NovelToon NovelToon
Sahabatku Adalah Jodohku

Sahabatku Adalah Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Nikahmuda
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nayemon

sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RIUH RENDAH MENJELANG AKAD

Meskipun acara lamaran di kampung sudah usai dengan air mata bahagia, Jakarta menyambut kepulangan Arlan dan Kira dengan kesibukan yang sepuluh kali lipat lebih gila. Status "tunangan" ternyata membawa konsekuensi logis: persiapan pernikahan. Bagi Arlan yang seorang arsitek perfeksionis dan Kira yang seorang desainer dengan idealisme tinggi, menyatukan dua kepala untuk satu perayaan bukanlah perkara mudah.

​Pagi itu, di sebuah coffee shop di kawasan Jakarta Selatan, meja di depan mereka penuh dengan tumpukan brosur vendor, contoh kain undangan, hingga draf daftar tamu yang tampak seperti gulungan kertas tanpa akhir.

​"Lan, aku nggak mau gedung yang tertutup rapat. Aku mau yang ada area outdoor-nya, biar sirkulasi udaranya enak," ucap Kira sambil menandai salah satu brosur dengan pulpen merah.

​Arlan menyesap kopi hitamnya, matanya menatap tajam ke arah denah sebuah gedung. "Ra, ini bulan Juli. Statistik cuaca menunjukkan curah hujan sering tidak terduga di sore hari. Kalau kita pakai konsep outdoor tanpa tenda transparan yang strukturnya kuat, tamu-tamu kita bisa basah kuyup. Aku nggak mau desain acaramu hancur cuma karena air hujan."

​Kira meletakkan pulpennya, menatap Arlan dengan sedikit sebal. "Tuh kan, mulai deh kaku arsiteknya keluar. Ini pernikahan, Lan, bukan bangun jembatan layang! Estetika itu penting."

​"Keamanan dan kenyamanan tamu itu fondasi, Ra. Estetika itu finishing. Kamu nggak bisa pasang wallpaper bagus kalau dindingnya rembes, kan?" balas Arlan, meski nadanya tetap lembut.

​Kira mendengus, namun ia tahu Arlan benar. "Oke, tengah-tengah. Pakai area semi-outdoor yang ada atap kaca atau tenda dekoratif. Setuju?"

​Arlan tersenyum, lalu meraih tangan Kira di atas meja. "Setuju. Asalkan kamu jangan minta ada kolam ikan di tengah pelaminan."

​"Ih, siapa juga yang mau begitu!" seru Kira sambil tertawa, membuat beberapa pengunjung kafe menoleh.

​Kesibukan mereka tidak berhenti di sana. Masalah sesungguhnya muncul saat sesi "penyaringan daftar tamu". Sebagai dua orang yang sudah berteman selama sebelas tahun, lingkaran pertemanan mereka hampir 90% beririsan.

​Sore harinya, mereka duduk di sofa apartemen Kira, masing-masing memegang ponsel untuk mengecek daftar kontak.

​"Geng SMA kita... masuk semua kan?" tanya Kira.

​"Iya, sudah masuk. Tapi Ra, ini ada nama... Raka. Kamu beneran mau undang dia?" tanya Arlan, suaranya mendadak berubah sedikit datar.

​Kira menoleh, menahan senyum melihat ekspresi cemburu yang masih tersisa di wajah tunangannya. "Lan, Raka itu orang baik. Dia saksi sejarah gimana kamu 'meledak' di galeri foto itu. Lagipula, dia sudah kirim pesan selamat waktu kita tunangan. Masa nggak diundang?"

​"Ya... terserah kamu sih. Tapi kalau dia bawa kamera dan mulai memotretmu terlalu lama, jangan salahkan aku kalau aku minta sekuriti buat mengarahkannya ke arah prasmanan," gumam Arlan.

​"Posesifnya nggak hilang-hilang ya," goda Kira sambil mencubit pipi Arlan.

​"Bukan posesif, Ra. Ini namanya proteksi aset berharga," balas Arlan cepat, yang langsung disambut tawa cempreng Kira.

​Tiba-tiba, bel pintu apartemen berbunyi. Arlan bangkit untuk membukanya, dan betapa terkejutnya dia melihat Bu Rahmi berdiri di sana membawa sebuah kotak besar berwarna emas.

​"Ibu? Kok nggak kasih tahu mau ke sini?" Arlan membantu ibunya masuk.

​"Ibu habis dari butik langganan Ibu. Ini, Ibu bawakan beberapa contoh kain untuk seragam keluarga besar. Ibu mau Kira yang pilih warnanya," ucap Bu Rahmi dengan semangat yang luar biasa. Sejak menerima hubungan mereka, Bu Rahmi seolah menjadi ketua panitia pernikahan yang paling ambisius.

​Kira segera menyambut Bu Rahmi dan membantunya duduk. "Tante... eh, Ibu, nggak perlu repot-repot begini. Nanti Kira yang ke rumah Ibu saja."

