Semoga kalian suka ya.
Di dunia ini dihuni lima ras: manusia, elf, dark elf, beast, dan demon, lalu ada kekuatan "Aliran Alam" yang mengatur api, air, tanah, dan angin mulai terganggu drastis. seorang pemuda dari desa kecil yang bisa melihat jejak kekuatan tersembunyi ini terpaksa keluar dari rumahnya menuju Hutan Awan Gelap, tempat yang dilarang masuk oleh semua ras, menyebarkan kekuatan gelap yang merusak alam sekitar dan memicu konflik antar ras.
Bersama seorang elf yang melarikan diri dari tugasnya, seorang beast muda yang hilang ingatan, serta ditemani oleh seorang dark elf penyelidik dan seorang demon yang mencari kebenaran tentang masa lalunya, ia menjadi pengelana dalam perjalanan panjang menuju hutan terlarang.
Mereka harus bekerja sama melewati berbagai rintangan dari berbagai pihak yang punya kepentingan sendiri, untuk menghentikan bahaya yang mengancam seluruh dunia dan mengungkap rahasia lama tentang hubungan kelima ras yang selama ini disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penguasaan Kekuatan
"Jika ada masalah lain yang mengancam keseimbangan, jangan ragu untuk datang menemukanku. Kerajaan akan selalu mendukung usaha kalian." ucap sang Raja
Setelah menerima penghargaan, Tim Pelindung Alam memutuskan untuk tinggal beberapa minggu di kerajaan untuk beristirahat dan melanjutkan latihan.
Mereka menyewa sebuah rumah kecil di pinggiran kota yang cukup luas untuk digunakan sebagai tempat tinggal dan area latihan.
Liam fokus sepenuhnya untuk menguasai Cahaya Nova dan kekuatan pendukungnya – dia tahu bahwa kekuatan baru ini masih sangat mentah dan bisa menjadi bahaya jika tidak dikuasai dengan benar. Setiap pagi, dia mulai berlatih sebelum matahari terbit:
Lyra menghabiskan waktu setiap sore untuk mengajarkan Liam tentang hubungan antara energi alam dengan makhluk hidup.
Mereka pergi ke hutan dekat kerajaan, di mana Lyra menunjukkan bagaimana merasakan getaran dari pohon, bunga, dan hewan kecil.
"Jangan coba memaksa komunikasi," ujar Lyra sambil menyentuh batang pohon besar. "Biarkan energi mengalir dengan sendirinya, seperti air yang mengalir ke sungai."
Perlahan-lahan, Liam mulai bisa merasakan kebutuhan dasar dari makhluk di sekitarnya – ketika tanah kekurangan air, atau ketika hewan sedang mencari makanan.
Stella membimbing Liam setiap pagi untuk menyelaraskan energinya dengan elemen air dan tanah.
Mereka berlatih di tepi sungai kerajaan, di mana Stella mengajarkan cara menarik energi dari alam tanpa menyakitinya.
"Anggap dirimu sebagai bagian dari alam itu sendiri," jelas Stella sambil mengendalikan aliran air dengan lembut. "Jangan mengambil lebih dari yang kamu butuhkan."
Liam sering kesulitan mengontrol jumlah energi yang dia tarik – terkadang terlalu banyak membuat dia merasa terbebani, terkadang terlalu sedikit membuat kekuatannya tidak efektif.
Tapi dengan latihan yang terus-menerus, dia mulai menemukan titik keseimbangan yang tepat.
Naomi dan Olivia membantu Liam mengontrol intensitas cahaya yang dihasilkan Cahaya Nova.
Mereka berlatih di ruangan tertutup dengan tirai yang bisa disesuaikan tingkat kecerahannya.
"Kamu perlu bisa menyesuaikan kekuatan cahaya sesuai kebutuhan," ujar Olivia sambil membentuk tirai api tipis sebagai target. "Terlalu kuat bisa membuat musuhmu kebingungan, tapi juga bisa menyakiti orang tak bersalah di sekitar."
"Baik" ucap Liam.
Naomi menambahkan, "Dan ingat – kekuatanmu akan semakin kuat seiring dengan keyakinanmu untuk membantu orang lain."
Di akhir minggu pertama latihan, Liam berhasil menggunakan Pembersih Energi untuk membersihkan energi negatif dari taman kota yang mulai layu – hasilnya tidak sempurna, tapi sudah cukup membuat bunga-bunga kembali mekar beberapa hari kemudian.
