NovelToon NovelToon
The Queen With 4 Servents

The Queen With 4 Servents

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Isekai
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32. Serigala di lorong gelap

Di bawah fondasi megah The Velvet Manor, terdapat sebuah dunia yang tidak pernah tersentuh oleh cahaya matahari maupun kehangatan lilin kristal. Ruang bawah tanah itu adalah wilayah kekuasaan Julian.

Udara di sini terasa berat, jenuh dengan bau formaldehida, karat, dan aroma manis-pahit dari tanaman Aconitum yang sedang diekstrak. Suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit batu yang lembap berirama seperti detak jantung seorang pria yang sedang menunggu ajalnya.

Di tengah ruangan, terikat pada sebuah kursi besi berat yang dipaku ke lantai marmer hitam, Pangeran Valerius tampak seperti bayangan dari dirinya yang dulu sombong.

Jubah bulu cerpelainya yang mahal kini ternoda oleh keringat dan tumpahan anggur. Mahkota kecilnya entah hilang ke mana, dan rambut pirangnya yang biasanya tertata rapi kini menempel di dahi pucatnya.

Efek dari "Julian's Special Wine"—sebuah ramuan dengan struktur molekul kompleks yang dirancang untuk mengacaukan transmisi saraf di lobus frontal—mulai memasuki fase puncaknya.

"Julian... hentikan ini..." rintih Valerius. Suaranya serak, nyaris menyerupai bisikan angin di lorong kosong.

"Aku adalah darah biru... Kau tidak bisa... memperlakukanku seperti binatang percobaan."

Julian, yang berdiri di sudut ruangan sambil membelakangi sang Pangeran, tidak segera menjawab.

Ia sedang sibuk dengan sebuah tabung reaksi yang berisi cairan berwarna ungu berpendar. Dengan gerakan yang sangat presisi, ia meneteskan satu mikroliter larutan (perak nitrat) ke dalamnya, menyebabkan reaksi kimia yang menimbulkan uap tipis berbau belerang.

" Pangeran yang terhormat," ucap Julian tanpa menoleh. Suaranya riang, hampir seperti seorang guru yang sedang menyapa murid favoritnya.

"Anda salah paham. Saya tidak memperlakukan Anda sebagai binatang. Binatang bertindak berdasarkan insting, sedangkan Anda... Anda bertindak berdasarkan ketakutan yang sangat manusiawi. Dan ketakutan adalah subjek penelitian yang paling indah."

Julian berputar, memperlihatkan wajahnya yang diterangi oleh lampu minyak dari bawah, memberikan kesan makabre yang mengerikan. Ia mengenakan apron kulit yang penuh noda gelap, dan di tangannya ia memegang sebuah jarum suntik perak yang panjang.

"Mari kita bicara tentang malam itu, Valerius," Julian melangkah mendekat, langkah sepatunya bergema seperti lonceng kematian.

"Malam di mana kau membawa Isabella ke dalam hutan terlarang. Malam di mana kau pikir kau bisa menghapus 'masalah' kecilmu secara permanen."

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!" teriak Valerius, namun suaranya pecah menjadi isak tangis yang memalukan.

"Oh, kau tahu," desis Julian, kini berdiri tepat di hadapan Valerius. Ia mencondongkan tubuhnya hingga hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung sang Pangeran.

"Ramuan yang kau minum tadi mengandung ekstrak Atropa belladonna. Dalam dosis tertentu, ia akan melebarkan pupil mata Anda hingga cahaya terkecil pun terasa seperti pedang yang menusuk otak. Tapi yang lebih penting, ia akan merobek tirai antara realita dan memori."

Julian menusukkan jarum suntik itu ke lengan Valerius dengan gerakan yang sangat lembut namun pasti. Valerius menjerit, namun jeritannya tertahan saat Julian menutup mulutnya dengan tangan yang mengenakan sarung tangan karet.

"Beri tahu aku, Valerius," bisik Julian dengan mata yang berkilat gila. "Mengapa kau begitu takut melihat Isabella tadi? Apakah karena kau mendengar suara tulang lehernya yang patah saat kau mendorongnya ke jurang? Ataukah karena kau melihat matanya yang hijau zamrud itu meredup di bawah akar pohon tua?"

