NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa Dia ?

Hari ketiga belas. Pukul 10.00 WIB.

Dewa bersandar di dinding koridor Fakultas Ekonomi, matanya kosong menatap layar ponsel. Ini sudah menjadi rutinitasnya: mengantar Ibu Dosen menunggu, lalu mengantar lagi sebuah tugas, peran yang dijalaninya dengan datar tidak ada maksud tertentu.

Namun, semuanya berubah saat pintu lift terbuka.

Perempuan itu keluar, dan di sampingnya ada seorang pria berpostur tinggi, berdiri tegap dengan jas rapi, rambutnya yang mulai memutih di pelipis memberi kesan dewasa berwibawa. Tangannya bersentuhan sopan dengan punggung Dian—mungkin hanya gestur biasa, tapi bagi Dewa, itu adalah sebuah klaim teritorial yang halus.

Dewa membeku bukan cemburu, bukan. Itu kata yang terlalu sederhana yang ia rasakan lebih mirip... sinyal bahaya. Selama ini Ibu Dosen selalu kaku, menjaga jarak profesional. Tapi sekarang? Di hadapan pria itu, bahunya tampak lebih rileks senyumnya lebih mudah terkembang.

"Terima kasih sudah menyempatkan waktu," ucapnya terdengar lebih ringan dari biasanya. "Lama tidak bertemu."

"Untukmu, selalu," balas pria itu. Nada bicaranya tenang, penuh percaya diri seperti seseorang yang tahu persis di mana posisinya dalam hidup.

Dewa tetap diam di koridor, memperhatikan. Tatapan Dian sempat tertambat padanya, tapi tak ada perkenalan hanya perintah singkat, "Dewa, saya ada tamu. Anda bisa... istirahat dulu."

Istirahat dibebaskan atau disingkirkan?Ia hanya mengangguk. Di permukaan, ia patuh. Tapi di dalam kepalanya, alarm berbunyi keras. Siapa pria ini? Dan yang lebih penting, kenapa ia bisa membuat Dian—wanita yang selalu ia kira dingin—menjadi begitu berbeda?

 

Pukul 12.00 siang, di taman belakang kampus.

Roby menemukan Dewa sedang duduk di bangku taman, sibuk menulis sesuatu di buku catatan kecil tentang investigasi.

"Bro?" Roby menghampiri, duduk di sampingnya.

"Rob," Dewa menoleh, matanya tajam. "Gue perlu tahu pria yang tadi sama Bu Dian itu siapa?"

"Lho kenapa tanya ma gue ? Mana gue tahu."

" Gue liat Ibu Dian bersama seorang pria paruh baya tadi pagi di koridor."

" Mungkin bapaknya."

Dewa tertawa masam, " Gak mungkin, By, gak mungkin bapak nya, gue liat cara laki laki itu memperlakukannya beda ."

" Lo kepo, terserah dia mau bergaul, Ibu Dian kan dosen banyak koleganya."

" Lo gak mau bantuin teman."

Roby menghela napas panjang, "Ntar gue cari info. Tapi lo... lo yakin nggak cemburu?"

"Cemburu? Ngapain gue cemburu ? " Jawab Dewa tegas, tapi terlalu cepat. "Gue cuma perlu tahu. Cincin gue ada di tangannya. Trus tiba-tiba ada pria lain muncul pasti ada hubungannya."

Roby mengangguk paham. Temannya ini sedang tidak jatuh cinta. Dia sedang menjalankan misi untuk memastikan cincin itu sampai ke tangan yang tepat—atau setidaknya, untuk tahu apakah selama ini ia hanya menjadi pengantar cincin untuk orang yang salah, kasihan Sasha, tapi lebih kasihan dirinya sendiri.

"Oke, gue bantu cari tahu," kata Roby. "Tapi lo... lo bakal tetep jadi asistennya?"

"Tentu." Dewa menutup buku catatannya. "Gue harus tetap di dekatnya, ngamatin. Kalau ternyata pria itu hanya temannya, gue..."

"Lega?" tebak Roby.

"Lega," gumamnya bangkit berdiri, "Dan gue bisa ngelupain semua ini."Itu adalah kebohongan yang tidak ia sadari.

 

Pukul 15.00 WIB, Roby kembali dengan laporan.

"Bro, gue dapet info. Pria itu namanya Arif. Dosen tamu dari ITB, bidang Fisika. Usia 45 tahun, duda. Istrinya meninggal dua tahun lalu."

Dewa mencatat semuanya. Arif, ITB, duda. Profil yang bersih terlalu bersih.

"Ada lagi?"

"Ini yang menarik," Roby menurunkan volume suaranya. "Bu Dian juga alumni ITB. S3 di sana, sekitar 15 tahun lalu. Mereka... mereka satu angkatan, Bro kenalan lama."

Dewa mengangguk pelan, kenalan lama, bukan sekadar dosen tamu, kenalan biasa tapi mungkin mereka memiliki sejarah.

Dan tiba-tiba Dewa teringat sesuatu senyum kecil Dian tadi ringan, bebas, senyuman yang belum pernah ia lihat selama berminggu-minggu bekerja sebagai asisten pribadi.

 

Pukul 17.00 WIB, Perpustakaan.

Dewa "kebetulan" sedang mencari referensi di rak yang sama. Dari balik tumpukan buku, pandangannya mengintai meja pojok favorit Dian. Di sana, mereka duduk berhadapan. Buku-buku tebal berserakan di atas meja—jurnal statistik, paper fisika kuantum, jauh dari dunia teater yang selama ini Dewa kaitkan dengan Dian.

