Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Darah di Rawa Kematian
Hamparan Rawa Darah terbentang tanpa batas di bawah langit merah kelam. Lumpur pekat yang mendidih terus meletupkan gelembung-gelembung gas beracun, menyebarkan aroma busuk yang mampu menumpulkan pikiran kultivator bertekad lemah.
Namun bagi Jian Chen, tempat yang disebut sebagai tanah kutukan ini tidak lebih dari sekadar taman berburu.
Ia melangkah di atas permukaan lumpur tanpa amblas sedikit pun. Langkah Hantu Kekosongan membuat raganya seolah tak memiliki berat, menginjak setiap gelembung lumpur dengan kelembutan sehelai bulu angsa yang jatuh dari langit.
Sambil melangkah, jaring Indra Spiritual-nya terus membentang menembus kabut beracun sejauh lima ratus langkah panjang. Di dalam Reruntuhan Kuno, bahaya tidak hanya datang dari Binatang Iblis purba, tetapi juga dari sesama manusia yang dibutakan oleh keserakahan.
Setengah batang dupa berlalu sejak ia menghancurkan tiga ekor Kalajengking Ekor Darah. Tiba-tiba, langkah Jian Chen terhenti.
Telinganya tidak mendengar apa pun, namun jaring kesadarannya menangkap riak benturan hawa murni sekitar tiga ratus tombak di arah timur laut. Terdapat empat fluktuasi Qi; satu memancarkan hawa iblis yang buas, sementara tiga lainnya memancarkan elemen angin yang tajam.
"Elemen angin..." Sudut bibir Jian Chen melengkung membentuk seringai dingin di balik topeng hantu besinya. "Benar-benar jalan takdir yang sempit."
Tanpa membuang waktu, sosok berjubah hitam itu berkedip menyatu dengan bayangan, melesat menembus kabut merah layaknya anak panah yang lepas dari busurnya.
Di tempat kejadian, pertarungan baru saja usai.
Tiga pemuda mengenakan jubah biru cerah bersulam awan putih berdiri mengelilingi bangkai seekor Ular Rawa Bermata Tiga. Mereka adalah murid-murid elit dari Sekte Awan Biru. Kultivasi ketiganya berada di Kondensasi Qi Tingkat Sembilan Awal—sebuah kekuatan yang cukup untuk mendirikan sekte kecil di kota pinggiran, namun di sini mereka bergerak dalam kelompok demi keamanan.
"Hahaha! Keberuntungan kita benar-benar baik!" seru salah satu murid yang memegang pedang panjang berlumuran darah ular. Ia menunjuk ke arah sebidang tanah keras di tengah rawa, tempat mekarnya sekuntum bunga teratai berwarna merah darah yang memancarkan pendaran cahaya suci.
"Teratai Jiwa Berdarah! Usianya setidaknya sudah tiga ratus tahun!" timpal murid kedua dengan mata berbinar serakah. "Jika kita menyerahkan pusaka ini kepada Kakak Senior Lu Mofeng, ia pasti akan menghadiahi kita pil tingkat tinggi saat kita kembali ke sekte!"
"Cepat cabut teratai itu dan simpan di dalam kotak giok. Bau darah ular ini bisa memancing monster—"
Ucapan murid ketiga terputus seketika. Hawa dingin yang luar biasa pekat tiba-tiba menyelimuti mereka, membuat bulu kuduk ketiga murid Sekte Awan Biru itu merinding hebat.
Tanpa ada suara kepakan jubah atau hembusan angin, sesosok bayangan hitam telah berdiri tegak tepat di atas bangkai Ular Rawa Bermata Tiga. Topeng hantu besi yang menutupi wajahnya tampak seolah tersenyum mengejek, dan di punggungnya bertengger sebongkah pedang raksasa berbalut kain rami.
"Kalian boleh meninggalkan teratai itu," suara serak yang memancarkan keangkuhan mutlak terdengar. "Dan sebagai gantinya, tinggalkan juga kepala kalian di sini."
Ketiga murid itu terkesiap, mundur selangkah sambil mengangkat senjata mereka. Namun, begitu mereka mengenali pakaian dan pedang raksasa di punggung pemuda itu, ketakutan mereka berubah menjadi tawa liar yang meremehkan.
"Kau... kau adalah bocah gelandangan dari Akademi Angin Langit itu!" seru murid pertama. "Orang yang berani menghina Kakak Senior Lu di depan perkemahan!"
"Surga benar-benar memberkati kita!" timpal murid kedua, niat membunuh meledak dari matanya. "Kakak Senior Lu sudah mengeluarkan perintah: Barangsiapa yang membawa kepalamu kepadanya, akan diangkat menjadi wakilnya secara langsung! Dan kau justru mengantarkan lehermu sendiri kepada kami!"
Jian Chen tidak membalas. Ia hanya mengangkat tangan kanannya perlahan, menatap telapak tangannya sendiri dengan kebosanan yang tak tertutupi. "Anjing yang menyalak paling keras biasanya memiliki leher yang paling rapuh."
"Mati kau, Keparat!"
Merasa dihina, ketiga ahli Tingkat Sembilan Awal itu menerjang serentak. Hawa murni elemen angin menyelimuti bilah pedang mereka, menciptakan tiga badai pedang mini yang melolong tajam. Mereka mengepung Jian Chen dari tiga arah yang berbeda, mengunci seluruh jalan keluarnya dengan sempurna.
Bagi kultivator sekelas, ini adalah formasi pembunuh yang sulit ditembus.
Namun, di mata seorang mantan Kaisar, gerakan mereka penuh dengan lubang menganga yang lebih lebar dari gerbang kota.
