Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.
Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.
Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.
୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan Pertama
...୨ৎ──── C A V E L L ────જ⁀➴...
Aku cuma bisa tidur tiga jam sebelum akhirnya benar-benar terbangun.
Saat mengenakan celana chino dan sweater, pikiranku kembali ke minggu lalu.
Untungnya kami berhasil menemukan Eva. Setelah melihat Farris hampir kehilangan akal, jelas sekali kalau pria itu mencintainya.
Harus aku akui, Eva cukup membuatku terkesan. Itu jarang terjadi. Dia membunuh seorang bajingan hanya dengan sepatu hak tinggi.
Mungkin aku juga harus lebih berhati-hati dengan Cherry dan sepatu hak 13 sentimeternya.
Tawa kecil lolos dari mulut aku, dan suara itu malah membuat aku sendiri terkejut.
Setelah menyelipkan Glock aku di pinggang celana, aku keluar dari kamar. Aku menuruni tangga dan saat mendekati ruang santai milik Mama, aku mendengar Bibi Keii berkata, "aku lebih suka season yang ada Ratu Charlotte."
"Aku juga," jawab Mama.
Saat aku masuk ke ruangan, tatapan Cherry langsung tertuju ke aku.
"Kamu tidur?"
"Tiga jam," gumamku sebelum menggenggam tangan Mama dan membantu dia berdiri.
Aku menoleh ke Cherry. "Kasih aku tiga puluh menit, lalu kita bicara."
"Oke." Dia melirik antara aku dan Mama. "Gak perlu terburu-buru."
Saat aku membawa Mama ke koridor, dia bertanya, "Bicara apa?"
"Nanti Mama juga tahu."
Alih-alih menuju solarium, aku menekan tombol lift dan kami naik ke lantai dua.
Begitu masuk ke suite Mama, aku berkata, "aku sudah memutuskan apa yang akan aku lakukan dengan Cherry."
"Oh?"
Ekspresi wajahnya jelas menunjukkan dia sangat ingin mendengar jawabannya.
"Aku bakal menikahinya."
Senyum lebar langsung muncul di wajahnya. "Itu kabar yang sangat bagus."
Aku berdeham. "aku butuh cincin tunangan."
Wajah Mama langsung dipenuhi emosi. aku memperhatikannya saat dia berjalan ke meja riasnya. Dia membuka kotak perhiasan dan jarinya menyentuh beberapa cincin sebelum mengambil yang tepat.
Cincin tunangan itu diwariskan dari nenek aku.
Mama mendekat lalu mengangkat cincin itu.
"Mama rasa kamu membuat keputusan yang tepat. Mama berharap sepenuh hati Cherry akan membuatmu bahagia."
Aku mengambil cincin itu dan memasukkannya ke saku sebelum menarik Mama ke dalam pelukan. "Makasih, Ma."
"Cobalah jadi suami yang baik," gumamnya di dadaku.
"Iya," jawabku. aku menjauh sedikit dan menatap satu-satunya wanita yang pernah aku cintai. "Aku gak akan mengecewakan Mama."
Dia mengangkat tangannya dan menepuk pipi aku seperti aku masih anak kecil.
"Mama tahu, anakku." Ujung jarinya menyentuh wajahku sebelum dia bertanya, "Kamu baik-baik aja?"
"Iya. aku cuma capek."
"Kapan kamu akan libur?"
"aku cuma lagi urus satu masalah. Setelah selesai, aku akan ambil libur."
Mama menurunkan tangannya. "Kapan pernikahannya?"
"aku harus bicara dulu dengan Cherry."
"Beri tahu Mama begitu kamu menentukan tanggalnya."
aku mengambil lengan Mama dan menggandengkannya dengan lenganku lalu membawanya keluar dari kamar.
Saat kami turun ke lantai satu, aku berkata, "aku sudah kasih Cherry kartu kredit supaya dia bisa beli pakaian. aku akan menghargai kalau Mama mau menemaninya belanja dan mengajarinya apa yang harus dia perhatikan saat berada di luar. Sebagai tunangan aku, dia akan jadi target."
"Tentu saja. Sekalian aku bisa mengurus belanja Natal."
