Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Cerita di Telepon Rumah
Jam istirahat siang sudah berakhir, tapi suasana di ruang karyawan masih cukup sepi. Kebanyakan staf memilih kembali ke meja kerja atau berjalan-jalan sebentar di taman depan kantor. Rima duduk sendirian di sudut ruangan, memeluk telepon kabel lama yang terpasang di dinding. Telepon ini disediakan khusus untuk keperluan mendesak ke rumah, karena sinyal ponsel sering hilang di bagian bawah gedung.
Ia menekan nomor rumahnya dengan hati-hati, jari-jarinya bergerak lincah di atas tombol angka. Hening sejenak, lalu terdengar suara dering dari seberang.
"Halo? Assalamualaikum," suara ibunya terdengar jelas, lembut dan hangat seperti biasa.
"Waalaikumsalam, Ibu! Ini Rima!" seru Rima ceria, matanya berbinar seketika.
"Anak Ibu! Gimana kabarnya di sana? Sehat kan? Makan teratur? Jangan suka telat makan ya," tanya Ibu bertubi-tubi dengan nada khawatir namun penuh kasih sayang.
"Rima sehat sekali Bu! Makan juga teratur, tadi siang makan nasi sayur lodeh sama ikan asin, enak sekali," jawab Rima sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. "Kabar Abah gimana? Masih sering pergi ke sawah pagi-pagi sekali?"
"Masih saja itu kegemarannya. Abah baru saja pulang, lagi minum kopi di teras sambil merokok sebentar. Kamu mau bicara sama Abah?"
"Boleh banget Bu. Panggilin ya Bu.."
Tak lama kemudian suara berat namun ramah ayahnya terdengar. "Halo, Rima. Kerjaanmu lancar di kantor? Tidak menyusahkan orang lain kan? Jangan malu-malu kalau tidak tahu, tanya saja pada yang lebih paham."
"Lancar sekali Bah. Rima berusaha sebaik mungkin, tidak mau menyusahkan siapa pun. Cuma kadang Rima yang sering salah langkah atau lupa ini-itu, tapi orang-orang di sini baik sekali, terutama Pak Andre pimpinan di sini," cerita Rima dengan antusias. "Beliau kelihatan dingin dan tegas sekali, jarang senyum, tapi sebenarnya sangat adil dan peduli. Kemarin Rima tergores pinggiran rak besi, beliau langsung menyuruh ambil obat, bahkan sempat membantu membalut luka Rima loh Bah."
"Wah, syukurlah kalau begitu," jawab Abah lega. "Hormati beliau seperti kamu menghormati Abah sendiri. Jangan pernah berani melawan atau tidak sopan, sekecil apa pun kesalahanmu segera minta maaf."
"Tentu saja Bah. Rima sangat menghormati Pak Andre. Beliau juga tidak pernah membeda-bedakan karyawan, mau yang sudah puluhan tahun bekerja atau anak magang baru seperti Rima, semuanya diperlakukan sama dengan adil," Rima tertawa kecil menutup mulutnya. "Tadi pagi juga ada teman dekat beliau datang, cantik sekali bah, putri sahabat papinya Pak Andre. Semua orang di kantor bilang mereka serasi sekali. Rima harap mereka bisa langgeng dan bahagia selalu ya."
Ia terus bercerita dengan semangat. Tentang tugas menyusun arsip, Bu Tia yang sabar membimbingnya saat salah cetak berkas, teman-teman magang yang suka berbagi bekal, sampai rencananya ingin menggambar pemandangan halaman kantor untuk dimasukkan ke buku sketsa kesayangannya. Suaranya terdengar begitu riang, tulus, dan penuh harapan, tanpa ada beban atau kepura-puraan sedikit pun.
Tanpa disadari, Andre sedang berjalan melewati ruangan istirahat itu bersama Dino. Ia berniat mengambil air mineral dingin sebelum melanjutkan rapat sore yang cukup panjang. Pintu ruangan sedikit terbuka, dan suara ceria Rima terdengar jelas dari dalam.
Andre otomatis berhenti melangkah. Ia tidak bermaksud menguping urusan pribadi, tapi kata-kata gadis itu membuatnya enggan pergi begitu saja. Dino di sebelahnya juga ikut diam, karena Andre memberi isyarat agar tidak bergerak.
