NovelToon NovelToon
Mahar Rasa Bersalah

Mahar Rasa Bersalah

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Sekar, seorang buruh penimbang paku di sebuah toko grosir bahan bangunan. Hidupnya hanya tentang bertahan hidup dari hari ke hari, hingga sebuah malam kelam dia harus terjebak malam kelam bersama atasannya sendiri, Mas Danu.

​Danu bukan CEO dengan jet pribadi. Ia hanyalah pria berusia 32 tahun yang ulet, pemilik toko bangunan warisan orang tuanya yang sukses. Ia tampan dan sangat berwibawa .

​Saat Sekar mengetahui dirinya hamil, ia memilih bungkam. Ia sadar posisi ia hanya orang kecil, sementara Danu sudah memiliki kekasih bernama Lidya, wanita kota yang cantik, berpendidikan tinggi, dan setara secara sosial.
Namun, rahasia tak bisa selamanya disimpan. Saat Danu tahu, ia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Sekar, dan memutuskan hubungannya dengan Lidya.

Lalu apa Sekar bisa hidup bahagia dengan pernikahannya, sedangkan yang ia tau Danu terpaksa memutuskan hubungannya dengan Lidya, karena harus bertanggung jawab kepdanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa bersalah

​Pagi itu, udara di kota kecil ini terasa lebih lembap dari biasanya. Sisa hujan semalam masih meninggalkan genangan di halaman toko Sumber Rejeki. Namun bagi Sekar, bukan udara dingin yang membuatnya menggigil, melainkan rasa mual yang luar biasa hebat yang menghantam perutnya sejak matanya terbuka.

​Ia mencoba bangkit dari ranjang dengan gerakan pelan, berusaha tidak membangunkan Danu yang masih tertidur di sisi lain. Namun, baru saja kakinya menyentuh lantai dingin, gelombang mual itu kembali datang. Sekar menutup mulutnya rapat-rapat, berlari kecil menuju kamar mandi di dalam kamar mereka.

​Huek... huek...

​Sekar bertumpu pada pinggiran wastafel porselen putih itu. Perutnya terasa dikocok-kocok, namun hanya cairan bening pahit yang keluar. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin mulai membasahi dahi dan tengkuknya. Ia merasa sangat lemah, seolah seluruh tenaganya tersedot habis oleh nyawa kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.

​Tiba-tiba, ia merasakan sebuah tangan besar dan hangat menyentuh tengkuknya. Tangan itu memijat perlahan dengan gerakan yang sangat lembut. Sekar tersentak, mencoba menjauh, namun rasa lemas membuatnya hampir jatuh jika tangan Danu tidak segera beralih menahan pinggangnya.

​"Maaf jadi membangunkanmu Mas" Bisik Sekar dengan suara serak. Ia merasa sangat malu karena Danu harus melihatnya dalam kondisi yang berantakan seperti ini, wajah pucat, rambut kusut, dan aroma muntahan.

​Danu tidak menjawab. Pria itu justru mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air hangat, lalu mengusap sisa-sisa air mata dan keringat di wajah Sekar.

"Sudah lebih baik?" Tanya Danu pendek. Matanya menatap intens ke arah mata Sekar yang sembab.

​"Sudah, Mas. Saya cuma butuh duduk sebentar" Jawab Sekar sambil mencoba melepaskan diri dari pegangan Danu. Ia merasa sangat tidak pantas diperlakukan semanis ini oleh Danu. Setiap sentuhan pria itu terasa seperti beban baru baginya.

​Tapi Danu malah membimbingnya kembali ke ranjang, mendudukkannya dengan hati-hati. Tanpa berkata apa-apa, Danu keluar kamar dan kembali beberapa menit kemudian membawa segelas air hangat yang dicampur madu dan seiris lemon.

​"Minum ini pelan-pelan, Kata Mbok Sum ini bisa meredakan mual" Perintah Danu.

​Sekar menerimanya dengan tangan gemetar. Menerima perhatian Danu seperti itu, dia merasa tidak pantas.

