lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 30
"Aku tidak akan pergi," ujar Jek sambil menyandarkan cangkulnya di dinding gubuk. "Gidion, kau yang akan berangkat ke perbatasan."
Gidion tersedak ludahnya sendiri. "Aku? Jek, mereka itu orang-orang Sektor Inti! Mereka punya senjata, seragam rapi, dan aroma tubuh yang seperti wangi sabun mahal. Aku hanya tukang pukul yang baru saja belajar cara mencangkok pohon!"
"Itulah poinnya," sahut Jek sambil menyodorkan sebuah gulungan perkamen yang terbuat dari kulit kayu. Di dalamnya, Maya telah menggambar skema filter air analog dengan instruksi yang sengaja dibuat rumit dan menggunakan istilah-istilah mistis. "Jika aku yang pergi, mereka akan melihat 'Alif'. Jika kau yang pergi, mereka hanya akan melihat seorang pemimpin kamp yang cerdik dan keras kepala. Kau adalah wajah Kamp Sampah, Gidion. Aku hanya kuli yang sering sakit punggung."
Rara membantu Gidion merapikan rompi kulitnya yang penuh tambalan. "Ingat, Gidion. Jangan terlihat terlalu pintar. Jika mereka bertanya tentang 'Sistem', bilang saja itu adalah 'roh air' yang kau temukan di dasar sumur. Biarkan mereka bingung dengan logika primitif kita."
Keesokan harinya, di sebuah tanah lapang netral yang terletak di antara hutan jati dan tembok beton Sektor Inti, pertemuan itu terjadi. Sebuah kendaraan lapis baja putih berhenti, dan wanita tua dari video itu keluar—Dr. Arra, kepala riset Sektor Inti.
Gidion berdiri di sana, dikawal oleh dua warga kamp yang membawa tombak kayu dengan wajah yang dibuat segarang mungkin. Di belakang mereka, sebuah gerobak kayu berisi prototipe filter air dari tanah liat, arang, dan sabut kelapa terparkir dengan anggunnya.
"Mana dia?" tanya Dr. Arra, matanya menyapu ke sekeliling, mencari sosok yang ia panggil 'Alif'.
"Siapa?" Gidion bertanya balik dengan nada kasar, persis seperti orang yang tidak punya waktu untuk basa-basi. "Jika kau mencari hantu perak, dia sudah pergi bersama cahaya Mercusuar. Aku Gidion, penguasa sampah di sini. Mau barang ini atau tidak?"
Dr. Arra menghela napas, tampaknya sedikit kecewa namun tetap profesional. Ia mendekati filter air buatan Jek, memeriksanya dengan mikroskop portabel. "Sederhana... sangat primitif. Tapi susunan mikroporinya... ini mustahil dibuat tanpa pemodelan komputer."
"Itu namanya 'tangan dingin', Nyonya Kota," sahut Gidion sambil meludah ke samping (sebuah improvisasi akting yang membuat Maya, yang mengintip dari balik semak-semak, hampir tertawa). "Kami menggunakan naluri, bukan angka. Berikan obatnya, dan kau bisa bawa mainan tanah liat ini."
Pertukaran itu berlangsung cepat. Sektor Inti mendapatkan teknologi untuk bertahan hidup, dan Kamp Sampah mendapatkan antibiotik, vitamin, serta kain-kain hangat.
Saat Gidion kembali ke kamp dengan gerobak penuh barang medis, warga bersorak kegirangan. Namun Jek tetap berada di sudut yang gelap, mengamati dari kejauhan.
"Kau memberikan mereka kunci untuk selamat," bisik Rara di sampingnya.
"Aku hanya memberi mereka waktu, Ra," jawab Jek. "Dan sebagai gantinya, mereka memberi kita keamanan. Selama filter itu bekerja, mereka tidak akan menyerang kita. Mereka bergantung pada 'sampah' kita."
Maya mendekat sambil membawa satu botol vitamin yang ia ambil dari gerobak. "Tahu tidak, Jek? Dr. Arra tadi sempat meninggalkan sebuah catatan kecil di bawah kotak obat. Dia sepertinya tahu Gidion bukan otaknya."
Jek membuka secarik kertas kecil itu. Isinya hanya satu kalimat:
“Akting yang bagus, Alif. Ubinya jangan lupa diberi pupuk organik.”
Jek terkekeh, lalu merobek kertas itu menjadi serpihan kecil. "Dia wanita yang cerdas. Tapi dia cukup bijak untuk membiarkan kuli ini tetap mencangkul dalam damai."
Malam itu, perjamuan kecil kembali diadakan, namun kali ini lebih tenang. Jek duduk di atas batu, melihat Gidion yang sedang dikerumuni anak-anak karena dianggap pahlawan yang berani melawan orang kota. Identitas Jek tetap aman di bawah lapisan debu dan akting bodohnya, sementara kamp mereka perlahan menjadi pusat kekuatan baru—sebuah kekuatan yang tidak butuh listrik, hanya butuh kebersamaan.
Beberapa bulan berlalu, dan Kamp Sampah tidak lagi sekadar menjadi tempat pembuangan rongsokan. Berkat "perdagangan" dengan Sektor Inti, gubuk-gubuk bambu kini memiliki atap seng yang kokoh, dan anak-anak kamp tidak lagi terlihat pucat. Namun, bagi Jek, kedamaian ini terasa seperti keheningan sebelum badai.
