NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu yang Malu-malu

Pagi itu di kantor, suasana harusnya balik profesional. Tapi ya namanya juga manusia, apalagi habis kejadian "dahi" semalam, Nara rasanya mau masuk ke ruangan Arga aja pakai acara tarik napas panjang berkali-kali. Pas pintu kebuka, Arga udah duduk anteng di kursinya, kemejanya rapi jali kayak biasa, tapi kacamatanya melorot dikit—tanda kalau dia lagi fokus berat.

"Pagi," sapa Nara pelan sambil naruh tasnya.

"Pagi," jawab Arga singkat. Matanya nggak lepas dari monitor, tapi sudut bibirnya kayak mau kedutan nahan senyum. "Gimana kaki? Masih pegel?"

"Udah mendingan kok. Sepatu dari lo emang ajaib," Nara nyengir, terus mulai bongkar gulungan kertasnya.

Lagi asyik-asyiknya mereka tenggelam dalam kerjaan masing-masing, tiba-tiba pintu diketuk. Bayu masuk, tapi dia nggak sendirian. Di belakangnya ada cowok tinggi, pakai kemeja kasual yang lengannya digulung sampai siku, bawa buket bunga lili putih yang gede banget.

"Maaf Pak Arga, Mbak Nara. Ini ada kiriman buat Mbak Nara," kata Bayu agak kikuk.

Nara ngerutin dahi. "Hah? Buat gue? Dari siapa, Bay?"

Cowok pengantar bunga itu senyum ramah banget. "Dari Pak Hendra, Mbak. Katanya sebagai permintaan maaf soal omongan beliau semalam di pesta. Beliau juga bilang sangat terkesan sama konsep kuningan Mbak Nara."

Nara nerima bunga itu dengan muka cengo. "Oh... oke. Makasih ya."

Begitu kurirnya keluar, suasana ruangan yang tadi adem langsung mendadak dingin. Kayak ada AC tambahan yang disetel ke suhu paling rendah. Nara bisa ngerasain aura "gelap" terpancar dari meja sebelah.

*Srek!* Arga nutup laptopnya agak kencang.

"Bunganya bagus ya," sindir Arga. Suaranya datar banget, tapi tajam kayak silet.

Nara noleh, nahan tawa. "Iya, wangi banget lagi. Nggak nyangka Pak Hendra ternyata beneran insaf habis gue semprot semalam."

Arga berdiri, jalan nyamperin meja Nara. Dia ngelihatin buket itu kayak lagi ngelihat tumpukan sampah. "Lili putih itu simbol simpati. Mungkin dia kasihan sama lo. Lagian, naruh bunga segede gitu di meja kerja itu ganggu estetika ruangan saya, Nara."

"Halah, bilang aja iri nggak dikasih bunga," goda Nara sambil sengaja nyium aroma bunganya di depan muka Arga.

Arga mendengus, tangannya masuk ke saku celana. "Iri? Sama Hendra yang umurnya udah mau kepala enam? Nggak masuk akal. Gue cuma mikir, dia itu investor, bukan pengagum rahasia. Nggak perlu pakai bunga-bungaan segala kalau cuma mau minta maaf."

Nara naruh bunganya, terus berdiri depan Arga. "Ga, lo... cemburu ya?"

"Nggak," jawab Arga cepet banget, saking cepetnya malah jadi kedengaran mencurigakan. "Gue cuma... nggak suka ada barang asing yang nggak dikoordinasiin masuk ke sini. Itu... nggak efisien."

"Oh, jadi kalau nggak efisien, bunganya gue buang aja?" Nara pura-pura mau angkat buketnya ke tempat sampah.

"Jangan!" cegah Arga refleks. Pas Nara ngelihatin dia dengan muka 'kena lo', Arga langsung berdeham keras, buang muka ke arah jendela. "Maksud gue... ya terserah lo lah. Tapi jangan ditaruh di situ. Pindahin ke pojok sana, deket dispenser."

Nara ketawa lepas. "Ya ampun, Arga! Lo cemburu sama kakek-kakek investor cuma gara-gara bunga? Padahal semalam lo sendiri yang bilang gue bukan pajangan."

"Justru karena lo bukan pajangan, gue nggak mau lo dianggap bisa disogok pakai bunga receh kayak gitu," bantah Arga, masih nggak mau ngaku. Dia balik ke mejanya, tapi bukannya kerja, dia malah sibuk mencet-mencet pulpennya berkali-kali.

Nara makin gemes. Dia tahu banget Arga lagi gengsi tingkat dewa. Pelan-pelan, Nara jalan ke meja Arga, terus naruh satu tangkai bunga lili di atas tumpukan berkas Arga.

"Nih, buat lo satu. Biar meja lo nggak terlalu 'steril' dan biar lo nggak ngomel terus," bisik Nara.

