Fei Xing berasal dari abad masa depan—tahun 3080—dimana hampir semua aspek kehidupan dikuasai oleh mesin pintar canggih.
Kemajuan teknologi yang terlalu cepat mengakibatkan banyak kerusuhan dan konflik di seluruh dunia.
Ayahnya, seorang profesor jenius di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan sebuah sistem canggih yang terpasang pada jam pintar Fei Xing.
Tujuan utama penciptaan sistem itu adalah untuk melindungi anaknya dengan mengirimkannya pergi dari tahun 3080 yang penuh bahaya.
Di dunia baru ini, Fei Xing bebas mengendalikan sistemnya sesuai keinginannya.
Sistem kecerdasan buatan ini sangat pintar dan memiliki protokol dasar: tidak boleh menyakiti atau melawan tuannya.
Dalam kurun waktu 100 tahun, Fei Xing sudah sering melakukan perjalanan lintas dunia—dari zaman modern, masa lalu, hingga dunia saat ini—hanya untuk bertahan hidup dan mengembangkan kemampuannya.
Namun Sistemnya membutuhkan energi untuk tetap beroperasi dan menjaga kelangsungan hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suku Hu
Dia tidak berani menyebut kata "dewa" terlalu keras, takut menyinggung makhluk yang telah memberikan kebaikan besar ini.
Biasanya, hasil buruan akan dibagi sesuai tingkatan—kelompok pemburu mendapatkan bagian lebih banyak, sedangkan kepala suku dan dukun juga akan mendapatkan bagian khusus.
Namun karena barang ini diberikan dengan permintaan untuk dibagikan secara merata, dia tidak bisa dan tidak berani melakukan hal lain.
Dukun Li Wu juga merasa sama. Usianya hampir mencapai 40 tahun, dan ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya menyaksikan langsung apa yang bisa disebut sebagai "pemberian dari Dewa" pada suku mereka.
"Paman, aku akan melakukannya dengan benar." Hu Zen mengangguk tegas padanya, lalu meminta orang-orang suku untuk mengambil wadah kayu atau anyaman bambu untuk menampung beras dan barang lainnya.
Orang-orang segera bergerak dengan cepat. Total jumlah orang di suku hanya sekitar 150 jiwa, mulai dari lansia hingga anak-anak kecil.
Hu Zen memutuskan untuk membagikan barang-barang tersebut berdasarkan kepala rumah tangga agar lebih efisien dan adil.
Setelah mengumumkannya, ayah atau suami dari setiap keluarga berdiri dengan rapi dalam barisan, sementara para istri dan anak-anak berdiri di samping mereka dengan wajah penuh harap.
Total ada 75 kepala keluarga, termasuk mereka yang tinggal sendiri karena sudah tidak memiliki keluarga.
Hu Zen menghitung dengan cermat jumlah beras dan barang lainnya, lalu memutuskan untuk memberikan dua kait beras kepada setiap kepala keluarga.
Da Wang dan teman-temannya segera membuka kantong beras yang besar.
Saat butiran beras putih bersih itu muncul, kepala suku dan dukun semakin yakin bahwa kelompok muda itu benar-benar bertemu dengan seseorang yang luar biasa.
Beras yang biasanya mereka dapatkan dari desa Ping selalu terlihat sedikit kuning dan terkadang memiliki bau aneh yang harus mereka hilangkan dengan mencuci berulang kali.
Namun saat Hu Zan mengambil segenggam beras dari karung dan menciumnya, tidak ada bau apapun yang tercium.
Butiran berasnya putih bersih dan rata—dia tahu bahwa ini adalah beras berkualitas sangat baik yang tidak pernah mereka temui sebelumnya.
Fei Xing sebelumnya menjelaskan bahwa setiap karung tepung gandum memiliki bobot 20 kait, dan mereka membawa total tiga karung.
Hu Zen menghitung dengan cermat lalu memutuskan untuk membagikannya dengan porsi 1 kait per rumah tangga.
Untuk telur, mereka mendapatkan 5 kotak yang masing-masing berisi 30 butir—total 150 butir.
Dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 75, setiap rumah bisa mendapatkan 2 butir telur. Sedangkan untuk buah kering, Hu Zen sedikit kebingungan bagaimana cara membagikannya secara merata.
"Hu Zen, campur saja semuanya menjadi satu wadah besar, lalu berikan masing-masing satu genggam saja...." usul Dukun Li Wu padanya.
"Baik..." Hu Zen segera meminta Zi Kun untuk mengambil wadah anyaman bambu yang sudah kosong, lalu memasukkan semua bungkusan buah kering ke dalamnya.
Fei Xing telah memberikan mereka buah kering dengan total berat 4 kilo, jadi saat semua dibuka dan dicampur, jumlahnya terlihat sangat banyak.
Hu Zen, Si Bin, dan Da Wang bekerja sama untuk membagikannya dengan sangat setara kepada setiap keluarga.
Mereka juga telah menyisihkan bagian untuk diri mereka sendiri, dan Hu Zan serta Dukun Li Wu juga mendapatkan porsi yang sama seperti orang lain.
"Hu Zen, kamu benar-benar beruntung bisa bertemu dengan Dewa Hutan!," ucap seorang wanita baya dengan wajah penuh senyum saat menerima bagian buah kering darinya.
"Benar sekali. Jika tidak ada Tuan muda, mungkin aku tidak bisa kembali ke suku dengan selamat...." jawab Hu Zen sambil menunjuk pada perutnya.
Hal itu membuat orang-orang yang masih berkumpul di sana terkejut kaget. Hu Zan segera bertanya. "...Apa yang sebenarnya terjadi?!"
