NovelToon NovelToon
Kesempatan Dari Sistem

Kesempatan Dari Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Artha Jayendra adalah seorang pemuda yang kini menjadi pengangguran setelah dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dan bahkan oleh kekasihnya. Pengkhianatan itu menghancurkan hidupnya hingga membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Dalam kondisi depresi, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah jembatan. Namun sebelum ia melompat, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit, dan sebuah menara raksasa misterius muncul di tengah kota. Bersamaan dengan itu, sebuah sistem aneh muncul di hadapannya. Alih-alih terkejut, Artha justru melihatnya sebagai kesempatan baru. Dengan tekad yang dingin, ia bersumpah dunia telah berubah dan dia akan menjadi lebih kuat dan membalas semua penghinaan, penindasan, dan pengkhianatan yang pernah ia terima. Dari sinilah perjalanan Artha Jayendra dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab XIII—Berkumpul

Malam masih begitu sunyi. Jayendra mengusap-usap matanya dengan beberapa uapan dari mulutnya. Rasa lelah sudah tak terasa di seluruh tubuhnya. Badannya sekarang sudah fit seratus persen sekarang. Dia memposisikan badannya dengan duduk perlahan, setelah beberapa menit dia berdiri dengan perlahan juga.

Saat ingin beranjak mandi, nada dering ponselnya berbunyi nyaring dari arah kamarnya. Ia segera menghampiri sumber suara tersebut dengan langkah kaki yang begitu cepat. Ia melihat nomor yang tak di kenal meneleponnya.

Ia terdiam sejenak untuk berfikir. Siapa yang sedang meneleponnnya sekarang. Ia mengangkat panggilan telepon tersebut. Terdengar suara wanita muda.

“Ini siapa ya…” tanyanya

“Ini aku Divya Anindita, lupa dengan aku kah?” Balasnya

“Oh…Kau ya. Kenapa ada apa?” Tanya kembali Jay pada Divya.

“Kakak ini kemana saja sih? Dari sore aku telpon ga asa respons sama sekali…” keluh Divya terdengar.

“Ah…maaf aku baru bangun tidur. Memangnya ada apa?”

“Kak Rendra mengajak jika berkumpul. Ada yang perlu di bahas tentang dungeon untuk kedepannya. Apa kakak mau ikut?.” Tawar Divya.

“Tentu. Pas sekali, juga ada yang perlu aku bicarakan kepada kalian semua. Jadi jam berapa dan dimana?”

“Okei kak, datang di kafe bulan sabit berada di pusat kota jam 9 ya kak.”

“Ya, biarkan aku mandi terlebih dahulu, setelahnya aku akan kesana.” Ujar Jay

Jayendra mengakhiri panggilan itu tanpa banyak kata yang keluar. Layar ponselnya perlahan meredup, meninggalkan bayangan di wajahnya sendiri yang masih tampak sedikit kosong karena baru bangun dari tidur. Nama itu masih terngiang di kepalanya.

Divya Anindita.

Ia mengusap wajahnya dengan perlahan, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih tersisa setelah bangun bangun dari tidurnya. Tubuhnya memang sudah terasa pulih sepenuhnya, tapi pikirannya belum benar-benar tenang.

“Ada yang harus dibicarakan…? Pas sekali lah.”gumamnya pelan.

Nada suara Divya tadi tidak terdengar santai. Tidak seperti obrolan biasanya. Ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang membuatnya langsung terbangun sepenuhnya.

Jayendra berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Setiap langkahnya terasa ringan, bahkan terlalu ringan. Seolah tubuhnya sudah terbiasa dengan sesuatu yang seharusnya tidak normal.

Air dingin menyentuh wajahnya.

Segar.

Namun tidak cukup untuk menghapus bayangan dungeon yang masih melekat di ingatannya dan badannya.

Begitu gelap, sunyi penuh oleh rasa ketakutan di dalamnya.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Tatapannya berbeda. Lebih tajam. Lebih waspada.

“Apa yang akan mereka bicarakan ya…” ucapnya pelan, “mungkin mereka hanya ingin merayakan atas penaklukan dungeon pertama.”

Pukul 08.50 malam.

Jayendra berdiri di depan Kafe Bulan. Tempat itu tampak biasa saja dari luar. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada yang aneh. Justru itu yang terasa janggal. Ia melirik jam di ponselnya.

Sepuluh menit lebih awal.

Seperti biasa. Jayendra bukan tipe orang yang suka datang terlambat. Apalagi untuk pertemuan seperti ini.

Tangannya mendorong pintu kafe. Suara lonceng kecil berbunyi nyaring saat pintu terbuka.

Hangat.

Aroma kopi langsung menyambutnya. Beberapa orang terlihat duduk santai, menikmati malam mereka tanpa beban yang sebebelumnya menimpa mereka.

Normal.

Tampak dunia yang normal.

Jayendra menyapu pandangannya perlahan ke seluruh ruangan. Dan langsung menemukannya.

Divya duduk di sudut ruangan, menghadap ke arah pintu. Seolah sudah tahu dia akan datang. Namun bukan itu yang membuat Jayendra berhenti sejenak.

