"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Tawaran dari Nathan
🌹 PUISI: SEBELUM DURI BERBICARA
Ia mengira aku mawar yang merambat di tembok
Merayu dengan warna, lemah oleh semilir angin
Ia tak tahu, di bawah tanah yang gelap
Akar-akarku menjerat batu, meretakkan pondasi
Ia mengira aku kaca yang siap pecah
Bening, tembus pandang, mudah dibentuk
Ia tak sadar, setiap retak yang ia lihat
Adalah peta menuju kehancurannya sendiri
Sekarang ia berdiri di depan sangkar
Mengira akan melihat burung yang jinak
Tapi yang ia temukan
Adalah mata yang telah lama belajar
Bukan untuk memandang rendah
Tapi untuk mengukur
Seberapa dalam liang kuburnya nanti
— Alana Wijaya, malam sebelum badai
---
Tempat: Klub eksklusif The Ivory Tower, lantai 47. Sebuah ruangan privat dengan jendela kaca setinggi langit-langit yang memperlihatkan gemerlap kota di bawah. Lampu temaram, sofa kulit hitam, sebotol Macallan 50 tahun yang belum tersentuh di atas meja marmer.
Waktu: Jumat malam, 23.47 WIB.
Suasana: Sunyi yang mengganggu. Hanya suara denting es bergesekan dengan gelas kristal dan dengung halus pendingin ruangan.
Nathan Pramana duduk menyilangkan kaki, jas Armani abu-abu gelapnya terbuka satu kancing, dasi sedikit longgar—satu-satunya tanda bahwa ia manusia biasa, bukan patung marmer berdasi. Sorot matanya lurus menembus Alana yang berdiri tiga meter di depan, dekat jendela.
Ia baru saja mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang membuat udara di ruangan ini terasa lebih tipis.
"Aku tahu kau dalang di balik semua ini. Aku suka."
Alana tidak bergerak. Punggungnya masih membelakangi Nathan, tatapannya terpaku pada ribuan titik cahaya di luar sana. Di tangannya, setangkai mawar merah yang ia petik dari vas dekat pintu masuk—entah kenapa, ia membawanya masuk. Mungkin karena durinya mengingatkannya pada sesuatu.
Atau seseorang.
"Jangan campuri urusanku."
Suaranya datar. Tidak dingin, tidak panas. Seperti pisau yang baru selesai diasah—masih belum terlihat tajam, tapi sekali digores, darah akan mengucur.
Nathan tersenyum. Bukan senyum ramah. Ini senyum yang sama seperti saat ia menghancurkan kompetitor dalam satu putaran negosiasi. Senyum predator yang baru menemukan mangsa yang sama buasnya.
"Masalahnya," Nathan berdiri perlahan, mengambil gelas wiski dari meja, "urusanmu sudah menabrak jalanku sejak tiga minggu lalu."
Alana akhirnya berbalik. Matanya menyipit.
"Proyek pelabuhan di Batam," lanjut Nathan, menyesap wiski tanpa memalingkan pandangan. "Richard menjualnya ke kongsi Dagang Jaya seharga 400 miliar. Kau tahu siapa pemilik Dagang Jaya?"
Alana tidak menjawab. Tapi jari-jarinya sedikit menekan batang mawar.
"Sepupuku," kata Nathan. "Dan kau baru saja menghancurkan kesepakatan itu. Dalam dua minggu, investor Dagang Jaya mundur satu per satu. Semua karena... apa? Karena kau menyusupkan data kecurangan ke meja direksi mereka?"
Hening.
Alana menatap Nathan lebih lama. Lelaki ini bukan hanya tampan dengan rahang tegas dan mata hitam yang sulit dibaca—ia juga lebih pintar dari yang Alana kira. Dan lebih berbahaya.
"Kau menyelidikiku," ucap Alana akhirnya.
"Bukan menyelidiki." Nathan mendekat, satu langkah. "Mengagumi. Ada bedanya."
"Tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama mengganggu."
Nathan tertawa pelan. Tawanya dalam, seperti nada rendah cello di ruangan sunyi.
