NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjodohan yang Tak Terduga

Sinar matahari pagi menembus celah gorden apartemen Arga yang minimalis. Pria itu sudah rapi dengan kemeja putih yang disetrika sempurna, tangannya lincah memasang jam tangan stainless steel miliknya. Rutinitas adalah pelindungnya; selama ia mengikuti jadwal, hidupnya terasa terkendali.

Namun, pesan dari ibunya semalam terus membekas seperti noda yang sulit hilang.

Arga menghela napas, menyambar kunci mobil dan tas kerjanya. Alih-alih langsung ke kantor, ia memutar kemudi menuju rumah masa kecilnya di daerah perumahan asri yang tenang. Ia tahu, menunda pembicaraan ini hanya akan membuat ibunya mengirimkan lebih banyak pesan bernada "ancaman" halus.

Sesampainya di sana, aroma teh melati dan kue basah sudah menyambut. Ibunya, Widya, duduk di ruang tamu dengan senyum yang sulit diartikan—campuran antara kasih sayang dan tekad baja.

"Duduk, Ga. Ibu kira kamu bakal beralasan ada rapat darurat lagi," sindir Widya lembut sambil menuangkan teh.

Arga duduk di hadapan ibunya, mencoba tetap tenang. "Arga selalu ada waktu buat Ibu, kalau memang penting."

"Ini sangat penting, Arga. Ini soal masa depan kamu. Bukan soal saham atau tender proyek," Widya meletakkan cangkirnya. "Ada teman lama Ibu, Tante Sarah. Kamu mungkin nggak ingat, tapi dulu kita sering bersama. Dia punya seorang putri bernama Nara."

Arga sedikit mengernyit. Nama itu terdengar asing, meski ada sesuatu yang menggelitik ingatannya—mungkin sekilas bayangan mata cokelat di bawah rintik hujan semalam? Ah, tidak mungkin. Itu hanya kebetulan.

"Ibu dan Tante Sarah sudah bicara banyak. Kami ingin kalian saling mengenal. Secara serius," lanjut Widya tanpa basa-basi.

Arga menyandarkan punggungnya, rahangnya sedikit mengeras. "Bu, Arga lagi fokus banget sama ekspansi kantor. Pernikahan itu... bukan sesuatu yang bisa dipaksakan lewat obrolan teh pagi begini. Arga nggak punya waktu buat drama perjodohan."

"Ini bukan drama, Arga. Ini tentang komitmen. Ibu kenal Nara. Dia anak yang mandiri, dia punya karir sendiri di bidang desain, dan dia punya ketulusan yang jarang Ibu lihat di perempuan lain. Dia bukan tipe yang bakal ganggu kerjaan kamu, tapi dia tipe yang bakal bikin kamu tahu kenapa kamu harus pulang ke rumah setiap malam."

Arga terdiam. Kalimat ibunya telak menghantam egonya. Baginya, komitmen adalah kata suci yang selama ini ia terapkan hanya pada pekerjaan. Mengetahui bahwa ibunya menggunakan kata yang sama untuk seorang perempuan bernama Nara, membuatnya sulit untuk langsung menolak.

"Nara sudah setuju untuk bertemu?" tanya Arga akhirnya, suaranya rendah.

"Dia setuju untuk mencoba, Ga. Dia juga punya prinsip yang sama kuatnya dengan kamu. Pertemuan kalian dijadwalkan besok malam di restoran hotel biasa kita makan," Widya tersenyum, merasa menang satu langkah.

Arga memijat pangkal hidungnya. Di balik meja kantornya yang rapi, ia merasa sanggup menaklukkan dunia bisnis. Tapi di hadapan rencana perjodohan ini, ia merasa seperti anak kecil yang kehilangan arah.

"Satu kali pertemuan," ujar Arga tegas. "Kalau nggak cocok, Ibu jangan paksa lagi."

Widya mengangguk setuju. "Ibu pegang janji kamu."

Sepanjang jalan menuju kantor, pikiran Arga tidak lagi fokus pada grafik pertumbuhan. Ia membayangkan sosok Nara—apakah dia tipe perempuan manja yang hanya mengincar posisinya sebagai CEO? Atau dia benar-benar "pucuk" harapan seperti yang digambarkan ibunya?

Di tempat lain, di sebuah studio desain yang sibuk, Nara sedang menatap layar komputernya dengan tatapan kosong. Ia baru saja menutup telepon dari ibunya tentang pertemuan besok malam. Luka dari masa lalunya masih terasa perih jika diingat, membuatnya ragu apakah ia siap membuka hati lagi. Namun, tanggung jawab dan harapan orang tua adalah beban yang tak bisa ia abaikan begitu saja.

Besok malam bukan hanya tentang pertemuan dua orang asing, tapi tentang dua dunia yang sangat berbeda yang dipaksa bersinggungan oleh keadaan.

-----------

Arga menghabiskan sisa hari itu di kantor dengan perasaan yang tidak menentu. Setiap kali ia mencoba fokus pada laporan keuangan, bayangan percakapannya dengan Ibunya tadi pagi terus berputar-putar. Baginya, perjodohan terdengar seperti cara kuno yang tidak logis, namun ia juga tahu bahwa ibunya jarang sekali bersikap sekeras ini jika tidak benar-benar yakin.

Ia melirik kalender digital di mejanya. Besok malam. Kotak kecil di tanggal itu seolah menertawakan jadwalnya yang biasanya sangat teratur.

"Nara..." gumam Arga pelan, mencoba merasakan artikulasi nama itu di lidahnya. Nama yang sederhana, namun entah kenapa terasa berat saat diucapkan dalam konteks pernikahan.

