SEQUEL JODOH SHAKIRA PERNIKAHAN KEDUA.
Kisah ARYA PRATAMA & RAKA BAGASKARA
Arya Pratama baru saja mengalami patah hati, di tengah kesedihannya dia mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan pengendara lain meninggal dunia.
Kecelakaan itu pula membuatnya harus bertanggungjawab atas bocah kecil, anak dari korban kecelakaan.
"Rawat dia seperti anakmu sendiri, sayangi dia sepenuh hati, dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap seorang ibu meminta Arya menjaga putranya.
Secara tidak terduga Arya bertemu perempuan yang berhasil membuat dadanya berdebar, sayangnya perempuan itu istri orang. Eh secara tidak disangka-sangka Arya malah berjodoh sama janda.
"Jodoh ketemu di jalan."
Sementara Raka Bagaskara, dia juga sama-sama terjebak dalam situasi sulit, ia juga menyukai istri orang.
"Janda dan gadis terlalu biasa, tapi bini orang, luar biasa, Mak. Raka suka sama bini orang Makkk!"
Akankah Raka menemukan jodohnya? Atau malah berusaha menjadi perebut istri orang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 - Karma kah ini?
"Dari mana saja kamu seharian keluyuran gak jelas? Berangkat pagi pulang sore, enak banget hidup kamu, Galuh. Istri macam apa yang tidak mengurus suaminya? Sibuk terus sama laki-laki lain sampai lupa sama suami sendiri." Sindir Bu Desi sambil memegang ponselnya.
Kebetulan Galuh baru pulang, seharian dia malah diam di toko Raka enggan pulang dan enggan balik kerja.
Langkah Galuh berhenti, menghela nafas mencoba bersabar melawan mertuanya. "Galuh capek, Bu. Galuh capek terus berdebat sama ibu maupun mas Roki jadi Galuh memilih menenangkan diri tanpa ada pertanyaan kapan punya anak dan sedih karena permintaan poligami."
Dia berjalan masuk menuju kamarnya.
"Galuh! Galuh!" meski berteriak nyatanya tidak di dengar oleh
"Hei, main nyelonong saja. Di sini ada mertuamu, tidak sopan sekali." Tegur Bu Desi kesal menantunya bersikap seenaknya.
"Kenapa sih Bu? Roki dengar ibu berteriak memanggil Galuh?" anaknya baru pulang, di depan dia mendengar teriakan ibunya.
"Itu istri kamu, datang-datang nyelonong gitu saja tanpa menyalami ibu. Istri macam apa yang kamu nikahi? Tidak punya sopan santun, dari tadi pagi baru pulang sekarang, emang gak bener dia." Omel Bu Desi.
"Galuh baru pulang?" Roki memang meminta Galuh berhenti bekerja, tadi saja dia sendiri yang bicara sama Nisa supaya Galuh tidak kerja, tapi setelahnya dia ajak Galuh ke tempat kerja namun saat disana dia kehilangan Galuh. Roki pikir istrinya lebih dulu pulang makanya tidak mencari, apalagi ada Caca disana membuat Roki tidak bisa mencari.
"Iya, baru pulang dia, tadi saat kamu telpon bertanya tentang dia di rumah emang gak ada, apalagi kalau bukan keluyuran gak jelas. Terus teman arisan ibu lihat Galuh nongkrong di depan toko Barak koleksi sama laki-laki, artinya apa coba? Dia selingkuh dari kamu, Roki."
"Gak mungkin lah Bu."
"Gak mungkin apanya, nih kamu lihat sendiri kalau gak percaya." Bu Desi meraih ponselnya di atas meja, membuka foto kiriman dari seseorang yang mengaku temannya.
Roki melihatnya, dadanya bergemuruh marah saat ia melihat Galuh sedang di obati oleh Raka namun yang ia lihat dari belakang sehingga terlihat sedang berciuman.
"Kirimkan fotonya sama aku, Bu." Darahnya mendidih, marah serta kecewa.
Bu Desi segera mengirimkan ke Roki, dia yakin anaknya sedang marah dan itu bagus untuk mempercepat proses cerai keduanya.
******
Brak.
Pintu kamar di tendang kasar sampai berbunyi klik tertutup sendiri.