"Kau tahu apa yang paling menarik dari一个女人 yang jatuh?" ia berhenti dua meter dari Alana. "Bukan saat ia bangkit. Tapi saat orang-orang di sekitarnya tidak sadar bahwa ia sudah lama tidak lagi jatuh. Mereka masih mengira ia terbaring, padahal ia sedang merangkak—dan merangkak ke arah mereka."
Alana merasakan sesuatu bergetar di dadanya. Bukan takut. Bukan juga gentar. Ini perasaan aneh yang sudah lama tidak ia rasakan—perasaan dilihat.
Tapi ia segera menguburnya.
"Analisis psikologi murahan," balas Alana dingin. "Kalau kau pikir dengan omongan itu kau bisa membuatku lemah, kau salah."
Nathan mengangkat alis. "Aku tidak ingin kau lemah. Aku ingin kau lebih kuat."
Ia mengeluarkan sebuah map cokelat dari tas kulit di samping sofa, meletakkannya di atas meja. Alana tidak bergerak mendekat.
"Apa itu?"
"Kontrak kerja sama senilai 1,2 triliun," jawab Nathan santai. "Dana segar untuk perusahaan bonekamu. Yang kau dirikan diam-diam atas nama Lina Wijaya—pembantu rumah tanggamu, kan? Pintar."
Alana terkesiap. Perusahaan itu—Wijaya Estates—adalah proyek rahasia paling dijaganya. Hanya Lucas yang tahu.
"Jangan khawatir," Nathan mengangkat tangan, "aku tidak akan membocorkannya. Sebaliknya, aku ingin menambah modal. 70% untukku, 30% tetap kau pegang. Tapi kau tetap CEO penuh. Aku hanya duduk di kursi belakang."
Alana akhirnya mendekat. Ia mengambil map itu, membukanya, membaca cepat halaman demi halaman. Matanya semakin melebar.
Ini bukan kontrak biasa. Ini perjanjian yang—jika ditandatangani—akan memberinya akses ke jaringan internasional yang selama ini hanya bisa ia impikan. Pelabuhan, jalur distribusi, koneksi ke investor Eropa dan Timur Tengah.
Tapi ada satu halaman yang membuatnya berhenti.
Klausul 17: Pihak Pertama (Nathan Pramana) berhak atas satu permintaan di luar bisnis, yang akan ditentukan kemudian, dengan catatan tidak merugikan pihak Kedua secara fisik maupun finansial.
Alana menatap Nathan tajam.
"Apa artinya ini?"
Nathan mendekat, kini hanya satu lengan jaraknya. Aroma parfumnya—kayu cendana dan sesuatu yang hangat—mencapai indra Alana. Ia harus menguatkan diri agar tidak mundur.
"Itu artinya," suara Nathan hampir berbisik, "suatu hari nanti, aku akan meminta sesuatu. Mungkin secangkir kopi. Mungkin makan malam. Mungkin... kepercayaanmu."
Alana tertawa. Tawanya pahit.
"Kepercayaan? Kau tahu apa yang kulakukan pada orang yang pernah kupercaya?"
"Aku tahu. Dan aku tidak takut."
"Seharusnya kau takut."
"Tapi aku tidak." Nathan mencondongkan tubuh sedikit. "Karena aku bukan Richard. Dan aku juga bukan Viola. Aku tidak akan mengkhianatimu, Alana. Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu mengendalikan segalanya sendirian."
Alana memejamkan mata sejenak. Rasanya seperti berdiri di tepi jurang. Di belakangnya, api. Di depannya, Nathan—pria yang mungkin lebih berbahaya daripada Richard, karena ia pintar, karena ia melihat, karena ia tidak takut.
Dan karena, di lubuk hati yang paling dalam, Alana lelah.
Lelah berpura-pura. Lelah sendirian. Lelah menjadi batu.
Tapi ia adalah mawar berduri. Dan duri tidak bisa melunak hanya karena ingin dipegang.
"Aku tidak butuh partner," ucapnya akhirnya, menutup map. "Aku butuh alat. Kalau kau bisa menjadi alat, kita bicara lagi."
Nathan tidak tersinggung. Malah tersenyum lebar.