Arga natap bunga itu, terus natap Nara. Tatapannya nggak sedingin tadi, malah ada rona tipis yang muncul di pipinya yang biasanya pucat. Dia ngeraih bunga itu, terus naruhnya di dalem gelas pensilnya dengan sangat hati-hati—lebih hati-hati daripada pas dia megang dokumen miliaran rupiah.

"Lain kali kalau mau bunga, bilang gue. Gue bisa beliin satu kebonnya sekalian kalau lo mau," gumam Arga pelan, masih nggak mau natep mata Nara.

Nara senyum lebar. Cemburunya Arga emang aneh, malu-malu tapi bikin hati Nara rasanya kayak lagi naik roller coaster. Di ruangan CEO itu, aroma lili putih beradu sama bau kopi tubruk, nyiptain suasana baru yang jauh lebih manis dari sekadar kontrak kerja sama.

---

Arga masih pura-pura sibuk sama laptopnya, tapi matanya sesekali ngelirik ke arah bunga lili satu tangkai yang baru aja ditaruh Nara di gelas pensilnya. Dia ngerasa agak konyol sebenarnya. Seorang CEO yang biasanya debat soal angka triliunan, sekarang malah adu argumen sama sebuket bunga dari investor tua.

"Nara," panggil Arga tiba-tiba. Suaranya nggak sedingin tadi, tapi masih ada sisa-sisa gengsi.

Nara yang lagi asyik nyusun sampel marmer nengok. "Apa lagi, Pak Bos? Masih kurang bunganya?"

"Besok-besok, kalau ada kurir anter barang yang nggak jelas pengirimnya siapa, bilang Bayu buat diperiksa dulu. Keamanan kantor itu prioritas," kata Arga, berusaha balik ke mode profesional yang gagal total.

Nara ketawa pelan, dia jalan mendekat ke meja Arga lagi, terus numpuin dagunya di atas tumpukan berkas suaminya itu. "Ngaku aja sih, Ga. Lo cuma nggak suka ada nama cowok lain di kartu ucapan itu, kan?"

Arga diem seribu bahasa. Dia ngerasa mukanya makin panas. Pas dia mau protes lagi, matanya nggak sengaja nangkep kartu ucapan kecil yang nyelip di buket bunga tadi. Di sana tulisannya: "Untuk rekan kerja yang paling mengesankan, terima kasih atas pencerahannya semalam. - Hendra."

"Tuh kan, 'mengesankan'. Dia bahkan nggak bilang 'istri Arga'. Dia nyebut lo sebagai individu sendiri," gumam Arga sambil narik kartu itu terus ditaruh di laci mejanya, dikunci.

"Lho, kok dikunci?" Nara melongo.

"Buat arsip kantor," jawab Arga asal-asalan. "Dan satu lagi... jangan terlalu ramah sama Pak Hendra kalau ketemu lagi. Dia itu rubah tua, pinter nyari celah."

Nara bener-bener nggak bisa nahan tawa kali ini sampai perutnya agak sakit. "Arga, Pak Hendra itu udah punya cucu tiga! Lo beneran cemburu buta ya?"

Arga ngelepas kacamata kerjanya, terus natap Nara lurus-lurus. Tatapannya kali ini dalem banget, bikin tawa Nara pelan-pelan ilang diganti sama deg-degan yang nggak karuan.

"Gue nggak peduli dia punya cucu berapa atau dia investor segede apa. Gue cuma nggak suka ada orang lain yang dapet perhatian lo lebih banyak daripada gue di ruangan ini. Paham?"

Kalimat itu keluar gitu aja dari mulut Arga. Tanpa saringan, tanpa embel-embel "kontrak". Nara ngerasa dunianya kayak muter sebentar. Si kaku Arga baru aja ngakuin kalau dia haus perhatian.

"Ternyata... robot bisa cemburu juga ya," bisik Nara, tangannya tanpa sadar ngerapihin kerah kemeja Arga yang sebenernya udah rapi banget.

Arga nggak ngehindar. Dia malah biarin tangan Nara di sana. "Gue manusia, Nara. Dan lo itu... gangguan paling indah yang pernah masuk ke hidup gue. Jadi jangan harap gue bakal diem aja kalau ada 'gangguan' lain yang coba masuk."

Suasana ruangan jadi makin intim. Bau parfum Arga yang maskulin campur sama wangi lili putih bikin udara di sana kerasa makin tipis. Arga ngeraih tangan Nara yang lagi di kerahnya, terus digenggam pelan.

"Nara, gue—"

Tiba-tiba pintu kebuka tanpa ketukan.

"Pak Arga! Ini berkas audit buat perusahaan Rio udah—" Bayu masuk dengan semangat empat lima, tapi langsung ngerem mendadak pas liat posisi Arga dan Nara yang deket banget. "A-anu... maaf Pak, Mbak. Saya... saya lupa kalau pintu itu butuh diketuk. Saya keluar lagi ya. Lanjutin aja... eh maksudnya, nanti saya balik lagi!"

