Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Sebenarnya Kaisar Kecil Itu?
Bab 17
Siapa Sebenarnya Kaisar Kecil Itu?
Seolah menangkap keraguan di mata Su Yelan, Xiao Tao segera menunduk hormat dan
menjelaskan dengan lembut,
"Ini Paviliun Naga Melingkar, kamar pribadi Tuan Keenam."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan,
"Sejak pagi, Tuan Keenam sudah pergi. Beliau meninggalkan perintah agar aku melayani Su
Guniang dengan baik. Jika ada kebutuhan, silakan perintahkan saja."
Kalimat itu terdengar biasa.
Namun bagi Su Yelan,seperti petir yang menyambar diam-diam.
Paviliun Naga Melingkar.
Kamar tidur Yan Yuxing.
Wajahnya langsung memerah tanpa bisa dikendalikan.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia memang pernah menjadi istri pria itu, bahkan melahirkan
seorang anak untuknya.
Namun sekarang…
ia adalah gadis yang belum menikah.
Jika kabar bahwa ia menginap, bahkan tidur di ranjang seorang pria menyebar,
nama baiknya akan hancur.
Ia mungkin tidak akan pernah bisa hidup tenang lagi.
Dengan jantung berdegup cepat, ia segera menyingkap selimut.
Namun saat matanya jatuh pada pakaian yang dikenakannya, tubuhnya membeku.
Ini… bukan miliknya.
Wajahnya yang tadi merah karena malu,
seketika berubah pucat.
"Apa yang terjadi…?"
Suara itu hampir seperti bisikan.
Melihat kepanikan di wajahnya, Xiao Tao buru-buru menjelaskan,
"Su Guniang, mungkin Anda tidak ingat. Tadi malam… Anda mabuk."
Nada suaranya sedikit canggung.
"Ketika Tuan Keenam mengantar Anda ke tempat tidur, Anda tidak bisa mengendalikan diri.
Anda… muntah. Tidak hanya pada pakaian beliau, tetapi juga pada pakaian Anda sendiri."
Beberapa detik hening.
Lalu, wajah Su Yelan memerah sampai ke telinga.
Memalukan.
Terlalu memalukan.
Ia bahkan berharap bisa menghilang saat itu juga.
Xiao Tao tersenyum kecil, tidak bisa menahan diri.
"Biasanya Su Guniang terlihat tenang dan anggun. Siapa sangka saat mabuk… Anda jadi begitu sulit ditenangkan."
Ia menambahkan dengan nada bercanda,
"Tuan Keenam bahkan tidak tidur semalaman demi merawat Anda."
Kalimat itu
justru membuat dada Su Yelan bergetar aneh.
Ia tidak menjawab.
Hanya bergerak cepat.
Mengenakan pakaian luarnya dengan tergesa, menyisir rambut sekadarnya, bahkan melewatkan mencuci muka lalu berjalan menuju pintu.
Ia harus pergi.
Sekarang juga.
Namun baru beberapa langkah, Xiao Tao panik dan mengejarnya.
"Su Guniang! Anda mau ke mana? Tuan Keenam berpesan, Anda tidak boleh meninggalkan
tempat ini sebelum beliau kembali!"
Namun Su Yelan tidak berhenti.
Dalam pikirannya hanya satu,
LARI.
Ia harus menjauh dari Yan Yuxing.
Semakin jauh, semakin baik.
Namun tepat saat ia hampir keluar,
"Buk!"
Ia menabrak sesuatu.
Keras.
Hangat.
Dan… familiar.
Hidungnya terasa sakit.
Namun sebelum ia sempat mundur, sebuah tangan sudah menahan pinggangnya.
Menopang tubuhnya agar tidak jatuh.
Su Yelan mendongak dan napasnya tertahan.
YAN YUXING!!!
Tatapan mereka bertemu.
Dekat.
Terlalu dekat.
"Su Yelan" suaranya rendah, sedikit berbahaya, "jangan bilang kau akan kabur lagi."
Nada itu tenang, tapi menekan.
Su Yelan segera melepaskan diri.
"Aku bukan tahananmu," balasnya dingin. "Ke mana aku pergi bukan urusanmu."
Yan Yuxing tersenyum tipis.
"Bukan tahanan?"
Ia mendekat setengah langkah.
"Lalu siapa yang kemarin ditangkap sebagai buronan di Taman Tinta?"
