Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Merah yang Menjerat
Kabar di Universitas California bukan hanya sekadar gosip; itu adalah api yang merambat cepat ke gedung-gedung pencakar langit di San Francisco dan New York.
Sterling Group dan keluarga Kamiyama bukan sekadar nama—mereka adalah institusi. Ketika berita "Kehamilan Sang Primadona" pecah, kedua keluarga besar itu tidak menunggu klarifikasi. Bagi mereka, reputasi adalah segalanya, dan sebuah janin adalah kontrak yang sah.
Sore itu, di ruang keluarga kediaman Sterling yang megah, Elena Sterling dan suaminya, Arthur, duduk dengan wajah setajam belati. Di hadapan mereka, Zeus berdiri dengan rahang mengeras, sementara di layar monitor, ayah Nomella, seorang taipan properti yang dingin—bergabung melalui sambungan video dari New York.
"Kita tidak akan membiarkan skandal ini menghancurkan penggabungan saham bulan depan," ujar Arthur Sterling dingin. "Zeus, kau akan menikahi gadis itu. Minggu depan."
"Aku tidak akan melakukannya!" bentak Zeus. "Berita itu hanya—"
"Berita itu sudah dikonfirmasi oleh Nomella sendiri," potong Elena, menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Zeus membeku. Apa? Nomella mengakuinya?
Malam harinya, Zeus melesat menuju mansion keluarga Kamiyama. Ia tidak memedulikan protokol; ia menerjang masuk, menaiki tangga menuju kamar Nomella yang luas dan bergaya minimalis-elegan. Tanpa mengetuk, ia membanting pintu kamar itu hingga membentur dinding.
Nomella sedang duduk di depan meja riasnya, mengenakan jubah sutra hitam yang kontras dengan kulit pucatnya. Ia tidak menoleh saat Zeus masuk dengan napas memburu.
"Kau gila, Nomella?!" raung Zeus. "Kenapa kau mengatakan pada orang tuaku bahwa kau benar-benar hamil? Kau tahu persis tidak ada apa-apa di sana selain pembalut dan kebohonganmu!"
Nomella berbalik perlahan. Matanya yang merah karena amarah dan mungkin sedikit kelelahan—menatap Zeus dengan dingin.
"Kenapa? Bukankah ini yang kau inginkan, Zeus? Kau yang memulai drama ini di kantin. Kau yang ingin menghancurkan reputasiku dengan narasi kehamilan. Jadi, aku memberikannya padamu. Aku menerima lamaran itu. Kita akan menikah dalam tujuh hari."
Zeus mendekat, mencengkeram pinggiran meja rias Nomella, mengurung gadis itu. "Ini bukan lagi soal sandiwara kampus! Ini pernikahan! Kau akan mengikat dirimu dengan 'orang gila' ini selamanya? Hanya karena kau ingin menang?"
"Aku tidak ingin menang, Zeus. Aku ingin melihatmu menderita," desis Nomella. Ia berdiri, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Kau ingin aku menjadi ibu dari anakmu? Baiklah. Aku akan menjadi istri yang akan mengingatkanmu setiap detik bahwa kau adalah seorang pembunuh yang bersembunyi di balik jas mahal. Aku akan berada di sampingmu, di tempat tidurmu, memastikan kau tidak akan pernah bisa tidur nyenyak."
"Kau pikir kau bisa menahanku?" Zeus tertawa kasar, tangannya tiba-tiba turun dan mencengkeram pinggang Nomella dengan posesif, menariknya hingga tidak ada celah di antara mereka.
"Kau ingin menjadi istriku? Kau sadar apa artinya itu? Di atas kertas, kau milikku. Seluruh tubuhmu, selangkanganmu, desahanmu... semuanya akan menjadi hak miliku secara hukum."
Nomella tidak gentar. Ia membusurkan dadanya yang masih terasa sensitif, menantang tatapan gelap Zeus. "Hak milik? Kau bahkan tidak bisa membuatku merasakan apa pun dengan jari-jarimu yang menyedihkan itu, Zeus. Kau ingat? Kau hanya pria yang pandai menggertak. Kau akan menikahiku, tapi kau tidak akan pernah memilikiku."