Bayu balik badan secepat kilat, nutup pintu dengan bunyi brak yang lumayan kencang.

Nara langsung narik tangannya, mukanya merah padam sampai ke telinga. Sementara Arga cuma bisa mijit pangkal hidungnya sambil ngehela napas panjang. Cemburunya yang malu-malu tadi malah berakhir jadi momen yang canggung gara-gara asistennya sendiri.

"Gue... gue balik ke meja gue ya," kata Nara buru-buru.

Arga cuma berdeham, nyoba buat fokus lagi ke layar laptopnya yang sebenernya nggak dia baca sama sekali. Tapi di balik itu semua, satu tangkai bunga lili di gelas pensilnya masih ada di sana, jadi saksi kalau hari itu, si CEO robot resmi kalah sama rasa cemburunya sendiri.

---

Nara duduk di kursinya sambil nutupin muka pakai telapak tangan. "Aduh, Bayu pasti mikir yang macem-macem deh," gumamnya pelan.

Arga yang denger itu cuma bisa ngelepas napas panjang. Dia nyenderin punggung ke kursi kebesarannya, terus natap langit-langit ruangan yang tinggi banget itu. "Bayu itu udah biasa liat yang aneh-aneh. Tapi ya... mungkin kali ini dia bakal bikin laporan kalau bosnya mulai nggak waras gara-gara satu tangkai bunga."

Nara ngintip dari sela jarinya. "Ya emang lo agak nggak waras hari ini, Ga. Cemburu sama kakek-kakek itu rekor baru buat lo."

Arga nggak bales ngeledek. Dia malah diem bentar, terus tiba-tiba berdiri. Dia ngeraih jasnya yang disampirin di kursi, terus jalan nyamperin meja Nara.

"Ayo," katanya singkat.

"Hah? Ke mana? Kan belum jam makan siang, Ga. Masih ada satu jam lagi," Nara melongo sambil ngelihatin jam di dinding.

"Nggak peduli. Gue laper, dan gue nggak mau liat bunga lili itu lebih lama lagi di ruangan ini. Aura 'persaingan'-nya kegedean," Arga narik pelan pergelangan tangan Nara, bikin wanita itu terpaksa berdiri.

"Tapi kerjaan gue gimana? Ini sampel marmernya belum gue klasifikasiin semua, Ga!" protes Nara, tapi kakinya tetep ngikutin langkah lebar Arga menuju pintu.

"Klasifikasiin nanti aja. Sekarang prioritasnya adalah ngilangin bau bunga itu dari idung gue," sahut Arga tanpa nengok.

Pas mereka keluar ruangan, bener aja, Bayu lagi berdiri di depan mejanya dengan muka yang... ya, susah dijelasin. Antara mau ketawa tapi takut dipecat. Begitu liat Arga narik tangan Nara, Bayu langsung tegak sempurna.

"Pak Arga! Itu... berkas auditnya gimana?" tanya Bayu sambil angkat map cokelat.

"Taruh di meja saya. Saya mau keluar sebentar. Ada urusan mendesak," jawab Arga tegas.

"Mendesak? Rapat sama siapa Pak?" Bayu nanya lagi, saking bingungnya karena jadwal Arga harusnya kosong sampai jam satu siang nanti.

"Rapat sama perut istri saya. Jangan diganggu," jawab Arga asal, terus langsung narik Nara masuk ke lift yang kebetulan lagi kebuka.

Pintu lift ketutup, ninggalin Bayu yang cuma bisa mangap sendiri di lobi kantor. Di dalem lift yang cuma ada mereka berdua, Nara langsung ngelepas pegangan Arga.

"Lo bener-bener ya, Ga! Kasihan itu Bayu sampe bengong gitu. Lagian 'rapat sama perut istri'? Lo belajar gombalan receh gitu dari mana sih?" Nara geleng-geleng kepala, tapi sebenernya dia nahan senyum yang udah mau pecah.

Arga cuma angkat bahu, mukanya balik datar lagi tapi ada kilat jenaka di matanya. "Efisien, Nara. Daripada gue jelasin panjang lebar soal bunga lili itu, mending gue kasih alasan yang dia nggak bakal berani tanya lagi."

Nara cuma bisa ketawa pasrah. Cemburunya Arga ternyata nggak cuma bikin dia malu-malu, tapi juga bikin si bos kaku ini jadi sedikit impulsif. Ternyata, ngeruntuhin tembok es seorang Arga itu efek sampingnya luar biasa; dari robot yang terprogram, jadi manusia yang bisa cemburu gara-gara hal sepele.

Dan buat Nara, "gangguan" kayak gini rasanya jauh lebih manis daripada ribuan kontrak bisnis yang pernah Arga tanda tanganin.

1
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!