Su Yelan mendengus.
"Kalau seseorang ingin memukul anjing, ia akan selalu menemukan tongkat."
Yan Yuxing tidak marah.
Sebaliknya, matanya justru semakin dalam.
"Benar atau tidaknya… akan kita lihat setelah sebulan."
Udara di antara mereka menegang.
Su Yelan menarik napas dalam.
Lalu berkata tegas,
"Kalau kau tidak percaya padaku, aku bisa tetap tinggal di ibu kota. Aku tidak akan kembali ke
Lin’an."
Ia menatap lurus ke matanya.
"Tapi aku punya syarat."
"Aku ingin kembali tinggal di Kediaman Perdana Menteri."
"Sebelum taruhan selesai, jika matamu bermasalah, aku akan datang kapan pun kau memanggil." Ia berhenti sejenak.
Nada suaranya melembut,
namun juga menjauh.
"Tidak perlu menahanku di sini."
Keheningan.
Yan Yuxing menatapnya lama.
Seolah ingin melihat menembus lapisan demi lapisan.
"Kau begitu ingin menjauh dariku…"
"pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan."
Jantung Su Yelan berdegup kencang.
Apakah dia… sudah curiga?
Tidak.
Tidak mungkin.
Reinkarnasi bukan hal yang bisa dipercaya orang biasa.
Ia menenangkan diri.
Memaksakan ekspresi santai.
"Rahasia apa yang menurutmu aku sembunyikan?"
Yan Yuxing tersenyum.
Tipis.
Berbahaya.
"Aku tidak bisa membaca pikiranmu."
"Tapi…"
"Ada beberapa rahasia yang terlihat… bahkan sebelum diucapkan.".
Su Yelan merasakan dingin merambat di punggungnya.
"Apa maksudmu?"
Namun sebelum ia mendapat jawaban,
langkah kaki tergesa terdengar.
A-Shun muncul dan berbisik cepat di telinga Yan Yuxing.
Ekspresi Yan Yuxing berubah.
Alisnya mengerut.
"Parah?"
A-Shun menunduk.
"Kasim Jin berkata… semua tabib istana tidak mampu."
Hening sejenak.
Lalu Yan Yuxing menoleh pada Su Yelan.
"Kita lanjutkan nanti."
Nada suaranya berubah serius.
"Ada masalah di istana. Aku butuh bantuanmu."
Ia menatapnya dalam.
"Dan kali ini… jangan menolak."
...----------------...
Su Yelan tidak pernah menyangka,
ia akan kembali ke tempat itu.
Istana Kekaisaran.
Tempat yang pernah menjadi dunianya.
Tempat yang… juga menghancurkannya.
Ia berjalan di lorong panjang, langkahnya tenang.
Terlalu tenang.
Seolah tempat ini tidak asing baginya.
Padahal seharusnya, ia hanyalah seorang tabib desa.
Yan Yuxing mengamatinya diam-diam.
Dan keyakinan di hatinya semakin kuat.
Itu pasti dia.
Ketika mereka tiba di Istana Harmoni,
semua pelayan berlutut.
"Hidup Kaisar Xinghuan!"
Suara itu menggema.
Namun Su Yelan tidak terkejut.
Tidak sedikit pun.
Karena ia sudah tahu, sejak awal.
Yan Yuxing.
Bukan sekadar Tuan Keenam.
Ia adalah mantan kaisar.
Di dalam aula, seorang anak kecil terbaring di ranjang naga.
Tubuhnya lemah.
Wajahnya pucat.
Namun tetap… indah.
Su Yelan melangkah mendekat.
Dan saat ia melihat wajah itu, dunia seolah runtuh.
Anak itu…
memiliki tujuh bagian wajah Yan Yuxing.
Dan tiga bagian miliknya.
Tidak.
Tidak mungkin.
Dalam kehidupan sebelumnya, anaknya…
sudah mati.
Dibunuh.
Oleh ayahnya sendiri.
Tangannya gemetar.
Pandangannya kabur.
Lalu anak kecil itu membuka mata.
Saat melihat Yan Yuxing, wajahnya langsung bersinar.
Ia berusaha bangkit.
Suaranya lemah.
Serak.
Namun penuh harapan.
"…Ayah…"
Satu kata itu, menghantam hati Su Yelan tanpa ampun.
Seolah membuka luka lama, yang belum pernah benar-benar sembuh.