Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17
Tidak ada yang menyangka.
Termasuk Kenzy dan Zara sendiri.
Bahwa “strategi manajemen krisis” versi Kakek Jo akan berkembang sejauh ini.
Karena dua minggu setelah pengumuman heboh itu.
Undangan resmi tersebar.
Acara Pertunangan
Kenzy Maheswara & Zara Florista
Bertempat di ballroom hotel bintang lima milik grup Maheswara.
Mengundang kolega bisnis, direksi, dan seluruh jajaran manajemen inti.
Ketika Zara membaca undangan digital itu di ruang kerja, tangannya gemetar.
“Pak…” suaranya lirih
Kenzy yang sedang membaca laporan mengangkat kepala.
“Kakek?”
Itu saja jawabannya.
Zara memijat pelipisnya.
“Ini sudah level pesta kerajaan.”
Kenzy terlihat tenang. Terlalu tenang.
“Kalau sudah dimulai, Kakek tidak pernah setengah-setengah.”
Zara menatapnya.
“Dan kita?”
Kenzy menahan napas sesaat.
“Kita jalani saja, kita ikuti sutradara gadungan itu”
“aahh…Zara…Gwenchana!!!” Zara menyemangati dirinya sendiri
Acara pertunangan tiba….
Ballroom itu berkilau.
Lampu kristal memantulkan cahaya ke lantai marmer putih.
Rangkaian bunga putih dan champagne menghiasi setiap sudut.
Panggung kecil dengan backdrop bertuliskan nama mereka berdiri elegan.
Zara berdiri di ruang persiapan dengan gaun soft gold sederhana tapi anggun.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin.
Ini bukan dunianya.
Ia gadis toko bunga.
Yang dulu menghitung uang receh untuk bayar listrik.
Sekarang…
Namanya terpampang di layar LED ballroom.
Pintu diketuk pelan.
Bibi masuk.
Langsung terdiam.
Matanya membesar.
“Ya Allah, Zara…”
Zara menoleh.
“Kenapa, Bi? Jelek ya?”
Bibi mendekat, memegang wajahnya.
“Cantik banget… sampai Bibi nggak bisa kedip.”
Zara tertawa kecil.
Bibi memandang sekeliling ruang persiapan yang mewah.
“Ini semua buat kamu?”
Zara menelan.
“Buat sandiwara, Bi.”
Bibi terdiam sebentar.
Lalu pelan berkata,
“Walaupun sandiwara… semoga Allah bikin jadi nyata.”
Zara menatap bibinya.
Ada harap di mata wanita sederhana itu.
Dan itu yang justru membuat dada Zara terasa berat.
Di sisi lain ruangan, Kenzy berdiri dengan setelan hitam formal.
Rendi bersiul kecil.
“Pak…Anda kelihatan seperti mau menikah sungguhan.”
Kenzy hanya merapikan jam tangannya.
“Kakek terlalu jauh.”
“Tapi Bapak nggak nolak, berarti setuju kan.”
Kenzy terdiam.
Karena itu benar.
Ia tidak menolak.
Acara dimulai.
Semua tamu berdiri saat Kakek Jo naik ke panggung.
Wibawanya tetap sama.
Tapi malam itu, ada sesuatu yang lebih personal di wajahnya.
Kenzy dan Zara berdiri berdampingan.
Untuk pertama kalinya di depan publik besar.
Lampu sorot menyinari mereka.
Zara bisa merasakan tangan Kenzy menyentuh jemarinya.
Pelan.
Tidak mencolok.
Tapi cukup untuk memberi tenang.
Ia tidak menarik tangannya.
Kakek Jo mulai berbicara.
“Terima kasih sudah hadir malam ini.”
Suasana hening.
“Saya tidak pernah menyangka, di usia saya yang tidak muda lagi, saya akan berdiri di sini untuk memperkenalkan calon cucu menantu Maheswara.”
Tawa ringan terdengar.
Kakek Jo melanjutkan.
“Saya bertemu Zara bukan di kantor. Bukan di ruang rapat. Tapi di jalan, karena saya lupa bawa dompet.
Beberapa tamu tertawa kecil.
Zara menundukkan wajahnya malu.
“Gadis ini tidak tahu siapa saya saat itu. Ia hanya melihat saya sebagai kakek tua yang kehausan dan gak punya uang untuk beli minum.”
Suasana berubah lebih hangat.
“Ia lalu mengisi kekosongan saya. Mengajak saya tertawa. Mengajak saya berlari dari anjing.”
Tawa lebih besar kali ini.
“Tapi yang paling penting… ia tulus.”
Kakek Jo menatap Zara dengan lembut.
“Di dunia bisnis yang penuh kepentingan, saya melihat ketulusan di mata gadis ini. Ia tidak pernah meminta apa-apa.”
Hening.
“Saya menyayanginya.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi terdengar sangat nyata.
“Dan saya bangga memperkenalkan Zara sebagai calon istri satu-satunya cucu saya.”
Tepuk tangan menggema.
Zara menoleh ke Kenzy.
Kenzy menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bangga?
Lembut?
Atau… mulai terlanjur?
Para kolega bisnis maju satu per satu.
“Selamat ya!”
“Tidak menyangka Kenzy sudah ada yang mengisi.”
“Saya sampai hampir kenalkan putri saya bulan lalu!”
Tawa basa-basi terdengar lagi.
Zara tersenyum.
Kenzy tersenyum.
Senyum yang dipaksa mengembang rapi.
Tapi di sela-sela itu, ada tatapan yang lebih dalam.