Melainkan orang-orang yang duduk bersamanya. Tiga orang. Tidak ada yang tersenyum. Tidak ada yang terlihat santai. Semua memiliki satu hal yang sama, tatapan yang terlalu sadar.

Jayendra berjalan mendekat. Setiap langkahnya terukur. “Kak, di sini,” panggil Divya pelan.

Jayendra menarik kursi dan duduk tanpa basa-basi. Matanya langsung menatap satu per satu orang di meja itu. Seorang pria dengan wajah keras dan tatapan tajam. Seorang perempuan yang tampak tenang, tapi matanya terus mengamati sekitar. Dan satu lagi… terlihat gelisah, jari-jarinya bergerak tidak tenang di atas meja.

“Hanya ini?,” ucap Jayendra pelan, “yang lain mana? Apa mereka ga datang?.”

Divya menggeleng “Mereka belum datang kak.”

“Kalian semua…” lanjutnya, “ada apa dengan expresi dan tingkah kalian?.”

Sunyi.

Kalimat itu jatuh begitu saja, tapi dampaknya terasa jelas. Tidak ada yang membantah. Karena semua di sana tahu, Itu benar. Saat di dalam dungeon mereka tak bersikap atau berekspresi demikian. Mungkin mereka hanya mengalami stress berlebihan karena penaklukan dungeon.

Jayendra bersandar sedikit di kursinya. Tatapannya beralih ke Divya.

“Dimana Rendra? Kenapa mengumpulkan kami?” tanyanya.

“Aku pun tak tahu kak… katanya sih agak terlambat bilangnya.”

“Padahal ia yang mengajak kita berkumpul disini malah dia yang bilang datang terlambat.” Keluh Jayendra dengan hela nafas panjang.

Beberapa menit terlewati.

“Hoi…Aku datang,” Sapa Rendra yang akhirnya datang bersama sisanya yang belum datang.

Perempuan di sampingnya mengernyit.

“Kau ini apa-apa an sih datang terlambat. Padahal kau yang mengundang kami untuk berkumpul.”

“Ah… maaf maaf kawan, aku terlambat karena ini…” ucapnya sambil menyodorkan banyak cemilan mulai dari makanan berat sampai makanan ringan.

Yang lain sungguh ekspresinya tiba-tiba berubah senang dan menerima keterlambatan Rendra dengan lega hati

Suara mereka terdengar ricuh karena saling berebut makanan dari Rendra. Mereka saling menyambar makanan yang di pegang yang lain begitu terus bergantian.

Rendra mengambil kurai yang berada di samping Jayendra lalu ia duduk di sampingnya.

Jay memulai perkataannya “Apa tujuanmu mengumpulkan kita semua…kenapa juga aku harus ikut perkumpulan dalam kelompokmu?.”

“Bang ayolah! Kita semua satu kelompok…” ajaknya lirih.

“Aku tak pernah bilang aku akan menjadi bagian dari kelompokmu…” Tegas Jay kembali.

“Ah itu bahas nanti aja lah bang.”

“Jadi apa tujuanmu mengumpulkan kita semua…” ujar Divya nimbrung antara Jay dan Rendra.

Rendra mengetuk meja beberapa kali lalu berkata “Ehm ehm…tolong perhatikan semua…”

Keributan mereka berhenti seketika. Memperhatikan suara Rendra dengan seksama.

Rendra memasang wajah serius menggabungkan tangannya diatas meja menjadi satu “dunia kita telah berubah 100 persen. Kita juga harus berubah bukan?. Kalian bisa lihat dari outbreak yang telah terjadi sebelumnya, banyak korban dari kejadian tersebut. Lalu pada dungeon lantai 1 kemarin yang telah di taklukan oleh Bang Jayendra, juga membunuh ketiga teman kita.”

Mereka semua merenung mendengarkan perkataan dari Rendra, kecuali Jayendra yang sedang menyeruput kopi yang sebelumnya telah ia pesan.

“Apa kalian semua akan seperti ini selamanya? Apa kalian akan tetap lemah seperti ini, kemudian mati dengan cara paling mengenaskan? Apa kalian akan membiarkan dunia ini di kuasai oleh para monster keparat itu?” Lanjut Rendra dengan beberapa pertanyaan untuk lainnya.

Mereka semua mengangkat kepalanya, lalu salah satu dari mereka, pemuda paling muda diantara perkumpulan ini berkata “Apa yang harus kita lakukan kak…”

“Aku punya rencana yang harus kalian dengarkan, lalu kita rundingkan sampai mencapai titik temu yang baik untuk dunia kita…” ujarnya semakin menyakinkan yang lain.

Jayendra tetap diam menikmati kopi kemudian menyalakan rokoknya dengan asapnya yang menyebar kemana-mana.

1
ラマSkuy
agak lambat alurnya tapi seru Thor , lanjutkan 👍
ラマSkuy
Hem ini latar ceritanya tentang apocalypse monster ya kayak komik solo leveling, keren Thor 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!