​"Nggak repot, Sayang. Ibu senang sekali. Oh ya, tadi Ibu sempat bicara sama Safira lewat telepon," ucapan Bu Rahmi membuat suasana mendadak hening.

​Arlan dan Kira saling pandang.

​"Dia titip salam buat kalian berdua. Katanya dia nggak bisa datang ke pernikahan karena ada beasiswa singkat ke luar negeri, tapi dia kirim kado ini," Bu Rahmi mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil dari tasnya. Di dalamnya ada sepasang bros perak berbentuk burung cendrawasih yang sangat indah.

​"Dia sudah benar-benar ikhlas, Lan, Ra. Ibu lega sekali. Sekarang Ibu nggak punya beban lagi buat fokus ngurusin kalian," lanjut Bu Rahmi dengan mata berbinar.

​Kira merasa hatinya menghangat. "Terima kasih, Bu. Tolong sampaikan terima kasih kami juga ke Safira."

​Malam harinya, setelah Bu Rahmi pulang, Arlan dan Kira duduk di balkon apartemen, menatap lampu-lampu Jakarta yang tak pernah padam. Mereka merasa lelah secara fisik, namun secara mental, mereka merasa jauh lebih dekat dari sebelumnya.

​"Ra," panggil Arlan.

​"Iya?"

​"Kamu pernah bayangin nggak, kalau sebelas tahun lalu kita nggak ketemu di bawah hujan itu? Kira-kira sekarang kamu lagi ngapain?"

​Kira berpikir sejenak, menyandarkan kepalanya di bahu Arlan. "Mungkin aku lagi pusing cari pacar di aplikasi kencan, atau mungkin aku lagi lembur di kantor tanpa ada orang yang kirimin makanan atau marahin aku karena telat makan. Kamu sendiri?"

​"Aku mungkin jadi pria paling membosankan di Jakarta. Cuma kerja, pulang, desain, tidur. Nggak ada orang yang bikin aku marah-marah nggak jelas cuma gara-gara dia lupa taruh kunci motor," Arlan mengecup puncak kepala Kira.

​"Ih, kok malah bahas kunci motor sih!"

​"Hahaha, tapi itu kenyataannya, Ra. Kamu itu bumbu di hidupku. Tanpa kamu, desain hidupku itu cuma hitam putih, datar, dan kaku. Kamu yang kasih warna, kamu yang kasih tekstur."

​Kira menatap cincin di jarinya yang berkilau terkena cahaya lampu kota. "Lan, aku sempat takut waktu Ibu kita berantem kemarin. Aku pikir, persahabatan kita bakal hancur dan kita nggak bakal punya apa-apa lagi. Tapi ternyata, cinta kita emang sekuat semen bangunan buatanmu ya?"

​"Bukan cuma sekuat semen, Ra. Ini lebih kayak baja. Fleksibel tapi nggak akan patah. Kita sudah melewati ujian yang paling berat: restu orang tua. Sekarang, tantangannya cuma satu."

​"Apa itu?"

​"Gimana caranya supaya pas akad nanti, aku nggak nangis saking bahagianya," Arlan berkata dengan nada bercanda, namun Kira tahu ada kesungguhan di sana.

​"Kalau kamu nangis, aku bakal siapin tisu dari balik kebayaku. Tenang saja, sahabatmu ini selalu siap sedia," balas Kira sambil mengeratkan pelukannya.

​Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang bising, di balkon kecil itu, mereka menyadari bahwa pernikahan bukanlah akhir dari cerita mereka. Ini hanyalah pergantian bab dari "Sahabat Sebelas Tahun" menjadi "Pasangan Seumur Hidup". Masih akan ada perdebatan tentang warna gorden rumah, masih akan ada drama lupa menaruh barang, dan masih akan ada sate padang di pinggir jalan setiap malam minggu.

​Namun kini, mereka menjalaninya dengan kepastian bahwa mereka tidak lagi berjalan sendirian.

​"Lan," bisik Kira saat kantuk mulai menyerang.

​"Ya?"

​"Makasih ya sudah jadi sahabat terbaikku. Dan makasih sudah jadi calon suamiku."

​Arlan tersenyum, memejamkan mata sambil menghirup aroma rambut Kira yang selalu menenangkannya. "Sama-sama, Ra. Tidurlah. Besok kita harus fitting baju, jangan sampai kamu telat bangun lagi."

​"Siap, Bos Arsitek!"

​Malam itu ditutup dengan keheningan yang manis. Sebelas tahun yang lalu, hujan mempertemukan mereka. Sebelas tahun kemudian, cinta menyatukan mereka. Dan selamanya, mereka akan terus membangun struktur kebahagiaan mereka sendiri, bata demi bata, janji demi janji.

1
Penikmat Sunyi
Bagus, layak dibaca..
Nani Wulandari: trimakasih kak uda mampir di novelku ☺
total 1 replies
Penikmat Sunyi
Bagus banget cerita sampe sedih bacanya, semangat ya buat lanjutan ceritanya tulisanmu layak dibaca 💪👍😍. Aku tunggu eps selanjutnya 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!