Saat masuk ke ruang santai, aku membantu Mama duduk sebelum menoleh ke Cherry.
"Ikut," perintahku lalu berjalan menuju solarium.
aku mendengar suara sepatu hak tinggi Cherry berlari mengejarku, dan aku memperlambat langkah.
Begitu masuk ruangan, aku menyalakan lampu. Cahaya kuning lembut memenuhi ruangan yang dipenuhi tanaman.
"Tempat ini indah sekali," desah Cherry sambil melihat lampu dan pot tanaman di sekelilingnya.
aku berjalan ke sofa yang sebagian tersembunyi di balik tanaman, lalu mengeluarkan cincin dari saku sebelum duduk.
Cherry duduk di sampingku dengan punggung tegak. Wajahnya tegang dan terlihat gugup. Aku menatapnya, dan sekali lagi dia gak mengalihkan pandangan.
Sebaliknya dia berkata, "Kamu kurang tidur."
Mataku sedikit menyipit. "Kamu khawatir sama aku?"
Dia menggeser posisi dan terlihat lebih santai. "Tentu saja."
"Kenapa?"
"Kalau Kamu sakit, kami semua ikut sakit."
Aku menghela napas lalu menatap kepalan tanganku. "Itu satu-satunya alasan?"
"Gak," gumamnya. "Kalau aku akan jadi istri Kamu, sudah jadi kewajiban aku untuk peduli sama Kamu."
"Kalau?"
Aku berharap dia gak berpikir ini pilihan.
"Maksud aku, ketika," katanya cepat memperbaiki.
Aku mengambil tangan kirinya dan meletakkannya di pahaku. Aku melihat jari-jarinya yang ramping sebelum membuka kepalan tanganku.
"Cincin ini milik nenek. Setelah aku memasangkannya, Kamu gak akan pernah melepasnya."
Aku merasakan tangannya mulai bergetar saat aku memposisikan berlian itu di jari manisnya. Mataku tetap tertuju pada wajahnya.
"Lihat aku."
Tatapannya kembali ke mataku, dan baru saat itu aku memasangkan cincin itu di jarinya.
Ketegangan memenuhi udara sebelum aku berkata, "Dengan cincin ini, Kamu jadi tunangan aku. Upacara pernikahan cuma formalitas."
Dia mengangguk.
"Kamu milik aku, Cherry. gak ada pria lain yang boleh nyentuh Kamu."
"Oke," bisiknya.
Aku bisa melihat dia ingin bertanya sesuatu tapi ragu.
"Apa?"
"Kamu bakal… eh…"
Kerutan muncul di dahi aku. "Bicara aja."
Dia mengangkat dagunya dan menatapku langsung.
"Kamu bakal punya wanita lain?"
Tawa tak terduga keluar dariku dan membuatnya terkejut. "Kamu pikir aku punya waktu buat itu?"
Matanya melebar.
"Gak. Maksud aku bukan begitu." Dia menghela napas. "Lupain aja pertanyaan itu."
"Gak. gak akan ada wanita lain. aku terlalu sibuk, dan Kamu bakal memenuhi semua kebutuhan aku."
Matanya kembali melebar dan wajahnya memerah sampai ke leher. aku menatap cincin di jarinya sambil mengusap berlian itu dengan ibu jari.
"Ada pertanyaan lain?"
"Kapan pernikahannya?"
aku bersandar di sofa. "Setelah aku menyelesaikan pekerjaanku." Sebelum dia sempat bertanya lagi, aku menambahkan, "Harusnya segera."
Dia mengangguk. Tatapannya turun ke tangan kami yang masih saling menggenggam. Ekspresi gugup kembali muncul di wajahnya.
"Apa yang Kamu takutin?"
Dia menggeleng, tapi tetap menatap aku saat menjawab. "Cuma gak kebayang aja."
"Kenapa?"
"Kamu Capo dei Capi. Kamu bisa memilih wanita mana pun."
"Aku gak bisa memilih sembarang wanita," gumamku.
Alisnya berkerut bingung. "Kenapa?"
"Karena wanita yang aku nikahi harus sangat kuat." Mataku menatapnya tajam. "Apa pun yang terjadi, dia harus tetap berdiri tegak. Dia gak boleh mundur."