"Itulah yang kusuka darimu. Kau bahkan tidak repot-repot menyembunyikan ambisimu dengan manis." Ia mundur selangkah, mengambil jasnya. "Baik. Aku akan menjadi alatmu untuk sementara. Tapi ingat, Alana—alat yang terlalu tajam bisa melukai pemakainya."
Ia menuju pintu, lalu berhenti.
"Omong-omong, Viola baru saja menyewa detektif swasta. Ia curiga padamu. Mungkin karena kau terlalu tenang." Nathan menoleh, setengah profil. "Kalau kau butuh... 'bantuan' untuk menangani detektif itu, aku tahu orang yang bisa membuatnya lupa pernah melihat apa pun."
Alana tidak menjawab. Nathan keluar, meninggalkan ruangan yang tiba-tiba terasa hampa.
Sendirian, Alana menatap map di tangannya. Lalu menatap mawar yang masih ia genggam. Duri mawar itu telah menembus kulitnya—darah tipis mengalir di jari manisnya, tepat di tempat yang dulu ditempati cincin pernikahan.
Ia menghisap luka itu perlahan. Rasa besi di lidahnya terasa anehnya... membangkitkan semangat.
Pukul 01.23 WIB, di rumah Alana.
Lucas menelepon. Suaranya panik—hal langka.
"Al, kita punya masalah. Detektif yang disewa Viola... dia bukan detektif biasa. Dia mantan penyidik KPK. Dan dia sudah mendapatkan akses ke rekening-rekening lamamu. Rekening yang kita kira sudah aman."
Alana duduk di tepi tempat tidur. Kamarnya gelap, hanya diterangi lampu kota dari jendela. Ia masih memegang mawar itu.
"Lucas," katanya pelan, "ada seseorang yang menawarkan bantuan tadi malam. Aku pikir saatnya menerimanya."
"Hah? Siapa?"
"Nathan Pramana."
Hening panjang di seberang. Lalu Lucas bersiul pelan.
"Kau tahu reputasinya, kan? Orang bilang dia iblis berjas. Setiap kompetitor yang bekerja sama dengannya akhirnya... menghilang. Bukan secara fisik, tapi dari peta bisnis."
"Aku tahu."
"Dan kau tetap mau?"
Alana tersenyum di gelap. Senyum yang tidak akan dikenali oleh siapa pun—terlalu rumit, campuran antara bahaya dan harapan.
"Lucas, selama tiga tahun aku hidup dengan iblis-iblis kecil yang menyiksaku setiap hari. Mungkin sudah waktunya aku bertemu dengan iblis yang sebenarnya."
Ia menutup telepon.
Di luar, hujan mulai turun. Alana berjalan ke jendela, membukanya sedikit. Butir-butir air menerpa wajahnya, dingin, menyegarkan. Ia melihat ke bawah—lantai 18, jarak yang cukup untuk mengakhiri segalanya jika suatu saat ia memilih jalan itu.
Tapi ia tidak akan memilih.
Bukan karena takut mati. Tapi karena ia belum selesai hidup.
Dan Nathan Pramana... pria itu mungkin akan membuat hidupnya lebih rumit. Atau justru lebih berarti.
Alana tidak tahu. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan dirinya tidak tahu.
Pukul 06.47 WIB, keesokan paginya.
Ponsel Alana bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
"Detektif Viola sudah tidak ingat apa-apa. Ia pikir kemarin ia hanya mabuk di bar. Selamat pagi, Mawar. Sampai jumpa di kontrak kerjasama."
— NP
Alana membaca pesan itu tiga kali. Lalu ia menyimpan nomor itu dengan satu nama:
ALAT.
Di ujung kota yang lain, Nathan berdiri di balkon penthouse-nya, menghadap ke arah rumah Alana—jarak yang cukup jauh, tapi cukup dekat untuk membayangkan.
Ia tersenyum, menggenggam setangkai mawar merah yang sengaja ia ambil tadi malam dari ruangan yang sama. Mawar yang tertinggal, yang durinya telah melukai jari Alana.
Nathan menempelkan jarinya ke duri yang sama. Darah menetes.
"Selamat datang di permainan sebenarnya, Alana Wijaya," bisiknya pada angin pagi. "Aku sudah lama menunggumu."
---
Bersambung (ノ゚0゚)ノ→
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