Mata Valerius membelalak. Pupilnya melebar secara tidak wajar. Di bawah pengaruh obat Julian, dinding-dinding ruang bawah tanah itu mulai berubah. Batu-batu itu tampak bernapas, dan bayangan di sudut ruangan mulai membentuk sosok wanita dengan leher yang miring ke satu sisi secara mengerikan.

"Dia... dia sudah mati!" racau Valerius, air matanya mulai mengalir tanpa kendali. "Aku melihatnya! Darahnya mengalir di tanganku! Dia tidak mungkin berdiri di sana, menggunakan gaun merah itu, dan menatapku dengan kebencian seperti itu! Aku sendiri yang membersihkan mayat itu, membawanya ke hadapan kalian, dan berpura-pura ia sedang istirahat. Maka dari itu, aku... Aku...sangat gemetar saat mengundang dia datang ke istanaku. Dia masih hidup, tapi aku tahu itu bukan dia! Itu bukan Isabella! Itu adalah iblis yang merayap keluar dari neraka untuk menjemputku!"

Julian tersenyum puas. Ia mengambil sebuah buku catatan kecil dari saku apronnya dan menuliskan sesuatu dengan pena bulu.

"Menarik," gumam Julian. "Subjek menunjukkan pengakuan bersalah yang spontan di bawah tekanan psikotropika. Namun, ada elemen paranormal dalam persepsinya. Valerius, jika wanita di atas sana bukan Isabella... lalu menurutmu, siapa dia?"

Valerius menggelengkan kepalanya dengan liar. "Aku tidak tahu! Dia tahu rahasia yang hanya diketahui oleh kami berdua. Dia tahu tentang surat-surat itu... dia tahu tentang Cermin Pencabut Nyawa... Tapi dia bukan Isabella! Isabella-ku adalah wanita yang lemah, dia akan memohon dan menangis. Tapi wanita itu... dia adalah pemangsa."

Julian berhenti menulis. Ia menatap Valerius dengan pandangan yang tiba-tiba menjadi sangat serius.

"Kau tahu, Valerius," ucap Julian pelan, suaranya kini dingin seperti es. "Aku sudah melayani garis keturunan Velvet selama bertahun-tahun. Aku telah membedah banyak tubuh dan meracuni banyak musuh mereka. Aku tahu kapan seseorang berbohong. Dan aku tahu bahwa wanita yang ada di atas sana memang memiliki jiwa yang berbeda. Tapi inilah rahasianya: Aku menyukainya."

Julian meraih dagu Valerius dan memaksanya untuk menatap ke atas. "Isabella yang kau bunuh adalah sampah yang tidak berguna. Tapi Isabella yang ada sekarang? Dia adalah evolusi. Dia adalah mahakarya yang tidak sengaja diciptakan oleh tangan kotormu di hutan itu. Dan aku tidak akan membiarkanmu, atau utusan istanamu, menghancurkan mahakarya ini."

Julian mengambil sebuah botol kecil berisi cairan hitam pekat dari mejanya. "Ini adalah dosis terakhirmu untuk malam ini. Ini akan membuatmu tertidur, namun di dalam tidurmu, kau akan menjalani malam di hutan itu berulang-ulang. Ribuan kali. Setiap kali kau menutup mata, kau akan merasakan dinginnya kulit Isabella yang mati di ujung jarimu."

"Tidak! Tolong! Jangan!" Valerius memohon, namun Julian tidak peduli. Ia memaksakan cairan itu masuk ke tenggorokan sang Pangeran.

Valerius mulai kejang-kejang ringan saat zat kimia itu mulai berinteraksi dengan neurotransmitter di otaknya. Kesadarannya mulai tenggelam ke dalam kegelapan yang tak berdasar.

Julian berdiri tegak, merapikan apronnya yang bernoda. Ia menatap ke arah pintu keluar ruang bawah tanah. Ia tahu bahwa Dante dan Zane mungkin sedang saling mengawasi di atas sana, dan ia tahu bahwa Aira sedang berjuang mempertahankan topengnya.

Di sisi lain....

