NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 25

Matahari mulai condong ke barat saat mereka menuruni lembah, meninggalkan sang bunga raksasa yang kini mekar dengan angkuh di bawah perlindungan Si Mbah Jagat. Perjalanan pulang terasa lebih ringan, meski kaki mereka berlumuran lumpur dan peluh membasahi pakaian.

"Siti," panggil Mahesa sambil melompati akar meranti yang melintang. "Kenapa tadi kamu tidak takut saat melihat 'kucing besar' itu? Padahal jaraknya hanya beberapa puluh meter dari tempatmu duduk."

Siti menoleh, senyumnya polos namun menyimpan kedalaman yang sulit dijelaskan. "Dia kan tetangga, Pak Mahesa. Ibu bilang, kalau kita tidak berniat mengambil apa pun dari rumahnya, dia juga tidak akan mengambil apa pun dari kita. Dia cuma mau lihat bunga itu juga, barangkali."

Siska tertegun mendengar jawaban itu. Logika sederhana yang selama ini coba ia rumuskan dalam puluhan jurnal keberlanjutan ternyata tersimpul dalam satu kalimat anak desa.

Sesampainya di pinggiran desa, mereka tidak langsung menuju pondok. Mereka berhenti di lapangan tempat helikopter sewaan itu mendarat kemarin. Bekas tapak ban dan injakan sepatu pantofel para tamu masih terlihat jelas di tanah yang becek—sebuah luka kecil di permukaan bumi yang akan segera sembuh oleh hujan berikutnya.

"Kira-kira, apa yang sedang mereka bicarakan di ruang rapat mereka sekarang?" tanya Andi sambil membersihkan parangnya dengan daun kering.

Mahesa tertawa kecil, membayangkan para direktur itu sedang mandi air hangat di hotel berbintang, mencoba menghilangkan bau lumpur yang mungkin masih menempel di sela kuku mereka. "Mereka pasti sedang berdebat tentang Return on Investment yang tidak masuk akal. Mereka bingung bagaimana cara memasukkan 'keikhlasan' ke dalam tabel Excel."

"Atau mungkin," sela Siska, "salah satu dari mereka sedang diam di depan jendela kantornya yang tinggi, menatap kemacetan Jakarta, dan tiba-tiba merasa bahwa ruangan ber-AC itu terasa jauh lebih sempit daripada hutan yang kita lalui tadi."

Malam itu, desa Arlan mengadakan syukuran kecil atas mekarnya bunga bangkai dan kembalinya sang predator puncak. Tidak ada pesta mewah, hanya nasi jagung, ikan asin, dan sambal ulek yang dinikmati bersama di balai desa yang diterangi lampu bertenaga surya—sisa teknologi Mahesa yang paling berguna.

Dedi dan anak-anak lainnya sibuk memeragakan bagaimana cara mereka "menobatkan" pohon-pohon baru hari ini. Suasana begitu cair, seolah batas antara CEO, insinyur, dan warga desa telah lebur sepenuhnya menjadi satu identitas: penduduk bumi.

Saat pesta usai dan warga mulai kembali ke rumah masing-masing, Siska, Andi, dan Mahesa berjalan pelan menuju jembatan ulin mereka. Mereka berdiri berjajar, menatap pantulan bintang di permukaan sungai yang tenang.

"Ma," panggil Andi. "Kau benar-benar tidak merindu pada laboratoriummu yang canggih itu?"

Mahesa menggeleng mantap. "Laboratorium tercanggih ada di depan mata kita, Ndi. Dia memproses karbon, mengatur air, dan menciptakan kehidupan tanpa perlu satu pun teknisi. Aku hanya ingin jadi asistennya saja sekarang."

Siska menarik napas dalam, merasakan udara malam yang bersih merasuk ke paru-parunya. "Dulu kita pikir kita sedang menyelamatkan Arlan. Ternyata, Arlan-lah yang sedang menyembuhkan kita."

Tiba-tiba, dari arah hutan, terdengar suara raungan jauh yang berwibawa. Bukan raungan kemarahan, tapi sebuah pengumuman bahwa sang penguasa telah bangun. Suasana mendadak hening, bahkan angin seolah berhenti berdesir untuk memberi hormat.