Arga berdiri dan berjalan menuju dispenser kopi di sudut ruangan. Ia butuh kafein ekstra untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Saat ia menyesap kopi pahitnya, ia teringat satu hal yang belum ia tanyakan pada ibunya: Siapa sebenarnya Nara di luar deskripsi 'anak teman lama' itu?

Ia sempat terpikir untuk mencari nama itu di LinkedIn atau media sosial lainnya. Sebagai CEO, melakukan background check adalah hal lumrah baginya sebelum menjalin kerja sama bisnis. Namun, ia segera mengurungkan niat itu. Ada bagian dari dirinya yang ingin tetap menjaga pertemuan ini tetap murni sebagai "pertemuan manusia", bukan analisis data korporat.

"Kalau dia cuma mengincar posisi saya, saya akan tahu dalam lima menit pertama," batin Arga dengan penuh percaya diri yang sedikit angkuh.

Sementara itu, hujan di luar jendela kantornya mulai turun lagi, persis seperti malam sebelumnya. Arga kembali teringat pada perempuan di teras kafe kemarin malam. Apakah Nara tipe perempuan yang akan berdiri kaku di bawah hujan seperti itu? Ataukah dia tipe yang sudah menyiapkan payung jauh-jauh hari sebelum mendung datang?

Arga kembali ke kursinya, merapikan beberapa berkas yang terserak. Ia memutuskan untuk menyelesaikan semua pekerjaannya lebih cepat malam ini. Ia butuh istirahat agar besok malam ia bisa tampil dengan kendali penuh—setidaknya, ia ingin menunjukkan bahwa meski ini perjodohan, dialah yang tetap memegang kendali atas keputusannya sendiri.

Tanpa ia sadari, di sebuah studio desain yang letaknya hanya beberapa kilometer dari kantornya, Nara juga sedang melakukan hal yang sama. Ia merapikan sketsa-sketsanya dengan jemari yang sedikit gemetar, menatap layar ponselnya yang menampilkan alamat restoran hotel tempat mereka akan bertemu besok.

Perjodohan ini bukan sekadar janji antar orang tua bagi mereka berdua. Bagi Arga, ini adalah ujian atas prinsip logikanya. Bagi Nara, ini adalah taruhan atas sisa harapan yang ia miliki. Dan di balik meja kantor masing-masing, keduanya sama-sama tidak tahu bahwa esok malam akan menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih rumit dari sekadar "saling mengenal".

-----------

Arga mematikan layar monitornya, membuat ruangan itu seketika jatuh dalam remang yang hanya diterangi lampu jalanan dari balik jendela. Ia meraih jas yang tersampir di sandaran kursi, lalu memakainya dengan gerakan yang sangat terukur.

Setiap kancing yang ia pasang seolah-olah adalah benteng yang ia bangun untuk melindungi dirinya dari ketidakpastian besok malam.

"Pucuk indah harapan," gumam Arga, mengingat judul proyek yang sempat ia lihat di meja salah satu manajer kreatifnya tadi siang. Entah kenapa, frasa itu terasa sangat relevan sekarang. Ia merasa seperti seseorang yang sedang dipaksa menanam benih di tanah yang ia sendiri ragu apakah subur atau justru gersang.

Ia melangkah keluar dari ruangannya, melewati kubikel-kubikel kosong yang sudah ditinggalkan karyawannya. Suasana kantor yang sepi biasanya memberinya ketenangan, tapi malam ini, kesunyian itu justru terasa menyesakkan. Ia merasa ada sesuatu yang besar sedang mengintai di balik kalender kerjanya.

Sambil menunggu lift, Arga mengeluarkan ponselnya. Ia hampir tergoda untuk menelepon asisten pribadinya dan meminta jadwal besok malam dikosongkan secara total, tanpa alasan. Tapi ia segera menepis pikiran itu. Ia bukan pengecut. Jika memang Nara adalah orang yang dipilih ibunya, ia akan menghadapinya dengan cara yang sama seperti ia menghadapi negosiasi bisnis yang paling alot sekalipun: dengan tenang, tajam, dan tanpa kompromi.

Lift berdenting terbuka di lantai dasar. Arga melangkah menuju area parkir dengan langkah mantap. Di dalam mobil, ia sengaja tidak menyalakan musik. Ia membiarkan pikirannya bergelut dengan skenario-skenario yang mungkin terjadi besok.

"Pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, Arga," bisiknya pada diri sendiri, mengulangi mantra yang selalu ia yakini. "Ini tentang siapa yang bisa bertahan di sampingmu saat dunia sedang kacau."

Ia melajukan mobilnya keluar dari area gedung, melewati perempatan yang sama dengan malam sebelumnya. Kafe itu masih di sana, tapi terasnya sudah kosong. Tidak ada lagi perempuan dengan mata cokelat yang terjebak hujan. Hanya ada genangan air yang memantulkan cahaya lampu jalanan yang kuning suram.

Arga tidak tahu bahwa di saat yang sama, Nara sedang menutup laptopnya di studio, menarik napas panjang sambil menatap sketsa terakhirnya—sebuah desain pucuk daun yang baru saja ia selesaikan. Ia juga sedang mempersiapkan mentalnya untuk sebuah "pertemuan bisnis" paling krusial dalam hidupnya, yang sayangnya, tidak melibatkan kontrak di atas kertas, melainkan janji di depan orang tua.

Malam itu, di bawah langit Jakarta yang masih menyimpan sisa gerimis, dua orang yang merasa paling logis dalam hidupnya masing-masing, tertidur dengan kegelisahan yang sama. Tanpa mereka sadari, babak perjodohan yang mereka anggap beban ini, sebenarnya adalah jembatan menuju sesuatu yang sudah lama hilang dari hidup mereka: harapan yang tulus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!