Arif tertawa. Dian—Dewa mengamati dengan saksama—hampir saja ikut tertawa. Tapi ia menahannya, hanya menyunggingkan senyuman kecil penuh arti.

Tak ada sentuhan gestur mesra, hanya kedekatan, bisikan-bisikan kecil tak sampai ke telinga Dewa. Tapi itu cukup. Cukup untuk membuatnya merasakan sesuatu yang mengganjal di dadanya, bukan cemburu. Ia bersikeras pada dirinya sendiri, hanya... terganggu, rencananya terganggu, misinya terganggu. Cincin yang ada di jarinya kini punya saingan berat.

 

Pukul 18.00 WIB, Parkiran.

Seperti biasa, Dewa menunggu. Tugasnya adalah mengantar Ibu Dian pulang pukul enam. Tapi sore itu, ia keluar dari lift bersama Arif. Mereka berjalan menuju sebuah BMW hitam berhenti. Dian menoleh dan melihat Dewa berdiri di samping motor bututnya.

"Oh, Dewa." nadanya terkejut, seperti baru ingat. "Anda... masih di sini?"

"Ini sudah jam enam, Bu. Tugas saya antar." suaranya datar, profesional menyembunyikan apa pun yang bergejolak di dalam.

Dian tampak bingung. Matanya bergerak antara Dewa, Arif, dan motor butut itu.

"Arif... Pak Arif bisa mengantar saya, mohon maaf anda tidak perlu—"

"Tidak apa-apa, Bu." Dewa sudah mengunci motornya. "Saya agak kurang enak badan biar Pak Arif saja yang antar. Saya... saya pulang sendiri."

Dewa berbalik dan pergi menjauhi motor, menjauhi mereka tanpa menoleh sekalipun. Ia tak marah tapi dadanya menghentak, mukanya memerah. Dari kejauhan, ia melihat perempuan itu masuk ke dalam mobil BMW. Melihatnya membukakan pintu mengulas senyum

Satu pertanyaan mengiang di kepalanya: Cincin gue... masih di jari dia? Atau sudah tergantikan?

 

Pukul 22.00 WIB, Apartemen Anggrek.

Dian tak bisa tidur duduk di tepi tempat tidur, cincin di tangannya diputar-putar, matanya kosong menatapnya.

Arif datang. Seorang duda dari masa lalunya. Mereka berbicara tentang Bandung, teater kampus, tentang mimpi-mimpi lama. Tapi tidak sekali pun ia menyinggung soal cincin ini. Tak ada pengakuan tanpa ada isyarat.

Lalu ada Dewa, asisten pribadinya yang polos, selalu datang dan pergi tepat waktu, selalu ada saat dibutuhkan. Tapi ia juga tak pernah bicara soal cincin.

Dua pria. Dua misteri. Dan Dian—dengan cincin yang masih setia melingkar di jarinya—tak tahu mana di antara mereka yang menjadi pengirimnya.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Arif masuk: "Terima kasih untuk hari ini. Besok, makan malam? Tempat lama di Kramat?"

"Mohon maaf saya tidak bisa."

" Saya cuma satu hari di Jakarta, Dian. Besok saya harus kembali ke Bandung."

" Tidak apa apa lain waktu."

" Oke saya tunggu kamu di Bandung."

Ia tak membalas justru mengambil ponsel satunya, melihat nomor Dewa yang hanya digunakan untuk urusan pekerjaan. Tak ada pesan. Tak ada panggilan tak terjawab.

"Aku harus tahu," bisiknya pada cincin itu. "Siapa yang mengirimkan. Arif? Atau Dewa? Atau... mungkin orang lain?"

Untuk pertama kalinya, ia merasa takut akan adanya pilihan, Arif, kekasihnya dulu yang menghancurkan atau Dewa, mahasiswa konyol mungkin menaruh perasaan padanya?

Padahal awalnya ia hanya ingin tahu siapa pengirim cincin bukan untuk jatuh cinta, bukan untuk memilih.

Atau—ia akui, hanya pada cincin di tangannya—mungkin semuanya sudah melewati batas itu?

Di sebuah kosan sederhana di Depok, Dewa tak bisa tidur buku investigasinya terbuka di pangkuannya.

Arif, ITB, Duda, Kenal Dian 15 tahun lalu.

Percakapan tentang "tempat lama di Kramat."

Kramat \= TIM \= teater \= masa lalunya.

Lalu ia menulis lagi: Tapi Arif nggak pegang tangan Dian. Nggak ada sentuhan. Cuma duduk dekat terlalu sopan. Lalu kenapa dia berbeda?

Roby, yang sudah setengah tidur di kasur sebelah, bergumam, "Bro... lu naksir dia, ya?"

"Enggak." Jawabnya terlalu cepat, terlalu defensif. "Gue cuma... gue harus mastiin. Cincin gue ada di tangannya. Tiba-tiba ada pria itu. Gue harus tahu..."

"Tahu apa?"

Dewa terdiam. Ia tak tahu jawabannya, yang ia tahu, besok jam enam sore, ia akan kembali ke Kramat bukan untuk mengantar, tapi untuk mengamati menyelidiki mencari jawaban.

Naksir?

Atau jangan-jangan, iya?

 

1
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!