NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Boneka Rusak di Hutan Hitam

Kael masih memegang pergelangan tangan Aelora ketika cahaya berbentuk sayap itu padam.

Bekasnya tidak langsung hilang. Di bawah kulit, garis putih tipis bergerak mengikuti tanda hitam yang selama ini dianggap kutukan. Keduanya bertemu di tengah pergelangan, lalu saling menjauh seperti tidak tahan berada terlalu dekat.

Aelora mencoba menarik tangannya, tetapi jemari Kael menahannya dengan hati-hati.

“Apakah itu sakit?” tanyanya.

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Kael mengangkat alis.

Aelora mengalihkan pandangan ke boneka kelinci dalam pelukannya. Bagian wajah boneka itu sudah terkena lumpur. Salah satu mata kancingnya yang tersisa menggantung pada seutas benang.

“Sedikit,” katanya akhirnya.

Kael melepaskan tangannya. “Sejak kapan tanda itu muncul?”

Aelora tahu jawaban yang seharusnya diberikan anak berusia tujuh tahun: sejak tiga hari lalu, setelah ia jatuh sakit dan lampu-lampu rumah mulai padam setiap kali disentuhnya.

Namun ia juga ingat bahwa tanda itu bukan kutukan. Dalam kehidupan sebelumnya, para pendeta menggunakan rune gelap untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi mereka.

Darah malaikat.

Kalau Kael mengetahuinya sekarang, masa depan dapat berubah lebih cepat daripada yang sanggup ia kendalikan.

“Tidak ingat,” jawabnya.

“Kau tidak ingat kapan tubuhmu mulai mengeluarkan cahaya?”

“Mereka bilang aku sakit.”

“Siapa mereka?”

“Orang-orang di rumah.”

“Orang tuamu?”

Aelora menunduk. “Aku tidak punya ayah.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Kael terdiam sejenak. Tatapannya berubah, meski hanya sedikit. “Ibumu?”

“Sudah mati.”

Itulah yang selama bertahun-tahun dikatakan orang-orang Asteria. Mirael Arvand, penyihir pengkhianat yang dibakar sebelum putrinya cukup besar untuk mengingat wajahnya.

Aelora baru mengetahui kebenarannya jauh setelah perang dimulai. Ibunya tidak mati di tiang pembakaran. Setidaknya, tidak pada hari itu.

Namun bagian ingatannya tentang Mirael kabur. Wajahnya seperti lukisan yang terlalu lama terkena hujan.

Kael berdiri dan memandang sekeliling hutan. “Siapa yang membawamu ke sini?”

“Pendeta Mareth. Empat prajurit.”

“Mereka meninggalkan seorang anak sendirian di wilayah serigala bayangan?”

Aelora mengangguk.

Rahang Kael mengeras. Ia tidak berkata apa-apa lagi, tetapi kabut di sekitar sepatu botnya bergerak menjauh, seolah ikut takut pada perubahan suasana hatinya.

Kuda hitam yang tadi ditungganginya mendekat. Makhluk itu lebih besar daripada kuda biasa, dengan mata ungu dan api kecil di sekitar kuku. Ia menundukkan kepala untuk mengendus Aelora.

Aelora memeluk bonekanya lebih erat.

Kuda itu bersin.

Asap ungu menyembur dari lubang hidungnya dan mengenai rambut Aelora.

Kael menepuk leher kuda. “Sopan sedikit.”

Makhluk itu memalingkan kepala, tampak tidak merasa bersalah.

Aelora hampir tersenyum.

Hampir.

Kael melepas mantel luarnya, kemudian menyampirkannya ke bahu Aelora. Mantel itu terlalu panjang. Ujungnya langsung menyentuh tanah dan menutupi tubuhnya sampai ke kaki.

Aelora mengenali aroma kulit, logam, dan daun pinus yang melekat pada kain tersebut. Bau yang sama pernah memenuhi ruang kerja Kael bertahun-tahun kemudian. Ingatan sederhana itu membuat tenggorokannya mendadak sesak.