"Kau terus-menerus menghina kemampuanku, Mella," geram Zeus, suaranya jatuh ke nada paling rendah yang membuat bulu kuduk Nomella berdiri. "Kau ingin aku membuktikannya di kamar ini? Sekarang? Sebelum janin imajinasimu itu 'lahir'?"
"Silakan, Zeus! Sentuh aku! Tunjukkan padaku seberapa hebat jari pendek yang akan diwarisi anak palsu kita ini!" tantang Nomella, suaranya bergetar antara amarah dan adrenalin yang meluap.
"Kau pikir aku takut? Aku sudah muak dengan ancamanmu soal tidur dan meniduri. Lakukan saja! Atau kau memang tidak punya nyali seperti kakakmu?"
Nama Zayn kembali disebut, dan itu adalah pemicu ledakan. Zeus menyentak Nomella ke arah tempat tidur besar di tengah kamar, menjatuhkannya di atas bedcover beludru. Ia merangkak di atasnya, mengunci kedua tangan Nomella di atas kepala dengan satu tangan yang kuat.
"Jangan pernah bawa-bawa dia lagi," bisik Zeus di telinga Nomella, napasnya terasa panas dan berbahaya. "Kau ingin tahu seberapa jauh jariku bisa masuk? Kau ingin tahu apakah aku bisa membuatmu memohon agar aku tidak berhenti? Aku akan memastikan pernikahan tujuh hari lagi ini menjadi neraka paling nikmat yang pernah kau masuki."
Nomella meronta, namun tenaga Zeus jauh lebih besar. "Lepaskan aku, brengsek! Kau menjijikkan!"
"Aku menjijikkan, tapi kau yang menginginkan pernikahan ini, kan? Kau yang mengaku hamil!" Zeus menekan tubuhnya lebih berat, membuat Nomella bisa merasakan setiap jengkal kemarahan pria itu.
"Kau bilang jariku tidak berguna? Lihat bagaimana jari-jari ini akan membuatmu menangis menyebut namaku, bukan nama Zayn, bukan nama siapa pun. Hanya namaku, Zeus!"
Perdebatan itu menjadi sangat panas. Mereka saling menghina tentang anatomi, tentang kepuasan, dan tentang kebencian yang mendalam, sementara posisi tubuh mereka justru menunjukkan keintiman yang terlarang.
"Kau hanya bisa bicara besar, Zeus!" teriak Nomella, wajahnya memerah. "Kau bahkan tidak tahu cara menyentuh wanita dengan benar! Kau hanya tahu cara menyakiti!"
"Maka aku akan mengajarimu cara baru untuk merasa sakit yang kau sukai, Mella!" balas Zeus.
Tiba-tiba, di tengah pertengkaran hebat itu, suara ketukan pintu terdengar. Pelayan mansion memanggil dari luar, memberitahu bahwa orang tua Nomella ingin membicarakan detail gaun pengantin.
Zeus melepaskan cengkeramannya, berdiri dengan napas terengah-engah, merapikan kemejanya yang berantakan. Ia menatap Nomella yang masih terbaring di tempat tidur dengan jubah yang sedikit tersingkap, menampakkan selangkangannya yang terbungkus sutra.
"Tujuh hari, Nomella," ujar Zeus dengan suara dingin yang kembali terkontrol. "Siapkan dirimu. Karena setelah pendeta mengatakan sah, tidak akan ada lagi pintu toilet atau pintu kamar yang bisa melindungimu dari jari-jari pendek yang kau hina ini. Aku akan memastikan kau benar-benar hamil sebelum bulan madu kita berakhir."
Zeus berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkan Nomella yang masih terengah-engah dengan jantung yang berdegup seperti genderang perang.
Nomella bangkit perlahan, merapikan jubahnya, dan menatap pantulannya di cermin. Ia baru saja menggali liang lahatnya sendiri, namun ia tidak menyesal. Jika ia harus hancur, ia akan memastikan Zeus Sterling adalah orang yang memegang sekopnya sementara ia menarik pria itu ikut masuk ke dalam tanah.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