"Mas tidak perlu repot-repot. Mas harus segera ke toko, kan? Ini hari Senin, biasanya banyak kiriman barang datang"

​"Toko bisa menunggu" Sahut Danu singkat. Ia duduk di kursi kayu di pojok kamar, memperhatikan Sekar yang sedang menyesap minumannya.

"Aku sudah bilang ke Mbok Sum untuk membuatkan bubur sumsum. Jangan makan yang berminyak dulu!"

​Namun, kehangatan di kamar itu segera pecah oleh suara ketukan keras di pintu.

​"Danu! Kamu sudah bangun belum? Itu truk semen sudah antre di depan gerbang. Siapa yang mau terima barang kalau kamu masih di dalam?" Suara melengking Bu Subroto menembus pintu kayu jati yang tebal.

​Danu menghela napas, ia bangkit dan membuka pintu sedikit.

"Ibu, pelankan suaranya. Sekar sedang sakit, dia mual-mual parah"

​Bu Subroto tidak beranjak. Ia justru mendorong pintu hingga terbuka lebih lebar, matanya melirik tajam ke arah Sekar yang sedang meringkuk di ranjang.

 "Sakit? Halah, Nu. Namanya orang hamil ya memang begitu. Ibu dulu waktu hamil kamu tetap ke pasar, tetap angkat-angkat barang. Jangan mau dibohongi sama aktingnya. Dia cuma mau cari perhatian kamu supaya kamu tidak kerja"

​"Ibu, tolong. Jangan samakan Sekar sama Ibu!" Suara Danu mulai meninggi, ada nada peringatan di sana.

​"Danu, dengar! Toko itu masa depanmu. Jangan gara-gara wanita ini kamu jadi malas-malasan. Dia itu sudah beruntung kamu bawa ke rumah ini, makan enak, tidur nyenyak. Harusnya dia tahu diri, bukan malah merepotkan suaminya terus!" Bu Subroto menunjuk ke arah Sekar dengan jari yang dihiasi cincin emas besar.

​Sekar merasa dadanya sesak. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Setiap kata yang diucapkan mertuanya seperti palu yang menghantam martabatnya yang sudah hancur. Ia benar-benar merasa menjadi parasit.

​"Mas, pergilah ke depan!" Ucap Sekar lirih, suaranya bergetar.

"Saya tidak apa-apa. Saya bisa istirahat sendiri. Ibu benar, Mas jangan terlambat karena saya!"

​Danu menoleh ke arah Sekar, lalu kembali menatap ibunya. Wajahnya terlihat sangat tegang.

"Ibu pergi ke depan dulu. Suruh Ibas yang terima semennya. Aku akan keluar setelah memastikan Sekar tenang"

​Bu Subroto mendengus kencang, menatap Sekar dengan pandangan benci sebelum akhirnya melangkah pergi dengan hentakan kaki yang keras.

​Setelah ibunya pergi, Danu kembali mendekati ranjang. Ia melihat Sekar yang sudah menunduk dalam, air mata jatuh membasahi sprei.

​"Jangan didengarkan" Ucap Danu. Tangannya terangkat, mengusap kepala Sekar

"Ibu memang begitu bicaranya"

​"Ibu tidak salah, Mas," Isak Sekar pecah justru karena usapan tangan Danu yang begitu lembut di kepalanya.

"Saya memang merepotkan. Saya merusak rencana pernikahan Mas dengan Mbak Lidya, dan sekarang saya merusak jam kerja Mas. Saya ini pembawa sial buat Mas Danu"

​Danu terdiam. Ia berdiri mematung di samping ranjang. Cahaya matahari pagi yang masuk dari sela-sela gorden menyinari wajahnya yang tampak kaku.

"Kamu bukan pembawa sial, Sekar. Berhenti menganggap dirimu serendah itu. Justru aku yang membuatmu hidup seperti ini!"

​"Tapi Mas tidak bahagia sama saya!" Teriak Sekar tertahan, keberaniannya muncul karena rasa sakit yang memuncak.

"Seharusnya memang kita tidak usah menikah Mas. Biar saya rawat sendiri anak ini, nanti saya tidak akan melarang Mas Danu kalau memang mau melihatnya!" Pikiran konyol itu melintas di kepala Sekar. Padahal mereka sudah menikah, tentu saja pikiran seperti itu tidak akan terjadi.

"Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi Sekar. Aku tidak mau anakku lahir tanpa Ayah!"

​Suasana kamar mendadak menjadi sangat dingin. Danu menatap Sekar dengan tatapan yang sulit diartikan, ada kemarahan karena ucapan Sekar, ada kelelahan, tapi juga ada sesuatu yang terkunci rapat di balik matanya yang cokelat gelap.

​"Istirahatlah, Sekar. Nanti aku akan pulang saat makan siang" Hanya itu yang Danu katakan. Ia berbalik dan melangkah keluar kamar, menutup pintu dengan perlahan.

​Sekar luruh ke atas bantal. Rasa mual di perutnya kini berganti dengan rasa sakit di dadanya. Ia tahu, ia telah melewati batas dengan menyinggung perasaan Danu. Namun, ia merasa lebih baik dibenci daripada terus-menerus diberi harapan semu melalui kebaikan yang berlandaskan rasa tanggung jawab.

​Di luar, ia bisa mendengar suara Danu yang mulai memberikan instruksi pada para kuli angkut di toko. Suaranya terdengar tegas, profesional, seolah tidak terjadi apa-apa di dalam kamar.

​Dia pria yang hebat, pikir Sekar. Dan aku hanyalah kerikil kecil yang tidak sengaja masuk ke dalam sepatunya. Menyakitkan, mengganggu, dan harus segera dibuang jika waktunya sudah tiba.

​Sekar memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan rasa mual dan rasa bersalah itu menelan dirinya dalam kegelapan pagi yang sunyi. Ia tahu, di rumah ini, ia tidak akan pernah benar-benar menjadi Nyonya. Ia tetaplah Sekar, buruh cuci dan penimbang paku yang terjebak dalam sangkar emas milik pria yang masih merindukan wanita lain.

1
UfyArie
novel ini memenuhi hayalan ibu2 yg pengen di cintai suaminya secara ugal ugalan kayak gini😄
matcha
bab ke brp ni mbk sekar udh gak cengeng nangis2 terus.. setiap bab selalu menangis
matcha
ini si sekar gak abis2 air matanya🤭
Neng Tuti
baik banget sekar ya allah
Neng Tuti
coba sekar pergi dulu dari rumah mas danu deh dari pada tinggal di situ tapi ragu pada perasaan mas danu
Neng Tuti
kayanya bener kata riana deh mas danu emang udah naksir ke sekar sejak lama kali yah aaah mas danu manis banget kaya gulali🤭😍😍
Neng Tuti
ini ya kalo aku jd sekar udah ku cakar tuh mulut ibu ibu 🙄
Neng Tuti
aku bacanya kok nangis yaa😪
Neng Tuti
ya allah sedih banget ceritanya😪
Wirly Pena
semangat thor, karya yg bagus 👍

halo temen2, jangan lupa mampir di " Aku istrimu, bukan babu mu "

terimakasih 🙏
Ecci Syafirairwan
🥰
pipi gemoy
Danu🌹
Lilik Juhariah
dhanu kayaknya gak terlalu cinta sama Lidya , bukti nya dia biasa aja ninggalin dan nikah ma sekar
Lilik Juhariah
ini orang harusnya selalu bersyukur dapat suami Danu , bacanya gedhek banget nih perempuan , harusnya belajar memantaskan diri
Lilik Juhariah
ibu ini emang tak penyek
Lilik Juhariah
beruntung walau gak ada cinta mas Danu tau artinsebuah kewajiban dan tanggung jawab
Lilik Juhariah
sekar Sekar nanti jadi TBC katakan apa yg mau kau katakan jangan diem ,
Lilik Juhariah
emang ya cara ngelawan suami itu gak usah dilawan turutin aja tunduk ya ya trs diem , ntar kan paham juga tuh suami , aku juga gitu , gak terlalu suka banyak omong , dan kl aku mode gitu pasti suami dah sadar diri🤣
Lilik Juhariah
sek Talah kok aib sampe sekampung pada tau semua , apa diumumkan pake Toa ini aib
Lilik Juhariah
gak bayangin tiap hari bertemu Bu Subro wkkw
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!