NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Kapten

Terjerat Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kasus Di Tutup

Di Jakarta ruang itu terasa dingin, meski pendingin ruangan tidak terlalu rendah.David Subakti berdiri di depan meja, wajahnya tegang tangannya mengepal lalu,

BRAK!

Dia memukul meja dengan keras wajahnya penuh amarah.

“Apa maksud Anda?!” suaranya bergetar, penuh amarah.

Beberapa pejabat militer di hadapannya saling pandang, dan salah satu dari mereka seorang pria berjas rapi mencoba tetap tenang.

“Pak David, mohon tenang,”

“Tenang?!” potong David tajam. “Anak saya hampir dibunuh, dan snda minta saya tenang?!” Suasana berubah hening.

“Ini bukan sekadar insiden kecil,” lanjut David, napasnya berat. “Ini percobaan pembunuhan!”

Pria di hadapannya menarik napas panjang.

“Justru karena itu, demi stabilitas politik dan negara kita harus merahasiakan kejadian ini.”

David menatap mereka tak percaya.

“Dirahasiakan?” suaranya rendah tapi lebih berbahaya.

“Mereka mencoba membunuh Kirana, anak saya!” menekankan kalimatnya.

“Bukan hanya Kirana,” sahut seorang perwira dari sisi lain.

“Satu reporter Dion Anggara meninggal dunia," Suaranya berjeda sejenak.

"Dan salah satu perwira kami masih kritis pasca operasi.”

Kata-kata itu menggantung di udara namun David tidak bergeming.

“Apa alasan kalian untuk menutupinya?” tanyanya tajam.

“Kalau ini terbuka ke publik,” jawab pria berjas itu, “Situasi bisa kacau TNI dan Polri bisa saling mencurigai, media akan memperbesar besarkan masalah ini, politik akan memanas.”

“Lalu bagaimana dengan keamanan keluarga saya?” David menekan setiap kata katanya, “Apa kalian bisa menjamin itu?”

Tidak ada yang langsung menjawab hingga akhirnya pria itu berkata pelan.

“Kami sudah tahu siapa dalangnya, Pak.”

David menyipitkan mata.

“Kalau sudah tahu, kenapa tidak ditindak?”

Pria itu menatapnya David Subakti dengan tajam.

“Karena ini, melibatkan orang-orang besar," Kalimatnya berjeda.

“Pak Menteri,” lanjutnya hati-hati, “ Putra Panglima TNI hampir mati, apa menurut anda pelakunya bisa selamat.”

“Apa maksud Anda?” Wajah David Subakti berubah seketika, dia mulai penasaran. seorang perwira maju sedikit.

“Perwira yang menyelamatkan putri Anda, ” katanya pelan, “Adalah putra Jenderal Kristanto Wicaksono.”

Ruangan itu mendadak terasa semakin sunyi, David terdiam rahangnya mengeras pikirannya berputar cepat.

“Jadi” suaranya akhirnya keluar, pelan tapi penuh tekanan, “kalian ingin bilang, kalian akan menyelesaikan secara internal?”

“Kami tidak bisa menyampaikan itu secara terbuka,” jawab pria tadi. “Tapi kami pastikan kasus ini sedang ditangani.”

“Secara diam-diam?” sindir David.

“Secara terkendali,” koreksi pria itu.

David tertawa kecil, dia menatap satu per satu wajah di ruangan itu.

“Kalian selalu pakai cara lama tidak demokratis,” katanya tegas.

"Ini sudah di tangani instansi kami anda cukup diam dan melihat hasilnya.”

David Subakti tidak menyela, karena David Subakti tau ini bukan sekadar peringatan tapi sudah menjadi keputusan.

Di tempat lain Carmen menangis di bahu Kirana tangisnya pecah, tidak tertahan.

“Mbak Dion,” suaranya terputus-putus Kirana memeluknya erat.

“Aku turut berduka, Carmen,” ucap Kirana pelan.

“Beberapa hari yang lalu,” lanjut Carmen sambil terisak, “aku masih bercanda sama dia, dia bilang kalau pulang mau traktir kita semua,”Suaranya kembali pecah.

“Sekarang dia udah nggak ada,” Kirana memejamkan mata dadanya terasa sesak.

“Dia orang baik,” bisik Kirana, Carmen mengangguk, air matanya terus mengalir untuk beberapa saat mereka hanya saling berpelukan dalam diam namun kemudian Carmen berkata pelan,

“Mbak, kita nggak boleh ngomong ke siapa pun.” Ungkap Carmen memecah keheningan Kirana mengernyit.

“Maksudnya?” Kirana terkejut sekaligus ingin tau.

“Media, nggak boleh memberitakan kejadian ini.”

“Kenapa?” tanya Kirana bingung Carmen menggeleng.

"Aku juga nggak dikasih penjelasan, tapi perintah langsung dari atas.” Kirana menatapnya tak percaya.

“Jadi Dion meninggal dan kita harus diam?” Air mata kembali mengalir di pipi Kirana Carmen hanya bisa menunduk.

“Kapten Damar,” ucap Carmen pelan. “Gimana keadaannya?” Kali ini Kirana yang terdiam dia menggeleng perlahan.

“Aku nggak tahu.” Jawab Kirana getir, Carmen menatapnya.

“Mbak belum dikasih kabar?” Kirana menggeleng lagi air matanya semakin deras turun kepipi.

“Dia dijaga sangat ketat, aku bahkan nggak boleh menjenguk dan bertanya.” Suaranya mulai bergetar.

“Aku nggak tahu dia hidup atau, ” Kirana tak sanggup melanjutkan air mata jatuh tanpa bisa ditahan Kirana menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Dia hampir mati karena menyelamatkan hidup ku,” suaranya pecah Carmen langsung memeluknya lagi.

“Bukan salah Mbak,” bisiknya

“Tapi dia yang kena peluru, ” jawab Kirana lirih. “Harusnya aku,”

“Mbak Kirana,” potong Carmen pelan, “Kita berdoa saja untuk Kapten Damar”

Kirana menangis semakin keras rasa bersalah itu menghantamnya tanpa ampun, beberapa saat mereka hanya saling berpelukan, mencoba bertahan dalam kesedihan masing-masing.

Namun di balik semua itu ada satu hal yang membuat semuanya terasa lebih pahit. Dalang dari semua ini masih bebas dan kebenaran masih disembunyikan Kirana mengangkat wajahnya perlahan.

Matanya merah, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana tekad.

“Carmen…” ucapnya pelan.

“Iya?”

“Kalau mereka mau menutupinya…” suara Kirana berubah lebih tegas, “aku tidak akan diam.” Carmen menatapnya, kaget.

“Mbak itu berbahaya,”

“Aku sudah hampir mati,” jawab Kirana. “Aku nggak takut lagi.” Hening sejenak.

“Orang tua Kapten Damar…” bisik Carmen, “aku yakin dia tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja.”

Angin berhembus pelan dari jendela membawa satu kenyataan yang tak terucapkan perang diam-diam telah dimulai.

"Kita hanya perlu mengikutinya alurnya Mbak," Ucap Karmen membuat Kirana menyadari sesuatu semua ini diluar kendalinya, bahkan Ayahnya David Subakti tidak bisa melakukan apapun.

1
sitanggang
mcnya ternyata goblok🤦🤦
Rosie: Baca J.R.R Tolkien aja cocok buat anda jangan novel online.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!