Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boleh panggil nenek
Saat tiba dirumah dan Anisa yang turun bersama dengan Stella bingung harus bersikap apa dengan pertanyaan yang baru saja di katakan ya sebelum mobil sampai dirumah.
Anisa bingung harus jalan mendahului atau tidak.
Tiba-tiba pikirannya tentang keberanian muncul, Anisa ini anak sepuluh tahun harus tetap berani bertanggung jawab jadi jangan takut berlebihan santai saja.
Menarik nafasnya menghembuskan nya seperti akan bersiap untuk menghadapi sesuatu. Stella yang sudah turun dari mobil melihat anak kecil itu mengatur nafasnya dan memukuli udara dengan kedua tangan kecil yang terkepal. Bahkan Stella bisa lihat sikapnya itu sangat mengemaskan tak tahan Stella ingin menculiknya dan membawanya pulang.
Tidak bisa sepertinya ia terang-terang bersikap baik, anak ini belum tentu anak Rosa Alba mungkin saja anak dari kerabat Oceanus lain yang bukan keluarga inti.
Stella tahu jika keluarga Oceanus itu sangat besar ketika ia menikah dengan Zachary ia mempelajari tentang keluarga Oceanus sampai pada titik rahasia yang ibu mertuanya ceritakan dan bagian dimana yang memiliki kekuatan telekinesis di keluarga inti adalah orang pilihan, jaman dulu pernah ada kejadian dimana kerabat lain itu... Yang dimana keluarga Inti sama sekali tak memiliki kekuatan itu dalam keturunan mereka dan akhirnya ia yang bukan keluarga inti maksudnya di luar keluarga inti tapi tetap keturunan Oceanus di angkat menjadi keluarga inti, lalu anak ini sebenarnya anak siapa jika ada di panti asuhan dengan kehidupan yang sangat buruk kenapa ia tak pergi dan hidup dengan baik dengan kekuatannya.
Stella lelah memikirkannya hampir saja ia berpikir sesimpel itu, padahal efek menggunakan kekutan telekinesis di tubuh anak kecil bisa membuat tubuhnya hancur dari dalam di tambah mati di saat itu juga.
"Em... Nenek, Nyonya atau ibu?" Stella tersenyum ternyata anak ini lebih pengertian dan paham dengan cepat arti pertanyaannya.
"Anisa Arthur Oceanus, itu namamu kan?"
"Iya... "
"Bisakah kamu duduk di sampingku?" Stella menepuk tempat di sampingnya.
"Iya. " Mendekat dan berusaha duduk.
Mina mendekat mengambil tas Anisa dan juga membantunya mengganti sepatu dengan sandal rumahan.
Sol datang menyapa dengan sopan.
"Buatkan minuman segar aku hanya mau bicara dengan nya dan juga camilan yang manis. "
"Kamu suka dengan camilan manis?" Stella bertanya pada Anisa yang mengangguk.
"Iyaa, suk-suka sekali. "
Tersenyum manis bahkan Sol melihat Nyonya mau membuat hubungan dengan Nona Anisa.
Setelah Sol pergi dan camilan datang di bawa Nena. Anisa melihat jus segar itu dan seketika itu Stella mengambilkan untuknya.
"Minumlah, aku juga suka meminum jus dan makanan manis." Stella melihat tangan kecil itu meraih gelas yang ia berikan sedikit tegang.
" Apa yang kamu suka selama ini Anisa? Apa ayahmu menjadi ayah yang baik?"
Anisa terdiam meminum jusnya dan memegangnya dengan kedua tangannya.
Stella mengambil gelas itu dan meletakkan di meja.
"Maaf, anda tidak menyukai saya? Apa saya terlihat aneh?"
Stella terkekeh, tawanya kelepasan membuat Anisa kaget. Semakin malu rasanya.
"Anisa kamu harus santai, kamu panggil aku dengan hal yang kamu pikir nyaman nak... Aku hanya bertanya di mobil tapi, kamu langsung ketakutan?"
"Hehe maaf Nenek, aku kira nenek terganggu karena aku yang di bawa ayah kemari, aku kira aku akan di marahi kalo memanggil seperti itu."
"Tidak ada yang akan memarahi anak seperti mu di keluarga ini karena anakku sudah menyukai bahkan mengurus mu dengan baik badanmu waktu kita bertemu terlihat tak sebagus dan selembut ini kulitmu."
"Hehe iya, nenek.. Ayah mengurusku dengan baik, ayah juga menjadi ayah terbaik karena selalu mengkhawatirkan aku, Nenek aku boleh membuat hubungan kita sedikit dekat?"
