NovelToon NovelToon
Sistem Warisan Kedua

Sistem Warisan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seorang pria sukses yang meninggal karena pengkhianatan bisnis bereinkarnasi menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang hampir bangkrut. Ia mendapatkan Sistem Warisan Kedua yang memberinya misi untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran ekonomi dan ancaman mafia tanah. Dengan pengalaman hidup sebelumnya dan bantuan sistem, ia bertekad mengubah takdir keluarganya menjadi keluarga terpandang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlahir Kembali

Ardi terbangun dengan napas tersengal, seolah baru saja muncul dari dasar lautan yang gelap dan dingin. Dadanya terasa ringan, tidak lagi sesak seperti detik-detik terakhir yang ia ingat. Tidak ada bau bensin, tidak ada suara hujan menghantam kaca, tidak ada rasa sakit yang meremukkan tulang. Yang ada hanya aroma kayu dan tanah yang samar, bercampur dengan wangi masakan sederhana yang menguar dari suatu tempat.

Ia membuka mata perlahan.

Langit-langit yang ia lihat bukan plafon apartemen modern dengan lampu gantung mahal. Di atasnya hanya ada atap kayu dengan beberapa celah kecil yang membiarkan sinar matahari pagi menembus masuk. Debu tampak menari di antara cahaya itu. Dinding di sekelilingnya terbuat dari papan yang sudah mulai pudar warnanya.

Ardi mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri. Ia mencoba menggerakkan tangan, lalu tertegun.

Tangannya kecil.

Jari-jarinya lebih pendek dan kurus. Kulitnya lebih halus, tanpa bekas luka kecil yang dulu ia dapat saat sibuk bekerja siang dan malam. Ia mengangkat kedua tangannya ke depan wajahnya, menatapnya dengan perasaan campur aduk antara bingung dan takut.

“A-apa ini…” gumamnya.

Suaranya terdengar berbeda. Lebih tipis, lebih ringan. Bukan suara pria dewasa yang tegas dan dalam, melainkan suara anak-anak.

Ia buru-buru bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya terasa ringan, terlalu ringan. Ketika kakinya menyentuh lantai, ia menyadari bahwa tinggi badannya jauh berkurang. Pandangannya terhadap ruangan pun berbeda. Semua terlihat lebih besar dari biasanya.

Sebelum ia sempat memahami apa yang terjadi, suara perempuan yang lembut terdengar dari luar kamar.

“Arga, sudah bangun? Ayo sarapan dulu sebelum sekolah.”

"Arga"

Nama itu terasa asing sekaligus dekat di telinganya. Ia mematung, jantungnya berdegup kencang. Ia berjalan perlahan menuju cermin kecil yang tergantung di dinding. Kaca itu tidak terlalu bersih, sedikit buram, tetapi cukup untuk memperlihatkan wajah seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun.

Rambut hitamnya agak berantakan. Matanya besar dan masih menyimpan sisa kebingungan. Wajah itu jelas bukan wajah Ardi Wijaya yang berusia tiga puluh delapan tahun.

Ia menyentuh pipinya sendiri, lalu menariknya pelan, memastikan ini bukan bayangan. Rasa sakit kecil terasa nyata. Ia tidak sedang bermimpi.

Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat. “Arga, nanti terlambat. Ibu sudah siapkan nasi goreng kesukaanmu.”

Langkah kaki terdengar mendekat. Pintu kayu terbuka perlahan, menampakkan seorang perempuan dengan wajah lembut dan senyum hangat. Rambutnya disanggul sederhana. Di tangannya ada sendok kayu yang masih berbau tumisan bawang.

Saat mata perempuan itu bertemu dengannya, senyumnya melebar. “Sudah bangun, ya. Cepat cuci muka.”

Entah mengapa, dada Ardi terasa sesak. Perempuan itu tidak ia kenal, tetapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat hatinya bergetar. Tatapan penuh kasih yang tulus, tanpa pamrih.

Ia hanya bisa mengangguk pelan.

Setelah perempuan itu pergi, Ardi kembali menatap dirinya di cermin. Arga. Nama itu terus terngiang di kepalanya. Ia mencoba mengingat apa pun tentang anak ini, tetapi kepalanya seperti dipenuhi kabut.

Ia keluar kamar dengan langkah ragu. Rumah itu kecil dan sederhana. Lantai semen yang sudah retak di beberapa bagian. Dinding papan yang tampak lapuk. Di sudut ruangan ada lemari kayu tua dan televisi kecil yang mungkin sudah berumur belasan tahun.

Di ruang tengah, dua anak kecil duduk berdampingan sambil berebut sendok. Mereka tampak tidak lebih dari tujuh dan delapan tahun. Salah satu dari mereka tertawa kecil saat nasi di piringnya hampir tumpah.

“Bang Arga lama banget,” keluh yang lebih kecil sambil cemberut.

"Bang."

Ardi terdiam lagi. Jadi ia adalah anak sulung di rumah ini.

Perempuan tadi yang ternyata ibunya Arga meletakkan piring di meja kayu kecil. “Sudah, jangan ganggu kakakmu. Arga pasti capek.”