Setelah meninggalkan ambang pintu kamar Aira, Dante tidak segera beranjak ke barak prajurit atau meninjau pos penjagaan di gerbang depan. Langkah kakinya yang berat dan berdentum di atas lantai marmer perlahan melambat hingga ia berhenti di koridor luar yang melingkar, sebuah balkon interior yang menghadap langsung ke arah taman labirin yang tertutup kabut.

Dante mencengkeram pagar balkon marmer yang dingin dengan kedua tangannya. Otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya menonjol seperti akar pohon tua.

Di bawah tekanan jemarinya yang luar biasa, terdengar bunyi krak halus—retakan rambut mulai muncul pada permukaan marmer putih itu. Napasnya masih menderu, tidak beraturan, dan dadanya terasa seperti dibakar oleh campuran rasa bersalah yang memuakkan serta gairah yang tidak termaafkan.

Ia masih bisa merasakan kehangatan leher wanita itu. Aroma parfum melati yang bercampur dengan bau dingin dari cermin terkutuk itu masih melekat di indra penciumannya. Dante memejamkan mata, mencoba menghapus bayangan wajah Aira yang menantangnya untuk membunuhnya.

"Kau tampak seperti pria yang baru saja melihat hantu, Dante. Atau mungkin... kau baru saja menyerahkan sisa jiwamu pada hantu yang sangat cantik?"

Suara itu muncul dari bayang-bayang pilar besar di ujung koridor. Suaranya datar, tanpa intonasi, dan membawa hawa dingin yang seolah-olah menyedot panas dari udara di sekitarnya.

Dante tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang bicara. Aroma minyak pelumas senjata, bau kain sutra hitam, dan aura haus darah yang pekat hanya milik satu orang di seluruh mansion ini.

"Pergilah, Zane," geram Dante tanpa mengubah posisinya. Suaranya rendah dan berbahaya, seperti gemuruh guntur di kejauhan. "Aku tidak sedang dalam suasana hati untuk mendengarkan filosofi kosongmu atau teka-teki moralmu yang memuakkan."

Zane melangkah keluar dari kegelapan dengan keanggunan seorang pemangsa. Ia mengenakan pakaian hitam ketat yang menyatu dengan malam, dan di antara jemarinya yang lentik, ia memainkan sebuah belati tipis—memutarnya dengan kecepatan yang mustahil hingga senjata itu tampak seperti lingkaran perak yang berkilau.

"Ini bukan filosofi, Panglima. Ini adalah observasi murni," ucap Zane, kini berdiri hanya beberapa langkah di samping Dante. Ia menyandarkan punggungnya pada pilar, menatap ke arah kegelapan taman dengan mata abu-abunya yang tak pernah berkedip.

"Aku melihatmu di depan pintu tadi. Kau gemetar. Tangan yang biasanya memenggal kepala musuh di medan perang tanpa sedetik pun keraguan, kini ragu hanya karena sepotong cermin perak dan tatapan seorang wanita."

Dante berputar cepat, matanya berkilat penuh amarah yang meluap. Ia melangkah maju, menggunakan tubuhnya yang tinggi besar untuk mengintimidasi, hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Zane.

Secara fisik, Dante jauh lebih kuat, namun Zane tidak bergerak satu milimeter pun. Zane adalah ular berbisa yang tidak takut pada beruang; ia tahu satu gigitan di tempat yang tepat akan mengakhiri segalanya.

"Apa yang kau lakukan di sayap timur, Zane?" desis Dante, setiap kata keluar dari sela giginya yang terkatup rapat. "Tugasmu adalah menjaga perimeter bawah dan memastikan tidak ada tikus istana yang masuk, bukan berkeliaran di dekat kamar pribadi Nyonya seperti pengintip rendahan."

Zane tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam tajam di atas batu asah.

"Aku menjaga apa yang perlu dijaga, Dante. Dan saat ini, ancaman terbesar bagi The Velvet Manor bukanlah Pangeran Valerius yang sedang merangkak di sel bawah tanah atau utusan istana yang akan datang pagi nanti. Ancaman terbesarnya adalah kau."

"Aku?" Dante tertawa pahit, suaranya parau. "Aku adalah pedang mansion ini. Aku adalah orang yang bersumpah untuk memberikan nyawaku demi menjaga garis keturunan Isabella!"