Mereka bertiga tersenyum dalam kegelapan. Kisah ini tidak berakhir dengan tepuk tangan atau piagam penghargaan, melainkan dengan sebuah kesepakatan sunyi antara manusia dan alam yang telah lama hilang.

Kehidupan di Arlan akan terus berdetak, mengikuti ritme yang sudah ada ribuan tahun sebelum mereka lahir, dan akan terus ada ribuan tahun setelah mereka kembali menjadi tanah.

Waktu terus bergulir, namun di Arlan, waktu tidak lagi terasa seperti garis lurus yang mengejar tenggat, melainkan sebuah lingkaran yang tenang.

Beberapa minggu setelah mekarnya bunga bangkai, rutinitas mereka berubah menjadi sebuah bentuk meditasi harian. Siska tidak lagi memeriksa email; ia memeriksa kelembapan tanah di sekitar bibit ulin yang baru disemai. Andi tidak lagi menghitung biaya produksi; ia menghitung jumlah serangga penyerbuk yang hinggap di kebun buah. Dan Mahesa, pria yang dulu hidup demi data, kini lebih sering terlihat duduk diam di tepi sungai, sekadar mendengarkan frekuensi hutan yang ia sebut sebagai "musik paling murni di alam semesta".

Suatu sore, sebuah perahu kayu kecil menyusuri sungai membawa seorang pria tua dari desa tetangga yang terletak jauh di hilir. Ia membawa kabar bahwa di sana, orang-orang mulai mengikuti apa yang dilakukan di Arlan. Mereka tidak lagi menebang pohon untuk dijual sebagai kayu glondongan, melainkan mulai menanam rotan di bawah naungan pohon-pohon besar, karena mereka melihat Arlan tetap bisa hidup tanpa harus merusak.

"Kabar itu menyebar seperti spora, Sis," ujar Mahesa saat mereka duduk di teras pondok malam itu. "Tanpa iklan, tanpa kampanye besar-besaran. Orang-orang melihat hasilnya secara nyata: air yang tetap jernih saat musim kemarau dan hutan yang memberi makan tanpa menuntut nyawa."

Siska mengangguk, tangannya sibuk menganyam rotan bersama Siti. "Itu karena mereka melihat bahwa kita tidak sedang melakukan proyek. Kita sedang hidup. Ada perbedaan besar antara 'mengelola lingkungan' dan 'menjadi bagian dari lingkungan'."

Andi muncul dari dalam pondok, membawa sebuah papan kayu ulin kecil yang sudah ia haluskan. Di papan itu, ia tidak menuliskan judul jabatan atau nama perusahaan. Ia hanya mengukir satu kalimat sederhana dengan pisau rautnya:

"Rumah Pulang"

Ia memaku papan itu di tiang utama jembatan mereka. Bukan sebagai penanda wilayah, tapi sebagai pengingat bagi siapa pun yang sampai ke tempat itu bahwa perjalanan mereka mencari makna hidup telah berakhir di sini.

Malam itu, hujan turun dengan derasnya—hujan khas Borneo yang berat dan beraroma tanah segar. Mereka bertiga duduk di dalam pondok dengan lampu minyak yang temaram. Suara hujan yang menghantam atap sirap kayu terdengar seperti perkusi yang menenangkan. Tidak ada rasa takut akan banjir, tidak ada kecemasan akan hari esok.

Di sudut ruangan, Dedi dan Siti tertidur lelap beralaskan tikar pandan. Mereka adalah benih yang sebenarnya; mereka adalah alasan mengapa Siska, Andi, dan Mahesa rela meninggalkan segala gemerlap Jakarta.

"Aku sering berpikir," bisik Andi di tengah suara hujan. "Jika dulu kita gagal di Jakarta, apa kita akan tetap sampai di sini?"

Siska tersenyum, menatap bayangan mereka yang menari di dinding kayu. "Kegagalan kita di sana adalah tiket masuk kita ke sini, Ndi. Kadang dunia harus meruntuhkan egomu sebelum ia menunjukkan padamu tempat di mana kamu sebenarnya dibutuhkan."

Mahesa mematikan lampu minyak, membiarkan kegelapan yang hangat menyelimuti mereka. "Tidurlah. Besok pagi, Si Mbah Jagat akan butuh bantuan kita untuk membersihkan jalur dari dahan yang patah akibat angin malam ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!