Jian Chen tidak repot-repot menghunus Pedang Penguasa Kosong. Ia membiarkan ketiga bilah pedang spiritual itu mendekat hingga berjarak sehelai rambut dari jubahnya.
BAM!
Ia menjejakkan kaki kanannya ke atas bangkai ular. Tanah rawa di sekitarnya ambles seketika akibat luapan tenaga delapan belas ribu kilogram yang tak tertahankan.
Di saat yang sama, Jian Chen melayangkan Pukulan Dominasi Primordial. Tinju kanannya tidak menargetkan daging mereka, melainkan langsung menyambut pedang baja spiritual tingkat menengah yang mengarah ke dadanya.
TRAAAANG!
Suara pecahan logam berdenting nyaring. Murid pertama membelalakkan matanya saat pedang pusaka kebanggaannya hancur berkeping-keping hanya karena berbenturan dengan tinju kosong manusia!
Sebelum ia bisa menjerit, tinju Jian Chen tidak berhenti. Tenaga tiran itu terus melaju, menembus pertahanan hawa murninya, dan menghantam tepat di tengah dadanya.
Tulang rusuk hancur bagai ranting lapuk. Jantungnya meledak seketika di dalam rongga dadanya. Murid pertama itu terpental ke belakang, tewas sebelum tubuhnya menyentuh genangan lumpur.
Dua murid lainnya pucat pasi melihat pemandangan itu. Niat membunuh mereka lenyap tanpa sisa, digantikan oleh teror murni. Menghancurkan senjata spiritual dengan tangan kosong? Monster macam apa yang ada di balik topeng hantu itu?!
"L-Lari!" jerit murid kedua, memutar tubuhnya untuk melarikan diri menggunakan teknik meringankan tubuh.
"Tidak ada yang pergi."
Jian Chen membalikkan badannya. Tangan kirinya menjulur bagai cakar naga, merobek udara murni, dan langsung mencengkeram bagian belakang leher murid kedua. Dengan satu remasan kuat, terdengar bunyi patahan tulang yang memuakkan. Kepala murid kedua itu terkulai layaknya boneka rusak.
Dalam tiga tarikan napas, dua ahli Tingkat Sembilan Awal musnah bak semut yang diinjak gajah.
Murid ketiga, yang menjadi satu-satunya yang tersisa, kehilangan seluruh kekuatan kakinya. Ia jatuh terduduk di atas lumpur berdarah, senjatanya terlepas dari tangannya yang gemetar. Mulutnya terbuka dan tertutup, namun tidak ada suara yang keluar selain rintihan ketakutan.
Jian Chen melangkah mendekat, bayangan jubah hitamnya menutupi cahaya merah dari langit, menelan pemuda itu dalam kegelapan.
"Sekarang," suara Jian Chen sedingin jurang es di utara. "Katakan padaku. Di mana anjing peliharaan kalian, Lu Mofeng?"
"T-Tolong... ampuni aku..." pemuda itu memohon, air mata membasahi wajahnya yang penuh kotoran. "A-Aku akan memberitahumu semuanya! Kakak Senior Lu dan kelompok utama... mereka tidak membuang waktu di pinggiran rawa ini! Mereka langsung menuju ke Altar Pusat di jantung reruntuhan!"
Jian Chen menyipitkan matanya di balik topeng. "Altar Pusat? Mengapa terburu-buru?"
"B-Buah Inti Dewa... menurut peta warisan kuno sekte kami, buah itu akan matang secara sempurna dalam waktu kurang dari tiga hari! Siapa pun yang menguasai Altar Pusat lebih dulu akan memiliki keuntungan mutlak!"
Mendengar informasi itu, Jian Chen mengangguk pelan. Tiga hari. Waktu yang cukup untuk membersihkan hama di sepanjang jalan menuju ke sana.
"Terima kasih atas petunjuknya," ucap Jian Chen.
"K-kau berjanji akan mengam—"
KRAK!
Satu jentikan jari Jian Chen menembus titik akupuntur di dahi pemuda itu, mematikan pusat kehidupannya seketika tanpa rasa sakit yang berkepanjangan.
"Aku tidak pernah berjanji," balas Jian Chen pada mayat yang kini terkapar di depannya.
Ia membuka telapak tangannya. Pusaran kelam Seni Melahap Surga Primordial berputar tanpa suara. Hawa murni dari ketiga mayat murid Sekte Awan Biru beserta bangkai Ular Rawa Bermata Tiga itu ditarik keluar, membentuk pita-pita cahaya redup yang meresap ke dalam tubuhnya.
Esensi tersebut bagaikan hujan gerimis yang jatuh ke lautan luas. Meskipun murni, jumlahnya jauh dari cukup untuk membuat riak berarti di Dantiannya yang kini telah mencapai batas akhir fana.
Jian Chen mengambil tiga kantong penyimpanan mereka, lalu melangkah menuju gundukan tanah keras tempat Teratai Jiwa Berdarah tumbuh. Ia mencabut tanaman pusaka itu dengan hati-hati dan menyimpannya ke dalam kotak giok di dalam cincinnya.
Ia menengadah, menatap ke arah pusat Reruntuhan Kuno di mana badai Qi langit dan bumi tampak berpusar membentuk pilar awan kelam.
"Tiga hari menuju Altar Pusat," gumam sang Raja Asura, jubahnya berkibar dihembus angin rawa yang berbau darah. "Mari kita lihat seberapa banyak anjing Sekte Awan Biru yang bisa kujadikan batu pijakan di sepanjang jalan."