NovelToon NovelToon
Legenda Api Yang Menghilang

Legenda Api Yang Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:626
Nilai: 5
Nama Author: Absonen

Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32 [Yang Di Jaga Oleh Anak kecil

Pagi di Desa Hinomura… selalu terasa sederhana.

Kabut tipis masih menggantung di antara rumah-rumah kayu.

Suara ayam berkokok, langkah kaki warga, dan percakapan ringan mengisi udara.

Tidak ada benteng.

Tidak ada pasukan.

Tidak ada penjaga.

Hanya manusia biasa… yang ingin hidup tenang

Di salah satu rumah kecil di pinggir desa

Seorang gadis kecil berdiri di depan pintu.

Rambutnya sedikit berantakan.

Matanya masih mengantuk.

Hina.

Di dalam pelukannya…

Seorang bayi kecil.

Noa.

“Hehe… bangun ya…”

Hina tersenyum kecil sambil mengayun tubuhnya perlahan.

Noa tidak menangis.

Tidak seperti bayi pada umumnya.

Ia hanya diam.

Menatap.

Tatapan yang… terlalu dalam untuk seorang bayi.

Hina tidak sadar.

Baginya, Noa hanya bayi yang harus dijaga.

Karena seseorang telah mempercayakan itu padanya.

“…Kak Akira bilang harus jaga kamu…”

bisiknya pelan.

“…jadi aku bakal jaga kamu.”

Di dalam rumah, seorang nenek tua duduk di kursi kayu.

Melihat mereka dengan mata lembut.

“Hina, hati-hati ya…”

“Iya, Nek!”

Hina keluar dari rumah.

Pagi itu terasa normal.

Namun hanya beberapa menit kemudian

Seekor burung tiba-tiba terbang menjauh dengan panik.

Angin yang tadi lembut…

Berhenti.

Hening.

“…eh?”

Hina menoleh.

Tidak ada apa-apa.

Namun perasaannya… tidak enak.

Noa di pelukannya tetap diam.

Matanya… perlahan bergerak.

Mengarah ke satu titik.

Ke arah hutan kecil di pinggir desa.

Suara langkah.

Pelan.

Berat.

Seseorang keluar dari balik pepohonan.

Tinggi.

Tubuhnya tidak wajar.

Kulitnya pucat… seperti mayat.

Matanya kosong.

Tidak ada mana.

Makhluk itu melangkah masuk ke desa.

Satu.

Dua.

“…monster…?”

suara warga mulai terdengar.

Beberapa orang keluar dari rumah.

Mereka tidak punya pedang.

Hanya tombak kayu.

Dan keberanian seadanya.

“Ambil senjata!”

“Tahan dia!”

Namun…

Makhluk itu tidak menyerang langsung.

Ia hanya berjalan.

Seperti… mencari sesuatu.

Hina membeku.

Kakinya tidak bergerak.

Noa di pelukannya tetap diam.

Namun matanya…

Berubah.

Sedikit.

Merah gelap.

Hitam.

Makhluk itu berhenti.

Kepalanya miring.

Seolah… menemukan sesuatu.

Lalu

Ia bergerak.

Cepat.

Langsung ke arah Hina.

“-HINA!!”

teriak seseorang.

Namun sudah terlambat.

Makhluk itu sudah sangat dekat.

Tombak warga tidak cukup cepat.

Hina memeluk Noa lebih erat.

Matanya tertutup.

“…jangan…”

Hening.

Tidak ada benturan.

Tidak ada teriakan.

Perlahan

Hina membuka matanya.

Makhluk itu…

Berhenti.

Tepat di depannya.

Tubuhnya bergetar.

Seperti… takut.

Noa membuka mulutnya sedikit.

Tidak menangis.

Tidak berbicara.

Namun

Udara berubah.

Tidak ada mana.

Namun tekanan… muncul.

Makhluk itu…

Retak.

CRACK…

Tubuhnya hancur.