Suatu sore, saat Jek sedang sibuk mengasah mata cangkulnya di bawah pohon mangga, Maya datang menghampiri dengan raut wajah yang sulit dibaca. Ia tidak membawa peralatan mekanik, melainkan sebuah undangan resmi berlapis emas yang terlihat sangat kontras dengan telapak tangannya yang hitam karena oli.
"Dr. Arra mengirimkan utusan lagi," bisik Maya, menyerahkan kartu itu pada Jek. "Ini bukan barter obat atau benih. Ini adalah undangan ke 'Perjamuan Rekonsiliasi' di Sektor Inti. Mereka ingin kita—maksudku, perwakilan resmi Kamp Sampah—hadir untuk meresmikan aliansi perdamaian."
Jek membaca kartu itu perlahan. Di sudut bawah, ada tulisan tangan kecil: “Hadirkan 'Sang Arsitek' jika ia ingin masa depan yang permanen bagi kaumnya.”
"Dia tidak menyerah," gumam Jek sambil menghela napas. "Dia ingin menarikku keluar dari bayangan."
"Jangan pergi, Jek," Rara muncul dari balik pintu gubuk, matanya memancarkan kekhawatiran yang dalam. "Itu adalah kandang singa. Sekali kau masuk ke Sektor Inti, mereka akan melihat melalui penyamaranmu dengan pemindai biometrik tercanggih mereka. Gembel mana pun tidak akan bisa menipu mesin di sana."
Jek berdiri, menatap hamparan ladang ubi yang kini menghijau subur. Ia melihat warga kamp yang kini hidup tanpa rasa takut akan kelaparan.
"Jika aku tidak pergi, Dr. Arra akan terus penasaran. Dan rasa penasaran orang pintar adalah ancaman terbesar bagi keamanan kita," ujar Jek pelan. "Tapi aku tidak akan pergi sebagai Alif. Dan aku juga tidak akan pergi sebagai Jek sang kuli."
"Lalu sebagai apa?" tanya Gidion yang ikut bergabung, tampak gagah dengan rompi barunya.
"Sebagai 'Aset Tersembunyi' Kamp Sampah," Jek menyeringai kecil. "Kita akan berangkat bertiga. Gidion sebagai pemimpin diplomatik, Rara sebagai pengawal pribadinya, dan aku..."
Jek mengambil sebuah kotak kayu tua berisi topeng las yang sudah kusam dan jubah mekanik yang tebal dan penuh noda hitam. "...aku akan menjadi asisten teknis Gidion yang bisu, cacat, dan tidak pernah melepaskan topeng karena 'luka radiasi' yang parah."
"Itu gila," Maya tertawa kecil. "Tapi efektif. Mereka akan sibuk memindai wajah Gidion sementara kau duduk di sudut ruangan sambil mengamati celah keamanan mereka."
Seminggu kemudian, sebuah limusin lapis baja menjemput mereka di gerbang kamp. Pemandangan di dalam Sektor Inti sangat berbeda—jalanannya bersih, lampu-lampu neon bertenaga surya berpijar lembut, dan orang-orang berpakaian kain sintetis yang licin.
Di ruang perjamuan yang megah, Dr. Arra menyambut mereka dengan senyum misterius. Gidion melangkah maju dengan percaya diri yang luar biasa (hasil latihan keras dengan Maya), sementara Jek berjalan terseok-seok di belakangnya, mengenakan jubah berat dan topeng las yang menutup seluruh wajahnya.
"Selamat datang, Tuan Gidion," ujar Dr. Arra, matanya sempat melirik ke arah sosok bertopeng di belakang Gidion, namun ia segera kembali fokus. "Dan... asisten teknis Anda?"
"Dia tidak bicara, Nyonya," sahut Gidion dengan nada tinggi yang dibuat-buat. "Kecelakaan di laboratorium sampah kami membuatnya sedikit... tidak stabil. Tapi dia adalah otak di balik filter air yang Anda puja-puji itu."
Sepanjang perjamuan, Jek tetap diam. Di balik topeng lasnya, matanya bergerak cepat, bukan untuk melihat kemewahan, melainkan untuk melihat terminal data yang tersembunyi di balik dinding-dinding mewah Sektor Inti. Ia menyadari satu hal: Sektor Inti tidak sekuat kelihatannya. Di balik lampu-lampu indah itu, sistem mereka sedang sekarat karena korupsi data yang belum sepenuhnya bersih sejak keruntuhan Ares.
Saat Dr. Arra mendekati Jek untuk menuangkan minuman, ia berbisik sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh siapa pun kecuali Jek.
"Kau tahu, Alif... topeng itu adalah sentuhan yang bagus. Sangat puitis. Tapi sistem kami tetap mendeteksi detak jantung yang sangat... tenang. Detak jantung seseorang yang pernah memegang kunci dunia."
Jek tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, tetap mempertahankan perannya sebagai asisten bisu.
"Jangan khawatir," lanjut Dr. Arra sambil tersenyum tipis. "Aku tidak akan membongkar rahasiamu. Sektor Inti butuh 'Setan' yang rendah hati untuk tetap hidup. Selama kau memberiku solusi-solusi analog itu, rahasiamu aman bersamaku. Mari kita anggap ini sebagai kontrak perdamaian antara dua pembohong besar."
Jek pulang malam itu dengan membawa kantong penuh pasokan medis yang paling lengkap yang pernah ada. Di dalam perjalanan kembali ke kamp, ia melepaskan topeng lasnya, menghirup udara malam yang bebas.
"Jadi, kita aman?" tanya Rara, menggenggam tangan Jek di dalam kendaraan yang gelap.
"