Galuh yang sedang membuka pakaiannya terlonjak kaget. "Kamu apaan sih Mas? Masuk tuh ketuk pintu dulu, terus ngapain pakai nendang pintu segala? Nanti pintunya rusak."
"Maksud kamu apa seharian jalan sama pria lain, nongkrong di toko orang lain? Kamu mau jadi wanita murahan, hah?!" bentak Roki menggelegar, keduanya mencengkram erat kedua bahu Galuh.
Tubuh wanita itu bergetar takut, sorot mata suaminya menakutkan, cengkraman di kedua pundaknya begitu kuat menancapkan kuku-kuku di bahu terbukanya.
"Apa sih Mas, aku gak ngerti." Meski sedang gugup dan takut, Galuh mencoba bersikap tenang. Ia berusaha melepaskan cengkraman di bahunya yang makin kuat makin terasa sakit.
"Jangan pura-pura bodoh Galuh!" Tubuh Galuh tersungkur ke lantai, lututnya terbentur keras membuat Galuh berdenyut nyeri.
"Lihat ini! Ini kamu kan? Kamu sedang berciuman dengan pria lain, apa ini pantas di sebut istri? Apa ini kelakuan kamu yang sebenarnya, hah?!" Roki berjongkok menunjukan foto Galuh bersama Rama di depan toko Barak koleksi.
Roki tidak sadar bicara seperti itu, padahal dirinya juga salah sudah mengkhianati Galuh dengan cara membohongi dan menjalin kasih sama orang lain, cowok lagi.
"Mas kamu dapat ini dari mana?"
"Bukan urusan kamu aku dapat ini dari mana, tapi yang jelas kamu sudah membuatku kecewa Galuh."
"Terus apa bedanya sama kamu, hah? Kamu juga sudah membuatku kecewa, kamu berselingkuh dari aku dan kamu terang-terangan membawa selingkuhan kamu ke rumah ini dan berniat menjadikannya madu untukku. Apa salahnya kalau aku juga selingkuh dari kamu!" bentak Galuh tersulut emosi.
Plak!
Tamparan itu begitu keras, terasa jelas di pipi Galuh, bahkan saking kerasnya hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Wanita tidak tahu diri! Aku sudah menjadikan kamu istri tapi kamu malah berani melawanku. Harusnya kamu bersyukur karena aku masih menerima wanita bekas seperti mu!" sentak Raki berdiri menendang kursi rias hingga terjatuh.
Galuh terlonjak kaget, menutup telinga ketika Roki menghancurkan kaca rias di kamar mereka.
Prang..
Pria itu keluar dengan amarah menguasai meninggalkan Galuh diam bergetar penuh ketakutan. Tubuhnya menunduk lemas terisak pilu.
Apa ada yang salah dengan kata bekas? Dia memang bekas istri simpan yang tak lain dan tak bukan suami dari Andina dulu, tentunya juga dia sudah tak murni lagi karena pada dasarnya dulu dia sudah pernah dijamah lelaki.
"Hiks hiks apa ini karma untukku?" Sekelebat bayangan masa lalu kembali terlintas dalam pikiran Galuh, bagaimana dulu dia terang-terangan mengaku menjadi istri suaminya Andina dan terang-terangan bergumul mesra di depan Andina. Sekarang, ia juga diperlukan sama oleh suaminya yang ia anggap bisa membuatnya menjadi lebih baik.
"Rasanya sesakit ini, tuhan."
Namun di tengah kesedihannya tiba-tiba kaca kamar pecah di lempar batu oleh orang dan lemparan itu tepat mengenai kening Galuh..
Prangg..
"Aw." Ia merasa pusing, dapat ia lihat ada bulatan kertas dan kemungkinan dalam kertas itu berisi batu sehingga bisa memecahkan jendela kamarnya.
Tangan Galuh gemetar mengambil kertasnya, ia penasaran isi dari kertas itu apa, kenapa akhir-akhir ini ia sering mendapatkan teror tak terduga.
INI BARU PERMULAAN, SAYA AKAN MENGHANCURKAN KAMU SEPERTI KAMU MENGHANCURKAN KELUARGAKU.
Deg.
"Andina!"