Hu Zen kemudian menjelaskan bahwa dia terluka parah saat menghadapi babi tanduk induk yang besar—perutnya robek cukup dalam dan hampir tidak bisa bertahan hidup.
Saat itu, dia menunjukkan bekas luka putih panjang yang hampir melilit seluruh bagian perutnya. "Tuan muda menyembuhkan lukaku dengan sangat cepat, dan aku menukarkan babi tanduk itu sebagai bayaran untuk nyawaku....."
Tak seorang pun bisa menyembunyikan rasa kagumnya—tidak mungkin luka separah itu bisa disembuhkan hanya dalam waktu singkat, apalagi bekas lukanya sudah tampak membekas dengan baik tanpa ada tanda-tanda pembusukan atau lainnya.
"Dia benar-benar adalah dewa yang baik hati. Sungguh beruntung kamu bisa bertemu dengannya...." Dukun Li Wu menepuk-nepuk pundak Hu Zen dengan wajah lega dan penuh rasa syukur.
Hu Zen mengangguk setuju dengan pandangan yang tegas.
Semua orang di suku merasa sangat senang dan bahagia mendapatkan beras serta barang lainnya.
Mereka bahkan sudah merencanakan untuk menghemat penggunaannya agar tidak cepat habis—beberapa keluarga bahkan berencana untuk menyimpan sebagian beras untuk ditanam ketika musim tanam tiba nanti.
2 BULAN KEMUDIAN.
Suasana pagi yang sedikit mendung menyelimuti kawasan sekitar vila Fei Xing. Dia sedang menikmati hidangan makan paginya yang terlambat—pukul 8 pagi, namun cuaca tak kunjung cerah dan seolah akan segera turun hujan lagi.
Fei Xing melihat ke arah jendela besar di ruang makan, dimana langit luar tampak semakin gelap seperti akan ada badai yang kuat."...Sistem, aktifkan perlindungan cuaca tingkat lanjut."
[Perlindungan cuaca telah diaktifkan, Tuan!] sistem menjawab dengan cepat.
Sebuah lapisan medan energi tak terlihat mulai mengelilingi seluruh kawasan vila. Meski dari luar terlihat sama seperti biasanya, lapisan ini akan mencegah hujan deras maupun badai kuat memasuki wilayahnya.
Sementara itu, di lokasi pemukiman suku Hu Zen, kondisi sangat berbeda. Semua rumah gubuk mereka hancur terbentang akibat badai yang menerjang tengah malam kemarin.
Barang-barang yang masih bisa diselamatkan berserakan di mana-mana, banyak wanita dan anak-anak menggigil ketakutan sambil berlindung di bawah pohon besar yang masih berdiri kokoh.
Mereka yang terjaga karena sudah sangat larut malam tidak menyadari bahwa badai akan datang dengan begitu cepat—hujan lebat disertai angin kencang menerjang tanpa peringatan.
Hu Zen melihat dengan wajah cemas para wanita dan anak-anak yang terluka saat mencoba menyelamatkan rumah dan barang-barang, serta anak-anak yang tak berdaya menggigil di sudut.
Wajah kepala suku juga tidak terlihat baik. Dukun Li Wu sibuk merawat beberapa orang yang terluka dengan obat-obatan seadanya, namun gubuk penyimpanan obatnya juga roboh—banyak ramuan yang dia simpan hancur atau terkena lumpur dan air hingga tidak bisa digunakan lagi.
Er Gao melihat rumah satu-satunya yang pernah dia miliki kini hanya tinggal puing-puing tanah dan bambu.
Tanpa sadar air matanya menetes perlahan, lalu dia mengingat rumah besar yang sangat kokoh milik Tuan muda.
"Benar!" dia berbalik dengan cepat ke arah Hu Zen yang sedang membantu membersihkan puing-puing rumah salah satu keluarga. "..Hu Zen, bisakah kita meminta bantuan pada Tuan muda?!"
Hu Zen langsung terhenyak di tempatnya. Beberapa orang di sekitarnya merasa itu adalah ide yang bagus, namun ada rasa khawatir dalam hati mereka—bagaimana jika itu mengganggu atau menyusahkan "Dewa Hutan"?
"Apa kita tidak bisa hanya mencoba saja? Diam di sini juga bukan hal baik—lihat saja langitnya sudah mulai gelap lagi...." ucap Da Wang dengan suara rendah sambil melihat ke arah langit yang semakin mendung.
Hu Zen melihat ke sekelilingnya—ke wajah-wajah orang suku yang penuh harap dan putus asa.
Dia menyadari bahwa ini mungkin adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka semua.
Akhirnya dia mengangguk setuju dengan hati berat. "...Namun jika Tuan muda tidak ada di sana atau tidak bisa menerima kita, maka kita akan segera pergi tanpa mengganggunya!"
Semua orang mengangguk setuju.
Mereka segera berkemas mengambil barang-barang apa saja yang masih bisa diselamatkan, menyimpannya dalam anyaman bambu yang kuat.
Total ada tujuh orang yang siap pergi—mereka mengikat barang-barang itu menjadi dua tumpukan, mengikatnya dengan tali kuat, lalu memasangnya pada tongkat kayu yang mereka bawa.
Dengan cara itu, mereka bisa mengangkat beban berat tersebut secara bergiliran selama perjalanan menuju tempat tinggal Tuan muda.
Namun mereka tidak tahu bahwa Fei Xing sedang tidak berada di sana—dia telah melakukan perjalanan melompat ke dunia berikutnya untuk menyelesaikan tugas sistemnya, dan tidak ada yang tahu kapan dia akan kembali lagi.