Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir terkencing
"Jak.. aku memegang tangannya." Ujar Udin dengan tubuh yang gemetar.
"Apa maksudmu, Din…?" tanyanya pelan.
Suara Udin semakin gemetar.
"Aku… aku sedang memegang tangannya…" Ulang Udin.
Beberapa pemuda langsung merinding mendengar itu.
"Din… jangan bercanda." Kata Daud dari sudut ruangan dengan suara yang nyaris tak keluar.
"Bukan bercanda." Jawab Udin dengan suara hampir putus.
"Tangannya dingin sekali."
Tangan itu masih berada di genggamannya. Dingin dan kaku.
Jaka kembali bergerak cepat meraba meja.
"Tunggu! Aku hpku dulu." Ujar Jaka masih meraba-raba dalam gelap.
Sementara itu Udin masih berdiri kaku. Ia bahkan tidak berani menarik tangannya.
"Jak…" bisiknya lagi.
"Cepat... Aku sudah tidak tahan." Suasana semakin mencekam.
Hhhhhh…
Hembusan napas kembali terasa di telinga Udin.
Kali ini lebih jelas dan lebih dekat.
Tubuh Udin langsung bergetar.
"Jak… cepat, Jak…"
Di sisi lain ruangan, Jaka akhirnya meraba sesuatu di atas meja.
"Korek!" katanya.
Cret!
Api kecil menyala.
Cahaya redup itu langsung menerangi sebagian ruangan.
Semua pemuda serentak menoleh ke arah Udin.
Nyala apinya hanya menerangi sebagian ruangan, namun cukup untuk membuat semua pemuda yang ada di sana menoleh ke arah Udin.
Dan pada saat itulah, mereka melihatnya sekilas saja.
Seorang perempuan berdiri tepat di depan Udin.
Rambutnya panjang terurai menutupi sebagian wajahnya. Tubuhnya tampak pucat di dalam cahaya redup itu. Kepalanya sedikit menunduk dengan wajah seram.
Hanya sepersekian detik.
Lalu...
Blup!
Nyala korek itu hampir padam tertiup angin kecil.
"AH!" Udin terlonjak kaget. Tubuhnya mundur satu langkah.
Wajahnya pucat pasi.
"Hah… hah…!" napasnya memburu.
Hampir saja ia terkencing di celana karena kaget.
"Jak! Jak!" teriaknya dengan suara gemetar.
Beberapa pemuda lain juga mundur dengan wajah ketakutan.
"Ada… ada orang di depan aku tadi!" kata Udin terbata-bata.
Jaka sendiri tampak terpaku beberapa detik. Namun ia segera mengangkat korek itu lebih tinggi.
Mulutnya komat-kamit.
"Astaghfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullah… " Ucapnya berulang kali.
Tangannya gemetar, tapi ia tetap berusaha menahan nyala api itu agar tidak padam.
"Astagfirullah hal azim…” Ulangnya lagi dengan suara lebih keras.
Di sudut ruangan, Udin masih berdiri dengan tubuh gemetar. Napasnya belum juga tenang. Wajahnya pucat seperti kehilangan darah.
Beberapa pemuda lain saling berpandangan, namun tidak ada yang berani bicara.
Suasana ruang tamu dipenuhi ketegangan.
Di tengah ketegangan itu, beberapa ibu-ibu keluar satu per satu setelah selesai sholat. Bu Endah berada paling depan, membawa lampu minyak yang menyala redup di tangannya.
Cahaya kuning dari lampu itu langsung menerangi sebagian ruang tamu.
Bu Endah berhenti di ambang pintu. Ia memandang para pemuda yang berdiri dengan wajah panik.
"Lho… ada apa ini?" Tanyanya heran.
Ibu-ibu lain ikut menoleh ke arah mereka.
"Kenapa kalian ribut sekali?" lanjut Bu Endah sambil melangkah mendekat.
Cahaya lampu minyak di tangannya kini menerangi wajah Udin yang masih pucat.
"Udin… kamu kenapa?" Tanya salah satu ibu dengan khawatir.
Namun Udin hanya menatap kosong ke arah jenazah Seno.
Jaka segera mematikan korek di tangannya dan mencoba menenangkan diri.
"Tidak apa-apa, Bu." Katanya dengan suara yang masih bergetar.
"Tadi… lampu minyaknya mati… jadi kami agak kaget." Kata Jaka. Mereka sengaja tidak menceritakan apa yang sempat mereka lihat tadi.
Mereka tidak ingin membuat Bu Ranti yang bersedih tambah kepikiran dengan apa yang terjadi.
