NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Skripsi

Pukul satu dini hari. Di luar, riuh rendah kota sudah mereda, menyisakan suara kendaraan yang sesekali melintas di kejauhan. Di dalam apartemen, cahaya lampu meja kerja menjadi satu-satunya sumber terang yang membedah kegelapan ruang tengah.

Dinara duduk tegak di kursinya, matanya yang mulai memerah menatap nanar deretan paragraf di layar laptop. Rambutnya diikat asal-asalan ke atas, menampakkan leher jenjangnya yang sedikit tegang karena terlalu lama menunduk. Di sampingnya, tumpukan jurnal dan buku literatur setebal bantal berserakan seperti reruntuhan bangunan.

"Mas... ini kata-katanya kok muter-muter ya? Dinara baca ulang malah jadi bingung sendiri," keluh Dinara sambil memijat pelipisnya.

Dimas, yang sejak tadi duduk di sofa tak jauh dari sana sambil memegang buku catatan, segera bangkit. Ia menghampiri istrinya, meletakkan secangkir cokelat hangat yang baru saja ia seduh di atas meja.

"Coba Mas lihat dhisik. Mana yang bikin pusing?" tanya Dimas lembut.

Dimas membungkuk, wajahnya berada tepat di samping telinga Dinara saat ia membaca barisan kalimat di Bab 4 skripsi istrinya. Sebagai penulis, Dimas punya insting tajam soal efektivitas kalimat.

"Iki lho, Dek. Kamu terlalu banyak pakai kata sambung. Kalimatmu satu paragraf isinya cuma satu titik. Nafas pembacanya bisa habis duluan sebelum sampai kesimpulan," kritik Dimas tanpa bermaksud menggurui. "Coba dipotong-potong. Buat kalimat yang pendek, padat, dan langsung ke intinya. Gak usah kakehan variasi (Jangan terlalu banyak variasi) kalau malah bikin maknanya kabur."

Dinara menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Susah banget, Mas. Rasanya otak Dinara sudah mentok. Mana besok jam sepuluh harus dikirim ke dosen pembimbing."

Dimas menarik kursi plastik dari meja makan dan duduk di sebelah Dinara. Ia mengambil alih mouse laptop sebentar, memblokir beberapa kalimat yang dianggapnya mubazir.

"Tenang, Sayang. Mas temani sampai subuh kalau perlu. Mas ini kan spesialis begadang, masa bantu istri ngerapiin draf saja nggak bisa," Dimas tersenyum, lalu jemarinya mulai mengetik beberapa saran perbaikan dengan cepat.

"Mas nggak ngantuk?" tanya Dinara, menatap suaminya dengan rasa tidak tega. Ia tahu Dimas tadi siang baru saja kembali dari pertemuan melelahkan dengan penerbit.

"Ngantuk itu cuma buat orang yang nggak punya motivasi. Motivasi Mas sekarang itu lihat kamu pakai toga, terus kita foto bareng sambil bawa ijazah. Bayangin, Dek, betapa bangganya Bapak sama Ibu di Blitar nanti," jawab Dimas sambil terus fokus pada layar. "Lagian, kalau Mas tidur sekarang, siapa yang bakal buatin kamu camilan kalau mendadak lapar?"

Dinara tersenyum tipis. Ia meraih cangkir cokelat hangat pemberian Dimas, menghirup aromanya yang menenangkan. Rasa lelahnya sedikit menguap. Memang benar, kehadiran Dimas di sampingnya bukan sekadar sebagai suami, tapi sebagai pendukung teknis yang luar biasa.

"Sini, biar Dinara lanjut ngetik. Mas kasih tahu saja mana yang harus diubah," ujar Dinara kembali bersemangat.

Selama dua jam berikutnya, suasana apartemen hanya diisi oleh suara ketikan keyboard yang ritmis dan diskusi serius namun santai di antara mereka. Dimas bertindak sebagai editor yang kejam namun penuh cinta, sementara Dinara mencoba mempertahankan argumen akademisnya.

"Mas, kalau bagian ini dihilangkan, nanti landasan teorinya jadi lemah," protes Dinara saat Dimas menyarankan pemangkasan satu paragraf besar.