"Benarkah?" Zane memiringkan kepalanya, menatap Dante dengan pandangan meremehkan yang menusuk.

"Obsesimu pada 'Isabella yang lama'—wanita lemah yang selalu menangis dan memohon padamu untuk membereskan kekacauannya—telah membuatmu buta. Kau membenci wanita di dalam kamar itu karena dia bukan Isabella yang kau cintai, tapi kau juga tidak bisa membunuhnya karena kau sangat menginginkannya. Kau terjebak dalam delusi, Panglima. Dan pria yang ragu adalah pria yang akan membawa kita semua ke tiang gantungan."

Dante mencengkeram kerah pakaian hitam Zane dengan satu tangan dan mengangkat pembunuh itu hingga ujung sepatunya nyaris tidak menyentuh lantai. Kekuatan fisik Dante mampu meremukkan leher pria biasa dalam sekejap.

"Jaga bicaramu, pembunuh!" bentak Dante. "Dia adalah penguasa tempat ini. Dan aku tidak akan membiarkanmu atau siapa pun meragukan identitasnya di hadapanku!"

Zane tetap tenang, bahkan saat napasnya sedikit terhambat oleh cengkeraman Dante. Ia menatap langsung ke dalam mata biru Dante yang liar.

"Kau merasakannya, bukan? Saat kau mendorongnya ke pintu tadi, saat kau menghirup napas di lehernya... tidak ada jejak Isabella yang kau kenal di sana. Wanita itu tidak memiliki ketakutan yang biasa dimiliki Isabella. Dia memiliki sesuatu yang jauh lebih murni dan berbahaya: Instinct untuk bertahan hidup."

Zane melanjutkan dengan suara bisikan yang tajam seperti silet.

"Isabella yang asli sudah mati, Dante. Entah dia benar-benar mati di hutan itu atau jiwanya telah tertelan oleh entitas lain, itu tidak relevan. Yang ada di dalam sana sekarang adalah seorang penguasa yang kita butuhkan. Dia menggunakan wajah kekasihmu untuk membangun kekaisaran berdarah. Dan kau... kau hanyalah anjing setia yang merindukan tuannya yang sudah membusuk."

Dante menghunus pedang pendeknya dalam satu gerakan kilat yang menimbulkan bunyi denting logam yang nyaring—SRING! Ujung pedang yang haus darah itu menekan tepat di jakun Zane. Setetes darah merah tua mulai merembes, mengalir lambat di atas kulit pucat Zane.

"Kau berani mengancamku demi membela seorang penipu?" suara Dante bergetar karena emosi yang tertahan. "Kau yang selalu mengatakan bahwa kesetiaan adalah beban yang tidak perlu, sekarang kau berubah menjadi pelayan setia bagi wanita itu?"

Kenangan tentang Isabella yang asli mulai membanjiri benaknya seperti racun yang merambat. Ia ingat bagaimana wanita itu sering memaki pelayan karena hal-hal sepele, bagaimana ia tertawa saat melihat orang lain menderita, dan bagaimana ia selalu menatap Dante bukan sebagai manusia, melainkan sebagai anjing penjaga yang bisa dibuang kapan saja.

Namun, di balik semua keburukan itu, ada satu hal yang membuat Dante tetap bertahan: rasa kepemilikan. Isabella adalah miliknya untuk dijaga, miliknya untuk disembah dalam diam.

Tapi Aira? Wanita yang berada di dalam kamar itu sekarang tidak menuntut pengabdian buta. Ia menuntut pengakuan. Ia menantang keberadaan Dante dengan cara yang belum pernah dilakukan siapa pun. Aira adalah cermin yang memantulkan kegelapan Dante sendiri, dan itu membuatnya ketakutan setengah mati.

Tiba-tiba, sebuah suara tawa serak terdengar dari arah tangga menuju ruang bawah tanah. Bukan suara Zane, melainkan suara Julian. Sang peracik racun itu muncul dengan apron kulit yang ternoda cairan kuning aneh dan noda darah di pergelangan tangannya.

"Ah, Dante! Masih merenung di bawah cahaya bulan?" Julian mendekat dengan langkah riang yang kontras dengan atmosfer berat di sana. Ia memutar-mutar sebuah botol kaca kecil berisi cairan berwarna ungu pekat.