"Rima janji akan bekerja sebaik mungkin buat Abah sama Ibu," lanjut Rima di seberang telepon dengan suara sedikit melembut. "Nanti kalau sudah selesai masa magang, Rima pulang membawa hasil yang membanggakan. Kalau tidak diterima tetap bekerja di sini, Rima tidak apa-apa, yang penting sudah belajar banyak hal hebat dan bertemu orang-orang baik seperti Pak Andre."
Andre berdiri diam di sana cukup lama. Hatinya terasa hangat mendengar cara Rima berbicara pada orang tuanya. Sangat sopan, rendah hati, dan penuh harapan. Ia juga mendengar Rima menceritakan tentang dirinya. Bukan sebagai orang yang menakutkan, tapi sebagai pimpinan yang adil dan baik hati. Dan mendengar Rima mendoakannya bahagia bersama Clara. Entah mengapa rasanya manis tapi sedikit menyayat hati.
Belum sempat Andre bergerak, Rima menutup telepon dengan ucapan salam dan janji akan menelepon lagi minggu depan kalau ada waktu luang. Ia tersenyum lebar, merasa lega sudah bercerita panjang lebar pada orang tuanya, lalu berbalik hendak keluar ruangan.
Pintu terbuka lebar, dan Rima terkejut setengah mati melihat ada Andre dan Dino berdiri tepat di depan pintu.
"P-pak Andre! Selamat siang Pak!" Rima langsung berdiri tegak, wajahnya memerah padam kaget. "Maaf Pak, saya tidak tahu Bapak ada di sini... saya tidak bermaksud berisik."
Andre menatapnya sebentar, lalu ujung bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sangat jarang dilihat orang lain. "Tidak apa-apa. Saya lewat saja. Kamu baru selesai bicara dengan orangtuamu?"
"Iya Pak... tadi tiba-tiba rindu sekali rumah," jawab Rima canggung sambil memegang ujung seragamnya. "Saya... saya tidak mengatakan hal yang salah kan pak.''
"Tidak sama sekali," jawab Andre lembut. "Itu cerita yang sangat baik. Teruslah seperti itu. Abah dan Ibumu pasti sangat bangga memilikimu."
"Terima kasih banyak Pak!" Rima tersenyum lebar kembali, matanya berbinar senang.
Andre mengangguk singkat, lalu berjalan masuk ke ruangan istirahat melewati samping Rima. Saat berpapasan, ia berbisik pelan agar hanya Rima yang mendengar, "Terima kasih sudah berbicara baik tentang saya."
Rima hanya bisa mengangguk kaget, lalu melihat punggung Andre dan Dino yang menjauh perlahan menuju kulkas. Ia segera berjalan cepat kembali ke mejanya, dadanya masih berdegup kencang karena terkejut sekaligus senang.
Di samping Andre, Dino menahan senyum lebar melihat perubahan sikap atasannya. "Bapak benar-benar berubah Pak. Biasanya Bapak tidak pernah berhenti hanya untuk mendengarkan percakapan pribadi karyawan."
Andre membuka kulkas mengambil botol air dingin, matanya masih menatap pintu tempat Rima pergi tadi. "Suaranya itu... damai sekali rasanya didengar. Dan saya senang... dia tidak menutupi apa pun dari orang tuanya. Dia benar-benar jujur apa adanya, tidak ada kepura-puraan sedikit pun."
"Sekarang Bapak sudah tahu dia mendoakan Bapak bahagia dengan Nona Clara," tambah Dino pelan. "Bapak tidak kecewa?"
Andre menutup kulkas perlahan, napasnya terhembus pelan. "Kecewa sedikit, tapi saya paham posisinya. Dia polos, Dino. Dia hanya melihat apa yang terlihat di mata semua orang. Lambat laun saya akan pastikan dia tahu apa yang sebenarnya ada di hati saya, dan apa yang saya harapkan darinya."
Sementara itu Rima duduk di mejanya sambil memegang pipinya yang masih terasa hangat. "Pak Andre tadi tersenyum padaku," bisiknya pelan pada diri sendiri. "Pasti karena beliau senang aku menghormati beliau dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Semoga aku bisa terus begini sampai selesai masa magang ya."
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa senyum Andre tadi adalah senyum bahagia karena mendengar ketulusannya, bukan sekadar rasa hormat sebagai bawahan.
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