Stella yang kini resmi di panggil Nenek oleh Anisa secara langsung dengan izinnya sedikit terdiam dan aneh dengan kata membuat hubungan kita sedikit dekat. Stella tak yakin anak ini mengalami masa anak-anak yang normal dan wajar saat di panti asuhan.
"Anisa dimana kamu belajar bahasa seperti orang dewasa?"
"Panti asuhan Nek, disana juga di ajarkan kata Jalang itu bodoh dan kalo tidak mau makan mati saja, kadang ada kata kubur hidup-hidup dan berikan dia denda bunga sebesar limapuluh persen saja."
Kuping Stella langsung berdarah mendengarnya bagaimana bisa ada kalimat seperti itu didengar anak kecil ini, semuanya sangat buruk sampai.
Cara menjelaskannya pun Anisa sangat semangat dan tiba-tiba malu langsung meminta maaf melihat ekspresi Nenek terkejut.
"Maaf nek, apa itu semua kasar aku tidak tahu artinya."
"Tidak apa-apa nak... Itu biasa.. Nenek akan membantumu mengubah kata yang pantas dan tidak di ucapkan oleh orang pada orang lain agar tidak terdengar buruk dan kasar."
James pulang dan melihat anaknya dan ibunya duduk bersama di ruang tamu.
Anisa melihat James mendekat sambil membuka kerah tangannya dan menggulungnya dan memberikan jasnya pada Silva.
"Apa ini?"
"Ayah! Nenek barusan cerita masa kecil ayah padaku.. Aku senang bisa mengenal ayahku dengan baik, ayah ternyata kita punya kesamaan yaa, mata kita." Menunjuk pelipisnya dengan kedua jari telunjuk kecilnya melotot lebar pada James.
Sedikit aneh rasanya dengan sikap Anisa.
"Iyaa nak, Ayah akan membersihkan diri dulu. Ibu masih lama disini?"
Stella menghabiskan jusnya lagi dan bangkit lalu mengecup dahi Anisa.
"Ibu harus pergi karena sudah hampir gelap dan yaa, Anisa... Aku menunggumu membuatku lebih dekat lagi.."
Pergi diantar James dan Anisa di gendongan depannya.
"Dadaaa nenek!" Suara yang lantang mengagetkan James.
"Aku harap kau tidak bicara aneh-aneh pada Ibuku!" Anisa melipat kedua tangannya didepan dada dengan sombong juga senyuman mencurigakan.
"Aku anak umur sepuluh tahun, aku pasti mudah disukai apa lagi dia bilang aku cantik dan manis."
"Aku mungkin akan bertanya ulang, atau ibuku sedang lelah makannya salah bicara."
"Tutup mulut ayah selalu tak ikhlas kalo ada yang menyukaiku."
"Karena aku kasihan pada mereka, Mereka akan menghadapi pembuat onar yang bisa merusak gendang telinga."
"Apa! Tega sekali bilang begitu, semangatku ini juga meniru mu tahu, kau pasti dulu sangat berisik."
Sol yang mendengarnya tersenyum lalu membayangkan jika James dulu itu benar-benar pendiam bahkan temannya hanya nona Rosa Alba.
Anisa menceritakan apa saja pembicaraan tanpa ada yang terlewat bahkan beberapa kalimat membuat James menjauhkan wajahnya dari Anisa.
"Kau sangat tidak sopan..."
Mengangkat kedua tangannya di samping bahu seolah itu bukan masalah besar.
"Aku mengatakan fakta ayah, aku tak salah panti asuhan itulah yang tidak tahu malu."
James kembali harus meminta hukuman tambahan untuk mereka.
"Aku tidak suka kamu meminta maaf yang bukan urusanmu." Membawa Anisa masuk kedalam kamarnya dan memberikannya pada Nena dan Mina.
"Aku memang yang salah karena membuat Grey Alba cedera parah setelah kamu pergi dan Ibu pasti hanya memastikan itu bukan ulahmu, Ibu sudah mendatangiku lebih dulu sebelum kesini."
"Apa! Ayah itu sangat baik hati," ucapan Anisa yang terkejut membuat para pelayan yang mendengar terdiam kaget.
"Maksudnya ?"
"Harusnya Ayah memotong telinghumppp!" Kembali James menutup mulut putrimu.
"Berhentilah jadi psikopat aku tak mengajarimu sejauh itu... Diam lah dan bersihkan dirimu kita makan malam bersama lagi."
Anisa mengangguk.
"Selamat sore ayah aku akan mandi, aku sayang ayah daaahhhh!" Suaranya keras menggelegar saat James keluar kamarnya.
"Iyaa aku sayang padamu anakku." James melangkah pergi ke kamarnya di ikuti Sol di belakangnya.