Menjadi abu hitam.

Hilang.

Hening.

Semua warga membeku.

“…apa… tadi itu…”

“…siapa yang…?”

Semua mata…

Perlahan mengarah ke Hina.

Dan bayi di pelukannya.

Hina sendiri gemetar.

Namun ia tidak mundur.

Ia memeluk Noa lebih erat.

“…aku… gak tau…”

Seorang warga berbisik pelan:

“…itu… sama seperti waktu itu…”

“…iya…”

“…Akira… dan istrinya…”

Mereka saling pandang.

“…mereka juga… melawan makhluk tanpa mana…”

Hening.

Rasa takut… mulai muncul.

Namun tidak sepenuhnya.

Karena ada sesuatu yang lain.

Harapan.

Hina menatap Noa.

Matanya masih gemetar.

“…aku gak peduli…”

Ia menggeleng pelan.

“…aku bakal jaga kamu…”

“…soalnya… ini janji aku.”

Ia memeluk Noa lebih erat.

Dan Noa…

Kembali diam.

Seperti tidak terjadi apa-apa.

Malam datang.

Desa kembali tenang.

Namun tidak seperti sebelumnya.

Di dalam rumah

Hina tertidur di samping Noa.

Neneknya sudah lebih dulu terlelap.

Lampu kecil menyala redup.

Noa membuka matanya.

Perlahan.

Ia duduk.

Tidak seperti bayi biasa.

Tatapannya… kosong.

Lalu ia melihat ke arah jendela.

Ke arah kegelapan.

Dan di sana

Sesuatu…

Menatap balik.

Dua mata.

Kuning.

Namun kali ini

Bukan satu-satunya.

Lebih dari satu.

Lalu

Semua itu…

Hilang.

Jauh di tempat lain.

Gelap.

Sunyi.

Sebuah singgasana berdiri di tengah ruangan luas.

Di atasnya

Duduk seorang pria.

Matanya merah.

Senyumnya tipis.

Argiel Lucifer

Di sampingnya

Seorang wanita bersandar santai.

Matanya tajam.

Bibirnya melengkung tipis.

Railer Zernaldha

“…menarik.”

Railer berkata pelan.

“…anak itu mulai bergerak.”

Argiel tertawa kecil.

“…akhirnya.”

Railer menatapnya.

“…kau terlalu santai.”

“…dunia ini mulai bergerak lagi.”

Argiel menyandarkan dagunya di tangan.

“…biarkan saja.”

“…semakin mereka bergerak…”

“…semakin mudah dihancurkan.”

Railer tersenyum.

“…kalau begitu…”

“…gunakan dia.”

Hening.

Argiel mengangkat sedikit tangannya.

Bayangan muncul.

Dari kegelapan.

Seorang sosok.

Matanya menyala.

Namun bukan merah.

Hijau gelap.

Aura dingin.

Penuh kebencian.

“…datang.”

Sosok itu berlutut.

“…perintah, Tuanku.”

Argiel tersenyum.

“…pergi.”

“…dan hancurkan kerajaan itu.”

“…buat mereka saling membenci.”

“…seperti dirimu.”

Railer menambahkan pelan:

“…iri adalah awal dari kehancuran.”

Sosok itu tersenyum.

“…aku mengerti.”

Namanya

Vyre.

Dosa Iri Hati.

Ia menghilang.

Argiel menatap ke depan.

“…sekarang…”

“…mari kita lihat…”

“…siapa yang akan pecah duluan.”

Di sebuah kerajaan jauh.

Tembok besar berdiri kokoh.

Air mengalir tenang di bawahnya.

Seorang gadis berdiri di atas tembok itu.

Matanya lembut.

Namun waspada.

Grandmaster Air.

Ia menatap ke arah horizon.

Dan tanpa ia sadari

Sesuatu…

Sedang mendekat.

1
ŇØŞŦŘΔĐΔΜỮŞ
flbck kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!