NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tertukar

Pewaris Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.

Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.

Siapakah pewaris yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 Jejak yang Sengaja Dihapus

Pagi itu cerah dan tenang. Matahari memantul di kaca-kaca bangunan yang berdiri kokoh di tengah kota. Tak ada lagi cat mengelupas atau papan nama kusam seperti lima belas tahun lalu.

Bangunan itu kini tampak lebih megah. Lobi diperluas, dinding dilapisi marmer, dan logo rumah sakit terpampang bersih berwarna emas.

Tak banyak yang tahu…

Di tempat yang kini terlihat modern dan terawat ini, lima belas tahun silam dua bayi lahir bersamaan — dan takdir mereka berubah selamanya.

Detektif Damar berdiri di depan pintu masuk dengan langkah mantap. Map cokelat berada di tangannya. Sorot matanya tajam, seperti biasa, menyapu setiap sudut bangunan.

“Bangunan boleh berubah,” gumamnya pelan,

“tapi jejak masa lalu tak selalu bisa dibangun ulang.”

Ia melangkah masuk.

Di dalam, suasana sibuk namun tertib. Perawat lalu-lalang, suara mesin antrean berbunyi pelan. Semua terlihat normal.

Terlalu normal.

Damar menuju meja administrasi. Seorang petugas perempuan paruh baya menatapnya ramah namun hati-hati.

“Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa dibantu?”

“Saya Detektif Damar. Saya ingin mengakses arsip kelahiran tanggal dua belas April, lima belas tahun lalu.”

Senyum petugas itu sedikit menghilang.

“Arsip selama itu biasanya ada di ruang penyimpanan khusus. Perlu izin pimpinan.”

“Saya sudah membawa surat resmi.” Damar menyerahkan dokumen.

Beberapa menit kemudian, ia diantar menuju ruang arsip lama yang kini dipindahkan ke gedung belakang. Berkas-berkas tersusun dalam rak logam, sebagian sudah dipindai ke sistem digital.

Damar duduk di meja panjang dan mulai membuka data satu per satu.

Nama bayi.

Nama orang tua.

Jam kelahiran.

Lalu ia berhenti.

Di jam kelahiran yang seharusnya tercatat atas nama Alisha Mahendra…

halaman itu kosong.

Bukan rusak.

Bukan tercoret.

Sobek.

Disobek dengan sangat rapi.

Damar mengangkat sudut map, memeriksa sisa bekas robekan.

“Sengaja,” gumamnya. “Sangat sengaja.”

Ia berdiri dan meminta bertemu salah satu perawat lama yang masih bekerja di sana.

Beberapa saat kemudian, seorang perawat wanita berusia sekitar lima puluh tahun masuk ke ruang kecil itu. Namanya tertera di seragam: Suster Mariani.

“Bapak mencari saya?” tanyanya gugup.

Damar menatapnya dalam.

“Suster, lima belas tahun lalu Anda bertugas di ruang bersalin, benar?”

Wajah wanita itu langsung tegang.

“Saya… iya, Pak. Tapi sudah lama sekali.”

“Ada dua bayi lahir di jam yang sama malam itu.”

Suster Mariani menelan ludah.

“Saya tidak ingat detailnya.”

“Arsipnya hilang. Disobek. Dan saya yakin itu bukan kebetulan.”

Tangan Suster Mariani mulai gemetar.

“Pak… saya benar-benar tidak tahu apa-apa.”

Damar mencondongkan tubuh sedikit.

“Kalau ini tidak diungkap, satu anak akan hidup dalam kebohongan sepanjang hidupnya.”

Kalimat itu membuat mata Suster Mariani berkaca-kaca.

“Ada… ada yang lebih tahu dari saya,” bisiknya akhirnya.

“Siapa?”

“Suster yang bertugas langsung malam itu. Namanya Lilis. Sekarang sudah pensiun.”

Damar mencatat cepat.

“Kenapa bukan Anda?”

“Saya hanya membantu. Yang mengganti gelang bayi… itu tugas Suster Lilis.”

Damar terdiam sejenak.

“Mengganti?”

Suster Mariani langsung menutup mulutnya, sadar telah terpeleset.

“Saya… saya tidak tahu pasti. Tapi malam itu memang ada kebingungan. Ada seseorang datang ke ruang bayi. Orang penting. Saya tidak tahu siapa.”

“Orang penting?”

“Ia berbicara lama dengan Suster Lilis. Setelah itu, suasana jadi aneh. Dan keesokan harinya… semua seperti tidak terjadi apa-apa.”

“Apakah ada uang yang terlibat?”

Wanita itu mengangguk pelan.

“Saya hanya melihat amplop.”

Ruangan mendadak terasa sesak.

Damar berdiri.

“Saya butuh alamat Suster Lilis.”

Suster Mariani menuliskannya di secarik kertas.