Aku melepaskan tangannya lalu mengangkat tanganku ke lehernya. Ibu jariku menyentuh kulit tempat bekas memar dulu pernah ada.
"Wanita yang aku nikahi harus bisa bertahan hidup di sampingku."
Bibirnya terbuka sedikit. Dia terlihat kaget menyadari maksudku.
"Kamu pikir aku cukup kuat?"
Aku menggeleng pelan lalu menarik wajahnya lebih dekat. "aku tahu Kamu cukup kuat." Suaraku rendah saat menambahkan, "Kamu gak akan berlutut pada siapa pun selain aku."
Mata Cherry menyusuri wajahku sebelum dia mengangguk.
Aku gak biasa menanyakan perasaan orang lain, tapi tetap saja aku bertanya. "Kamu setuju menikah denganku?"
Dia langsung mengangguk. "Aku merasa terhormat. aku bakal berusaha jadi istri yang baik." Lidahnya menyentuh bibirnya. "Kamu bisa bilang apa yang Kamu harapin dari aku?"
Apa yang aku harapkan?
aku harus berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Kesetiaan dan rasa hormat kamu."
"Oke." Ada jeda sebentar sebelum dia bertanya, "Lalu soal hal yang lebih… pribadi?" Dia tertawa canggung. "Kamu bahkan tertarik sama aku?"
Alih-alih menjawab, aku mendekat sampai napasnya terasa di wajahku. Ekspresi gugup langsung muncul di wajahnya.
Perlahan aku memiringkan kepala. Saat pupil matanya melebar karena antisipasi, aku menekan bibirku ke bibirnya.
Seperti saat pertama kali aku menciumnya, tubuhnya langsung bergetar dan tangannya menekan dadaku.
Reaksinya memicu sesuatu dalam diri aku. Aku memiringkan kepala dan menyelipkan lidahku ke dalam mulutnya.
Keinginan itu datang seketika, menghantamku seperti petir. aku mencium dia dengan liar, lalu meraih pinggulnya dan menariknya duduk di pangkuanku.
Cherry terengah kaget. Rasanya manis dan polos.
Aku menghentikan ciuman lalu memaksanya duduk menghadapku. Gaunnya terangkat tinggi di pahanya karena posisi itu.
Aku mengangkat tangan dan menahan wajahnya.
"Ya," geramku. "Aku tertarik sama Kamu."
Dia sudah terengah, pipinya merah dan matanya dipenuhi sesuatu yang lebih dalam. Aku kembali mencium dia dan membiarkan diriku tenggelam dalam ciuman itu.
Aku gak ingat kapan terakhir kali sebuah ciuman terasa sebaik ini.
Lidahku bermain dengan lidahnya. Kepolosannya membuatku bisa mengendalikan semuanya. Bibirku sepenuhnya menguasai bibirnya.
Saat dia mengeluarkan erangan pelan, aku hampir kehilangan akal.
Sial.
Batangku sudah bereaksi keras. Saat dia bergerak di pangkuanku, aku langsung mendorongnya menjauh dariku.
Aku berdiri dari sofa dan berjalan beberapa langkah menjauh dengan tangan mengepal.
"Ada yang salah?" tanyanya panik.
"Gak." aku menarik napas dalam sebelum menatapnya.
Sial.
Dengan bibir bengkak dan gaun yang masih terangkat di pahanya, dia terlihat sangat menggoda.
"Pergi," geramku.
"Apa?" katanya pelan.
"Pergi, Cherry. Atau aku bakal menidurimu sampai kamu pingsan."
Dia langsung berdiri dan dengan bijak menjauh dari aku. aku mengusap wajah aku dengan telapak tangan sambil menarik napas dalam untuk menenangkan diri.
aku gak bisa sembarangan meniduri Cherry. aku juga khawatir gak akan bisa lembut saat waktunya tiba untuk mengambil keperawanannya.
Baru dua kali aku menciumnya, dan setiap kali aku harus menjauh agar gak menyerah pada keinginan yang dia bangkitkan dalam diriku.
Gak ada wanita yang pernah memengaruhi aku seperti ini.