Ia menarik mantel lebih rapat.

Kael memperhatikannya. “Kau kedinginan?”

Aelora mengangguk.

“Kenapa tidak bilang?”

Aelora tidak tahu harus menjawab apa.

Anak-anak di rumah lama tidak boleh mengeluh. Mengatakan lapar dianggap tidak tahu bersyukur. Mengatakan sakit hanya membuatnya diperiksa oleh pendeta. Mengatakan takut sering membuat orang dewasa mengingat bahwa keberadaannya memang tidak diinginkan.

Kael berjongkok lagi, kali ini membelakanginya.

“Naik.”

Aelora menatap punggungnya.

“Apa?”

“Kakimu terluka.”

“Aku bisa jalan.”

“Kau baru saja jatuh karena tersandung akar.”

“Itu karena aku berlari.”

“Penjelasan yang sangat membantu.”

Aelora menatap rambut gelap di belakang kepala Kael. Dalam ingatannya, Raja Iblis tidak pernah menawarkan punggung kepada siapa pun. Bahkan ketika terluka, ia lebih suka berjalan sendiri daripada menerima bantuan.

Barangkali pada masa ini Kael memang berbeda.

Atau mungkin Aelora tidak pernah benar-benar mengenalnya.

“Cepat,” kata Kael. “Aku tidak berniat tinggal di tengah hujan sampai malam.”

Aelora ragu sebelum merangkul lehernya. Kael mengangkatnya dengan mudah. Tubuh lelaki itu hangat, jauh lebih hangat daripada udara hutan.

Boneka kelinci terjepit di antara mereka.

Kael melirik benda itu. “Kau membawa itu sejak tadi?”

“Namanya Piko.”

“Benda itu masih punya nama?”

“Dia cuma rusak.”

Kael melihat telinga yang hampir putus dan kapas yang menyembul dari perutnya. “Cuma?”

Aelora mengerutkan hidung. “Dia masih bisa diperbaiki.”

Kael tidak membantah. Ia berjalan ke arah kuda, lalu menempatkan Aelora di atas pelana. Setelah memastikan anak itu tidak akan jatuh, ia naik di belakangnya.

Aelora duduk kaku. Tangannya masih memegang Piko, sedangkan Kael mengambil tali kekang di kedua sisi tubuhnya.

“Ke mana kita pergi?” tanyanya.

“Keluar dari hutan.”

“Ke Asteria?”

“Tidak.”

Jawaban Kael datang tanpa keraguan.

Aelora menoleh sedikit. “Lalu?”

“Ke wilayahku.”

Nocthara.

Istana Bulan Merah.

Rumah yang belum menjadi rumah.

Jantung Aelora berdebar lebih cepat.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia baru bertemu Kael ketika usianya hampir dua belas tahun. Saat itu ia sudah belajar mencuri makanan, tidur dengan pisau di bawah bantal, dan tidak mempercayai siapa pun yang menawarkan pertolongan.

Namun sekarang Kael menemukannya pada hari pembuangan.

Lima tahun lebih awal.

Ini bukan sekadar perubahan kecil.

“Aku manusia,” katanya.

“Aku sudah melihatnya.”

“Manusia tidak boleh masuk Nocthara.”

“Siapa yang melarang?”

“Gereja.”

“Gerejamu juga membuangmu ke hutan. Aku tidak yakin pendapat mereka perlu dipertimbangkan.”

Aelora menunduk agar Kael tidak melihat senyum kecil yang muncul di bibirnya.

Kuda bergerak menyusuri jalan sempit. Langkahnya tidak membuat pelana berguncang keras seperti kuda biasa. Ia seperti meluncur di atas tanah, sementara api pada kukunya meninggalkan bekas ungu yang segera hilang terkena hujan.