Bu Endah mengerutkan kening, seolah merasa ada sesuatu yang disembunyikan.
Ia lalu mengangkat lampu minyak itu sedikit lebih tinggi.
"Sudah… sekarang lampunya sudah ada." Bu Endah lalu meletakkan lampu minyak itu di atas meja kecil di dekat dinding. Cahaya kuningnya kini menerangi ruang tamu dengan lebih jelas.
"Jaka, nyalakan lampu yang lainnya." Suru Bu Endah.
Jaka pun segera menyalakan semua lampu minyak yang mati tadi.
Beberapa ibu-ibu lain ikut duduk di tikar yang digelar di lantai. Suasana masih terasa tegang, meskipun tidak ada yang benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi.
Jaka diam-diam melirik ke arah Udin.
Udin masih terlihat pucat. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, mencoba menenangkan diri.
Jaka mendekat sedikit dan berbisik pelan.
"Din… kamu nggak apa-apa?"
Udin menelan ludah sebelum menjawab.
"Aku… aku tidak tahu, Jak." Bisiknya lirih.
"Tadi… aku benar-benar pegang tangan seseorang."
Jaka langsung memberi isyarat agar Udin tidak melanjutkan.
Matanya melirik ke arah ibu-ibu yang ada di ruangan itu.
"Sudah… jangan dibicarakan sekarang." bisiknya.
Bu Ranti masih duduk di samping tubuh Seno. Tangannya sesekali mengusap rambut anaknya yang sudah kaku. Tangisnya kini tidak lagi keras, hanya isak pelan yang terdengar di antara keheningan ruang tamu.
"Le… Seno… kenapa kamu pergi secepat ini, Nak…" Ucapnya lirih.
Beberapa ibu-ibu hanya bisa menunduk mendengar tangisan itu.
"Assalamu’alaikum…" Suara para laki-laki yang ke masjid tadi terdengar memberi salam.
"Wa’alaikumussalam…" Jawab para ibu dan pemuda di dalam rumah.
Pak Warsito, Pak Yuda, dan beberapa warga lain masuk ke dalam rumah. Wajah mereka tampak serius setelah kembali dari masjid. Ustadz Sakari berjalan paling depan dengan langkah tenang.
Mereka duduk sebentar di tikar, memberi ruang bagi Ustadz Sakari.
Setelah beberapa saat, Ustadz Sakari berkata pelan.
"Pak Sugeng… kami mohon izin." Katanya.
Pak Sugeng yang sejak tadi duduk diam hanya mengangguk lemah.
Ustadz Sakari kemudian berdiri dan berjalan mendekati jenazah Seno. Ia duduk bersila di dekat kepala almarhum.
Suasana rumah menjadi sangat hening.
Dengan suara tenang, Ustadz Sakari mulai membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Lantunan bacaannya mengalun pelan memenuhi ruangan.
Beberapa warga ikut menundukkan kepala.
Setelah beberapa saat, bacaan itu diakhiri dengan Ayat Kursi yang dibacakan dengan khidmat.
Ustadz Sakari lalu menarik napas pelan dan menoleh ke arah para pemuda.
"Jaka… Udin… sekarang coba kalian angkat lagi jenazah Seno."
Semua orang langsung memperhatikan.
"Waktu sudah hampir Subuh." lanjutnya.
"Jenazah harus segera dimandikan dan disiapkan."
Jaka menoleh ke arah Udin dan para pemuda lainnya.
"Baik, ayo kita coba lagi." Katanya pelan.
Udin menarik napas panjang. Ia mengangguk, meskipun wajahnya masih menyisakan ketegangan.
Beberapa pemuda segera mendekat. Mereka berjongkok di sekeliling jenazah Seno, bersiap mengangkatnya seperti sebelumnya.
"Bismillah…" Ucap Jaka pelan.
Mereka pun mulai mengangkat tubuh Seno secara perlahan.
Semua orang di ruangan itu menahan napas.
Namun kali ini. Tubuh Seno terangkat.
Tidak seberat sebelumnya.
"Pelan… pelan…" Ujar Jaka.
Beberapa pemuda lain membantu menopang tubuh Seno agar tetap stabil.
Melihat jenazah itu akhirnya bisa diangkat, wajah-wajah tegang di ruangan itu perlahan berubah lega.
"Alhamdulillah…" Ucap semua orang di dalam rumah mengucapkannya serentak dengan rasa syukur.
Pak Sugeng menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar menahan tangis.
Bu Ranti yang duduk di samping tikar hanya bisa menatap tubuh anaknya yang kini sedang dibawa menuju belakang rumah untuk dimandikan.