“Tolong jangan sebut nama saya,” pintanya lirih.

“Saya hanya mencari kebenaran,” jawab Damar tenang.

Ia melangkah keluar dengan pikiran semakin jelas.

Ini bukan kesalahan medis.

Ini kejahatan yang direncanakan.

Sementara itu…

Jauh dari bangunan megah dan aroma antiseptik rumah sakit modern, Alisha Pratiwi sudah bangun sejak fajar.

Rumah kecil berdinding papan itu sederhana, namun bersih. Ia menyingsingkan lengan, menimba air dari sumur, dan membawa ember dengan langkah ringan meski udara masih dingin.

“Lis, jangan lupa sapu halaman!” suara ibunya terdengar dari dapur.

“Iya, Bu!”

Seragam sekolahnya mulai sempit. Sepatunya sudah beberapa kali dijahit ulang. Tapi wajahnya tetap cerah.

Sarapan pagi hanya nasi hangat dan tempe goreng.

“Terima kasih, Bu,” ucapnya tulus.

Ibunya tersenyum bangga.

“Kamu anak kuat. Ibu selalu bangga.”

Alisha tak pernah mengeluh. Ia tahu hidup mereka tidak mudah. Ayahnya bekerja serabutan, ibunya menerima jahitan dari tetangga.

Namun di dalam hatinya, ada perasaan aneh yang tak bisa ia jelaskan.

Seperti… ada bagian hidupnya yang hilang.

Di sekolah, ia berjalan kaki. Beberapa anak yang turun dari mobil mewah menertawakannya.

“Sepatunya hampir copot tuh!”

Alisha menunduk. Tapi ia tak menangis.

Ia masuk kelas, duduk paling depan, dan mencatat dengan tekun.

Guru sering memujinya.

“Alisha anak paling rajin.”

Belajar adalah satu-satunya jalan keluar.

Tanpa ia sadari…

Takdir sedang mendekat perlahan.

Di sisi lain kota, kamar rumah sakit VIP terasa sunyi.

Alisha Mahendra berbaring dengan wajah kesal.

“Aku bosan, Ma. Aku mau pulang.”

Helena duduk di sampingnya, memegang tangannya lembut.

“Kamu harus istirahat dulu.”

“Aku nggak suka tempat ini.”

Helena menatap putrinya lama.

Ada perasaan ganjil yang belakangan sulit ia abaikan. Terlebih setelah Ragendra mulai berubah sikap.

Di luar ruangan, Ragendra berdiri bersama Alvaro.

“Papa kenapa akhir-akhir ini sering keluar sendiri?” tanya Alvaro.

“Urusan lama,” jawab Ragendra singkat.

Tapi dalam hatinya bergolak.

Jika benar anak yang ia besarkan bukan darah dagingnya…

Lalu di mana anak kandungnya sekarang?

Apakah ia hidup layak?

Atau justru menderita?

Rasa bersalah menghantamnya.

Sore itu, Detektif Damar berdiri di depan rumah sederhana di pinggiran kota.

Di sinilah alamat Suster Lilis.

Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.

Seorang wanita tua membuka pintu perlahan. Rambutnya memutih, namun sorot matanya masih tajam.

“Ya?”

“Apakah Anda Suster Lilis?”

Wanita itu menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.

“Saya dulu perawat. Sekarang hanya wanita tua biasa.”

“Saya ingin bertanya tentang dua bayi yang lahir lima belas tahun lalu.”

Wajahnya langsung pucat.

“Saya sudah pensiun.”

“Dan arsip malam itu disobek.”

Keheningan membentang.

“Seseorang menyuruh saya,” suara Lilis akhirnya terdengar serak. “Saya hanya menjalankan perintah.”

“Siapa?”

“Saya tidak tahu namanya. Ia datang bersama pria berpakaian mahal. Mereka ingin bayi tertentu.”

Damar mengepalkan tangan.

“Bayi dari keluarga kaya?”

Lilis menggeleng pelan.

“Tidak. Mereka ingin bayi yang sehat… dan perempuan.”

“Lalu?”

“Mereka memberi saya uang. Banyak. Saya… saya khilaf.”

Air mata mengalir di pipinya.

“Saya menukar gelang bayi.”

Kebenaran akhirnya terucap.

Damar berdiri tegak.

“Siapa bayi yang ditukar?”

“Saya tidak tahu nama lengkapnya. Hanya ingat… keluarga sederhana.

Ayahnya buruh. Ibunya menjahit.”

Jantung Damar berdetak keras.

Potongan-potongan itu mulai menyatu.

Satu hidup dalam kemewahan.

Satu hidup dalam kesederhanaan.

keduanya tidak berada di tempat yang seharusnya.

“Terima kasih,” ucap Damar pelan.

Ia melangkah pergi dengan tekad semakin kuat.

#Bersambung😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!