Mereka baru berjalan beberapa menit ketika Aelora melihat bayangan kecil berlari di antara pepohonan.

Kucing yang tadi menolongnya.

Kadang-kadang hanya telinganya yang terlihat. Kadang ekornya muncul dari balik akar, kemudian lenyap saat Aelora menoleh.

Kael juga melihatnya.

“Makhluk itu mengikutimu?”

“Aku tidak tahu.”

“Dia membantuku.”

“Kucing bayangan jarang membantu manusia.”

“Mungkin dia baik.”

“Tidak ada kucing yang baik.”

Aelora menoleh. “Kau tidak suka kucing?”

“Aku tidak mempercayai makhluk yang tersenyum ketika menjatuhkan barang dari meja.”

Itu terdengar seperti pengalaman pribadi.

Aelora ingin bertanya, tetapi Kael mempercepat laju kuda ketika suara lolongan terdengar dari kejauhan.

Hutan berubah semakin gelap. Pohon-pohonnya lebih tinggi, dan daun hitamnya menutup hampir seluruh langit. Beberapa bunga pucat tumbuh di dekat akar. Saat kuda melewatinya, kelopak bunga membuka dan memperlihatkan gigi kecil di tengah.

Aelora segera menarik mantel agar tidak menyentuh tanaman.

“Kau pernah ke sini?” tanya Kael.

“Tidak.”

“Kau tahu bunga itu menggigit.”

“Orang-orang suka bercerita tentang Hutan Hitam.”

“Cerita manusia biasanya mengatakan bunga itu memakan bayi.”

“Apakah benar?”

“Tidak. Mereka terlalu kecil.”

“Lalu mereka makan apa?”

“Jari.”

Aelora memasukkan tangannya ke balik mantel.

Kael tertawa pendek.

Suara itu mengejutkannya.

Dalam ingatannya, Kael jarang tertawa. Kalaupun melakukannya, biasanya hanya dengusan yang cepat hilang. Mendengar suara itu sekarang terasa aneh, seperti menemukan jendela di ruangan yang sebelumnya ia kira tidak memilikinya.

“Kau menakut-nakutiku,” kata Aelora.

“Sedikit.”

“Itu jahat.”

“Aku Raja Iblis.”

“Bukan berarti kau harus membuat semua cerita tentangmu benar.”

Kael tidak segera menjawab. “Kau cukup berani untuk anak yang baru dibuang.”

Aelora memandang jalan di depan mereka. “Aku tidak berani.”

“Tidak?”

“Aku takut.”

“Pada apa?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya terlalu panjang.

Ia takut pada Hutan Hitam. Takut pada Gereja Fajar. Takut bahwa dunia akan berakhir lagi. Takut Kael akan mati karena keputusan yang belum ia buat. Takut pada tangannya sendiri, yang dalam masa depan pernah memegang pedang berlumuran darah.

Aelora memilih jawaban terkecil.

“Aku takut kau mengembalikanku.”

Tangan Kael pada tali kekang tidak bergerak.

“Ke Asteria?”

Aelora mengangguk.

“Mereka membuangmu ke wilayahku.”

“Jadi?”

“Artinya mereka melepaskan hak untuk mengambilmu kembali.”

“Kalau mereka bilang aku berbahaya?”

“Aku sudah memelihara hal-hal yang lebih berbahaya.”

Aelora menoleh pada kuda mereka.

Makhluk itu menggeram pelan, mungkin tersinggung.

“Bukan dia,” kata Kael.

Kuda itu mengibaskan telinga.

Aelora diam sebentar. “Apakah kau akan membunuhku kalau aku memang berbahaya?”

Pertanyaan itu membuat langkah kuda melambat.

Kael tidak langsung menjawab. Ia memandang bagian belakang kepala Aelora, seolah mencoba memahami mengapa seorang anak kecil dapat menanyakan sesuatu seperti itu tanpa menangis.

“Siapa yang mengatakan kau harus dibunuh?”