Meskipun sering merasa lelah dan terkadang merasa frustasi karena kemajuannya yang lambat, Liam tidak pernah menyerah. Dia selalu ingat pesan dari Wujud Batu Keseimbangan: "Kekuatan yang tidak dikuasai dengan baik hanya akan menyebabkan kehancuran."
Pada hari Minggu pagi, ketika Liam sedang berlatih di taman kota, cincin di tangannya tiba-tiba menyala dengan cahaya keemasan yang jauh lebih terang dari biasanya. Cahaya itu bahkan cukup terang untuk membuat orang-orang di sekitarnya menoleh melihatnya.
"Kamu merasakan itu juga kan?" tanya Lyra yang datang menemukannya dengan wajah khawatir.
Liam mengangguk dengan serius. "Energi tidak seimbang yang sangat besar... jauh lebih kuat dari yang kita rasakan di Desa Cemara."
Mereka segera pergi menemui Pustakawan Elara di perpustakaan kerajaan. Setelah beberapa saat mencari catatan kuno, Elara menemukan sebuah buku besar dengan sampul kulit yang sudah lapuk:
"Ini adalah catatan dari penjaga batu yang ada seratus tahun yang lalu. Mereka menyebutnya 'Gelombang Kekosongan' – fenomena energi negatif yang muncul setiap seratus tahun dan bisa menghancurkan keseimbangan seluruh dunia."
Elara membuka halaman yang berisi gambar peta kuno. "Laporan terakhir datang dari beberapa desa di wilayah utara – Desa Mistar, Kampung Bunga Anggrek, dan Dusun Cemara Hijau. Semua melaporkan bahwa tanah menjadi tandus dalam waktu singkat, sungai mengering, dan makhluk hidup menjadi sangat agresif."
"Yang lebih mengkhawatirkan," lanjut Elara dengan suara yang menurun, "energi yang dilaporkan bukan berasal dari kekacauan yang tidak disengaja seperti yang kita hadapi sebelumnya. Ini terlihat seperti energi yang sengaja dikumpulkan dan dikelola oleh seseorang atau sesuatu yang sangat kuat."
Dari catatan yang ada, mereka menemukan bahwa Gelombang Kekosongan muncul ketika keseimbangan alam sangat terganggu – biasanya karena ada orang yang mencoba mengambil kekuatan dari semua elemen sekaligus tanpa memikirkan konsekuensinya.
Jika tidak dihentikan, energi negatif ini akan menyebar ke seluruh kerajaan dan menyebabkan kehancuran yang tidak terbayangkan.
Setelah membahas dengan cermat, Tim Pelindung Alam memutuskan untuk pergi menyelidiki sumber masalah tersebut.
Mereka menghabiskan beberapa hari untuk mempersiapkan perlengkapan – makanan yang cukup untuk dua minggu, ramuan pelindung dari Lyra, peralatan latihan, dan uang yang cukup untuk menginap di jalan.
Sebelum berangkat, mereka memutuskan untuk mengunjungi Desa Cemara untuk memberitahu Raven dan Guru Senja tentang hal ini.
Perjalanan ke desa memakan waktu satu hari penuh, tetapi mereka tidak keberatan – mereka ingin memastikan bahwa Raven tahu tentang ancaman baru yang datang.
Ketika mereka tiba di Desa Cemara, mereka melihat bahwa desa telah pulih dengan baik – tanah subur, anak-anak bermain di jalan, dan warga bekerja dengan riang di ladang. Guru Senja dan Raven sedang duduk di halaman rumahnya, sedang membahas sebuah buku mantra kuno.
Setelah Liam menjelaskan tentang Gelombang Kekosongan, Raven langsung berdiri dengan semangat.
"Aku ingin ikut membantu kalian! Aku sudah belajar banyak dari Guru Senja dan ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi bagian dari solusi, bukan masalah."
Guru Senja menyentuh bahu Raven dengan lembut. "Kamu sudah banyak belajar, tapi kamu masih belum siap menghadapi energi sebesar itu. Jika kamu ikut pergi, kamu bisa saja menjadi beban atau bahkan terpengaruh oleh energi negatif itu."
Raven tampak kecewa, tapi dia mengerti apa yang dikatakan Guru Senja. Dia masuk ke dalam rumah dan keluar membawa sebuah kalung dengan batu permata berwarna ungu tua yang mengkilap.