Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Magnet Wisata di Aliran Sungai Kenanga
waktu berputar dengan cepat, seperti roda traktor yang membajak sawah-sawah di Desa Kenanga. Tak terasa, sudah enam bulan lamanya Azura mencurahkan seluruh energi dan pemikirannya untuk membangun Tahta Baru bagi keluarganya. Dalam waktu singkat setengah tahun itu, ia tidak hanya berhasil menstabilkan bisnis keluarga, tetapi juga mengembangkan berbagai sektor usaha yang bisa dimanfaatkan secara langsung oleh warga desa. Salah satu proyek terbesarnya yang kini menjadi buah bibir hingga ke luar kabupaten adalah transformasi aliran sungai desa Kenanga menjadi destinasi air yang mempesona.
Desa Kenanga tidak lagi sepi seperti dulu. Umbul-umbul warna-warnu terpasang di sepanjang jalan masuk desa, berkibar menyambut perubahan zaman. Suara gemericik air sungai yang dulunya sebagai tempat mencuci baju, kini telah berubah menjadi simfoni yang mendatangkan pundi-pundi rupiah bagi seluruh warga.
Azura berdiri dengan anggun di samping sebuah prasasti batu kecil di pinggir sungai yang jernih. Hari ini adalah peresmian resmi "Wisata Aliran Kenanga"
"Dengan bismillah, tempat wisata ini resmi dibuka," ucap Azura singkat, diikuti tepuk tangan meriah dah sorak-sorai penuh syukur dari seluruh warga desa.
Sungai itu kini tertata rapi tanpa menghilangkan kesan alaminya tumbuh eceng gondok yang indah dengan bunga ungunya bermekaran menjadi daya tarik ke indahan. Azura membangun dermaga kayu, gazebo-gazebo bambu yang estetik untuk tempat bersantai, serta area river tubing yang aman bagi keluarga. tidak jauh dari sisi kanan sungai, tepat di samping rumah mewah keluarga Azura, berdiri sebuah bangunan semi-terbuka dengan desain industrial minimalis yang sangat modern. Itulah "Cafe Kopi Family" yang dikelola Fikri.
Pak Hadi dan Ibu Sulastri berdiri di teras depan rumah mereka, memandang sejauh mata memandang ke arah halaman yang kini ramai dikunjungi wisatawan.
"Untung ya, Pak, dulu Azura meminta posisi rumah kita agak menjorok jauh ke belakang dari jalan desa," ucap ibu Sulastri sambil menyeka keringatnya pelan, wajahnya tampak bangga.
Pak Hadi mengangguk setuju."Iya, Bu. Berkat itu halaman depan kita jadi luas sekali. Dua hektar tanah warisan orang tuamu ini jadi tidak sia-sia. Di samping cafe itu pun, Bapak sengaja buatkan area parkir khusus yang luas. Jadi mobil-mobil dan kendaraan wisatawan tidak parkir sembarangan dan tidak mengganggu jalan utama desa."
Di sudut halaman yang tertata rapi itu, Cafe Family tampak sangat sibuk. Selain kopi, ada menu andalan baru tang menjadi primadona : Es Teler Kenanga. Keistimewaannya terletak pada buah-buahnya yang segar karena dipetik langsung dari kebun mereka sendiri di belakang rumah. Tak jauh dari sana, deretan 100 pohon durian Musang king yang ditanam Pak Hadi dan Farhan tampak mulai berbuah, siap menjadi daya tarik tambahan bagi para pecinta durian untuk berkunjung ke sana.
Di dalam Cafe, aroma manis tercium sangat kuat. Brownis Caramel buatan Salsa, tenan sekolah Fikri, telah menjadi best seller. Salsa dengan telaten mengukus kue itu dibantu oleh Nurul. Azura teringat percakapan dengan Fikri saat cafe itu masih dalam tahap pembangunan.
"Kak, apa Fikri benar-benar boleh mengelola cafe sebesar ini?" tanya Fikri ragu saat itu
Azura menepuk bahu adiknya lembut. "Boleh, asalkan satu syarat: sekolah nomor satu. Cafe ini hanya boleh buka setelah kamu pulang sekolah, Fik. Dari siang sampai jam sembilan malam saja. Dan khusus hari Jumat, cafe harus tutup total agar kamu bisa fokus ibadah dan istirahat.
Kini, janji itu terwujud nyata. Di sela kesibukkan melayani pelanggan, Farhan yang baru saja kembali dari meninjau perkebunan melangkah mendekat ke arah Fikri yang sedang sibuk dengan kalkulator di pojok meja.
"Wah, asiknya yang lagi menghitung duit.... Sampai tidak dengar salam Mas," goda Farhan sambil mengintip angka-angka di buku catatan Fikri.
Fikri mendongak dengan mata berbinar. " Mas Farhan! Mas tahu tidak ? Omset bulan pertama kita tembus 150 juta rupiah! Padahal kira baru buka."
Farhan bersiul panjang. "Luar biasa! mau diapakan duit sebanyak itu, Fikri? Mau beli motor balap?"
Fikri menggeleng mantap."Bukan, Mas. Ini mau Fikri tabung buat masa depan persiapan mahar nikah nanti."
"Memangnya sudah ada calon,"
"Calon belum ada Mas, tidak salahkan persiapkan terlebih dahulu."
Tepat saat itu, Alya yang baru saja pulang kuliah lewat dan tertawa terbahak-bahak. "Wah, gawat! Ini namanya kalah start, Mas!" ledek Alya melirik Farhan. "Fikri yang masih SMA saja sudah mikirin mahar, lah ini Mas Farhan yang statusnya duda keren malah asik mengurus durian terus. Mas mau maharnya pakai bibit musang king?"
"Heh, sembarangan! Durian Mas itu kualitas ekspor,ya!" sahur Farhan
Di tempat wisata Azura duduk di gazebo bersama warga menikmati ke indahan sungai. Pikirannya melayang, visinya melampaui apa yang dia mimpikan. Ia menjalin kerja sama erat dengan kepala desa Kenanga, sebuah BUMDES didirikan dalam bentuk mini market yang sangat lengkap persis seperti yang ada di kota.
Tak hanya itu, Azura memutuskan yang membuat seluruh perangkat desa terenyuh. Ia secara resmi memberikan 2 persen dari total penghasilan tempat wisata setiap bulan miliknya untuk dikelola desa. Digunakan untuk membantu warga dan yang paling utama bisa membeli mobil ambulans.
Kini, dampak ekonomi terasa nyata. para ibu desa memiliki warung, para pemuda menjadi pemandu wisata, dan rumah warga mulai di jadikan homestay. Desa kenanga juga resmi menjadi pusat study tour kerajinan, di mana siswa dari kota datang belajar menganyam langsung dari ahlinya.
Ia melihat wajah bahagia warga desa kenanga, dengan tersenyum. Dibalik senyum itu, mata Azura harus tetap waspada. Ia tahu, kesuksesan sebesar ini adalah magnet bagi badai dari masa lalu.