"Aku baru saja menyelesaikan 'percakapan' yang sangat mencerahkan dengan Pangeran kita yang terhormat. Kau tahu apa yang dia katakan? Dia bersumpah bahwa Isabella mati. Benar-benar mati. Dia bahkan menjelaskan bagaimana suara tulang leher yang patah itu terdengar di kegelapan hutan, bahkan dia yang membawakan Isabella pada kita malam itu."

Dante mencengkeram kerah Julian, namun Julian hanya tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi yang terlalu putih.

"Jangan marah padaku, Panglima," bisik Julian dengan mata yang berkilat gila. "Aku hanya pembawa pesan. Tapi pikirkanlah... jika Isabella memang sudah mati, dan yang ada di atas sana adalah sesuatu yang lain, bukankah itu jauh lebih menarik? Kita tidak lagi melayani seorang bangsawan yang manja. Kita melayani sesuatu yang bangkit dari kematian. Sesuatu yang melampaui hukum manusia."

Dante melepaskan Julian dengan jijik. "Kalian semua sudah gila. Kau, Zane... kalian sudah terpesona oleh iblis itu."

"Dan kau adalah orang yang paling terpesona di antara kita semua, Dante," sahut Julian sambil berlalu pergi menuju laboratoriumnya.

"Hanya saja kau terlalu pengecut untuk mengakuinya. Persiapkan dirimu. Fajar sebentar lagi tiba, dan para utusan Raja tidak akan menyukai bau kematian yang begitu menyengat di rumah ini."

Dante sendirian lagi. Ia menatap ke arah jendela besar di ujung lorong. Cahaya biru fajar mulai merayap naik, mengusir kegelapan namun membawa ancaman yang lebih nyata.

Ia tahu bahwa mulai saat ini, perannya telah berubah. Ia bukan lagi pelindung seorang Nyonya, melainkan kaki tangan dari sebuah konspirasi besar yang akan me

Kngubah sejarah The Velvet Manor selamanya.

Ia mengepalkan tangannya, merasakan dinginnya sisa-sisa malam di kulitnya. Jika dunia ingin menghancurkan 'Isabella' yang baru ini, mereka harus melangkahi mayatnya terlebih dahulu.

Bukan karena tugas, bukan karena sumpah, tapi karena ia tidak bisa membiarkan satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup itu padam begitu saja.

-------------------------------------------------------------------------

1
Airin
makasih thooor. semangat
Anisa675
Widiiiih badas
Anisa675
gilaaaa, jadi Isabella udah meninggal??
Anisa675
mantap Aira
Anisa675
wah mantap Thor. kebayang badan luka-luka, mandi air garam
.
Kaya cerita Anime ya,
Lanjuutt
Anisa675: Iya bener, kayanya bakal lebih seru tambah visualnya thor
total 1 replies
Eka Putri Handayani
lebih bnyk lg up nya kak
Airin: selalu Thor. semangat
total 4 replies
Yasa
semangat updatenya thor
Senja_Puan: Makasih kakak😍 semangat juga bacanya
total 1 replies
Anisa675
nah kan bener
Anisa675
jadi curiga sama Isabella asli
Anisa675
Bahaya ini, dari awal Zane yang paling punya insting kuat, dan cara dia eksekusi Aira itu udah bener-bener bikin deg-degan
Senja_Puan: Nah, adakan perkembangannya😄
total 1 replies
Anisa675
suka, karakternya jadi kuat
Anisa675
ngerii-ngeri sedap Aira
Anisa675
emang, strategi Aira beracun bangetttt
Anisa675
santai Kael... rusuh Mulu dah
Anisa675
Keren-keren, bisa berubah secepat itu. strateginya emang gitu kalia ya? jadi kejam tapi ada sisi lembutnya gitu
Anisa675
transformasinya langsung drastislah. kenapa ga dari awal thoooor
Anisa675: ya biar seru ya🤭
total 2 replies
Anisa675
Jangan lemah Aira!!!!
Anisa675
kebayang berapa nyebelinnya Isabella asli ini
Anisa675
kesel banget, hampir aja ketahuan. tapi udah pada curiga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!