"Bukan dihilangkan, Dek. Tapi dipindah ke catatan kaki atau diringkas. Kamu itu mau bikin skripsi, bukan mau bikin ensiklopedia. Sing penting jelas karepe (Yang penting jelas maksudnya)," sahut Dimas tenang.

Di tengah keseriusan itu, Dimas sesekali melakukan kejahilan kecil untuk mengusir kantuk Dinara. Saat Dinara sedang fokus membaca jurnal, Dimas tiba-tiba meniup telinga istrinya pelan, membuat Dinara melonjak kaget.

"Mas Dimas! Ojo nggarai ta (Jangan jahil dong)!" seru Dinara sambil memukul lengan Dimas dengan bantal kursi.

"Hahaha! Habisnya mukamu itu tegang banget, kayak mau menghadapi sidang tilang. Rileks dhisik, Sayang. Otak kalau terlalu panas nanti malah korslet," tawa Dimas pecah, wajahnya yang jenaka selalu berhasil mencairkan suasana.

"Mas ini benar-benar ya... orang lagi serius malah dikerjain," gerutu Dinara, meski akhirnya ia ikut tertawa juga.

Mendekati pukul setengah empat, draf Bab 4 dan 5 akhirnya selesai dirapikan. Dinara melakukan save dokumen dengan perasaan lega yang luar biasa. Ia menoleh ke arah Dimas yang kini sudah bersandar di kursi dengan mata setengah terpejam.

"Mas... sudah selesai," bisik Dinara.

Dimas membuka matanya, tersenyum lebar. "Alhamdulillah. Wes, ndang tutup laptopnya. Sekarang kita wudhu, terus nunggu Subuh sambil baca doa biar dosenmu hatinya selembut sutra pas baca ini."

Mereka beranjak menuju kamar mandi. Air dingin di sepertiga malam itu seolah membasuh sisa-sisa penat di kepala Dinara. Setelah shalat Subuh berjamaah, Dimas tidak langsung membiarkan Dinara tidur. Ia mengajak istrinya ke balkon kecil apartemen untuk menghirup udara pagi yang masih bersih.

"Gimana rasanya? Sudah plong?" tanya Dimas sambil merangkul pundak Dinara dari belakang.

"Banget, Mas. Makasih banyak ya. Dinara nggak tahu gimana jadinya kalau Mas nggak bantu edit tadi. Bahasanya jadi lebih enak dibaca," sahut Dinara tulus.

Dimas mencium puncak kepala Dinara. "Mas itu cuma bantu bungkusnya saja, isinya kan tetap dari otak pintarmu. Mas bangga punya istri kayak kamu. Sabar, rajin, dan nggak gampang menyerah."

"Tumben Mas nggak bercanda?" goda Dinara.

"Sekali-kali serius lah, biar kamu tahu kalau Mas ini juga punya sisi romantis yang beneran, bukan cuma di novel saja," jawab Dimas. "Eh, tapi habis ini jangan lupa tidur ya. Mas yang bakal pasang alarm buat jam sepuluh nanti. Kamu istirahat total dhisik."

Dinara mengangguk, menyandarkan kepalanya di dada bidang Dimas. Di tengah heningnya fajar kota, ia merasa sangat beruntung. Perjalanan skripsi yang biasanya menjadi momok menakutkan bagi mahasiswa, bagi Dinara justru menjadi momen yang semakin merekatkan hubungannya dengan Dimas.

"Mas, nanti kalau Dinara lulus, Mas mau kado apa?"

Dimas terdiam sejenak, pura-pura berpikir keras. "Gak usah kado yang aneh-aneh. Cukup masakin makanan yang beneran rendang, bukan 'rendang' mi instan kayak kemarin. Terus... temani Mas jalan-jalan ke pantai seharian tanpa bawa buku hukum satu pun. Bisa?"

Dinara tertawa lepas. "Nggih, Mas. Janji!"

Mereka masuk kembali ke dalam, menutup pintu balkon saat semburat jingga mulai muncul di ufuk timur. Bagi Dimas dan Dinara, begadang malam ini bukan sekadar mengejar tenggat waktu akademis, melainkan investasi memori yang akan mereka ceritakan kembali saat mereka sudah menua nanti—tentang sebuah apartemen di Surabaya, secangkir cokelat hangat, dan ribuan kata skripsi yang menyatukan hati mereka.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!