“Semua orang.”

“Semua orang sering salah.”

“Tapi kalau mereka benar?”

Kael menarik napas perlahan. “Aku belum mengenalmu cukup lama untuk memutuskan apakah kau berbahaya.”

Aelora menunggu.

“Namun aku tidak membunuh anak-anak hanya karena orang dewasa takut kepada mereka.”

Jawaban itu tidak sempurna. Kael tidak berjanji akan selalu melindunginya. Ia juga tidak mengatakan Aelora aman.

Aneh, tetapi justru itu yang membuatnya terdengar dapat dipercaya.

Jalan mulai menurun. Di depan mereka tampak cahaya dari beberapa lentera ungu. Sebuah kereta hitam berhenti di bawah pohon besar, dijaga empat prajurit Nocthara. Mereka mengenakan zirah gelap dan membawa tombak pendek.

Ketika melihat Kael kembali bersama seorang anak manusia, keempatnya menunjukkan reaksi yang berbeda.

Prajurit pertama menjatuhkan tombaknya.

Prajurit kedua refleks menghunus pedang.

Prajurit ketiga membungkuk terlalu cepat sampai tanduknya membentur pintu kereta.

Yang terakhir hanya menatap Aelora, lalu menatap Kael, lalu kembali melihat Aelora.

“Yang Mulia,” katanya hati-hati, “apakah itu… anak?”

Kael turun dari kuda. “Pengamatan yang bagus.”

Prajurit itu menutup mulut.

Kael mengangkat Aelora dari pelana. Saat kakinya menyentuh tanah, nyeri di pergelangan kanan membuatnya meringis.

Kael langsung melihatnya.

“Tabib.”

Seorang perempuan keluar dari dalam kereta. Rambutnya merah gelap, diikat tinggi agar tidak mengganggu. Ia mengenakan mantel abu-abu dan membawa tas kulit besar.

Perempuan itu berhenti ketika melihat Aelora.

“Dari mana Anda mendapatkan anak manusia?”

“Hutan.”

“Seperti memungut jamur?”

“Dia terluka.”

Perempuan itu menatap Kael seolah memiliki banyak pertanyaan, tetapi memilih menyimpannya. Ia berlutut dan membuka tas.

“Namaku Eirna,” katanya kepada Aelora. “Aku tabib. Boleh kulihat kakimu?”

Aelora memandang Kael lebih dulu.

Eirna memperhatikan gerakan kecil itu, lalu melirik sang raja.

Kael mengangguk. “Dia tidak akan menyakitimu.”

Aelora membiarkan Eirna memeriksanya.

Luka di tumit dibersihkan dengan cairan yang terasa dingin. Pergelangan kaki kanannya dibalut kain hitam. Eirna juga menemukan memar di lengan dan luka kecil di bawah rambutnya.

“Dia demam,” kata Eirna setelah menyentuh dahi Aelora.

“Aku tidak demam,” bantah Aelora.

“Kau panas.”

“Aku kedinginan.”

“Keduanya bisa terjadi bersamaan.”

Eirna membuka mantel Kael sedikit untuk memeriksa lehernya. Gerakannya berhenti ketika melihat tanda hitam di pergelangan Aelora.

“Apa ini?”

“Katanya kutukan,” jawab Aelora.

Eirna mengusap tanda itu menggunakan ibu jari. Garis hitam di bawah kulit langsung bergerak.

Tabib itu menarik tangannya.

“Aku perlu memeriksanya di istana.”

“Sangat buruk?” tanya Kael.

“Aku tidak tahu.”

“Aku membayar tabib agar mereka tahu.”

“Anda membayar tabib agar kami mencari tahu sebelum memberikan jawaban yang salah.”

Kael tampaknya tidak puas, tetapi tidak melanjutkan perdebatan.

Eirna menatap boneka kelinci yang masih dipeluk Aelora. “Boleh kulihat juga?”

