurus ke bawah, menuju Kamar Inti Peti Mati Sang Kultivator, tempat di mana warisan sejati dan sumber daya terdahsyat makam ini disimpan.

​Arkana melirik sejenak ke arah Aditia Pramono yang mulai terdesak oleh kepungan akar raksasa, lalu dengan gerakan sehalus hantu, ia melangkah masuk ke dalam lorong rahasia tersebut, membiarkan badai kehancuran di atasnya bergemuruh tanpa dirinya.

1
Jujun Adnin
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!