Seorang kolega senior berkata pelan pada Kenzy,
“Kamu beruntung. Gadis seperti ini jarang…selamat ya.”
Kenzy menjawab singkat,
“Saya tahu, terimakasih”
Bibi berdiri di sudut ballroom, memegang tas kecilnya erat-erat.
Ia takjub melihat lampu, makanan, para tamu dengan gaun mahal.
Seorang direktur wanita mendekat.
“Ibu dari Zara?”
Bibi langsung gugup.
“Iya… saya cuma bibinya.”
Direktur itu tersenyum ramah.
“Anda membesarkan gadis yang luar biasa dan cantik.”
Bibi hampir menangis.
“Terimakasih.”
Malam itu untuk pertama kalinya,
Bibi melihat Zara diperlakukan dengan hormat oleh orang-orang besar.
Bukan dikasihani.
Bukan direndahkan.
Dihormati.
Dan hatinya penuh.
Tapi di sela bahagia itu, ia menyimpan satu ketakutan kecil.
Kalau ini semua sandiwara…
Kalau suatu hari kebenarannya terbongkar…
Zara yang paling akan menderita.
Karena hati gadis itu terlalu tulus untuk permainan sebesar ini.
Acara hampir selesai.
Lampu mulai redup.
Tamu satu per satu pamit.
Kenzy dan Zara berdiri di balkon ballroom, memandang kota dari ketinggian.
Sunyi.
“Capek?” tanya Kenzy pelan.
“Lumayan.”
“Hari ini berat?”
Zara tersenyum tipis.
“Berat tapi indah.”
Kenzy menatapnya.
“Kalau semua ini bukan sandiwara… kamu akan keberatan?”
Zara terdiam.
Angin malam meniup lembut rambutnya.
“Pak…”
“Iya?”
“Kita jangan lupa ini dimulai karena gosip.”
Kenzy mendekat sedikit.
“Tapi tidak semua yang dimulai dari salah itu berakhir salah.”
Zara menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya malam itu,
Ia tidak tahu harus membalas dengan candaan atau serius
Dan itu lebih menakutkan daripada semua lampu sorot tadi.
Di dalam ballroom, Kakek Jo berdiri memperhatikan mereka dari jauh.
Senyum tipis terukir di wajah tuanya.
Ia tahu.
Ini mungkin dimulai sebagai sandiwara.
Tapi perasaan…
Tidak pernah bisa diperintah.
Di sudut kota yang berbeda.
Jauh dari lampu kristal.
Jauh dari gaun emas dan jas hitam mahal.
Sebuah ruangan gelap hanya diterangi cahaya televisi kecil.
Layar menampilkan berita bisnis.
“Presiden Direktur Maheswara Corp. menggelar acara pertunangan cucunya, Kenzy Maheswara dengan Zara Florista”
Foto mereka muncul.
Kenzy berdiri tegap.
Zara tersenyum lembut di sampingnya.
Cahaya kamera memantul di wajah mereka.
Bahagia.
Anggun.
Terlihat serasi.
Di depan layar itu,
Seorang gadis duduk meringkuk di lantai.
Tangannya gemetar.
Rambutnya berantakan.
Wajahnya penuh lebam yang belum sepenuhnya mengering.
Bibirnya pecah.
Matanya sembab.
Namun tatapannya tajam.
Terlalu tajam untuk seseorang yang terlihat hancur.
Remote televisi terlepas dari genggamannya.
Tubuhnya bergetar.
Bukan karena dingin.
Tapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam.
Pengorbanan
Kehilangan.
Atau mungkin obsesi.
Ia menyentuh layar televisi dengan jari gemetar.
Ujung jarinya tepat di wajah Kenzy.
Bibirnya bergetar pelan.
“Kenzy…”
Suaranya serak.
Hampir seperti bisikan yang pecah di tenggorokan.
Air mata mengalir, tapi bukan tangisan lemah.
Lebih seperti rindu yang tertahan.
“Kenzy…”
Ia menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah.
Nama itu bukan sekadar panggilan.
Itu klaim.
Di layar, berita terus berjalan.
Gadis itu tertawa kecil.
Tawa yang tidak sehat.
Tidak stabil.
“Tunangan?”
Ia memeluk lututnya lebih erat.
Tangannya mengepal.
Lebam di pergelangannya terlihat jelas saat cahaya televisi menyorot.
Ia mencoba berdiri.
Sedikit goyah.
Namun sorot matanya berubah.
Tidak lagi kosong.
Kini penuh tekad yang mengerikan.
“Kenzy itu milikku…”
Bisikannya pelan.
Tapi penuh keyakinan.
Layar televisi kembali menampilkan wajah Zara yang tersenyum.
Gadis itu menatapnya lama.
Lalu senyum tipis terukir di bibirnya yang pecah.
“Zara…”
Ia mengulang nama itu seperti sedang mencicipi sesuatu yang asing.
Di sudut ruangan, sebuah koper kecil tergeletak.
Di atas meja, ada foto lama.
Seorang gadis berdiri di samping Kenzy muda.
Lebih santai.
Lebih dekat.
Foto itu terlipat sedikit di bagian wajah si gadis.
Seolah sering digenggam.
Ia mengambil foto itu.
Menempelkan ke dadanya.
Lalu berbisik satu nama yang kini terdengar seperti ancaman.
“Aku belum selesai, Kenzy.”
“Aku masih disini.”
Aveline Calista.
Dan malam itu
Seseorang dari masa lalu baru saja bangkit dari gelap.