Aelora menggeleng.

“Hanya sebentar.”

“Tidak.”

“Bisa saja ada rune yang disembunyikan di dalamnya.”

“Piko tidak berbahaya.”

Kael berdiri di dekat pintu kereta. “Biarkan dia menyimpannya.”

Eirna mengangkat alis. “Yang Mulia, seorang anak manusia ditemukan dengan tanda yang tidak dikenal di tengah hutan. Barang yang dibawanya harus diperiksa.”

Aelora memeluk Piko sampai kapas dari perutnya semakin keluar.

Kael melihat tangannya yang gemetar.

“Periksa nanti,” katanya. “Tidak sekarang.”

Eirna menutup tas dengan gerakan sedikit lebih keras daripada perlu. “Baik.”

Kael membantu Aelora masuk ke kereta.

Bagian dalamnya hangat dan tidak terlalu luas. Ada dua bangku berlapis kulit, sebuah meja kecil, selimut, dan lampu rune yang bergantung di langit-langit.

Aelora duduk dekat jendela. Ia masih mengenakan mantel Kael, sehingga tubuhnya hampir tenggelam di antara lipatan kain.

Kael duduk berhadapan dengannya. Eirna mengambil tempat di samping, sementara Milo—kucing bayangan yang sejak tadi mengikuti—muncul sebentar di bawah kereta sebelum kembali menghilang.

Kereta mulai bergerak.

Aelora memandang Hutan Hitam melalui jendela. Pohon-pohon bergeser perlahan, lalu tenggelam dalam kabut.

Hari itu seharusnya menjadi awal dari sepuluh tahun penderitaan.

Namun sekarang ia duduk di kereta Raja Iblis.

Kael belum mengenalnya. Nocthara belum menerimanya. Masa depan belum benar-benar berubah.

Tetapi untuk pertama kalinya, jalan di hadapannya tidak sama dengan yang pernah dilalui.

Kelopak matanya mulai terasa berat.

Eirna memberi secangkir minuman hangat yang rasanya pahit. Aelora meminumnya tanpa protes, lalu menyandarkan kepala pada dinding kereta.

Boneka Piko tetap berada dalam pelukannya.

“Tidurlah,” kata Kael. “Perjalanannya masih panjang.”

Aelora menatapnya melalui mata yang setengah tertutup. “Kau tidak akan pergi saat aku tidur?”

Kael tampak tidak siap menerima pertanyaan itu.

“Aku ada di kereta yang sama.”

“Itu bukan jawaban.”

Kael menghela napas. “Aku tidak akan pergi.”

Aelora mengangguk kecil.

Beberapa menit kemudian napasnya menjadi teratur.

Kael menoleh kepada Eirna. “Apa pendapatmu?”

“Tubuhnya kekurangan makan. Ada bekas hukuman lama di punggung dan lengannya. Demamnya mungkin karena terpapar hujan, mungkin juga karena tanda itu.”

“Bisakah tanda tersebut dibuang?”

“Kalau itu kutukan, mungkin.”

“Kalau bukan?”

Eirna memandang pergelangan tangan Aelora yang tersembunyi di balik mantel.

“Kalau bukan, saya harus tahu apa yang sebenarnya berusaha disembunyikannya.”

Di luar jendela, kabut hutan menebal.

Aelora tertidur tanpa mendengar percakapan mereka.

Ia juga tidak melihat jahitan pada perut boneka kelincinya bergerak sendiri.

Mata kancing Piko berputar perlahan ke arah Kael.

Kemudian, dari dalam tubuh boneka yang rusak itu, keluar suara rendah seorang lelaki.

Suara yang lebih berat dan jauh lebih lelah daripada suara Kael sekarang.

“Jangan bawa dia ke istana.”

Kael langsung menoleh.

Boneka itu melanjutkan dengan suaranya sendiri—suara Kael dari masa depan.

“Kau akan membunuhnya lagi.”

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!