Kata-kata itu sederhana, tetapi menyentuh sesuatu yang dalam di hatinya. Dalam kehidupannya sebelumnya, ia jarang mendengar nada sehangat itu. Hubungannya dengan orang tua kandungnya memang tidak buruk, tetapi selalu ada jarak. Ia terlalu sibuk, terlalu kaku, terlalu fokus pada target.

Kini, di rumah kecil ini, ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Ia duduk perlahan di kursi kayu. Piring nasi goreng sederhana terhidang di depannya, dengan telur dadar tipis di atasnya. Aromanya hangat dan akrab. Ia menatapnya cukup lama hingga ibunya Arga tersenyum heran.

“Kenapa? Tidak enak badan?”

Ardi menggeleng cepat. “Tidak, Bu.” Kata itu keluar begitu saja dari bibirnya.

Seketika tenggorokannya terasa kering. Ia menyuapkan nasi ke mulutnya. Rasanya sederhana, mungkin sedikit terlalu asin, tetapi entah mengapa terasa sangat nikmat. Setiap suapan seperti membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan dalam waktu lama.

Sambil makan, ia mulai menyusun potongan-potongan kenyataan dalam pikirannya. Ia mengingat kecelakaan itu dengan jelas. Benturan keras, darah, dan kegelapan. Ia yakin ia telah mati.

Namun sekarang ia ada di sini, dalam tubuh anak bernama Arga, di rumah kayu sederhana ini.

Ia melirik kalender yang tergantung di dinding. Angkanya membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Tahun yang tertera di sana adalah dua puluh tahun sebelum malam kecelakaannya.

Dua puluh tahun ke masa lalu.

Pikirannya berputar cepat. Jika ini benar, maka ia telah diberi kesempatan kedua. Bukan kembali menjadi dirinya yang dulu, tetapi menjadi seseorang yang sama sekali berbeda.

Ia bukan lagi Ardi Wijaya, pengusaha sukses dengan gedung tinggi dan mobil mewah.

Ia adalah Arga, anak laki-laki sepuluh tahun dari keluarga miskin.

Setelah sarapan, ia memperhatikan keadaan rumah lebih detail. Atap di beberapa bagian tampak hampir bocor. Dindingnya tidak kokoh. Perabotan sedikit dan sederhana. Dari pembicaraan singkat yang ia dengar, ia tahu bahwa ayah Arga bekerja sebagai buruh serabutan. Kadang menjadi kuli bangunan, kadang membantu di pasar. Penghasilannya tidak menentu.

Ibunya mengelola warung kecil di depan rumah. Warung itu hanya menjual kebutuhan sehari-hari dalam jumlah terbatas. Untungnya tidak besar, tetapi cukup untuk menyambung hidup.

Dua adiknya masih duduk di sekolah dasar. Seragam mereka tampak sudah agak kusam, mungkin dipakai bergantian atau diwariskan.

Melihat semua itu, hati Ardi terasa campur aduk. Ia pernah hidup dalam kemewahan. Ia tahu bagaimana rasanya memegang kendali atas jutaan rupiah dalam satu keputusan. Ia tahu bagaimana membangun bisnis dari nol.

Namun di kehidupan sebelumnya, di tengah semua kesuksesan itu, ia kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Kini, ketika ia melihat wajah ibunya Arga yang tersenyum meski jelas kelelahan, ia merasakan perih yang berbeda. Perempuan itu tampak lelah, tetapi tetap berusaha ceria di depan anak-anaknya. Tangannya sedikit kasar, mungkin karena terlalu sering mencuci dan memasak.

Ia teringat pesan terakhir dari ibunya di kehidupan sebelumnya. 'Kapan pulang, Nak."

Penyesalan itu kembali menusuk, tetapi kali ini bercampur dengan tekad.

Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan bagaimana menjadi kaya secepat mungkin. Ia tidak memikirkan bagaimana membangun perusahaan besar. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar keluarga kecil ini tidak lagi hidup dalam kekurangan.

Ia ingin memastikan atap rumah ini tidak bocor lagi saat hujan turun. Ia ingin melihat adik-adiknya belajar tanpa harus memikirkan biaya sekolah. Ia ingin ibunya tersenyum bukan karena memaksa diri, tetapi karena benar-benar bahagia.

Saat siang mulai menjelang dan adik-adiknya bersiap berangkat sekolah, Ardi berdiri di depan rumah kayu itu. Ia menatap langit yang cerah, menghirup udara dalam-dalam. Udara desa yang bersih terasa berbeda dari udara kota yang dulu ia kenal.

Kesempatan kedua.

Kali ini ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Jika takdir memberinya kehidupan baru sebagai Arga, maka ia akan menjalaninya dengan cara yang berbeda. Ia akan tetap bekerja keras, tetapi bukan hanya untuk ambisi pribadi. Ia akan menjadi pelindung, bukan hanya pencari keuntungan.

Ia mengepalkan tangan kecilnya pelan.

Di dalam tubuh anak sepuluh tahun itu, jiwa seorang pria yang pernah kehilangan segalanya mulai menyusun rencana baru. Bukan sekadar untuk sukses, tetapi untuk menjaga dan membahagiakan keluarga yang kini menjadi dunianya.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia membuka mata di pagi itu, ia tersenyum dengan tulus.

1
Dirman Ha
in
Dirman Ha
ih mantap
fauzi ezi
gas tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!